
Hari telah berganti. Detik pun berganti menit dan menit berganti jam. Siang tenggelam, malam menjelang. Berotasi mengikuti alur yang telah Tuhan ciptakan sesempurna mungkin.
Menunggu tiga hari bak sebuah penantian panjang. Melelahkan dan juga meresahkan hati yang tertutupi oleh segudang kerinduan. Kerinduan pada sang pujaan hati yang telah tertidur begitu lama.
"Ini sudah hari ke tiga... ayo bangunlah sayang. Anak kita menunggu ibunya." Roland merebahkan kepala di samping sang istri. Tangannya membelai lembut wajah cantik. Namun, tanpa ekspresi.
Sudah lebih dari 36 jam, Leona dalam kondisi tidak sadarkan diri. Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda bahwa wanita muda itu akan terbangun dari buaian mimpi. Rasa cemas mulai melesap, kekhawatiran dan pikiran-pikiran buruk mulai berdatangan.
"Istri kecilku... aku merindukanmu, sangat. Cepatlah bangun, aku rindu akan suara manjamu."
"Putri kita sudah menunggu. Dia ingin merasakan ASI ibunya dan juga dekapan hangat dari bidadari yang telah melahirkannya."
"Kamu bisa mendengar suaraku kan, sayang?" Roland menegakkan kepala lalu menatap wajah wanitanya. Dia menghela napas kecewa lantaran Leona tidak memberikan respons sedikit pun padanya.
Roland beranjak dari samping Leona hendak mencari angin segar untuk menyejukkan pikirannya yang resah. Sebuah sentuhan lembut pada telapak tangan, menghentikan langkahnya.
"Kak Roland..." lirih Leona parau.
Roland secepat angin membalikkan badannya, mendengar wanita yang dia cintai memanggil namanya begitu merdu. "Leona sayang... kamu sudah siuman?"
Leona menganggukkan kepala disertai kerjapan mata yang masih lemah. Dia ingin menarik tubuhnya. Namun, dia merasakan sakit yang teramat di atas perutnya. Sontak dia terkejut lantaran perut yang semula membulat kini telah datar kembali.
"Pe-perut Leona ke-kenapa mengecil Kak?" tanya Leona tegang. "Ba-bayi Leona mana Kak?" teriak Leona histeris. Dia hampir saja mengamuk sebelum Roland memberitahu mengenai putrinya.
"Putri cantikmu ada di ruang inkubasi. Buah hati kita terlahir dengan selamat," sahut Roland dengan senyuman mengembang.
__ADS_1
Leona menganga lantas menangis bahagia. Dia memaksa tubuhnya untuk bangkit. Akan tetapi, tenaganya masih sangatlah lemah. "Benarkah itu Kak? Leona ingin melihat putri Leona. Bawa Leona ke sana Kak!"
"Aku panggilkan dokter dulu ya untuk memeriksa kondisimu." Roland mengusap-usap pundak Leona, Leona mengangguk tipis.
"Jangan lama-lama ya Kak..." ucap Leona yang tidak ingin ditinggal sendirian.
Roland menarik kepalanya ke bawah dan bergegas untuk memanggil dokter yang berdiam diri di ruang jaga. Beberapa menit kemudian, Roland kembali bersama dokter yang menangani istrinya.
"Syukurlah Nyonya... anda sudah siuman," ucap dokter tersebut lantas berdiri di samping pasiennya.
"Terimakasih banyak Dokter. Saya bisa selamat dan sekarang siuman, itu berkat pertolongan anda," jawab Leona.
"Sama-sama Nyonya. Well ... saya periksa dulu kondisi anda. Semoga semuanya baik-baik saja." Dokter tersebut menempelkan alat yang melingkar di lehernya ke atas dada Leona. Lalu memeriksa mata Leona menggunakan senter yang disimpan di dalam jas dokternya. "Saya cek tekanan darahnya ya." Sebuah alat pendeteksi tekanan darah bekerja secara otomatis, kini terlihat beberapa angka di dalamnya.
"Bagaimana Dok dengan kondisi istri saya?" Roland yang tidak sabar, dia menyambar begitu saja.
Leona menatap ke arah Roland, dia membisikkan sesuatu yang terdengar oleh pria matang di sampingnya. Pria itu tersenyum dan menyahut apa yang dia dengar secara tidak langsung. "Jangan khawatir Nyonya. Nanti biar perawat yang membawakan putri anda untuk bertemu ibunya. Sekarang anda makanlah dulu, saya akan meminta office girl untuk mangantarkannya."
"Terimakasih Dokter," ucap Leona kembali.
"Sama-sama Nyonya... kalau begitu saya permisi," sahut pria yang mengenakan jas berwarna putih.
"Silakan Dokter..." balas Roland. Dia mengantarkan dokter itu menuju pintu keluar.
Setengah jam berlalu, seorang ibu muda menunggu dengan harap-harap cemas. Menunggu untuk pertemuan pertama dirinya dengan sang buah hati. Dia menggigit bibir bawah dan terus menatap wajah tampan suaminya. Suara daun pintu terbuka. Sontak Leona mengalihkan tatapan, yang semula untuk suaminya kini untuk sosok kecil yang terbaring di atas ranjang bayi.
__ADS_1
"Selamat siang Nyonya..." sapa seorang perawat tersenyum hangat. "Saya membawa putri anda. Saya akan membantu Nyonya untuk memberikan first breastfeeding pada bayi Nyonya," ucap perawat tersebut mengangkat tubuh mungil dari atas ranjang bayi. Dia meletakkan sosok kecil dan menggemaskan itu di atas dada Leona.
Rasa sakit bekas operasi tiga hari lalu mendadak tidak terasa, saat kulit halus bayinya menyatu dengan kulit tubuhnya. Leona terisak haru akan pengalaman pertamanya menjadi seorang ibu.
Bayi mungil itu mulai merasa kehausan. Dia mengemut ibu jarinya sesaat, lalu mencari benda kenyal yang akan menjadi sumber makanan selama dua tahun ke depan. Bibir kecilnya mulai menjangkau dan mencecap benda yang dia cari dan dia butuhkan. Malaikat kecil itu menyesap dada sang ibu dengan rakus. Hingga terdengar suara gelegak, menelan ASI yang sangat banyak.
Leona tidak berhenti menangis, dia begitu bahagia dan sangat bersyukur. Karena Tuhan telah memberikan putrinya kehidupan. "Minum yang banyak ya sayang...."
Roland mengecup kening sang istri dan memperhatikan bibir putrinya yang tidak berhenti melahap makanannya. Di saat seperti ini pun, pikiran mesumnya tidak hilang. Dia meremass payudara milik istrinya yang terekspos tanpa tertutupi apa pun.
"Lihat Alodie menyusu seperti itu, kok aku jadi ikutan haus ya sayang? Sepertinya dadamu itu rasanya manis. Hingga Alodie tidak mau melepaskannya," guyon Roland memelintir puncak dada milik istrinya.
Kedua bola mata Leona membola, Roland hanya bisa menggaruk kepala seraya tertawa hambar. Sebagai seorang pria yang hasratnya begitu tinggi wajar baginya melihat aset sang istri mencuat di depan mata seakan melambai ke arahnya meminta untuk dinikmati.
"Papi Roland... memangnya mau rebuatan ASI ya sama si kecil Alodie?" sarkas Leona pada suaminya. "Apa Papi tidak kasihan, makanan satu-satunya Alodie, harus dibagi dua dengan Papi?" Leona mengerling dan berbicara dengan nada sindiran.
Roland yang tabiatnya hampir sama dengan Edward, dia tidak mudah terintimidasi begitu saja. Tangan yang semula hanya memelintir, kini kembali meremass dengan gerakan memutar dan menekan lembut. Leona menggigit bibir bawah menahan rasa geli dan hasrat dari godaan lelakinya.
"Kak... sabar ya. Maaf Leona belum bisa memenuhi kebutuhan batin Kakak. Tubuh Leona sangat lemas, bekas operasi masih terasa begitu sakit," ujar Leona meminta pengertian.
Roland terkekeh lalu membelai kepala istrinya. "Aku cuman bercanda sayang... aku akan sabar menunggu. Tapi bila waktunya tiba, jangan salahkan aku, kalau aku akan memakanmu tiada henti. Agar Alodie kita cepat memiliki adik."
Leona tertawa garing, belum usai rasa sakit yang dialaminya. Dia harus membayangkan kembali perut ratanya mengembung oleh perbuatan suaminya.
...*****...
__ADS_1
...Mohon maaf baru Up, baru pulang dari aktifitas di dunia nyata 🙏...