Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Kembar Tiga


__ADS_3

Rona dan Edward beserta Ezio masuk ke dalam ruang pemeriksaan kandungan sore ini. Nampak seorang dokter juga perawat menyambut mereka dengan senyuman ramah.


"Selamat sore Dokter Emmy," sapa Rona sopan pada dokter kandungannya.


"Selamat sore Nyonya Edward. Silakan duduk," balas Emmy. Emmy menunjuk ke arah kursi kosong yang berada di depannya menggunakan telapak tangan yang terbuka.


Rona dan Edward mengucapkan terimakasih dengan serentak dan duduk bersamaan di atas kursi yang sudah disediakan. Pandangan mereka langsung terpaku pada wajah muram Dokter Emmy.


Emmy menghela kasar seraya membuka berkas cek kandungan milik Rona. "Anda terlambat check up 3 minggu Nyonya Edward. Seharusnya anda memeriksakan kandungan secara teratur dan berkala demi terpantaunya kesehatan juga perkembangan janin anda."


"I- iya Dok, maaf. Banyak hal yang tidak bisa kami jelaskan satu persatu, hingga istri saya tidak bisa memeriksakan kandungannya secara teratur," jawab Edward atas perkataan Emmy yang menyayangkan pasiennya tidak disiplin.


"Saya harap bulan depan tidak terlambat lagi, karena obat dan vitamin yang saya resepkan juga hanya untuk 1 bulan," sahut Emmy mempertegas.


"Baik, Dok..." jawab Edward cepat.


"Baiklah, kita mulai pemeriksaannya ya...," Emmy berdiri dan lebih dulu berjalan ke arah samping hospital bed. "Nyonya Edward, silakan anda naik ke atas ranjang pasien." Sambil menunggu Rona, Dokter Emmy mempersiapkan alat pemeriksaan.


Rona beranjak dari kursinya kemudian naik ke ranjang pasien dengan dibantu oleh sang suami. Edward kembali ke tempat semula dan mengangkat tubuh Ezio ke atas pangkuannya.


"Silakan diangkat pakaiannya Nyonya," titah Emmy dengan transducer di tangan. Rona mengangkat midi dress-nya, seorang perawat sigap menutupi bagian bawah perut hingga kaki menggunakan selimut. Emmy mulai mengoleskan Clear Ultrasound Gel ke atas perut Rona dan mengalihkan pandangan menghadap ke arah monitor.


Diputar-putarnya alat yang dia genggam, nampak sebuah gambar kantung rahim di layar komputer. "Itu gambar calon bayinya Nyonya, Tuan. Usia kandungannya sekitar 18-19 minggu."


Emmy menggerak-gerakkan lagi transducer ke arah kanan lalu ke arah kiri, kedua alisnya bertautan. "Sebentar Nyonya, waktu pemeriksaan terakhir kantung janinnya hanya ada satu, kan?"


"Iya, Dok. Cuman ada satu, memangnya kenapa?" sahut Rona yang turut terkejut.


"Di monitor terlihat kantung janin ada tiga titik, Nyonya," jawab Emmy takjub.

__ADS_1


Rona menatap monitor dan memperhatikan sebuah gambar berbentuk oval. "Lalu itu artinya apa, Dok?"


"Artinya... anda akan memiliki calon bayi kembar tiga," jelas Emmy sambil menggerakkan alat USG.


"A- apa Dok, kembar tiga?" ulang Rona untuk memastikan. Antara bahagia, terkejut dan tidak percaya, mulut Rona menganga dengan air mata mengalir dari kedua sudut matanya. Dia menatap ke arah Edward yang sama-sama tercengang.


"Tapi-tapi... saya tidak memiliki gen kembar, Dok. Apa itu bisa terjadi?" Edward masih belum percaya atas apa yang didengar dan dilihatnya.


Emmy mengulum senyuman lalu menjawab pertanyaan Edward dengan lugas. "Apa pun bisa terjadi, Tuan. Bila kuasa Tuhan yang berbicara...."


Edward tertunduk malu mendengar jawaban dokter Emmy, pasalnya selama ini dia terlalu hidup berlandaskan logika. Hingga dia lupa, bahwa akan ada hal-hal di luar nalar manusia yang hanya bisa dipahami dengan keyakinan kepada Tuhan.


"Lalu bagaimana perkembangan janin saya Dok?" tanya Rona khawatir.


Emmy memperhatikan ukuran janin di layar monitor dan sedikit menghela napas. "Ukurannya masih sangat kecil, Nyonya. Tapi ini masih wajar karena baru trimester pertama. Saya sarankan anda untuk makan yang teratur dengan menu yang bergizi. Buah, sayur, ikan, daging dan dibantu dengan susu khusus ibu hamil."


"Baik Dok, saya akan lebih memperhatikan kehamilan saya," balas Rona.


"Selamat Nyonya dan Tuan Edward," ucap Emmy setelah Rona kembali duduk di hadapannya. "Sekali lagi, tolong cek kandungan secara teratur. Dan ingat pesan saya tadi, ya...."


Dokter Emmy menuliskan beberapa vitamin dan obat untuk dibeli di apotek Rumah Sakit. "Ini ada zat besi, kalsium, asam folat dan vitamin D untuk satu bulan. Tolong diminum sesuai dosis dan aturan yang saya resepkan."


"Baik, Dokter. Terimakasih banyak," ucap Rona mengambil selembar kertas yang diserahkan dokter Emmy.


Rona dan Edward keluar dari ruangan dokter kandungan. Ezio yang sedari tadi hanya diam membisu, kini bersuara.


"Mommy... kembar tiga itu apa?" tanya Ezio dengan wajah polosnya.


Rona terkekeh lalu merangkum wajah tampan putra sulungnya. "Kembar tiga itu, di dalam perut Mommy ada tiga adik bayi. Artinya... Ezio akan punya adik sekaligus tiga."

__ADS_1


Ezio mengacungkan tangan sambil menghitung jarinya satu per satu. " Satu... dua... tiga...."


"Ezio akan punya adik sebanyak ini, Mommy?" Ezio mengacungkan tiga jarinya.


Rona mengangguk senang. "Iya sayang... Ezio akan punya adik langsung tiga...."


"Hore.... Ezio punya tiga adik... hore...." pekik Ezio gembira.


Rona turut gembira melihat kebahagiaan putra sambungnya, senyuman berkembang di wajahnya tiada henti. Begitu pun juga dengan Edward, bagaikan sebuah mimpi untuknya kalau mereka akan memiliki tiga anak sekaligus.


Perhatian Rona teralihkan pada seorang gadis yang duduk di antrean pasien dokter kandungan. Perutnya nampak terlihat buncit, tidak seperti waktu terakhir bertemu yang masih rata dan kecil.


"Edward... bukankah itu Arabella?" Tunjuk Rona pada gadis yang mengenakan mini dress hitam.


Edward memutar kepalanya dan mencari sosok yang disebut oleh istrinya. Indera penglihatannya menangkap wanita yang sempat dia benci dan mungkin hingga saat ini. Keningnya mengernyit saat bola matanya memindai perut Arabella yang terlihat membesar.


"Iya itu Arabella... tapi untuk apa dia ada di sini? Dan perutnya? Apa dia sedang hamil?" Muncul pertanyaan-pertanyaan di benak Edward, begitu pun juga di dalam pikiran Rona. Meski gadis itu sempat berniat membunuhnya, tapi melihat dia dalam kondisi hamil tanpa status yang jelas, hati Rona turut terenyuh.


"Entahlah, Edward. Terakhir kita bertemu di Rumah Sakit rasa-rasanya perut Arabella masih sangat rata. Tapi saat ini ukuran perutnya melebihi ukuran perutku." Rona menatap ke arah perut Arabella lalu ke arah perutnya.


"Apa Roland mengetahui soal adiknya ini?" tanya Edward lagi. Edward merogoh saku celananya lalu mengeluarkan benda pipih dari dalamnya. Dia membidikkan kamera handphone dan mengambil gambar Arabella dengan perut besarnya.


"Itu untuk apa Edward? Sepertinya ini bukan ranah kita untuk ikut campur," imbuh Rona yang tidak suka dengan sikap suaminya.


"Roland harus tahu mengenai adiknya, karena selama ini dia sangat menyayangi dan memanjakan Arabella," sahut Edward memasukkan kembali ponselnya ke dalam kantong celana. "Ayo kita pergi dari sini, sebelum Arabella menyadari keberadaan kita!"


Edward mengajak Rona untuk bersegera meninggalkan Rumah Sakit. Mereka berjalan dengan langkah lebar, menuju pintu keluar yang berada di seberang ruang dokter kandungan.


...*****...

__ADS_1


...Sehat-sehat untuk semuanya ya, jaga kesehatan cuaca sedang tidak bersahabat......


...Dan terimakasih banyak untuk semua yang masih berkenan membaca karya Senja yang satu ini 🙏...


__ADS_2