Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Shabu-shabu


__ADS_3

Di sebuah restoran masakan khas Jepang, nampak pemandangan yang sangat langka. Tiga orang dewasa yang semula bertikai, kini tengah asyik bercengkerama seraya menikmati makan siang yang terlewat siang. Sesuatu hal yang sangat jarang terjadi, mereka pergi bersamaan, dengan tujuan dan kendaraan yang sama. Karena selama ini mereka lebih memilih menyibukkan diri dengan urusan masing-masing.


"Kak Rona mau makan apa?" tanya Leona sembari membuka buku menu di tangannya. Matanya aktif bergerak mencari makanan yang dia inginkan dengan lidah menyapu sekeliling bibir.


"Aku shabu-shabu saja, Leona," jawab Rona yang sibuk memainkan ponselnya. Dia tengah kesal, lantaran Edward tidak bisa menemaninya kali ini karena ada pertemuan mendadak di kampusnya.


"Sepertinya ada yang sedang bad mood gara-gara pangeran tak berkudanya sibuk!" sindir Roland pada wanita di depannya. Rona yang sadar kalau sang adik ipar tengah menyindirnya, hanya merotasi kedua mata seraya berdecak sebal.


"Kak Roland suka iseng deh! Nanti kalau diamuk sama kak Edward, tahu rasa!" omel Leona yang memperhatikan tingkah suaminya. Belum selesai dia menggerutu, perhatiannya teralihkan pada seorang waiter yang berjalan melewati mereka. Leona mengancungkan telapak tangan bermaksud memanggil waiter tersebut.


"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya waiter tersebut membungkukkan badan sesaat.


"Kita mau pesan makanan dong," jawab Leona.


"Silakan ... mau pesan apa Nona, Tuan?" tanya waiter itu seraya memegang buku kecil dan pulpen, bersiap untuk mencatat makanan yang dipesan oleh tamunya.


"Shabu-shabu satu porsi, suki yaki satu porsi..." Leona menjeda ucapannya beberapa detik, lalu menoleh ke arah suaminya. "Kak Roland mau makan apa?" tanya Leona pada pria yang turut memainkan ponselnya.


"Samakan saja dengan Kakak ipar. Kesukaannya berarti kesukaanku juga," seloroh Roland yang membuat Rona jengah. Leona menanggapi santai perkataan Roland, lantaran dia sudah terbiasa dengan tingkah usil suaminya itu.


"Jadi shabu-shabu dua porsi ya..." tambah Leona pada waiter yang langsung mencatat semua pesanannya.


"Minumannya apa Nona?" tanya waiter tersebut.

__ADS_1


"Minumannya yang paling enak di restoran ini, tapi ingat non alkohol!" sahut Rona menimpali.


Waiter tersebut mengangguk kemudian menyebutkan satu per satu makanan dan minuman yang dipesan oleh pengunjungnya. Dirasa pesanan sudah benar, dia pamit untuk memasukkan pesanannya ke meja kitchen.


Rona dan Leona asyik berbincang tentang berbagai hal. Mereka saat ini sudah lebih terbuka satu sama lain. Karena mereka sudah merasakan apa itu arti keluarga yang sesungguhnya. Saat keduanya sedang asyik mengobrol, Leona menangkap sesosok wanita berambut blonde yang mengenakan pakaian serba mini. Matanya terbuka lebar menyadari bentuk perut wanita itu yang sama besar dengan perut dirinya.


"Itu bukannya Arabella ya?" tunjuk Leona pada wanita yang memasuki restoran tempat mereka menyantap makan siang. Semua mata tertuju pada arah telunjuk Leona dan wanita yang dimaksud turut melihat ke arah mereka.


Bukannya merasa sungkan, Arabella malah melambaikan tangan ke arah sang kakak. Dan berjalan ke arah meja mereka dengan derap langkah penuh percaya diri seperti biasa. Dia mengibas-ngibaskan rambut curly-nya lalu menyapa semua orang yang memandangnya dengan tatapan aneh.


"Biasa saja sih lihatnya! Beda ya kalau orang cantik yang muncul itu, semua terpukau juga terpesona," seloroh Arabella tanpa malu. Dia menarik kursi kosong di sebelah Rona, lalu duduk di atasnya.


Leona merespons bualan Arabella dengan menjulurkan lidah seperti orang yang hendak muntah, kemudian mendelikkan mata. Suasana tiba-tiba dingin dan canggung karena kedatangan Arabella. Terlebih Rona, dia semakin asyik dengan dunianya sendiri. Hingga Leona membelah kesunyian dengan melontarkan pertanyaan.


"Ka-kamu hamil, Bella? Ta-tapi siapa ayahnya? Kapan kamu menikah? Kok aku tidak diundang?" Leona memberondong Arabella dengan beberapa pertanyaan, lantaran dia dibuat terkejut oleh perut sahabatnya yang tak lagi rata.


Arabella mengusap-usap perutnya, bibirnya menerbitkan sebuah senyuman. Dia melihat ke arah Leona dengan tatapan pongah seraya menjawab pertanyaannya dengan nada datar. "Oh... calon bayiku ini, tentu saja anaknya Edward. Siapa lagi?!"


Rona terbatuk-batuk lantaran tersedak air liurnya sendiri, Roland sigap berdiri dan menghampiri Rona kemudian menepuk-nepuk tengkuknya dengan perlahan. Beruntung waiter datang dengan beberapa gelas minuman di atas nampan. Roland langsung menarik salah satu gelas dan menyodorkannya pada bibir kakak iparnya. "Minumlah...."


Rona mengangguk lalu meneguk minuman tersebut untuk meredakan tenggorokannya yang terasa tidak nyaman.


"Wah, wah, wah... Kak Roland masih menyimpan perasaan juga sama wanita ini?" ujar Arabella sengaja ingin membuat panas keadaan. Namun, usahanya gagal karena Leona sama sekali tidak terpancing. Wanita hamil itu sudah lebih bisa mengendalikan emosi dan hatinya.

__ADS_1


"Itu anak Kak Edward? Aku kok tidak percaya ya. Palingan juga hasil hubungan gelapmu dengan pria tua. Pria tua yang sering kamu goda di klub malam itu tuh!" seru Leona menyeringai.


Arabella bangkit dan mengitari meja untuk memberi Leona sedikit peringatan. Akan tetapi, Roland lebih dulu mencekal tangan adik semata wayangnya itu. "Hentikan sikap kasarmu itu, Arabella! Belajarlah menjadi wanita yang lebih lembut!"


Arabella mencebikkan bibirnya dan mengulang perkataan Roland dengan maksud untuk mengolok-olok. "Hentikan sikap kasarmu itu, Arabella! Belajarlah menjadi wanita yang lembut!"


Tangan Roland terkepal kuat, kedua netranya menyalang tajam. Arabella langsung menundukkan kepala, karena takut akan tatapan kakaknya itu. Dia menghentak lantai dan kembali ke tempat duduknya lalu bersidekap sembari merajuk.


Dua orang waiter mengantarkan pesanan, lalu menata semua bahan makanan di atas meja. Mereka memantik api dan meletakkan tiga buah panci yang berisikan air kaldu, di atas kompor yang menyala. Kini semua orang telah bersiap untuk bersenang-senang dengan semua bahan yang tersaji.


Air kaldu pun mendidih, nampak Leona sangat antusias karena sejak awal kehamilan dia menginginkan suki yaki dan baru terlaksana hari ini. Begitu pun juga Rona, dia sangat menikmati momen langka ini bersama Leona dan suaminya. Semuanya asyik dengan aktifitasnya masing-masing. Sementara Arabella yang merasa diacuhkan, dia berkali-kali menoleh ke arah Rona dan juga Leona. Dia sangat cemburu, terlebih sang kakak hanya mempedulikan istrinya. Dia seolah tidak dianggap ada.


Timbul ide jahat di kepalanya. Arabella tersenyum miring lalu menyenggol pundak Rona dengan kasar, ketika tangan wanita itu tengah merebus daging asap. Akibat gerakan Arabella, panci di atas kompor turut bergeser dan terguling. Membuat air mendidih tumpah ke atas meja. Namun, nasib baik masih memihak. Kuah panas itu tidak mengenai tangan atau bagian dari tubuh Rona. Karena dia dengan sigap, menarik tubuhnya dari depan meja.


Roland naik pitam, dia seketika berdiri dan menghampiri sang adik dengan raut murka. Tangan kekarnya mencengkeram kuat lengan Arabella lantas menyeretnya ke arah pintu ke luar. Roland memanggil seorang security dan meminta pria berseragam tersebut untuk membawa Arabella menjauh.


"Tolong amankan wanita ini, dia sudah mengusik ketenangan saya dan istri saya!" titah Roland pada pihak keamanan mall. Iris mata membola, Arabella tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Kak..." lirih Arabella.


Roland memalingkan muka dan membiarkan security menarik kasar lengan Arabella. Membawa gadis itu dan melemparnya keluar dari dalam mall.


...*****...

__ADS_1


...Mohon maaf kemarin hanya Up satu bab, kepala sedang protes, jadi dipaksa berpikir malah nyut-nyut-nyut 🙈🙈🙏...


...Sehat-sehat untuk semuanya ya..🥰...


__ADS_2