
Amber membisu, biji matanya menggilir ke kanan dan ke kiri. Di dalam benaknya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan. Mencerna setiap kalimat yang diucapkan anak sambungnya.
"Kenapa diam Mom, sedang menghitung dosa-dosa yang sudah Mom perbuat?" tanya edward mencemooh.
Amber berpura-pura merasa tersakiti karena perkataan anak sambungnya. Dia mengeluarkan air mata buaya dan berbicara dengan nada memelas. "Kamu tega sekali Nak... bisa-bisanya menuduh Mom seperti itu!" Amber terisak seraya mengucek kedua matanya. "Pa... lihat anakmu. Semakin berani pada ibunya."
Leona yang turut sakit hati melihat Amber menangis, dia mendekati Rona hendak mencakar wajah kakak iparnya. Namun Edward menghadang, lalu mendorong Leona hingga tubuhnya hampir terjungkal.
"Edward, tahan dirimu! Adikmu sedang mangandung!" tegur Richard yang takut putranya melewati batasan.
"Kak Edward, jahat!!!" cerca Leona terisak.
Rona mengusap punggung suaminya, menenangkan amarah yang sebentar lagi akan membakar semua orang di hadapannya.
Wajah Edward merah padam, dia merogoh benda pipih dari dalam saku celana lalu menyorongkannya. "Perlu kalian tahu, aku memasang cctv di seluruh sudut ruangan. Dan cctv itu tersambung langsung dengan ponselku!" Edward memperlihatkan rekaman ketika Amber menuangkan minyak dari dalam botol ke atas lantai tangga kamarnya.
Amber menelan saliva dengan mata yang mengerjap cepat. Sedangkan Leona mengatup mulutnya karena rasa malu dan bersalah. Mulut berbisanya membisu seketika.
Edward mengepal pergelangan tangan dan menggeletukan giginya. Rahangnya menegang dengan mata yang berurat merah. "Kenapa kalian diam hah?"
"Kamu Amber, aku sudah memperingatkan untuk tidak mengusik istriku. Tapi kamu tetap saja bersikukuh dengan otak licikmu itu. Jangan salahkan aku kalau kebusukanmu aku bongkar!" gertak Edward yang membuat nyali Amber ciut.
"Nak... dinginkan kepalamu dulu. Nanti kita lanjutkan pembicaraan ini setelah Mommymu pulang ke Mansion. Papa malu, keluarga kita bertikai di Rumah Sakit," lirih Richard seraya terbatuk-batuk karena dadanya terasa nyeri.
Kalau bukan karena rasa sayang dan hormat Edward pada pria yang kulitnya mulai keriput, dia tidak segan-segan melucuti harga diri Amber dengan membuka tabir wanita iblis itu.
"Baik Pa... Edward ikuti mau Papa. Meski sebenarnya Edward sudah tidak tahan menyimpan rahasia ini semua!" Edward menarik tubuhnya keluar dari kamar perawatan, Richard menghalangi langkah putranya. Seperti biasa, dia menepuk pundak Edward dan mengusap punggung anak lelakinya.
"Tenangkan dulu dirimu, Nak... jangan membiarkan amarah menggerogoti hatimu yang bersih...."
Edward menoleh sesaat lalu keluar dari ruangan seraya membanting pintu. Rona yang tidak nyaman berada di kamar, turut pamit undur diri untuk menyusul suaminya.
"Pa... Rona pamit pulang ya. Edward membutuhkan kami."
Richard mengangguk lalu mengantarkan menantunya untuk menemui putranya. "Nak... antarkan anak dan istrimu pulang, kasihan mereka pasti kelelahan."
Edward tidak menjawab, hanya gerakan kepala yang mewakili mulutnya. Di dalam hati dia merutuki dirinya sendiri karena betapa Richard selalu membuatnya lemah.
...***...
__ADS_1
Xxx
Jemput
Rengek seorang gadis yang di atas jas dokternya tersemat name tag dengan nama Claire.
Seseorang yang tengah dia telepon, terkekeh mendengar suara manja gadisnya.
Yyy
Oke-oke, 15 minutes ya!
Xxx
I'm waiting for you
Dua puluh menit kemudian
Claire mengangkat tangan kiri dan menatap jam di atas pergelangannya. "Kamu terlambat lima menit, Feliks!" tegur Claire dengan bibir mengerucut.
"Maaf, tadi di jalan macet!" kilah Feliks yang direspon dengan alis yang diangkat.
"Iya- iya maaf." Feliks turun dari kendaraannya dengan helm berwarna merah muda di tangan. Dia memakaikan helm itu ke dalam kepala gadis di depannya.
"Terimakasih..." ucap Claire lembut. Feliks mengangguk dan menuntun tangan Claire. Feliks naik ke atas motor disusul Claire yang duduk menyamping di belakang.
"Pegangan..." titah Feliks sembari menolehkan kepala.
"Ini sudah," jawab Claire yang memperlihatkan tangannya memegang handle motor.
Feliks mendengus. "Mana tangan kananmu, sini?!" tanya Feliks. Claire mengulurkan tangan kanannya.
"Tangan kirimu mana?" tanya Feliks kembali. Claire menjulurkan tangan kirinya. Feliks menarik kedua tangan Claire dan melingkarkan ke atas pinggangnya. Dia menstarter kendaraannya dan membelah jalanan dengan motor barunya.
Sepanjang perjalanan, Feliks menggenggam erat tangan Claire. Dia melajukan motornya menggunakan satu tangan. Nampak romantis dan membuat orang yang melihat terkesan dengan kemesraan hubungan mereka yang sebetulnya tanpa status.
Sedang asyik-asyiknya menikmati kebersamaan, sebuah mobil mewah menyalip dan hampir saja menyerempet mereka berdua. Beruntungnya Feliks berhasil menghindar. Namun nahas, di depan ada kucing yang lewat. Feliks mengerem secara mendadak. Motornya terjungkal ke dalam bak sampah.
"Ah... Feliks... smell so bad!" keluh Claire seraya menutup hidungnya. "Kenapa sih, aku selalu saja sial kalau dekat-dekat kamu?" Claire berdiri dan meninggalkan Feliks yang berusaha menarik motornya yang terjungkal.
__ADS_1
"Claire kamu mau kemana?" panggil Feliks seraya menuntun motornya.
"Aku malu Feliks, orang-orang mentertawakan kita!" jawab Claire menutup mukanya.
"Ayo naik! Kebetulan apartemenku di depan sana. Kamu bisa numpang mandi, lalu aku antar pulang!" teriak Feliks lagi.
Claire menoleh ke arah Feliks lalu mengangguk pelan. Dia menghampiri laki-laki yang menatapnya dengan perasaan rasa bersalah lalu naik kembali ke atas motor.
Apartemen Feliks
Claire terkesima melihat ruangan yang tertata sangat rapi. Tidak terlihat seperti apartemen milik seorang pria single. "Apartemenmu sangat rapi dan nyaman Feliks...."
"Iyalah, memangnya kamarmu. Berantakan! Bra dan celana dalamm berserakan di mana-mana!" sahut Feliks sambil mengerdikan pundaknya.
Claire menyeringai malu, karena sebagai perempuan dia termasuk sosok yang cuek dan urakan.
"Sudah, mandi sana!" Feliks melemparkan handuk bersih ke arah Claire. Claire menangkapnya lalu mencium baunya.
"Itu handuk baru dan bersih, tidak usah kamu endus seperti itu!" Feliks melemparkan kemeja putih miliknya.
"Ini apa?" Claire menilik pakaian yang dilemparkan Feliks ke arahnya.
"Ganti pakaian kotormu dengan kemejaku. Biar bajumu aku cuci!"
Claire membulatkan bibir seraya mengatuk-ngatukkan kepalanya. Kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Tidak berselang lama, Claire keluar menggunakan kemeja putih milik Feliks yang panjangnya hanya sebatas paha. Gundukan kembarnya tercetak sempurna dari balik kain tipis. Rambutnya yang basah dibiarkan tergerai. Feliks memandang gadisnya tanpa berkedip sekali pun.
"Wow... seksi...!" seloroh Feliks tanpa sadar. Claire meruncingkan kelopak mata bersiap-siap untuk menghajar lelakinya.
"Apa kamu bilang?" Claire berjalan menghampiri Feliks. Tubuhnya terlihat lebih menantang dengan kaki mulus yang tereskpos sempurna.
"Kamu seksi sekali, Claire... dadamu bulat." Mulut Feliks menganga dengan air liur yang hampir menetes. "Boleh aku menyentuhnya?" Feliks hendak menggenggam kedua aset milik Claire, namun gerakan cepat Claire membuat tubuhnya terbanting ke lantai.
"Dasar otak mesum!"
...*****...
...Terimakasih untuk semua dukungannya kak, semoga tidak pernah bosan untuk membaca dan memberi dukungan yang lainnya....
__ADS_1
...Selamat malam dan semoga mimpi indah....