
...Hari Senin ditunggu VOTE-nya ya Kak. Hehehe......
...*****...
Sebagian orang mungkin tidak mempercayai adanya karma. Tapi meski kita sadari, setiap perbuatan sudah satu paket dengan balasannya. Perbuatan baik, menarik hal-hal baik untuk mendekat. Begitupun sebaliknya, melakukan hal-hak buruk seyogyanya memancing hal buruk untuk datang, cepat atau lambat.
Seorang pria yang didera kekhawatiran, duduk merengut dengan kepala menunduk. Tidak tahu apa yang tengah dia pikirkan saat ini, namun yang pasti penyesalan begitu menukik ke dalam hati.
Sesekali kepalanya menoleh ke arah pintu yang tertutup, sesekali menyeka keringat di atas muka. Dia menunggu dengan gusar, bagaimana keadaan kekasihnya saat ini.
Pintu ruang ICU terbuka, Roy sontak berdiri lalu menghampiri dokter yang menangani wanitanya. "Ba-bagaimana dengan Jessi, Claire?"
Claire tertunduk lesu sembari menarik napas dalam-dalam. Kemudian dia mendongak, menatap pias ke arah pria di hadapannya. "Kondisi Jessi dan bayinya sangat lemah, kita hanya bisa menolong salah satu dari mereka."
"A-apa maksudmu?" lirih Roy putus asa.
"Kamu hanya bisa memilih salah satu dari mereka untuk diselamatkan. Pilih ibunya atau bayinya?" Claire kembali menundukkan kepala, tidak sanggup melihat wajah penuh iba.
Roy memekik dan berteriak kencang, dia mengepalkan tangannya lantas menghantam dinding. "Apa dosaku Tuhan...?"
"Beri keputusan secepatnya Roy, terlambat 5 menit saja kita bisa kehilangan keduanya," ujar Claire tegas.
Roy menyorot tajam ke arah dokter yang berdiri di sampingnya. "Kalau begitu, tolong selamatkan Jessi. Selamatkan kekasihku!"
"Baik, aku akan berusaha sekuat tenaga," jawab Claire memutar tubuhnya untuk kembali ke dalam ruangan. Suara dalam menahan langkahnya sesaat.
"Kalau Jessi tidak selamat, nyawamu taruhannya!" geram Roy.
"Cih! Di saat seperti ini seharusnya ingat Tuhan, bukan cuman bisa mengancam," timpal Claire dingin.
Roy terdiam dan bibirnya terkatup. Dia dibuat mati kutu tidak mampu lagi menyanggah perkataan Claire. Lantas memilih berjalan mundur kemudian menyandarkan punggungnya ke depan dinding.
Satu jam berlalu, operasi berjalan dengan lancar. Jessi selamat, namun dia harus kehilangan bayinya. Saat ini gadis itu belum sadarkan diri karena efek obat bius.
"Sayang..." lirih Roy mengecup punggung tangan calon istrinya. Matanya menggenang, menatap sang kekasih terbujur lemah.
"Maaf... karena kesalahanku, kita harus kehilangan anak kita." Roy terisak. Jemarinya sibuk menghapus air mata yang berderai tiada jeda. Matanya beralih ke atas perut yang sudah kembali datar, tangannya mengusap tipis seraya tersedu.
Pengaruh obat bius perlahan menghilang. Kelopak mata bergerak perlahan, dengan kepala yang bergulir lambat. Jessi menoleh ke arah lelakinya sekejap kemudian meringis merasakan sesuatu yang pedih di atas perutnya.
"Ah... aku kenapa Roy, kenapa perutku sakit sekali?" Jessi meraba perutnya, matanya terbuka sempurna karena mendapati perut buncitnya kembali rata. "Pe-perutku, kenapa perutku mengecil?"
__ADS_1
Roy hanya mematung, tidak sanggup mengatakan apa yang sudah terjadi. Karena baginya lebih utama menyelamatkan nyawa Jessi ketimbang janin hasil cintanya.
"Kemana bayiku, kenapa kamu diam saja? Ayo jawab...!" Jessi menarik-narik tangan Roy menuntut sebuah jawaban. "Ayo jawab, jangan diam saja...."
"Ba-bayi kita meninggal," jawab Roy tegang.
Jessi bangkit dari posisinya, lantas tertawa riang. Namun dari sudut matanya mengalir tetesan bening. Tawanya hilang berganti tangisan. Dia meraung-raung mengekspresikan kepedihan. "Kenapa bayi kita bisa meninggal, sementara aku masih hidup? Kenapa tidak aku saja yang mati?"
Kekasihnya merapat kemudian mendekap. Dia menarik kepala Jessi lalu menyandarkannya ke dalam dada. "Maafkan aku Jessi, ini salahku. Aku tidak sanggup kalau harus kehilanganmu. Tadi kamu dalam keadaan kritis, aku bingung harus memilih kamu atau anak kita. Jadi aku memutuskan untuk...."
PLAKKK!!! Jessi melayangkan satu tamparan. Roy mengusap-usap pipinya yang terasa panas.
"Tega sekali kamu membunuh bayi kita Roy... lagi pula kenapa kamu tidak sanggup kehilangan aku, sedangkan kamu lupa daratan asyik masyuk bercinta dengan jalangg itu?!" Jessi memukul dada Roy berkali-kali, Roy membiarkan tubuhnya disakiti Jessi.
"Pergi kamu Roy, pergi!!" usir Jessi. "Aku tidak ingin melihat muka menjijikkan kamu lagi. Pergi dari hadapanku!" Jessi terus memukul dada Roy.
"Maafkan aku Jessi, kumohon...."
Jessi menghentikan lengannya dari memukuli Roy, beralih dengan menyakiti dirinya sendiri. "Kalau begitu, aku saja yang pergi dari hidupmu!"
Jessi mencabut jarum infusan, darah memuncrat. Matanya menangkap sebilah pisau di atas meja, kemudian menariknya. Dia berniat mengakhiri hidupnya dengan memutuskan urat nadi, akan tetapi Roy menahannya.
Wanita yang tengah terpuruk semakin sulit dikendalikan. Teriakannya semakin histeris, tangan dan kakinya bergantian menghajar laki-laki di depannya. Darah yang masih menetes dari dalam urat nadi, tidak dia hiraukan. Yang dia pikirkan saat ini melampiaskan semua kebencian pada pria yang mengkhianatinya.
Claire tergopoh-gopoh karena mendapat laporan huru-hara dari ruang perawatan. Terlihat Jessi sedang mencekik leher Roy, dengan bersigera dia menyuntikkan obat penenang. Jeratan tangan Jessi di leher lelakinya merenggang, tubuhnya melemah. Dia takluk oleh pengaruh obat yang diberikan Claire.
"Terimakasih, Claire," ucap Roy.
Claire mengangguk. "Jaga kekasihmu baik-baik, jangan biarkan dia sendirian. Jangan ada satu pun benda tajam di ruangan ini. Kamu harus lebih bersabar menghadapi Jessi, karena dia mengalami depresi berat...."
Roy mengusap wajahnya kasar dan menjawab singkat. "Baiklah...."
...***...
"Minum." Feliks menyodorkan satu cup moccacino.
"Terimakasih." Claire meraih minuman yang diberikan lelakinya.
"Kamu sedang ada masalah?" Feliks menoleh sekilas ke arah Claire kemudian meneguk soft drink di genggaman.
Claire menghembuskan napas kasar. "Hari ini begitu berat, Feliks. Aku seakan merenggut kehidupan jiwa yang lain ... yang bahkan belum sempat menatap indahnya dunia ini."
__ADS_1
"Kamu tahu Claire, bahkan kita berkedip setiap detik pun tak pernah diminta ataupun direncanakan. Semuanya adalah kuasa Tuhan, apapun yang sudah Dia tuliskan ... kita tidak bisa melawannya." Feliks mengusap lembut kepala Claire disertai tatapan hangat.
Sejumput senyuman terbit dari kedua sudut bibir. "Terimakasih, Feliks. Kata-katamu bagai embun yang sejuk di tengah diri yang terbakar. Tapi... kamu tidak lagi demam, kan?"
Kedua alis bertautan, kening mengerut. "Aku sehat Claire, memangnya kenapa?"
Claire terkekeh, "Tidak kenapa-kenapa sih. Cuman aneh saja ... Feliks yang terkenal akan kegilaan dan kebodohannya, bisa berubah 180 derajat sedewasa ini!"
Feliks merapatkan tubuhnya kemudian menarik pinggang gadisnya. "Kamu tengah memujiku atau memancing sisi gilaku, hm?"
"A-aku ha—"
CUP!!!
Kecupan lembut menghentikan ucapan Claire. Bibirnya terkatup karena pergerakan cepat bibir Feliks di atas bibirnya.
"Aku hanya bisa menghiburmu dengan ini." Feliks memagut benda kenyal Claire untuk kedua kalinya. Menghanyutkan perasaan gadisnya ke dalam lautan cinta. Claire membalas ciuman Feliks, menikmati setiap sudut bibir manis milik kekasihnya. Beban di pundaknya seakan hilang, berganti suka cita dan gairah asmara.
"Mari kita bersenang-senang malam ini, aku ingin memiliki dirimu seutuhnya." Bualan Feliks di telinga Claire.
Claire menyeringai, kemudian satu pukulan mengenai wajah Feliks. "Macam-macam denganku, sosis besarmu itu akan kucincang dan kujadikan makanan anjing jalanan!"
Feliks menelan salivanya, matanya mengerjap cepat dengan tangan menutupi bagian aset berharganya. "Ka-kamu sadis, Claire!!!"
...*****...
...Terimakasih untuk semua dukungannya ya Kak, berkah selalu......
...Mohon maaf tidak ke-screen shoot semua......
⁶
__ADS_1