
"Kenapa bibirmu bisa membesar seperti itu, Feliks? Kamu dicium tawon?" tanya Claire bingung.
Feliks mendelik kesal dan menjawab pertanyaan Claire dengan ketus. "Ini gara-gara sahabat baikmu memberiku saus cabai! Dan lihat ini ... karena ulahnya, bibirku menjadi bengkak juga memerah!"
Claire tergelak mendengar penuturan kekasihnya, lalu merangkum wajah Feliks dan menatap dalam. "Katakan, apa yang sudah kamu lakukan, sampai-sampai sahabatku mengerjaimu?"
Feliks menahan saliva, isi kepalanya berpikir keras mencari alasan yang tepat untuk menjawab. Namun sayang, otaknya mendadak beku.
"Em... itu... aku... em... anu...," Feliks menggaruk kepalanya tidak gatal serta memasang mimik muka sepolos mungkin.
"Anu, itu, anu, itu, bicara yang jelas Feliks!" bentak Claire dengan kepalan tangan mengarah ke hidung lelakinya.
Feliks menelan ludah, kelopak matanya mengerjap cepat. Secepat mulutnya yang berucap, tanpa berpikir akibatnya. "Aku berkhayal kalau Rona menciumku Claire!"
Pengakuan Feliks tentu saja mengejutkan serta melukai hati Claire. Meski tidak ada sedikit pun niat untuk menyakiti perasaan kekasihnya.
"Kamu masih mencintai, Rona?" lirih Claire dengan mata berkilap duka.
Lidah berubah kelu, Feliks terbungkam seribu bahasa. Yang mampu dia lakukan, hanya menundukkan kepalanya. Menyembunyikan wajah bersalah dari kilatan amarah kekasihnya.
"Kenapa diam saja Feliks? Ayo jawab!" Claire berteriak lantang dengan jemari mengepal erat. Dia sekuat hati menahan perasaannya yang teriris, menabahkan hati kecilnya yang tercabik.
Feliks mengangkat kepalanya dan berucap singkat. "Maaf...."
"Maaf? Hanya itu, Feliks?" Claire berdecak kesal, matanya menyipit sebal. Dia menghentakkan kaki lalu meninggalkan Feliks seorang diri.
"Claire... tunggu!" Feliks menyusul Claire yang berjalan dengan gusar. Langkah kaki Claire sangat cepat, Feliks tergopoh-gopoh dengan napas tersengal-sengal.
Gadis yang tengah dirundung pilu, ingin menyepi dan menyendiri untuk beberapa waktu. Dia mengacuhkan suara teriakan kekasihnya yang memintanya untuk berhenti. Rasa kecewa saat mengetahui bahwa kekasihnya masih saja menyimpan rasa untuk wanita lain, benar-benar mengusik keyakinannya akan hubungan yang tidak jelas ke mana arahnya berlabuh.
"Claire... awas!!!" teriak Feliks lantaran gadisnya tengah menyebrang jalan tanpa melihat kondisi lalu lintas di sekitar. Teriakan Feliks menggema, saat bola matanya menangkap laju kendaraan yang bersiap untuk menghantam tubuh kekasihnya.
__ADS_1
Dan,
"Aaahh...," Claire berteriak serta mata memejam. Dia sudah pasrah karena tidak mampu lagi untuk menghindar. Ketika detik-detik nyawa berada di ujung tanduk, tubuhnya ditarik oleh lengan seseorang. Tubuh seseorang itu terjengkang, punggung dan kepalanya menimpa aspal panas dengan sangat keras.
"Tidak... Feliks...!!"
Teriakan demi teriakan terdengar begitu memilukan, seiring decitan suara rem mobil dan juga benturan benda keras. Teriakan tersebut kini berubah menjadi jeritan dan juga ratapan. Saat menatap tubuh sang kekasih terbujur tidak sadarkan diri.
"Feliks... ayo bangun...!" Claire menggoyang-goyangkan tubuh kekasihnya. Namun, tidak ada jawaban.
"Kumohon bangun... aku mencintaimu, Feliks. Aku mencintaimu..." rengekannya tidak mampu membangunkan tubuh sang kekasih yang terkapar tak berdaya.
Claire menangis pilu, dia meraung-raung meratapi apa yang terjadi di depan mata. Butir-butir kesedihan berlinang tanpa tertahankan. Wajah cantiknya tertutup deraian air mata. Menangisi sang kekasih terkulai tak bergerak.
"Tolong... tolong kekasihku, dia sekarat..." rintih Claire kepada setiap orang. Namun, tidak ada satu pun yang tergugah untuk menolongnya.
"Feliks... jangan tinggalkan aku. Kumohon, bertahanlah...!" Claire memukul dada Feliks berkali-kali, berharap kekasihnya terbangun dan sadarkan diri. Sayangnya, tubuh Feliks memaku.
Claire ingin memastikan kalau Feliks masih hidup dengan meletakkan daun telinga di atas dada kekasihnya. Senyumnya tersimpul, dia mendesahh lega.
Baru juga menghela napas, Claire sudah dikejutkan oleh tangan kokoh yang melingkar di atas pinggang. Gadis itu mendongak, manik mata berbinar bahagia. Belum cukup sampai di situ, dia dikejutkan kembali dengan sebuah benda berbentuk lingkaran dan berkilauan yang diperlihatkan padanya. Kening Claire mengerut, dia mencari jawaban dari dalam netra kekasihnya.
"Aku juga mencintaimu, Claire... will you marry me?" tanya Feliks dengan menyodorkan sebuah cincin emas putih bertaburkan diamond.
Bukannya menjawab, Claire malah terbahak lalu menarik tubuhnya untuk menjauh. Tetapi, Feliks berhasil merengkuhnya kembali. "Jawab, Claire...."
"Apa yang harus aku jawab, Feliks? Kamu pikir aku akan senang, aku akan bahagia dengan caramu seperti ini? Tidak!" Claire menggigit lengan kekasihnya lantas bangkit dan berjalan tergesa-gesa.
Feliks secepat kilat mengangkat tubuhnya dari atas aspal, lalu mengejar sang kekasih yang pergi meninggalkannya. Dia berlari sekuat tenaga, hingga tubuh wanitanya tergapai dan mampu dia dekap ke dalam hangat pelukan.
"Maafkan aku, Claire...," Feliks memeluk erat tubuh gadisnya, Claire terisak. Pemuda itu merasa bersalah karena telah memberikan Claire kejutan yang memicu adrenalin. Namun, hanya cara itu yang terbesit di pikirannya untuk melamar sang kekasih.
__ADS_1
"Kamu jahat Feliks, kamu jahat..." lirih Claire berlinang air mata. Claire tidak berhenti terisak, di dalam relung hatinya semua rasa bergejolak.
"Aku memang jahat, aku memang bodoh, tolol, stupid, menyebalkan dan tidak tahu diri. Tapi aku sungguh mencintaimu, Claire...," Feliks tidak berhenti berusaha. Dia menyodorkan kembali benda yang berada di genggaman sembari melontarkan pertanyaan yang sama, untuk kedua kali.
"Will you marry me?"
Kepala Claire bergerak ke bawah dengan bibir digigit tipis-tipis. Dia memainkan ujung mantel menahan rasa malu yang menderanya. Feliks memutar tubuh Claire lalu menarik wajah sang kekasih agar menatapnya.
"Lihat aku Claire dan jawab pertanyaanku. Ini pertanyaan terakhir, aku tidak akan mengulangnya lagi." Feliks menjimpit dagu Claire, mengangkatnya hingga dua pasang mata bersitatap. "Will you marry me?" Wajah Feliks memudar, karena Claire terbungkam tak berkata.
Feliks melangkah mundur, nampak kini wajahnya memerah karena sedih. Dia melipat bibirnya, tidak ingin menangis dan tidak ingin terlihat lemah di hadapan Claire.
"Aku mundur, Claire. Aku menyerah!" Feliks membalikkan badannya membawa duka juga lara.
"Yess, I will...."
"Yess, I will...."
"Yess, I will... I love you so much, Feliks. I love you...."
Mendengar teriakan gadisnya, langkah Feliks terhenti. Dia mengusap wajahnya yang basah karena air mata. Tubuhnya memutar, tangan Claire merentang untuk menyambutnya. Feliks tergelak bahagia atas apa yang diucapkan Claire kepadanya. Dia mengangkat kedua kaki, berlari kencang ke arah gadisnya.
Namun naas, kakinya tersandung sebuah batu yang tergeletak di atas trotoar. Feliks terjerembab, karena dia tidak mampu menahan tubuhnya.
"Feliks..." teriak Claire kaget. Dia lari tunggang langgang, menghampiri Feliks yang terjatuh dengan posisi badan tengkurap. Antara ingin tertawa dan kasihan, Claire menahan geli di perutnya. "Kamu baik-baik saja, Feliks?"
Kekasihnya itu menggelengkan kepala dan menutupi wajah karena tersipu malu. "Aku baik-baik saja, Claire. Cuman aku malu, benar-benar malu. Kejutan yang aku berikan, gagal total!"
"Yang paling pentingkan, jawabanku..." sahut Claire lantas mengecup bibir kekasihnya.
...*****...
__ADS_1
...Terimakasih banyak bagi yang sudah berkenan membaca karya Senja yang satu ini. Selamat malam dan selamat beristirahat....