
"Mommy...."
Terdengar suara lembut dari mulut seorang anak laki-laki. Ia berdiri di belakang wanita yang tengah menyiapkan bekal sekolah. Tangan mungil miliknya melingkar di separuh pinggang wanita tersebut.
"Kenapa anak Mommy yang tampan, kok wajahnya ditekuk begitu...?" tanya Rona tidak kalah lembut. Dia memutar badan dan sedikit membungkuk ke arah sang anak.
"Em... tidak kenapa-kenapa Mommy," sahut Ezio tersenyum kecut.
"Benarkah? Ya... Mommy jadi sedih karena Ezio tidak mau jujur sama Mommy," jawab Rona merajuk. Dia melirik ke arah sang anak yang terlihat tidak tenang. "Coba sini katakan sama Mommy, apa yang mengganggu pikiran Ezio?" Rona duduk di atas kursi lalu meraih tubuh Ezio dan mengangkatnya ke atas pangkuan.
"Em... Ezio mau diantar ke sekolah sama Mommy dan tidak ingin ditinggal," rengek Ezio pada ibunya. Kedatangan Roy dan Jessy tempo hari, sangat mengganggu pikiran anak kecil itu. Perkataan bahwa dia adalah anak dari seorang pria asing, membuat Ezio ketakutan setengah mati.
"Di sekolah ada yang mengganggu Ezio? Ada yang usil pada anak kesayangan Mommy?" Rona memberondong putranya dengan beberapa pertanyaan. Ezio menggeleng lalu turun dari atas pangkuan.
"Sudah siang Mommy... Ezio berangkat ke sekolah dulu ya." Ezio mengecup kedua pipi sang ibu kemudian menghampiri Ola yang tengah menunggu di dekat pintu, sembari menenteng kantong miliknya.
Rona beranjak menghampiri Ola sembari memberikan tas bekal milik putranya. "Tolong jaga Ezio ... hari ini Suster Ola tunggu saja di sekolah, tidak perlu pulang. Kalaupun pihak sekolah tidak mengizinkan, pantau terus anak saya dari kejauhan."
"Baik Nyonya, saya akan menjaga Tuan Ezio sebaik mungkin..." jawab Ola seraya berpikir. Dia ingin sekali memberi tahu Rona mengenai dua orang mencurigakan di sekolah Ezio. Akan tetapi, dia tidak cukup bukti untuk mengatakannya.
"Terima kasih banyak Ola. Kalau ada apa-apa, tolong kabari saya," ucap Rona pada pengasuh anaknya.
"Sama-sama Nyonya. Kalau ada apa-apa, saya pasti akan menghubungi Nyonya," balas Ola. Dia menuntun tangan anak kecil yang merengut dan membawanya ke dalam mobil.
"Ada apa dengan Ezio ya? Tidak biasanya dia cemberut seperti itu?" batin Rona. Dia menatap kendaraan yang melaju, hingga tak terjangkau oleh indera penglihatannya.
"Kenapa sayang... kok melamun?" Edward mengagetkan sang istri yang tengah mematung di depan pelataran.
__ADS_1
Rona memutar tubuh lalu menjawab pertanyaan suaminya. "Tidak kenapa-kenapa... aku baru mengantarkan Ezio berangkat ke sekolah. Daddy twins mau berangkat juga ya?"
Edward meletakkan kedua tangan di atas pundak sang istri. "Pagi-pagi wajahmu sudah masam saja. Aku kurang memuaskanmu, hm...?"
Rona merotasi kedua bola mata lanjut merapikan dasi sang suami yang nampak miring ke salah satu sudut. "Apa segala sesuatu harus selalu dihubungkan dengan sek-s, Edward? Tidak, kan?"
Edward mencondongkan wajah, membuat Rona merasa gugup. "Kamu kalau ketus seperti ini, memancing kegilaanku mencuat. Membuat adrenalin terpacu dan hormon testosteron melonjak naik."
Rona mendorong kening Edward menggunakan telunjuknya. "Tuan Edward yang tampan dan paling hot sejagat raya. Lihat ini sudah jam berapa? Apa tidak malu datang terlambat, sementara mahasiswa dan mahasiswimu dituntut untuk selalu tepat waktu?"
Edward tertawa renyah mendengar celetukan Rona kemudian memeluknya. "Aku berangkat dulu ya, baik-baik di rumah...."
Rona mengangguk lantas membalas pelukan hangat suaminya. "Kamu juga baik-baik di mana pun berada. Jaga mata, jaga diri dari setiap godaan para wanita muda."
"Iya sayang... apa aku pernah berkhianat di belakangmu, tidak kan? Lagi pula hari ini adalah hari terakhirku mengajar di sana. Aku memutuskan untuk fokus mengelola bisnis dan membantu mengurusi Rumah Sakit milikmu."
"Terima kasih Mommy twins. Aku akan selalu menjaga kepercayaan yang sudah diberikan. Baiklah... aku harus berangkat, sampai ketemu nanti malam." Edward mengecup kening sang istri lanjut memagut bibirnya. Dia merundukkan tubuh untuk berbicara pada ketiga janinnya.
"Daddy pergi dulu ya... titip Mommy untuk Daddy. Baik-baik di dalam sana, jangan merepotkan Mommy." Edward mencium perut sang istri lalu bertolak menuju tempat tujuan.
...***...
Seperti hari-hari biasanya, beberapa anak kecil mengikuti setiap kegiatan pagi dengan antusias dan senyum sumringah. Namun, tidak dengan Ezio yang sedari tadi terlihat cemas dan seperti mencari keberadaan seseorang. Meski dia tahu kalau pengasuhnya menunggu tidak jauh dari tempatnya.
"Kenapa Ezio sayang... kok diam saja?" tegur Dara karena anak didiknya tidak mengikuti gerakan yang dicontohkan olehnya. Dara menghampiri Ezio dan bertanya dengan suara lembut. "Ezio sedang sakit ya? Ezio tidak enak badan?"
Ezio menggeleng kepala dan menjawab pertanyaan gurunya. "Ezio sehat-sehat saja Miss... Ezio cuman takut uncle dan aunty asing kemarin, ke sekolah lagi."
__ADS_1
"Oh... Miss kira ada apa. Kenapa Ezio harus takut? Mereka berdua orang baik kok, hanya ingin bermain dengan Ezio." Dara berusaha memengaruhi pikiran anak didiknya lantaran dia telah mendapat sejumlah uang dari Roy dan Jessy.
Ezio memutuskan untuk menjauh dari gurunya dan mendekat dengan guru yang lain. Hingga suara bel berbunyi, dia masuk ke kelas lebih dahulu meninggalkan Dara jauh di belakang.
Satu jam berlalu, waktu istirahat telah tiba. Ezio berdiam diri di dalam kelas menatap teman-temannya bermain dari balik jendela. Dia sangat takut kalau orang asing yang mengaku sebagai ayahnya, datang kembali untuk menemui dirinya.
"Kenapa Ezio tidak main di luar, Nak?" Dara mendekati anak didiknya dan menaruh kedua tangan di atas bahu. Ezio melihat kesal ke arah Dara lalu menghempas kasar kedua tangannya.
"Ezio mau sendirian saja, Miss. Ezio tidak ingin diganggu!" Ezio meninggalkan Dara begitu saja dan berlari ke arah kelas lain untuk bersembunyi.
Sementara di pinggir sekolah, sebuah mobil mewah berhenti dan terparkir rapi. Nampak seorang pria dan wanita muda keluar dari kendaraan tersebut dan melangkah menuju sekolah. Mereka memperhatikan satu per satu anak kecil yang tengah bermain. Namun, tidak mendapati anak laki-laki yang mereka cari.
Ola yang sedari tadi memasang mata dari tempat tersembunyi, dia merekam gerak-gerik mencurigakan kedua orang tersebut. Dua orang yang sama, yang dia lihat tengah bersama Ezio dan gurunya tempo lalu. "Kan, benar dugaanku. Mereka berdua sangat mencurigakan!"
"Miss Dara... putraku mana?" tanya Roy pada salah satu guru kindergarten tersebut.
Dara menoleh ke arah ruang kelas dan menjawab pertanyaan pria di depannya. "Ezio tidak mau keluar, Tuan. Dia takut pada Tuan dan Nona."
Roy bergegas masuk ke dalam kelas lalu memanggil nama Ezio secara lantang. "Ezio sayang... kamu di mana? Ini ada Daddy Roy datang. Keluarlah, Nak ... Daddy rindu...."
Ezio yang ketakutan, dia meringkuk di bawah meja seraya membekap mulutnya sendiri. Karena tidak ingin suara isakannya terdengar oleh Roy ataupun Dara. Beruntungnya guru kelas tempat Ezio bersembunyi, menghadang Roy dan mengusir pria itu dari dalam sekolah.
"Siapa yang mengizinkan orang asing untuk masuk ke dalam kelas?" geram guru tersebut di halaman sekolah. "Sekali lagi hal ini terjadi, saya tidak segan-segan akan melaporkan siapa pun kepada pihak yang berwajib!" ancamnya seraya menatap ke arah Roy dan Jessy lanjut ke arah Dara.
...*****...
...Semakin ke sini, terasa semakin berat mencari ide cerita tidak selancar awal-awal 🙈...
__ADS_1
...Terima kasih banyak untuk yang masih setia membaca kisah dokter Rona. Terima kasih atas semua dukungan teman-teman dan terima kasih juga untuk yang masih berkenan memberikan vote pada karya ini. Hanya Allah yang bisa membalas semua kebaikan teman-teman sekalian. 🙏...