
Satu minggu selepas kepergian Nath, keadaan kembali membaik. Orang-orang yang ditinggalkan, mulai bisa menerima keadaan dan merelakan kehilangan. Lagi pula hidup harus terus berjalan, bukan?
Seorang wanita muda tengah berkeliling, melihat aktifitas di Rumah Sakit siang ini. Rumah Sakit yang baru didirikan, kini mulai ramai dengan kehadiran malaikat-malaikat kecil. Suasana riang di area taman bermain di samping ruang pemeriksaan, menarik perhatiannya. Dia berdiri dengan seutas senyuman, mencari energi positif dari keceriaan anak-anak dengan wajah polos nan menggemaskan.
Belum genap 2 bulan, Rumah Sakit mulai dikenal banyak orang. Ini semua tidak lain dan tidak bukan karena eksistensi dokter Rona yang membuat namanya termasyhur di kota ini. Pasien yang semula menjadi langganan Rumah Sakit milik Roland, kini beralih ke Rumah Sakit milik Rona. Meski Rumah Sakit tersebut berada di wilayah pinggiran kota.
"Selamat ya Dok, Rumah Sakit sudah mulai ramai pengunjung," ucap seseorang yang berdiri di belakang punggung Rona. Sontak saja Rona membalikkan badan dan paras seorang pria kini berada tepat di depan wajahnya. Rona yang terkejut, tubuhnya hampir terjatuh ke belakang. Akan tetapi, tangan pria tersebut sigap menopang pinggang rampingnya.
"Terimakasih, Dokter Brian," ucap Rona. "Tapi tolong lepaskan tangan anda dari pinggang saya!" geram Rona karena Brian tidak juga melepas rengkuhannya. Sementara orang-orang melihat ke arah mereka dengan mata menyipit. Bibir mereka mengeluarkan prasangka demi prasangka yang menghinggapi hati dan pikiran.
"Dokter Brian, tolong lepaskan tangan anda!" ulang Rona sedikit menyentak. Brian gelagapan lantas menarik tangannya dari tubuh Rona.
"Ma- maafkan atas kelancangan sikap saya, Dokter Rona. Punggung Brian membungkuk, dia seakan merasa tidak enak. "Maaf... karena pesona anda yang membuat mata saya tidak bisa teralihkan," ungkap Brian tersenyum smirk.
"Tolong jaga sikap anda, Dokter Brian. Ingat batasan anda!" seru Rona murka. Dia lekas menjauh pergi dari hadapan Brian, sebelum pikiran orang lain tentangnya semakin tidak bisa dikendalikan.
Brian berjalan di belakang mengikuti arah kaki Rona melangkah. Namun, langkahnya terhalang karena kedatangan Natalie yang meminta tanda tangan pada berkas-berkas yang telah dibuat dan disusun olehnya.
"Maaf Tuan Brian saya mencari anda sampai ke sini. Tadi saya ke ruangan anda, tapi anda tidak ada di tempat," ungkap Natalie memperlihatkan map di tangannya.
Brian mendengus kasar. Dia menarik map tersebut dari tangan Natalie dengan mata yang menatap lurus. Hingga objek perhatiannya tidak terjangkau lagi oleh indera penglihatan.
"Maaf Tuan Brian, saya butuh tanda tangan anda secepatnya!" sentak Natalie membuat Brian terhenyak.
Pria yang mengenakan kemeja hitam, menghempaskan tubuh atletisnya di atas sofa kosong. Dia melonggarkan ikatan dasi yang melingkar dan mulai menelaah setiap kata yang tercetak di atas kertas putih. Keningnya mengkerut dan seperti biasa dia melempar benda tersebut ke arah muka asistennya.
__ADS_1
"Perbaiki ini semua! Kamu selalu saja tidak becus, Natalie!" umpat Brian di depan orang-orang. "Katanya lulusan kampus ternama, tapi membuat laporan keuangan saja, tidak pernah benar!" Brian berdiri kemudian meninggalkan Natalie yang merundukkan kepala karena merasa dipermalukan. Brian tidak peduli kalau saat ini perilakunya menjadi sorotan orang lain. Karena yang dia pedulikan hanya ingin mencari keberadaan wanita pujaannya.
Brian berputar-putar mengitari setiap sudut bangunan Rumah Sakit. Wajahnya menekuk karena tidak mendapati kekasih hatinya di mana pun. Sampai pikirannya mengingat bahwa ada satu tempat yang belum sempat dia jejaki.
"Kantin!"
Brian menarik langkah dengan penuh semangat, matanya mencari sosok wanita yang selalu ingin dia pandang setiap saat. Dan dia mendapati wanita itu tengah mengangkat nampan yang berisikan kentang goreng, daging asap dan satu gelas jus avocado.
"Biar saya bantu, Dokter." Brian mengambil alih nampan dari tangan Rona dan membawanya ke atas meja kosong. Dia menarik kursi kayu, lalu mempersilakan Rona untuk duduk di atasnya.
"Terimakasih," ucap Rona malas. Dia memilih duduk di tempat lain dan memindahkan makanannya ke atas meja kosong beberapa langkah dari tempat semula. Lalu duduk dengan tenang tanpa ada pengganggu.
Rona menikmati makan siang yang telah dipesannya. Dia mencolekkan kentang goreng ke dalam wadah saus cabai. Bibir merahnya merauh karena rasa pedas. Namun, lagi dan lagi dia merasai cita rasa yang selalu membuat nafsuu makannya itu bertambah.
Kelopak mata Rona mengerjap cepat, rasa lapar di perutnya mendadak hilang. "Maaf saya tinggal, saya masih ada pekerjaan."
"Tidak baik membuang-buang makanan seperti ini, Dokter Rona. Berapa banyak orang yang kelaparan dan kesusahan di luaran sana? Anda yang diberikan hidup berkecukupan malah seenaknya mencampakkan makanan!" sindir Brian yang memaksa Rona untuk tetap tinggal dan melanjutkan makan siangnya.
Rona membuang napas kesal dan melahap makanannya dengan cepat, karena ingin segera kembali ke ruangannya. Wanita muda itu mulai jengah lantaran sikap Brian kali ini membuatnya semakin tidak nyaman.
"Pelan-pelan Dokter, nanti anda tersedak," tandas Brian lembut. "Tuhkan, mayonaise sampai berceceran di atas bibir anda." Brian mengulurkan tangan berniat untuk mengusap noda di atas bibir Rona. Namun, tangan seseorang mencekal lengannya.
"Hati-hati Tuan Brian dengan tangan anda!" Seorang pria mengcengkeram kuat tangan Brian lalu menghempasnya. "Wanita yang duduk di hadapan anda adalah pemilik Rumah Sakit ini. Dan dia adalah istri dari atasan saya, tuan Edward Liam!" seru pria tersebut lantas duduk di samping Rona.
Brian tergelak lalu menggulung lengan kemejanya sebatas sikut. Kemudian duduk bersidekap dengan tangan ditaruh di atas meja. "Anda ingin menjadi pahlawan kesiangan, Tuan Feliks?"
__ADS_1
"Tentu saja!" Feliks mencondongkan tubuhnya ke arah Brian yang tersenyum licik. Tangannya menarik jus milik Rona lantas menyiramkan ke arah wajah Brian. Manik mata Brian membola, dia menarik kerah kemeja Feliks dan memberikan ancaman keras.
"Tunggu saja pembalasanku, Feliks. Perbuatanmu kali ini tidak akan pernah aku lupakan. Camkan itu!" Brian bangkit dengan menahan amarah. Dia menarik tubuhnya menuju kamar mandi untuk membersihkan wajah yang berlumur jus alpukat. Untung saja saat ini kantin dalam kondisi tidak ramai. Jadi kejadian ini tidak mendapat sorotan publik yang akan menjadi masalah besar di kemudian hari.
"Dasar asisten gila!" umpat Rona dengan senyuman mengembang sempurna.
"Apa tidak ada kata terimakasih untukku, Rona?" Kedua alis Feliks naik turun, dia memasang wajah konyol menunggu Rona memberinya hadiah.
Rona terdiam sesaat, kemudian seutas senyum simpul terbit di wajah cantiknya. Membuat angan Feliks kembali melambung tinggi.
"Terimakasih banyak Feliks yang tampan dan baik hatinya," ucap Rona penuh kelembutan. "Kamu ingin hadiah dariku, kan? Ayo tutup mata kamu!" titah Rona pada asisten suaminya.
Feliks mengangguk cepat, kilat matanya berbinar bahagia. Dia sudah membayangkan sebuah kecupan mendarat di atas bibir merahnya. Dengan penuh harap, Feliks mengatup kelopak mata lalu menunggu sesuatu yang manis dan hangat hinggap di atas benda kenyalnya. Namun, khayalannya tersebut seketika sirna saat lidahnya mengecap rasa pedas yang berasal dari saus cabai.
Mata Feliks sontak terbelalak, lidahnya menjulur ke luar karena rasa panas menjalar di dalam rongga mulut. Dia merauh, air mata menitik membasahi pipi begitu saja. Bukan tanpa alasan, itu karena kekasih Claire tersebut tidak tahan akan rasa pedas.
"Ah... pedas-pedas!" Feliks merauh. "Air... aku butuh air..." teriak Feliks dengan bibir memerah.
"Nikmati hadiahmu, asisten gila!" Rona beranjak pergi dan meninggalkan Feliks yang kelimpungan.
Rona berjalan beberapa langkah, suara rauhan Feliks masih saja terdengar. Dia tidak sampai hati membiarkan pemuda itu tersiksa oleh kejahilannya. Dan akhirnya dia membeli satu botol air mineral lalu menyodorkannya ke arah Feliks. "Minumlah! Untuk meredakan rasa pedas di lidahmu."
...****...
...Maaf sekali terlambat Up. Hari libur, refreshing sejenak 😁🙏...
__ADS_1