
Sahabat saling menguatkan. Hati turut terluka saat sahabat tersakiti. Hati bahagia saat mereka tertawa ceria. Sahabat saling menggenggam, saling memberi dukungan. Akan selalu setia menemani saat kita terpuruk, saat kita berputus asa.
Nath, di balik sisi cueknya dia sangat menyayangi kedua sahabatnya. Akan menjadi garda terdepan saat mereka tertindas. Menjadi pion yang siap menyerang siapa pun yang berani mengusik hidup Rona dan Claire. Mungkin dia sama bejatnya dengan pria pada umumnya. Namun, kesetiaannya tidak perlu diragukan.
Suasana apartemen seketika ricuh, ketika Nath datang dan melihat sosok pria yang sangat dia benci tengah duduk dengan santai seraya menikmati sarapan pagi. Makian demi makian dia layangkan beserta pukulan dan tendangan.
Perkelahian antara dua kaum Adam tidak bisa dihindarkan. Keduanya saling menyerang, saling melumpuhkan. Namun Edward harus menelan pil pahit kekalahan. Dia kalah karena dalam hatinya tersirat rasa bersalah.
"Berhenti...!" teriakan Rona yang baru saja keluar dari kamar berhasil menghentikan pertikaian.
"Kalau kalian ingin sok jagoan, di ring tinju sana. Jangan di apartemenku!" bentak Rona. "Nath, please kamu pergi dari sini!"
Edward tersenyum penuh kemenangan, saat nama Nath disebut lalu Rona mengusirnya.
"Dan kamu pria brengsekk, keluar dari apartemenku sekarang juga!" tunjuk Rona pada pria yang tengah mengernyih.
Dua pria yang berlaga bak anjing dan kucing, menundukkan kepala dan berjalan sempoyongan. Keluar dari apartemen Rona dengan mulut diam membisu.
"Lama-lama aku bisa gila!" keluh Rona yang memperhatikan seisi ruangan carut-marut berserakan.
"Sabar..." ucap Claire yang mendekap lembut pundak sahabatnya.
...***...
"Wuih Bos kenapa itu muka kok kaya habis disosor tawon?" tanya Feliks yang sedang bersandar ke pintu mobil.
Edward tidak menjawab, dia langsung menarik handle dan masuk ke dalam kendaraan beroda empat itu. Perhatiannya tertuju pada wajah penuh luka dari balik kaca spion. "Ah sial, percuma perawatan setiap minggu kalau akhirnya bonyok seperti ini."
"Apa kita mau ke klinik kecantikan, Bos?" tanya Feliks yang memperhatikan Edward tengah menelisik wajahnya sendiri.
"Antarkan aku ke apartemen, lalu ke kampus setelah itu ke Rumah Sakit. Aku banyak sekali urusan hari ini!" titah Edward yang memalingkan muka ke arah jendela.
"Siap, Bos!" jawab Feliks datar.
Secepat kilat Feliks melesat di jalanan lengang yang tidak ramai kendaraan. Mengantarkan raga angkuh yang kini kian lusuh.
__ADS_1
"Terimakasih Feliks, dua jam lagi saya tunggu di kantin," perintah Edward yang keluar dari mobil menuju ruangan tempatnya membagikan ilmu. Tatapan demi tatapan menyorot heran ke arahnya. Pria yang selalu sempurna dalam penampilan, siang ini nampak seperti seorang badut sirkus karena luka memar menghiasi wajah tampannya.
"Selamat siang semuanya," sapa Edward pada Mahasiswanya. "Maaf saya terlambat lima detik," ucap Edward seraya menaruh tumpukkan buku ke atas meja.
"Selamat siang, Sir..." jawab Mahasiswa serentak.
"Siapkan kertas satu lembar, kita adakan kuis hari ini!" titah Edward yang direspon dengan suara gaduh.
Suasana hati Edward sangat kacau, dia membutuhkan pelampiasan dari apa yang berkecambuk dalam hatinya.
"Catat soalnya! Sebuah perusahaan alat olahraga mengembangkan jenis batang pancing sintetik, ingin menguji apakah alat pancing tersebut memiliki kekuatan dengan nilai tengah 8 kg. Diketahui bahwa simpangan baku adalah 0,5 kg. Ujilah hipotesis tersebut, bila suatu contoh acak 50 batang pancing itu setelah dites memberikan nilai tengah 7,8 kg. Gunakan taraf nyata 0.01."
"Saya beri waktu 30 menit, yang terlambat mengumpulkan, saya beri nilai D." Edward mengacuhkan kelas yang kembali ricuh. Nada-nada sumbang keluar dari mulut mahasiswa yang mendengus dan menggerutu.
Tiga puluh menit berlalu, hanya ada lima orang yang berhasil mengerjakan dan mengumpulkan dengan tepat waktu. Selebihnya hanya bisa pasrah dengan nilai D alias tidak lulus di tangan.
Wajah lusuh menyelimuti raut lelah dan putus asa. Menarik tubuh kecewa dari dalam ruangan dengan tangan menyapu muka dengan kasar. Edward terpaku pada lembaran kertas di atas meja, memeriksa satu per satu dengan tangan memilin kening. Raut kesal menggurat di pelipis, tidak ada satupun jawaban yang benar, semua salah dan keliru.
"Ah, apa aku yang tidak becus menjelaskan?" gumam Edward dengan melempar pena ke atas meja. Dia menaruh telapak tangan ke belakang kepala lalu membuang napas kasar. Matanya memejam memikirkan setiap masalah yang datang bertubi-tubi.
Tubuhnya terhenyak saat jemari seorang menyentuh dada bidangnya. Menelusup dari balik kemeja yang dia lepas penautnya.
"Saya mau memuaskan Sir Edward..." ucapnya mendesahh.
"Mahasiswa gila!" umpat Edward dengan tangan mendorong tubuh wanita hingga menyentak ke pinggiran meja.
"Aw... kamu sukanya bermain kasar ya?" tanya mahasiswa tersebut tanpa sopan. Dia merangkak menaiki tubuh dosennya dan memagut bibir yang sedang menganga. Edward mendorongnya kembali, hingga gadis itu terjungkal. Dia meninggalkan penggodanya yang tengah mengaduh kesakitan.
"Sir, aku harus lulus semester ini kalau tidak orang tuaku akan kecewa. Aku rela melakukan apapun, asal jangan memberiku nilai D," ungkap mahasiswa tersebut berusaha menggetarkan perasaan Edward.
"Baiklah, saya beri kamu nilai E!" seru Edward yang kini menghilang dari balik pintu.
...***...
Hal yang sangat langka terjadi adalah seorang Edward bersedia makan siang di kantin. Tempat yang paling dia hindari. Kebiasaannya yang terlampau higienis, membuatnya memilih-milih makanan dan tempat. Namun, perkenalan singkat dengan Rona, banyak membawa perubahan di dalam hidupnya.
__ADS_1
"Wey Bos, apa tidak salah nih makan di tempat seperti ini?" tanya Feliks yang muncul dari balik punggung.
Edward tetap fokus dengan apa yang dia santap, nampak dia seperti orang kelaparan saat ini. Karena sarapan paginya harus dia relakan jadi santapan semut karena tumpah saat dirinya dan Nath berkelahi di ruang makan.
"Kalau kamu lapar, pesan makan sana. Jangan berkicau seperti burung, mengganggu saja!"
"Siapa yang bayarin?" tanya Feliks hati-hati.
"Bilang saja Edward tampan yang bayar!"
Feliks mengerlingkan mata dan mencebikkan bibir karena kesal pada kenarsisan Edward yang sudah tingkat dewa.
"Bos, mau nanya dong!"
"Apa?"
"Sebenarnya perasaan Bos sama dokter Rona itu bagaimana?" tanya Feliks yang menyesap minuman bersoda.
Edward menyimpan sendok yang dia genggam kemudian menarik napas. "Ntah!"
"Dokter Rona itu wanita baik-baik Bos, kenapa tidak dijadikan istri saja sih?" saran Feliks pada Edward.
"Kamu tertarik sama dokter Rona?" tanya Edward dingin.
"Ya sebagai pria normal, tentu saja tertarik. Selain cantik dokter Rona itu pintar, lembut, sopan. Kurang apalagi coba?" puji Feliks penuh semangat.
"Hatiku yang kurang ... sesempurna apa pun dia, tidak ada celah sedikit pun cintaku untuknya," ucap Edward dingin. Dia melanjutkan makan siangnya dan membiarkan Feliks memutar otak mencerna setiap perkataan yang dia lontarkan.
"Kalau memang tidak cinta, ya lepaskan. Itu lebih baik dari pada hidup seperti seorang pecundang!"
Edward melirik ke arah Feliks sepintas tanpa mengeluarkan sergahan ataupun tampikan.
"Terserah Boslah, aku hanya tidak ingin suatu saat Bos menyesal ketika semuanya telah terlambat!" Feliks berdiri untuk mengambil pesanan makanannya. Sedangkan kini otak Edward yang dibuat berputar, menyelami setiap kalimat yang asistennya katakan.
...*******...
__ADS_1
...Selamat berhari Minggu dan berkumpul dengan keluarga, semoga Novelku ini bisa menemani waktu istirahat teman-teman semua....
...Terimakasih untuk yang masih setia, dari awal hingga saat ini. Semoga keberkahan senantiasa mengiringi....