Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
KOMA


__ADS_3

Suara hentakan dari sepasang heels berwarna merah cabe menggaung samar di koridor Rumah Sakit. Hentakan dengan ritme dan tempo yang sama mendengungkan satu nada. Tubuh sintalnya membayang di atas dinding dengan pencahayaan yang sedikit redup. Namun aroma tubuhnya melekat dan membekas di dalam indera penciuman.


"Hello My Hot Daddy..." sapa seorang wanita dengan gincu kesukaannya, merah merona. Dia semakin mendekat, bulu kuduk Edward berdiri.


"Pantas saja badan ku merinding, ternyata ada titisan iblis muncul di depan muka!" sarkas Edward yang disambut dengan cekikikan.


"Aku memang titisan iblis, sedangkan kamu pria laknat. Kita cocok sayang...!" Arabella menghembuskan napas beraroma mint ke arah wajah Edward lalu tersenyum genit.


"Wah... wah... wah... lihat siapa ini yang berani memunculkan wajahnya? Si wanita kesepian yang selalu mengejar suami orang! Apa saking tidak lakunya, sehingga seorang puteri dari keluarga terhormat harus merendahkan diri mengharap cinta suami orang?"


Netra kelabu yang dihiasi bulu mata palsu, membulatkan tatapannya. Hidungnya kembang kempis lantaran harga dirinya tercabik.


Arabella mengacungkan jari telunjuk. "Kamu!" Dia membuang napas lalu menurunkan jarinya. "Oke-oke kali ini aku mengalah, aku sedang tidak ingin membuat keributan. Mana kakakku? Aku ada urusan dengannya."


Arabella merogoh benda bulat dan panjang dari dalam tasnya. Dengan jari lentiknya dia membuka penutup wadah berbentuk bulat. Dia menyapukan bedak ke wajahnya dengan merata lalu memulas bibirnya yang sudah merona semakin merona. Arabella melipat-lipatkan benda kenyal itu dan menbentuknya sesensual mungkin.


"Kenapa kalian diam? Cepat katakan kakakku di mana?" tanya Arabella dengan raut songong. Rona mencebikkan bibirnya lalu menirukan cara Arabella berbicara.


"Kenapa kalian diam? Cepat katakan kakakku di mana?" ulang Rona mencibir. "Bertanya itu yang sopan Nona, sebagai orang terpandang seharusnya tahu sopan santun. Apa perlu aku daftarkan ke sekolah kepribadian?"


Arabella memutar kedua bola matanya. "Aku sedang tidak ingin berdebat, sekali lagi aku tanya di mana kak Roland?"


"Dia menenami Leona," jawab Rona singkat.


"Di mana?" potong Arabella tidak sabar.


"Di ruang Flamingo kamar axcel," timpal Rona.


"Oke, terimakasih maduku!" seru Arabella tanpa malu.


Rona menarik bibirnya ke satu sudut lalu terkekeh. "Teruslah bermimpi setinggi langit Arabella...!"


Wanita yang selalu mengenakan dress serba minim, tidak mempedulikan ocehan Rona. Dia berjalan lenggak-lenggok dengan mengacungkan telapak tangan.


"Huh... kenapa Tuhan menciptakan makhluk seperti dia sih?" keluh Rona. Dia mengurut pelipisnya yang tiba-tiba pening.


"Kamu tidak apa-apa sayang?" tanya Edward cemas.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa. Aku hanya butuh cokelat hangat secepatnya," sahut Rona ketus.


Edward mengangguk dan tanpa menunggu lama, dia pergi ke arah kantin untuk membeli minuman yang diinginkan istrinya. Dan Rona kembali ke tempat duduknya lalu berjalan merambat dengan menopangkan tangan ke atas dinding.


...***...


"Kamu mau minum?" tanya Roland lembut.


Leona menggelengkan kepala. "Aku ingin bertemu papa...."


Napas dihembuskan. "Nanti ya kalau kamu sudah pulih." Roland meletakkan tangannya di atas pucuk kepala Leona. "Apa kamu mau papamu semakin terpuruk karena melihat kondisi kamu seperti ini?


Leona kembali menggeleng. "Tapi aku ingin melihat kondisi papa, Kak..." rengek Leona manja.


Roland terkekeh, "Kamu masih sama seperti Leonaku yang dulu..." ungkap Roland yang membuat Leona tersipu dan salah tingkah. Dalam hatinya terngiang-ngiang sebutan Leonaku.


"Pipimu memerah...!" Roland membelai lembut pipi Leona, Leona membuang muka.


"Kenapa Kak Roland tiba-tiba baik padaku?" tanya Leona curiga.


Roland menarik pipi istrinya. "Bukankah aku selalu baik dari dulu hm...?"


Roland terbahak. "Apa aku terlihat sedang memainkan peran?" Roland mendekatkan wajahnya.


Kelopak mata mengerjap cepat. "A-aku tidak tahu. Yang tahu isi hati Kak Roland kan, ya... Kak Roland sendiri dan juga Tuhan," imbuh Leona tergagap.


BRAKKK!!! Arabella membuka pintu kamar dengan sekuat tenaga. Kepalanya yang mengepul karena emosi kini semakin terbakar karena melihat pemandangan yang menurutnya menjijikkan.


"O My God! Tidak di sana, tidak di sini. Semua budak cinta!!!" omel Arabella yang sebetulnya merasa iri dan cemburu.


"Itu sih deritamu adikku sayang..." ledek Roland. Arabella berdecak kesal dan mendaratkan tubuhnya di atas sofa.


"Ada apa mencariku?" Roland menghampiri Bella, lantas duduk di sampingnya.


"Mami sama papi mencari Kakak. Semenjak Kakak menikah, Kakak tidak pernah lagi menginjakkan kaki ke Mansion papi. Kenapa? Bahkan aku ingin menemui Kak Roland ke Rumah Sakit selalu dihadang security?"


Roland memutar posisi duduknya dari miring menjadi lurus. "Tidak apa-apa, aku hanya ingin fokus mengelola Rumah Sakit dan bisnisku!"

__ADS_1


"Begitukah?" Arabella menatap dalam, mencari kebohongan di netra mata kakak sulungnya. Akan tetapi dia tidak menemukan apa-apa.


"Baiklah... aku mencari Kakak cuman ingin tahu kabar Kakak dan bertanya soal tadi. Aku pulang ya...."


Roland mencekal lengan Arabella dan menatap sengit. "Langsung pulang kan?"


"Ah... Kakak seperti tidak tahu saja kebiasaanku!" Arabella memainkan rambut blondenya. "Aku mau mencari daun muda. Sudah bosan dengan yang tua-tua. Mereka tidak bisa memuaskanku gairah mudaku!" Bella menyemprotkan wewangian ke arah leher dan tubuhnya.


"Aku pulang ya Kak." Bella mengecup pipi Roland kiri dan kanan. "Bye... mantan sahabat yang sekarang jadi Kakak ipar," pamitnya pada Leona.


Selepas kepergian Arabella, Roland menghembuskan napas kasar. Dia menyandarkan punggungnya dan menempelkan kepalan tangan di atas kening. "Semakin usiaku bertambah, kekhawatiran akan kehidupan semakin menggebu. Aku punya adik perempuan satu-satunya, tapi aku tidak becus menjaganya."


Leona menutup mulutnya mendengarkan Roland mencurahkan beban di hati yang selama ini dia tanggung sendiri. Roland di matanya tidak jauh berbeda dengan Edward. Menutupi luka dan masalah dengan sikap arogan dan intoleran pada sesuatu yang mereka anggap biang masalah.


...***...


Dua jam berlalu, akhirnya lampu ruang operasi telah padam. Dua pasang mata menunggu dengan asa yang membuncah. Tangan yang hangat berubah dingin. Saliva tertahan, mata tak berkedip.


Pintu kamar terbuka perlahan, keluarlah seorang dokter yang masih mengenakan masker dan sarung tangan yang membungkus jemarinya. Wajahnya yang bersahaja dengan raut yang tenang, mengisyaratkan akan ada kabar baik yang terucap dari lidahnya.


"Bagaimana papa saya, Dok? Operasinya lancar kan? Papa saya selamat kan, Dokter?" Edward bertanya secara beruntun tidak memberi ruang untuk pria setengah baya menjawab dan menjelaskan kondisi Richard.


"Sabar sayang... berikan kesempatan pada Dokter untuk berbicara." Rona mengusap-usap punggung Edward, dan lelakinya mengangguk.


Dokter yang menangani Richard membuka sarung tangan lalu melepas maskernya. "Operasi berjalan dengan lancar. Pasien berhasil melewati masa kritisnya," ucapannya terjeda. "Tapi...."


"Tapi apa Dok?"


"Tapi pasien koma untuk sementara waktu."


Edward mencengkeram kerah kemeja pria di hadapannya. "Apa maksudmu papaku koma? Dasar tidak becus! Harusnya kamu lepas saja gelar doktermu itu!" bentak Edward tidak terima mengenai kondisi Richard.


"Tuan Richard, hanya koma sementara. Dan ini benar-benar keajaiban Tuhan. Sangat jarang pasien dengan gumpalan darah di kepala bisa selamat dan bertahan hidup seperti ini!"


Edward mengusap kasar wajahnya dan menarik tangan Dokter tersebut. Terimakasih Dok, terimakasih. Maafkan atas kekasaran saya. Saya hanya terlalu takut kehilangan papa untuk selamanya."


...***...

__ADS_1


...Terimakasih semuanya, sehat selalu ya......


...Belum mau tambahin konflik ah, biar jantung aman 😁...


__ADS_2