
"Target bergerak!" pekik Rona memonitor alat pendeteksi yang dia pasang di kerah jas milik Brian. "Tapi dia bukan menuju tempat penyekapan!" racau Rona menggunakan alat yang terpasang di kepalanya. Dia terus memperhatikan titik berwarna hijau yang berkedap-kedip di dalam layar komputer.
Roland langsung bergerak sesuai arahan dari Rona. Dia beserta beberapa anak buahnya membanting stir, memutar arah yang berlawanan dengan tujuan lokasi semula.
"Sepertinya dia menuju pelabuhan!" ungkap Rona lagi membaca map, matanya yang bulat dengan jeli memperhatikan apa yang dia lihat di depannya.
"Oke ... sepertinya dia berniat melarikan diri!" sahut Roland di seberang sana. Pria itu menarik tuas gigi dan menginjak pedal gas dengan dalam. Menyusul target yang sudah jauh dari jangkauannya.
Sementara itu, Edward beserta James dan anak buahnya sudah mengepung gedung tua yang disinyalir tempat Natalie dikurung. Dia bergerak secara halus tanpa meninggalkan sedikit pun suara mencurigakan. Sebuah pistol digenggam diacungkan di samping wajahnya. Edward mengibaskan tangan menyuruh anak buahnya untuk menyelinap masuk dan disusul olehnya.
Menggunakan tangannya, Edward memberikan kode pada sang anak buah untuk melewati lorong sebelah kanan. Sementara ia, melewati lorong sebelah kiri. Konsentrasinya sedikit terpecah lantaran tangan James yang tidak berhenti bergetar.
Semua orang berjalan mengendap-endap hingga tiba di sebuah ruangan yang tertutup rapat dengan kunci rantai menggantung di atas kenop pintu. Edward mengacungkan jari telunjuk di atas bibir, pimpinan anak buahnya menggangguk. Dalam hitungan 3 detik mereka mendobrak pintu dan bersama-sama masuk ke dalam ruangan dengan senjata api yang ditodongkan ke depan.
Semua mata terbelalak karena mereka tidak menemukan siapa pun di dalam ruangan itu. "Shitt! Rupanya mereka sudah mengetahui rencana kita!"
Terdengar suara tong yang terjatuh dari arah belakang gedung, Edward terperanjat lantas bergerak cepat. Dia berlari kencang mengikuti arah suara dentuman benda tersebut yang masih terdengar jelas. Sampai pada sebuah pintu yang terbuka, Edward mengacungkan telapak tangan menghentikan langkah anak buahnya.
"Pelan-pelan saja, saya khawatir ini jebakan!" bisik Edward yang disahut dengan anggukkan kepala.
"Itu Natalie!" pekik James melihat sang istri tengah diseret dan dibekap mulutnya. Sebuah tembakan diluncurkan, beruntung meleset dan hanya mengenai pintu yang terbuka.
Edward yang kesal lantaran hampir saja nyawanya dan nyawa anak buahnya melayang karena kecerobohan James, dia memberikan sebuah tinjuan di wajah pria itu. James terjungkal dan terlengar di atas lantai.
"Bawa dia keluar dari sini. Dia hanya menyusahkan saja!" titah Edward pada anak buahnya. Satu orang yang mengenakan penutup kepala mengeret tubuh James membawanya ke luar gedung.
Edward berjalan memimpin kali ini, lagi-lagi sebuah tembakan diluncurkan. Edward berkelit dengan menyelipkan tubuhnya di sebuah dinding. Kini giliran dia yang melepaskan satu tembakan, terdengar sebuah teriakan karena pelurunya mengenai sasaran.
Edward dan anak buahnya semakin menekan musuh, satu penyekap kembali tumbang di tangan Edward. "Berapa orang lagi musuh kita?"
Salah seorang anak buahnya memejamkan mata sejenak kemudian membukanya kembali. "Tinggal lima orang Bos!"
"Ada jalan keluar lain di belakang gedung ini?" tanya Edward lagi.
__ADS_1
"Tidak ada Bos, saya sudah mempelajari gedung ini, hanya ada satu pintu keluar!" jawab pimpinan anak buahnya.
"Oke bagus...! Kalau begitu saya dan dua anak buahmu ini melewati jalan kecil itu. Dan kalian, bergerak maju untuk menekan mereka agar mendekat ke lokasi target!"
Anak buah Edward mengangguk dan langsung bekerja cepat. Terdengar suara baku tembak saling bersahutan dengan erangan juga teriakan.
Edward yang bersembunyi di belakang tumpukan kayu, mendengar suara langkah kaki beserta gesekan peluru yang dimasukkan ke dalam sebuah senjata. Langkah itu semakin mendekat, Edward beranjak kemudian menodongkan senjatanya ke arah pelipis laki-laki yang mendekap tubuh Natalie.
"Lepaskan wanita ini!" titah Edward pada pria yang berkulit hitam. Pria itu melepaskan lengannya dari leher Natalie. Dan mendorong tubuh Natalie ke arah anak buah Edward.
"Bawa saudaraku ke tempat yang aman!" titah Edward pada orang suruhannya sembari menarik lengan si penyekap ke belakang. Dia membetot lengan pria itu. Namun, sesuatu yang dingin menyentuh pelipisnya.
"Lepaskan teman saya!" perintah seorang pria di belakang punggung Edward. Edward sontak melepaskan tawanannya. "Sekarang lempar senjatamu!" perintahnya lagi. Edward melempar pistol miliknya, lalu mengangkat kedua tangan ke atas. Sebuah pukulan mengenai wajahnya.
"Kita habisi saja dia sesuai perintah tuan Brian!" ujar pria yang berdiri di depan Edward.
Pria tersebut menarik pelatuk dan bersiap meluncurkan pelurunya. Nampak kini, wajah bengis sudah bersiap untuk menghabisi Edward. Jarinya menarik trigger pistol. Namun, secepat kilat Edward memelintir lengan si penjahat ke belakang punggung seraya memutar posisi tubuhnya. Peluru yang seharusnya digunakan untuk membunuh Edward, malah mengenai perut teman si penyergap.
Edward tersenyum sinis, dia menarik pelatuk senjata api milik si penjahat. Dan akhirnya satu peluru mengenai dada pria di hadapannya. Pria tersebut langsung tumbang. Darah segar kini mewarnai lantai yang kusam.
Kini tinggal tiga mobil di depannya, dia memberikan kode pada anak buahnya untuk menyusul. Kini kendaraan mereka berada di paling depan. Dua orang anak buahnya menyembul dari balik jendela. Dan boom... dua mobil kembali meledak sedangkan mobil utama terjungkal ke atas aspal.
Roland keluar dari kendaraannya berjalan mendekati mobil yang terjungkir tersebut. Dia menarik backstrap pistol seraya memasang mata, waspada.
Terlihat dua orang pria tergeletak dengan luka parah di kepala. Roland mengumpat kesal karena dia sadar sudah dikelabui mentah-mentah oleh Brian. Roland berteriak kencang meluapkan kekesalan. Dia berjalan lesu ke arah mobilnya, tangannya di tarik ke belakang punggung. Satu peluru dia arahkan pada cairan yang mengalir dari arah mobil tersebut. Dan lima menit kemudian, kobaran api melahap benda yang terbuat dari besi itu beserta orang-orang di dalamnya.
"Hallo... Rona... hallo?" Roland mencoba menghubungi Rona. Akan tetapi, tidak ada sahutan dari wanita itu. Dia membelalak kaget karena baru memahami kalau Brian sudah mengakali dan mengalihkan perhatian semua orang.
"Astaga... Rona dalam bahaya!!!" gumam Roland langsung masuk ke dalam kendaraannya seraya menghubungi Edward.
...***...
"Aku suka akan keberanianmu, Dokter cantik!" Brian membelai wajah Rona menggunakan benda di genggaman tangannya. "Aku menjadi semakin penasaran denganmu, sayang." Brian mengarahkan sebuah pistol ke arah leher Rona lalu ke dagunya. Memaksa Rona mendongakkan kepala dan melihat ke arah Brian.
__ADS_1
Brian mencuri sebuah ciuman lanjut melumatt liar bibir Rona. Sebuah gigitan mendarat dengan kencang di lidahnya. Brian murka, lantas mendaratkan tamparan ke atas pipi Rona. Tangannya mencengkeram kuat rahang wanita yang tengah dia sandera, dengan amarah yang semakin memuncak.
"Wanita sialan, berani-beraninya kamu menggigit lidahku!" bentak Brian menahan sakit. Gigitan Rona melukai lidah Brian, hingga benda tak bertulang itu berdarah.
"Itu sangat pantas buatmu, pecundang!!!" raung Rona tidak sedikit pun takut atau gentar dengan pria di hadapannya. Lagi-lagi satu tamparan mengenai wajah Rona.
Rona terkekeh dan memasang wajah menjengkelkan. "Dasar pecundang!!!"
"Tutup mulutmu, Rona!" erang Brian membanting komputer dari atas meja.
"Kalau bukan pecundang, apa namanya? Pengecut atau banci?" cibir Rona membuat Brian naik pitam. Dia mengobrak-abrik ruangan Rona, menggulingkan semua barang yang berada di sana.
Rona yang menangkap keberadaan seseorang di balik pintu menghentak-hentakkan sepatunya untuk memberi kode. Brian yang merasa terganggu, dia kembali mencengkeram rahang Rona. Namun, Rona tidak tinggal diam, dia berhasil melukai tangan Brian menggunakan gigi-giginya. Senjata api terlepas dari genggaman Brian. Rona sontak menendang benda tersebut dan berhasil memasukkannya ke bawah lemari.
"Ah... wanita liar!!!" Brian mengangkat sebuah vas bunga hendak dilayangkan pada wajah Rona. Seseorang masuk disusul dengan ayunan kaki yang cepat. Satu tendangan lurusnya mengenai kepala Brian dan berhasil melumpuhkan pria tersebut. Brian segera bangkit untuk melawan orang yang tengah menerjangnya. Akan tetapi yang terjadi, dia mengangkat kedua tangannya ke atas karena di hadapannya kini beberapa anggota kepolisian tengah membidikkan senjata ke arahnya.
"Tuan Brian ikut kami ke kantor polisi!" ujar seorang pria berseragam. Dia memasang borgol di atas pergelangan tangan Brian dan menggiring pria itu ke dalam mobil tahanan.
Brian menoleh ke arah Rona dengan wajah lesu dan lusuh. Sementara Rona memberikan umpatan pada pria yang sempat menyanderanya itu. "Fuckk you!!!"
"Rona kamu tidak apa-apa, kan?" tanya seseorang yang menyelamatkannya tepat waktu. Dia melepaskan tali yang mengikat kedua tangan Rona.
"Aku tidak apa-apa Claire... kamu datang di waktu yang tepat!" Rona memeluk tubuh sahabatnya itu dan tangis pun pecah tak tertahankan. "Tadi aku pikir, aku akan mati saat ini juga, Claire. Tapi Tuhan masih menyayangiku. Dia mengirimkan malaikat pelindung untukku!" Rona sesenggukan, Claire mendekap erat tubuh sahabatnya.
"Kamu sudah aman Rona... semua baik-baik saja," ujar Claire menenangkan jiwa Rona yang terguncang.
"Terimakasih Claire... terimakasih!" Rona enggan melepaskan tubuh sahabatnya itu. Karena saat ini rasa takut masih menyelimuti dirinya.
"Rona... sayang..." pekik Edward bahagia melihat kondisi istri tercinta baik-baik saja. Dia langsung menarik tubuh Rona ke dalam rengkuhannya. "Aku sangat takut kalau sampai terjadi sesuatu padamu. Aku begitu takut kalau aku akan kehilanganmu..." rengek Edward menangis tersedu-sedu.
Sepasang suami istri tersebut saling berpelukan, mencurahkan semua perasaan yang bertengger di dalam sanubari. Isak tangis membahana, menghiasi ruangan yang semula mencekam. Kini diwarnai kebahagiaan.
...*****...
__ADS_1
...Terimakasih banyak untuk dukungan teman-teman semuanya. Semoga menjadi keberkahan ya... 🙏...