Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Pembalasan Dendam (1)


__ADS_3

...Hati bukanlah milik kita, ia murni Tuhan yang punya. Rasa cinta bisa dengan begitu saja mengalir ke setiap urat nadi. Namun, bisa begitu saja pergi. Tanpa permisi, tanpa ucapan....


...******...


"Jangan... kumohon jangan...." rengek seorang gadis yang tak lain adalah Leona. Seseorang mengeret tubuhnya lalu mencampakkan dengan kasar ke atas ranjang. Leona terus menangis, tapi pria yang sudah dikendalikan hawa nafsuu, hilang rasa belas kasih.


"Apa yang akan kamu lakukan?" teriak Leona gemetar karena pria yang berdiri di hadapannya tengah melepas kemeja dan gesper yang melingkar di pinggang.


"Aku ingin kamu membayar sakit hatiku karena perbuatan kakakmu yang bajingann itu!" teriaknya yang tak kalah nyaring.


"Ta- tapi kenapa harus aku?" Leona terisak lalu menarik tubuhnya untuk menjauh.


"Karena dia sangat menyayangimu... coba bayangkan bagaimana terpuruknya dia nanti setelah tahu kehidupan adiknya aku rusak!"


Leona melempar barang-barang yang ada di dekatnya, melihat pria itu mulai merangkak mendekati. Laki-laki tersebut menarik kasar kaki Leona lalu mengungkungnya.


"Jangan melawan, pasrah saja sayang. Nanti juga kamu akan menikmati dan bahkan memintanya kembali."


"Cuihhh!" Leona meludahi pria itu membuat dadanya bergemuruh.


Pria itu mulai menyerang Leona, melemahkan pertahanannya. Dia menyesap ceruk leher dengan tangan meremass kasar gundukan yang masih berbalut kain.


"Lepas bajingan!" Leona menendang tubuh pria itu. Namun, dia mencengkeram kaki Leona lalu menariknya berlawanan arah. Pria itu terus mencoba melemahkan Leona dengan mempermainkan bagian inti tubuhnya. Leona sekuat tenaga menahan, tetapi pelepasan pertama keluar begitu saja.


Pria itu tertawa melecehkan. "Waw... lihat! Bibir berkata jangan, namun tubuhmu merespon sentuhan."


Leona meraung-meraung merutuki diri karena bagaimanapun itu semua di luar kendali. Dia sudah berusaha menahan dan melawan gejolak, tapi tubuhnya malah berkhianat.


"Tolong, lepaskan aku... aku akan membayar berapa pun yang kamu mau, asal kamu membiarkan aku pergi dari sini." Leona menelungkupkan kedua tangan berharap pria itu tidak melanjutkan aksinya.


Pria itu terbahak-bahak lalu menyorot mata Leona, mengintimidasi. "Kau pikir aku ini orang miskin, Dokter Leona? Yang aku butuhkan bukan uang, yang aku butuhkan pembalasan dendamku terbayarkan satu persatu. Aku telah menghancurkan perusahaan kakakmu dan sekarang aku akan menghancurkan hidup adik yang sangat dia sayangi!"


Pria itu meraih pisau di dalam laci, Leona ketakutan. Dan dengan satu sayatan, tubuhnya kini terekspos tanpa celah. Leona sontak menutupi tubuh atasnya. Akan tetapi, pria itu menarik lengan Leona dan mengikatnya menggunakan seutas dasi.


Isakan Leona semakin kencang karena pria itu mulai memaksa masuk untuk penyatuan. Leona menendang-nendangkan kakinya lemah, lalu menjerit karena rasa sakit yang teramat.


"Oh... kamu masih perawan rupanya. Aku sangat puas!" Pria itu tanpa jeda memaju mundurkan miliknya dengan kasar. Tangannya tak lepas dari bagian tubuh atas yang kenyal dan padat.


"A- aku mau keluar..." ucap pria itu seraya memejamkan mata. Tubuh Leona menegang, dia berusaha melepaskan diri, tetapi pria itu mencengkeram kuat dan membiarkan pelepasannya membuahi tubuh dalam Leona.

__ADS_1


"Ya Tuhan... kakakku yang berbuat dosa, tapi kenapa harus aku yang menanggungnya?"


...***...


"Dipecat, mengundurkan diri. Dipecat, mengundurkan diri. Dipecat?" Feliks berjalan merunduk seraya memetik kelopak bunga satu persatu. Dia tidak sengaja menubruk tubuh seseorang.


"Aw..." keluh gadis di depannya.


"Maaf, maaf tadi aku tidak—" ucapan Feliks terjeda. "Leona? Ka- kamu kenapa?" tanya Feliks yang melihat wajah Leona penuh airmata.


Leona menggelengkan kepala seraya terisak. "A- aku tidak apa-apa Kak...."


"Jangan bohong... Kakak tahu persis kamu seperti apa," ujar Feliks yang menarik tubuh Leona ke dalam dekapan.


"Maafkan Leona ya Kak, Leona selama ini tidak pernah menyadari perasaan Kak Feliks. Sekarang hidup Leona sudah hancur," batin Leona.


Feliks membawa Leona masuk ke dalam cafe terdekat. Dia tidak tahan bila harus melihat seorang wanita menangis. Ditatapnya sang gadis yang dahulu pernah singgah di hati. Wajahnya begitu sendu dengan mata yang sayu.


Seorang waiter datang dan menyodorkan list menu makanan. "Silakan Tuan...."


"Leona, kamu mau minum a—"


"Terserah Kak Feliks saja," potong Leona.


"Brocolatte satu dan Ice Mapple Late satu," ulang waiters sambil mencatat menu yang dipesan. "Ada tambahan lain Tuan?"


Feliks menggelengkan kepala lalu waiter tersebut berlalu dari hadapannya.


Air mata terus saja berderai tanpa henti, mengingat malam kelam yang dia lewati dengan rasa sakit. Kejadian yang dia alami seakan balasan atas perbuatan kakaknya pada gadis yang tidak berdosa.


"Apa karma itu ada Kak?" lirih Leona.


"Ya?" sahut Feliks.


"Apa karma itu ada?" Leona mengulang pertanyaan yang sama.


Feliks menghela napas seraya memutar otaknya. Memikirkan kalimat yang tepat untuk dia ucapkan.


"Silakan Tuan, Nona..." ucap waiter yang tiba-tiba datang dan membuyarkan isi kepala Feliks.

__ADS_1


"Terima kasih..." ucap Feliks. Dia menyodorkan minuman kesukaan Leona lalu menyesap minuman miliknya. Suasana kembali hening, yang terdengar hanya suara saliva yang ditelan perlahan.


Feliks merasa tidak nyaman dengan kondisi seperti ini. Leona yang terbungkam dan waktu yang terbuang. Bagaimanapun dia masih ada urusan yang harus diselesaikan.


"Leona...," Feliks memanggil nama gadisnya seraya membelai lembut wajah yang basah. Leona mengangkat kepala, menatap Feliks dengan mata yang menyipit. Tidak ada getaran sedikit pun dalam hati Feliks, berbeda dengan Leona yang seperti mengharap sesuatu.


"Iya Kak?" sahut Leona lembut.


"Katakan ada apa? Siapa tahu Kakak bisa membantu."


"Kak..." panggil Leona.


"Iya, My Baby Leona?" sahut Feliks dengan menyebut nama panggilan kesayangannya.


"Menikahlah denganku, Kak...."


Feliks terkejut tak terkira lalu tertawa hambar. "Lagi sedih juga masih saja bercanda," timpal Feliks seraya mencubit pipi Leona.


"Aku tidak bercanda Feliks, menikahlah denganku...."


Feliks membisu, menunduk sejenak lalu menatap ke arah wajah Leona yang sembab. Memang dia mencintai Leona. Namun, itu dahulu sebelum dia mengenal Rona.


"Maaf Leona, aku tidak bisa..." tolak Feliks.


"Tapi kenapa Kak?" Leona menggenggam tangan Feliks lalu mengecupnya. "Bukankah Kakak mencintai aku?"


Feliks mengehembuskan napas kasar, lalu mengungkapkan apa yang ada di hatinya. "Dulu aku memang mencintaimu Leona. Bertahun-tahun bertahan dengan cinta sepihak. Sekarang, aku mencintai wanita lain."


Leona manggut-manggut lalu tersenyum miris. "Oh, iya Kak. Aku paham... kali ini aku mendapatkan karmaku sendiri. Aku dulu yang tak pernah memperdulikanmu, malah kini aku yang mengharap cintamu."


Leona menarik tubuhnya untuk berdiri dan menggantungkan tas mini di atas bahu. Dia melangkah pergi meninggalkan Feliks dengan rasa yang berkecambuk.


"Terima kasih Kak atas waktunya, aku berharap kita masih bisa bertemu lagi. Meski di dunia yang lain...."


Feliks sontak memutar kepala dengan mata yang membola, hendak menahan kepergian Leona. Namun, gadis itu sudah jauh dari jangkauannya.


"Apa maksud perkataan Leona?"


...********...

__ADS_1


...Apa kabar semua? Semoga selalu sehat ya. Jangan lupa untuk menjaga kesehatan, makan teratur, minum air putih dan istirahat yang cukup....


...Selamat Hari Rabu...


__ADS_2