Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Lebih Dalam, Sayang...


__ADS_3

Rona menghela napas, biji mata berputar. Dia bingung harus memulainya dari mana. "Edward... kenapa aku merasa ada sesuatu yang sedang direncanakan oleh Roland. Jujur saja aku tidak bisa berpikir positif mengenai pria itu!"


Edward mematikan hair dryer, lalu duduk berjongkok di depan istrinya dengan tangan menopang ke atas paha Rona.


"Sebenarnya aku juga cemas Rona. Firasatku mengatakan kalau Roland tidak tulus menikahi adikku. Mengingat banyak hal yang tidak menyenangkan antara kami berdua." Edward merebahkan kepalanya ke atas paha.


"Sayang..." panggil Edward mesra.


"Ya?" sahut Rona seraya membelai lembut kepala suaminya.


"Kamu wangi sekali..." ucap Edward seraya mengendus paha istrinya yang mulus.


"Bisa-bisanya lagi bahas sesuatu yang serius kamu malah on, Edward!" sungut Rona kesal.


"Namanya juga naluri lelaki sayang. Liat paha mulus dan wangi seperti ini, milikku langsung memberontak!" Edward mengusap kaki istrinya hingga pangkal selangkangann. Darah Rona berdesir, bibir mungilnya mengeluarkan desahann.


Edward menarik kaki Rona lalu menyingkapkan mini dress-nya. Dia berdiri dengan jemari mengelus bagian inti. Matanya menangkap kabut gairah dari wajah Sang istri.


"Lupakan sejenak semua masalah yang terjadi di rumah ini, lebih baik kita bersenang-bersenang mengarungi surga dunia." Suara bariton menyapu gendang telinga. Rona menggigit tipis bibirnya.


Edward mengangkat tubuh Rona, membawanya ke atas ranjang dengan kaki dibiarkan menjuntai. Matanya cukup mengatakan segalanya, kalau saat ini dia menginginkan penyatuan. Berbagi kesenangan dan juga kenikmatan.


Edward melucuti pakaian Rona dan hanya menyisakan G-String bertali tipis. Meski telah berkali-kali melihat tubuh istrinya, tapi tetap saja Edward selalu terpukau dan menahan ludah. Tubuh istrinya diciptakan begitu indah dan sempurna untuknya.


Kedua tangan Edward merangkak naik menuju dua gundukan yang semakin padat. Meremass lalu memutarnya dengan gemas. Senyum tipis tersimpul melihat istrinya semakin terhanyut akan permainannya.


Ibu jari dan telunjuk memilin puncak yang berdiri tegak. Rona melenguh karena rasa geli menjalar. Bibirnya mengatup dengan gigi menggigit tipis. Rona mulai meracau karena hasratnya tertawan.


"Edward... give me your lips!" desah Rona. "Please... kiss me, honey!"

__ADS_1


Rona mengangkat tubuhnya lalu menyambar bibir Edward. Melumattnya dengan liar. Lidahnya menyusup ke dalam mulut mencari benda kenyal untuk dia sesap. Kini gairah Edward yang terpancing dengan satu tangan memainkan payudara satu tangan lagi bermain di area in-tim. Jemarinya melesak masuk, memberikan Rona pelepasan pertamanya.


"Sudah Edward... aku tidak tahan. Ayo cepat masukan!" keluh Rona yang mulai kewalahan permainan jemari suaminya di area inti. Edward menancapkan miliknya begitu saja, Rona berteriak.


"Ka- kamu nakal Edward..." desah Rona tenggelam dalam arus bercinta. Suara sensual istrinya bagai pemacu untuknya semakin bergairah. Edward membalikan tubuh istrinya dengan posisi membungkuk. Kepala ke bawah dan panggulnya terangkat ke atas. Edward kembali melesakkan miliknya. Erangan dan rintihan mewarnai bibir pias Rona. Edward terus meneguk madu, menyisakan ampas.


Edward memaju mundurkan panggulnya dengan ritme yang lebih cepat, Rona terus meracau seraya mengeluarkan suara-suara seksinya.


"Oh, baby. Faster please..." desah Rona. "Lebih dalam sayang... terus... jangan berhenti...!!!" Tubuh Rona mengejang, dia mencapai puncaknya.


Edward yang belum mendapatkan pelepasan, dia mengangkat tubuh Rona lalu menggendongnya. Melanjutkan permainan hingga benih cintanya menyembur ke dalam rahim istrinya. Keduanya ambruk ke atas ranjang, dengan tubuh yang masih menyatu.


"Setelah Leona menikah, kita honey moon ya sayang. Aku sudah menyiapkan segalanya untuk hari itu." Edward mengecup kening Rona dan Rona tidak mampu merespon suaminya karena tubuhnya terlalu lelah.


...***...


"Bangun... laki-laki payah, ayo bangun!!" Claire mencipratkan air dingin dari dalam gayung ke arah muka Feliks. Mata pria yang tertidur di atas ranjang mulai mengerjap.


Feliks mengerdipkan matanya, perlahan bangun dari tidurnya. "Aku di mana?" Feliks melihat ke sekeliling kamar yang asing di indera penglihatannya.


"Kamu di kamarku, pria lemah!" sungut Claire yang memegang lap basah untuk mengompres wajah Feliks yang bengkak.


"Haish... maafkan aku Claire, aku—"


"Tutup mulutmu. Selain kamu gila kamu juga payah, pantas saja kisah cintamu selalu berakhir tragis!" ketus Claire sembari menekan kasar lap yang dia pegang.


"Lembut sedikit, bisa tidak? Pantas saja tidak ada laki-laki yang mau denganmu! Sudah kasar, ketus dan menyebalkan, untung saja kamu cantik!"


"Ish... tidak lucu!" Claire mengangkat piring berisi makanan, lalu menyodorkannya ke arah Feliks. "Nih makan! Aku tahu kamu lapar. Tadi pas lagi pingsan, perutmu terus saja berbunyi."

__ADS_1


Feliks mengusap perut six pack yang mendadak lapar lalu meraih piring yang disodorkan Claire dengan antusias. "Wow... sausage sangers. Ini kamu yang membuatnya?" Feliks menyantap dengan lahap, dalam hitungan detik makanannya sudah habis tak bersisa.


"Sekarang kamu pulang!" Claire menarik tubuh Feliks lalu menyeretnya keluar kamar.


Feliks memasang wajah memelas. "Malam ini aku tidur di apartemenmu ya. Lihat tuh jam berapa! Sudah hampir tengah malam, bagaimana kalau aku diculik sama tante-tante girang. Memangnya rela bagi-bagi?" cerocos Feliks yang membuat Claire murka.


"Aku muak mendengarnya Feliks! Mulutmu hampir sama seperti mulut tante Amber!" cerca Claire. Feliks mendadak diam dan membisu. Dia mengingat kembali bagaimana keluarga Liam merendahkan dan menghinanya. Claire yang melihat gelagat aneh, dia berbicara dengan lembut.


"Maaf kalau ada perkataanku yang menyinggung...."


Feliks menggelengkan kepalanya. "Apa kamu tidak ingin tahu apa yang terjadi tadi?" tanya Feliks lirih. Dia menatap ke arah Claire yang juga sedang menatapanya.


"Ya tentu saja aku ingin tahu. Tapi itu kan urusanmu dengan keluarga Liam, jadi aku—"


"Leona hamil!" Feliks memotong selorohan gadis yang duduk di sampingnya.


"Ha- hamil?" ulang Claire. Batinnya terguncang mengingat dia tahu siapa yang sudah menanam benih di rahim Leona.


"Iya hamil ... seseorang telah menodainya. Kedua orang tuanya ingin aku menikahi Leona, tapi aku tidak bisa." Feliks meneguk susu cokelat yang disiapkan untuknya.


"Kenapa menolak? Harusnya senang dong. Leona cantik, baik, pintar, berasal dari keluarga terpandang, tiada cela sedikit pun."


"Tapi aku tidak mencintainya Claire... karena hatiku mulai terbuka untuk wanita lain." Feliks menatap dalam ke arah netra hitam, lalu tersenyum. Tangannya menggenggam jemari lembut dengan kuku bewarna nude.


"Biarkan aku meyakinkan perasaanku, Claire. Maaf kalau kamu merasa aku hanya menginginkanmu hanya di saat aku butuh. Tapi di benakku saat ini hanya kamu...."


...*****...


...Beuh kang gombal meluncurkan aksinya terus nih....

__ADS_1


...Terimakasih untuk semua dukungannya Kak, terkhusus yang memberikan VOTE, hadiah, like dan comment. Semoga Allah menggantikan dengan yang lebih....


__ADS_2