Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Anak itu!


__ADS_3

Di dalam ruangan yang berada di lantai 2, punggung Rona didorong untuk menemui sang manajer toko tersebut. Gerakan kasar si security, membuat kaca mata yang membingkai mata indahnya tercopot dan terjatuh ke atas lantai. Rona menurunkan tubuhnya hendak mengambil benda itu. Akan tetapi, dengan lancangnya si security menginjak kaca mata miliknya hingga pecah tak berbentuk.


"Apa-apaan ini?!" bentak Leona murka. Roland turut tersulut emosinya. Kepalan tangan sudah bersiap untuk menyentuh wajah pria berseragam tersebut. Namun, lengan Rona menahannya.


"Tidak apa-apa," sergah Rona.


"Ada apa ini?" tanya seorang wanita yang mengenakan blazer berwarna hitam. Dia berdiri kemudian duduk di atas meja.


"Ini Nona... ada pencuri di toko milik anda. Pihak keamanan toko terluka karena serangan brutal pria ini. Jadi, saya yang membawa wanita ini untuk menemui anda," jelas security itu pada manajer toko.


"Saya bilang, saya bukan pencuri!" geram Rona tidak terima terus-terusan dituduh sebagai pencuri.


"Cantik, sepertinya wanita berkelas, tapi maling?" Wanita dengan name tag bertuliskan nama Luna, merebut tas milik Rona lalu mengeluarkan seluruh isinya di atas meja. Nampak benda yang masih berlabelkan toko, jatuh dari dalam tas tersebut. Rona geleng-geleng kepala, dia tidak mengerti kenapa barang itu bisa berada di dalam tasnya.


"Ini apa Nyonya? Ini apa namanya kalau bukan mencuri?" bentak wanita itu mengangkat benda dari atas meja dan memperlihatkannya pada Rona. Rona terkesiap tidak percaya kenapa pumping itu bisa tiba-tiba ada di sana.


"Ta-tapi saya tidak merasa memasukkannya," sanggah Rona karena dia yakin kalau dia tidak bersalah.


"Tapi ini buktinya, Nyonya. Anda sudah tidak bisa menyangkal!" geram sang manajer sembari mengambil gambar Rona dan barang yang dia curi. "Security! Kita bawa wanita ini ke kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan kesalahannya!" titah manajer pada pria yang berdiri di depan pintu.


Rona menggeleng-gelengkan kepala seraya berusaha meyakinkan kalau dia tidak mencuri. Tapi wanita di hadapannya tidak ingin mendengar apa pun. Dia malah menarik dan menghempaskan lengan Rona hingga tubuhnya menabrak dada seseorang.


"Siapa yang berani menyakiti istri saya?" geram pria yang ditubruk Rona. Rona menarik wajahnya ke atas, dia tersenyum lalu memeluk pria tersebut.


"Edward, akhirnya kamu datang!" isak Rona di dalam tubuh suaminya.


"Siapa yang berani mengusik istriku, hah?" bentak Edward yang membuat urat-urat di pelipisnya bermunculan. Matanya yang menyalang tajam seakan ingin menelan bulat-bulat orang-orang di hadapannya.


Edward menarik tubuh Rona melepaskan pelukannya, lalu berjalan ke arah wanita yang bersandar ke pinggiran meja lantas mencengkeram kedua pipinya. "Manajer bodoh, pakai otakmu itu! Untuk apa toko dipasang cctv kalau tidak dimanfaatkan?!"

__ADS_1


Edward melepas cengkeramannya dan kini dia menoleh ke arah pria dengan sudut matanya. Dia memutar badan lalu berjalan mendekat dan memberikan satu pukulan di wajah pria tersebut. Terjadi perkelahian antara Edward dengan penjaga keamanan. Edward menyerang secara membabi buta, membuat tubuh pria itu tersungkur dan juga babak belur.


"Edward... sudah!" Rona menarik paksa lengan suaminya, untuk menghentikan aksinya. Edward mengerang hebat kemudian memeluk erat tubuh sang istri. Edward tiba-tiba menitikkan air mata, karena baru kali ini dia memperlihatkan sisi kejamnya di hadapan sang istri.


"Sudah Edward... nanti orang itu bisa mati. Kalau kamu sampai dipenjara, bagaimana dengan nasibku dan anak-anak kita?" lirih Rona karena pikiran-pikiran buruknya.


Edward mengangguk dan mempererat pelukannya. Ritme jantungnya berdetak sangat cepat disertai napas yang memburu. "Iya Rona... maafkan aku...."


Sang manajer tidak berkutik dan tidak bergerak sama sekali dari posisinya. Melihat bagaimana cara Edward menghabisi si security, membuat dia ketakutan setengah mati.


"Kenapa masih diam saja, hah? Cek rekaman cctv hari ini! Atau anda mau saya adukan ke pemilik tempat anda bekerja?" bentak Edward karena wanita itu seperti orang linglung. "Cek sekarang juga atau saya akan membuat anda bernasib sama dengan pria itu!" tunjuk Edward pada pria yang tergeletak di atas lantai.


"I-iya Tuan. Saya buka rekaman cctv-nya, tapi tolong jangan sakiti saya. Anak-anak saya masih kecil," rengek wanita itu meminta belas kasihan. Tangan bergetarnya membuka akses komputer yang satu paralel dengan monitor-monitor pengintai. Dia memasukkan password dan munculah beberapa rekaman cctv hari ini.


"Bagaimana, sudah?" tanya Edward pada wanita yang mengenakan blazer hitam.


"Su-sudah Tuan," jawab perempuan itu terbata-bata.


Roland mengangguk cepat, karena baginya urusan Rona adalah urusannya juga. Dia cepat-cepat melihat monitor komputer lalu meminta si manajer membuka rekaman pada pukul 17.00.


"Nah ini benar ini!" tunjuk Roland pada rekaman yang memperlihatkan posisi Rona tengah menelepon seseorang dalam kondisi tas terbuka.


Roland mengambil alih mouse dari tangan wanita di sampingnya dan memutar perlahan video tersebut. Kedua manik matanya menangkap seorang wanita yang mengenakan jaket hitam terlihat memasukkan suatu barang ke dalam tas milik Rona. Dia tiba-tiba berteriak lantang, menyebut nama adik kesayangannya.


"Arabella!" Rahangnya mengeras, kepalan tangan mengepal kuat. "Ternyata anak itu pelakunya! Dia harus aku beri pelajaran!" geram Roland berapikan amarah.


Edward menarik bibirnya ke salah satu sudut dan menyahut teriakan adik iparnya. "Adikmu itu masih ada di sini, dia bersembunyi di samping toko. Aku akan sangat mendukung, kalau kamu mau memberikan pelajaran kepada adik manjamu itu!"


Roland berjalan dengan langkah lebar, tangannya menggebrak pintu dan menonjoknya untuk meluapkan kekesalan. Dia sudah tidak bisa lagi mentolerir perilaku adiknya itu.

__ADS_1


"Maafkan saya Nyonya, saya sudah melakukan kesalahan fatal." Manajer itu merundukkan tubuhnya berniat untuk menyentuh kaki Rona. Namun, Rona menarik tubuhnya menjauh.


"Saya sudah memaafkan anda," jawab Rona ketus. Tidak ingin bicara apa pun lagi, Rona beranjak dari tempat itu ingin segera pulang dan merebahkan tubuhnya yang amat lelah.


Leona menarik kasar lengan manajer itu dan memaksanya untuk berdiri. "Kata maaf saja tidak cukup! Saya mau anda ikut kami ke bawah lalu memecat semua pegawai yang sudah berperilaku kurang ajar!"


Wanita itu pasrah saja diseret Leona ke lantai bawah. Guna membersihkan nama baik kakak iparnya yang sudah mereka coreng.


Setibanya di lantai bawah, semua pegawai dan para pengunjung masih berkerumun untuk menyaksikan bagaimana nasib wanita yang dituduh mencuri. Tangan-tangan mereka sudah bersiap untuk mengabadikan momen yang akan menggegerkan jagad maya.


Si manajer tertunduk lesu, kedua tangannya ditautkan ke depan. Dia menjelaskan dengan gamblang kepada semua orang, kejadian yang sebenarnya. Para pegawainya tertunduk pilu, karena sesuai permintaan Leona mereka semua diberhentikan dari pekerjaannya.


Sementara di luar baby shop, terjadi keributan baru. Suara tamparan keras berkali-kali terdengar, menarik orang lain berbondong-bondong untuk melihat apa yang terjadi.


"Ini kah hasil didikan mami? Apa ini hasil didikan papi? Ayo jawab Bella!!" bentak Roland murka. "Jujur saja, Kakak malu mempunyai adik yang tidak punya etika sepertimu, Bella! Kamu sangat mengecewakan Kakak!" Roland menampar adiknya itu untuk kelima kalinya.


"Kak Roland jahat!" rengek Arabella seraya memegangi pipinya yang terasa panas. "Kak Roland tidak sayang lagi sama Arabella. Aku benci sama Kakak!" Arabella memukul dada Roland berkali-kali. Namun, pria itu membiarkan saja adiknya bersikap sesuka hati.


"Sudah puas?" tanya Roland saat Arabella berhenti memukulinya. "Sekarang giliran Kakak!" Roland membetot pergelangan tangan Arabella. Membawa adiknya itu menuju tempat parkir.


"Lepaskan Kak, ini sakit!" lirih Arabella berusaha melepaskan genggaman Roland di tangannya. Akan tetapi, dia tidak berhasil karena sang kakak, memegangi tangannya sangat kuat.


"Kakak akan membawamu pulang ke rumah, biar mami sama papi tahu bagaimana kelakuanmu sesungguhnya!" sahut Roland yang melempar tubuh sang adik ke dalam mobil.


"Untuk apa Kak, bahkan mereka pun tidak peduli pada nasib putrinya ini?!" timpal Arabella mengiba.


Roland menatap sang adik dari balik spion seraya melajukan kendaraannya. "Kakak akan membuat mereka sadar, kalau mereka selama ini salah! Salah mendidikmu dan juga salah dalam memperlakukan anak-anaknya."


...*****...

__ADS_1


...Terlambat lagi up-nya... kepala ngebul efek RL. Isi kepala susah diajak berpikir, jadi mohon maaf kalau cerita hari ini ala kadarnya πŸ₯ΊπŸ™...


__ADS_2