
Hujan turun membasahi bumi, terderai dari gumpalan kapas putih yang bersanding dengan cakrawala hitam kelam. Menutupi batas pemandangan. Namun, menyejukkan jiwa-jiwa yang tersiksa dahaga.
"James... ini benar-benar kamu, honey?" Natalie menangkup wajah suaminya dan menilik luka lebam di atas pipi dengan darah mengering di bawah lubang hidung. "Si-siapa yang melakukan ini honey, penjahat itu?" tunjuk Natalie ke arah gudang yang tertutup.
"Ini ulah sepupu menyebalkanmu itu!" balas James mendelikkan mata.
"Sepupuku? Maksudmu, Edward?" tanya Natalie mempertegas.
"Iya... siapa lagi sepupumu yang sinting, kalau bukan Edward!!" Sebenarnya James bukan marah pada Edward lantaran dia memukul wajahnya. Namun, lebih kepada rasa gengsi karena harga dirinya sebagai laki-laki terinjak oleh sikap pengecutnya.
Natalie mengusap-usap pundak suaminya. "Maafkan sepupuku dan juga maafkan aku...."
James mendengus kasar dan menghempaskan lengan Natalie dari atas pundaknya. "Kita sepertinya harus membahas pernikahan kita, Natalie. Untuk tetap mempertahankannya ... mungkin akan sangat sulit."
"Ma-maksudnya? Maksud perkataanmu apa, James?" Natalie menarik lengan suaminya meminta penjelasan. Dia belum pernah merasa sepilu ini, rasa sesak menekan dadanya.
"Kita bicarakan ini semua di rumah. Aku tidak enak ... semua orang tengah memperhatikan kita, Natalie..." kata James pada sang istri. "Lebih baik kita pulang, aku tahu kamu pasti lelah." James menarik langkah ke arah mobil yang terparkir di depan gedung tua. Natalie mengekor di belakangnya.
Nampak seorang pemuda sedang duduk termenung di belakang kemudi. Menunggu orang-orang yang Edward titipkan padanya, masuk ke dalam mobil.
"Feliks?" panggil Natalie berseri-seri pada pemuda yang dikenalinya.
Wajah James bermuram durja lantaran sang istri memanggil nama seseorang dengan sangat antusias. Natalie yang menyadari akan perubahan riak wajah sang suami, kini berusaha menjaga sikapnya. Dia duduk di samping James lalu melingkarkan tangan ke dalam lengan suaminya.
James yang masih menyimpan kekesalan, menarik tangan Natalie dari lengannya dan menggeser posisi duduknya, menjauh. Feliks melirik sekilas dari balik kaca spion. Namun, dia tidak ingin ikut campur pada permasalahan sepasang suami istri tersebut.
Mobil terus membelah jalanan, awan hitam semakin pekat. Tidak ada suara obrolan atau sekedar bualan memecah kesunyian. Semua orang diam membisu, membiarkan pikiran berkelana dan hati membeku sementara.
"Mohon maaf... saya harus mengantarkan Tuan James dan Nona Natalie, ke mana?" tanya Feliks yang tidak tahu tempat tinggal keduanya.
Tidak ada yang menjawab pertanyaan Feliks. James terbungkam sedangkan Natalie, dia ragu-ragu untuk menjawab. Takut kalau suaminya itu akan kembali cemburu dan bertambah marah terhadapnya.
__ADS_1
"Maaf Tuan James dan Nona Natalie... saya tidak tahu alamat tempat tinggal anda berdua!" geram Feliks karena sikap kekanak-kanakan pasangan suami yang duduk di kursi penumpang.
Natalie gelagapan dan terpaksa menjawab pertanyaan Feliks karena lokasi saat ini sudah dekat dengan alamat apartemennya. "Antarkan kami ke apartemen Luxino, di Jalan Louis Smith. Dari jalan utama, kamu bisa ambil kanan untuk menghemat waktu."
"Baik, Nona..." sahut Feliks dengan menambah kecepatan kendaraannya. Dia sudah tidak nyaman berada di antara James dan Natalie yang tengah perang dingin.
Hanya membutuhkan waktu lima menit, mobil Feliks saat ini sudah berada di depan lobby sebuah apartemen mewah. "Kita sudah sampai Tuan, Nona...."
James turun dari mobil yang memberikannya tumpangan lalu menutup pintunya dengan sangat kencang. Membuat Natalie terhenyak lantas mengusap-usap dadanya.
"Terimakasih Feliks sudah mengantarkan kami pulang dengan selamat," ucap Natalie yang langsung keluar dari dalam mobil lalu mengejar suaminya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam apartemen.
"Dih! Pasangan suami istri tidak jelas!" rutuk Feliks kemudian melajukan mobilnya sesegera mungkin untuk menjemput sang pujaan hati yang kini sudah berada di mansion Edward.
...***...
Karena kondisi Rona yang masih trauma akan sesuatu yang menimpanya, dia meminta Claire untuk menemaninya pulang ke mansion bersama Edward. Sesampainya di mansion, mereka bercengkerama dan bersenda gurau. Berbincang tentang semua hal, hingga mata Rona menangkap sesuatu yang melingkar di jari manis sahabatnya.
"Sejak kapan kamu suka menggunakan perhiasan?" Rona mengernyit, terlebih bentuk cincin itu terlihat jelas seperti cincin tunangan.
"Have you got engaged, Claire?" Rona mengangkat tangan Claire lalu memperhatikan benda yang berbentuk lingkaran tersebut.
Claire cengengesan dan mengernyih karena malu. "I-iya... Feliks sudah melamarku, dua minggu yang lalu. Maaf aku bel—"
"Ah... selamat Claire." Rona mendekap erat tubuh sahabatnya. "Akhirnya kamu laku juga..." cicit Rona mengusili teman baiknya.
Claire melipat bibir bawahnya, dia memasang wajah memelas dan sesedih mungkin. "Kamu jahat Rona... mentang-mentang tak ada satu pun yang mau denganku! Tapi aku tidak bisa marah sama kamu. Karena kamu teman terbaikku...."
Kedua sahabat tersebut saling membalas pelukan dengan erat dan penuh kasih sayang. Kemelut yang menyelimuti pikiran, memuai dan bergantikan rasa senang.
"Claire..." panggil seseorang yang berdiri di belakang punggungnya. Terlihat seorang pria berdiri dengan senyuman khasnya.
__ADS_1
"Feliks?" Claire berdiri lanjut berlari menghampiri sang pujaan hati kemudian memeluk tubuh hangatnya. "Aku rindu..." rajuk Claire menelusupkan wajahnya ke atas dada bidang sang kekasih.
Rona melongo, baru kali ini dia melihat sisi manja seorang Claire yang biasanya bersikap tegas dan terkadang keras. "Aku tidak salah lihat, Claire? Kamu—?"
"Aku juga seorang wanita, Rona. Memiliki sisi lembut dan manja sepertimu," balas Claire yang tidak beranjak dari tubuh kekasihnya. "Aku keras karena kehidupan yang membentukku menjadi pribadi yang seperti itu," tambahnya lagi.
Rona terkekeh, "Iya-iya... pulang sana! Aku ingin melepas penat dengan suamiku!"
Claire menegakkan badannya lantas mengerlingkan mata. "Oke-oke ... setelah tidak membutuhkanku, kamu bisa seenak hati mengusirku! Sahabat macam apa kamu?"
Rona terbahak mendengar gurauan sahabatnya. Claire merentangkan tangan dan membiarkan Rona memeluk tubuhnya sekali lagi. "Terimakasih untuk hari ini Claire... aku tunggu kabar bahagia darimu ...."
"Doakan aku, Rona... doakan semua akan berjalan sesuai harapanku," sahut Claire penuh haru.
"Tanpa kamu minta pun, aku selalu mendoakanmu... berbahagialah karena kamu berhak bahagia." Rona mengusap-usap punggung Claire lantas melepas rengkuhannya.
Rona mendekati Feliks, dia tiba-tiba menarik telinga pemuda itu dengan sangat kencang. "Awas saja kalau kamu menyakiti Claire... aku akan menarik kupingmu ini sampai terlepas dari tempatnya!"
Feliks meringis lalu mengusap-usap daun telinganya yang terasa panas. "Ampun... Kakak ipar. Aku tidak pernah menyakiti Claire ... yang ada malah dia yang suka memukul dan menendangku!"
Rona terbahak seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Itu sih deritamu Tuan mesum. Makanya jangan coba-coba menyentuh sahabatku itu. Kalau tidak mau tulang lehermu patah!"
"Sudah larut malam, kalian pulang sana. Aku juga sudah lelah!" usir Rona saat melihat Edward berdiri di depan pintu dengan bertelanjang dada dan handuk melilit di atas pinggangnya.
Claire menggenggam tangan Rona dan menyunggingkan senyuman termanisnya. "Kamu istirahatlah ... hari ini hari yang berat untukmu. Semoga setelah peristiwa hari ini, tidak ada lagi kejadian yang menimpa rumah tangga kalian."
"Amin... terimakasih sekali lagi Claire. Aku berhutang nyawa dan berhutang segalanya. Kebaikanmu tidak akan pernah aku lupakan."
"Itulah gunanya seorang sahabat..." sela Claire. "Ya sudah ... kami pamit pulang ya. Kasihan Edward, pasti tengah menunggumu di atas ranjang," goda Claire membuat Rona tersipu.
Rona mengulum senyum lantas membisikkan sesuatu pada telinga sahabatnya. "Nanti setelah menikah, kamu juga akan merasakan nikmatnya surga dunia, Claire. Yang ingin lagi dan lagi kamu rasakan...."
__ADS_1
...****...
...Terimakasih banyak untuk semuanya... yang sudah setia membaca novel ini. Yang memberikan VOTE, komen, like, gift atau pun rate 5 bintang. Semiga semuanga selalu diberkati dan selalau berada di dalam lindungan-Nya.....