
...Tidak kuat, skip saja ya....
...*****...
"Sayang...," Edward menghampiri Rona yang tengah menonton tivi. Rona menoleh dan sebuah boneka teddy menutupi wajah suaminya.
"Tara... kejutan!" ujar Edward yang memeluk boneka beruang besar.
Rona tertawa hambar. "Boneka?"
"Iya... lucu kan?" Edward menyodorkan hadiah yang dia belikan khusus untuk istrinya, namun Rona nampak acuh.
"Kamu tidak suka ya?" Edward merengut. Rona menghela napas lalu memutar badannya.
"Saat ini yang aku inginkan itu, tas branded, pakaian mahal, sepatu mahal, perhiasan berlian—"
Edward menutup mulut Rona menggunakan sebuah kartu. "Apa ini?"
"Buat istri tersayang...."
"Black Card?"
"Beli apa pun yang kamu mau. Asal kamu senang," jawab Edward mencolek dagu Rona.
"Aku cuman bercanda, lagi pula gajiku sebagai dokter sudah lebih dari cukup," imbuh Rona yang mengembalikan kartu pemberian suaminya.
Edward menarik tangan Rona dan menyimpan kartu itu ke atas telapak tangan. "Ini milikmu, ini hakmu. Ambilah...."
"Baiklah, aku terima. Terimakasih, aku akan menggunakannya sebaik mungkin...."
"Iya sayang, pergunakan semaumu...."
"Rona..." panggil Edward lembut. "Ada yang ingin aku bicarakan." Edward duduk di samping Rona.
"Bicarakan saja..." titah Rona dingin. Lalu menyesap cappucino buatannya.
Edward mengatur napasnya, meredakan pergulatan yang ada di dalam batin. "Kalau kita tinggal bersama papa di Mansion, bagaimana menurutmu?"
Senyum bahagia merekah dari wajah yang bermuram durja. Rona melingkarkan tangan ke pinggang pria yang semakin hari bertambah bijak, lalu menyandarkan kepalanya. "Tentu saja aku senang, bukankah hal yang menyenangkan bila berkumpul dengan orang-orang yang kita sayang?"
"Terimakasih sayang... aku pernah berjanji. Kalau suatu saat aku menikah kembali, aku akan pulang. Tapi...."
__ADS_1
"Tapi apa?" ulang Rona. Dia menegakkan tubuhnya, lalu menatap lekat pupil mata pekat.
Edward membalas menatap Rona. "Tapi, kamu tidak apa-apa satu atap dengan Amber?"
Rona nampak berpikir sesaat. "Tidak apa-apa, bagaimanapun Amber sudah menjadi ibuku juga." Rona kembali menyandarkan kepala ke pundak suaminya.
Edward mengecup puncak kepala Rona lalu merangkulnya. Jemarinya meremass lembut bahu mulus Sang istri. Miliknya tiba-tiba mengeras seolah ingin menyeruak keluar. "Haish... Rona benar-benar membuatku lemah. Sedikit-sedikit berdiri. Sedikit-sedikit terangsang."
Tali tipis diturunkan, tidak ada penolakan dari Rona. Tangan Edward semakin berani bergerak, menyusup lalu menjamah segumpal daging kenyal dan padat. Dia meremass dengan lembut namun cepat kemudian memelintir puncak dada yang menegak. Terdengar suara lenguhan dari bibir Sang istri. Edward semakin bersemangat.
Dia menghembuskan napasnya ke cuping telinga, lalu menjilatnya. Tangan satunya masih asyik dengan mainannya. Sedangkan tangan satunya merangkak masuk ke dalam bagian sensitif di antara pangkal paha.
Satu jari, dua jari. Lenguhan Rona semakin parau. Terlebih saat Edward menggigit daun telinga dan memutar jemarinya dengan lebih cepat. Rona menggelinjang, pelepasan pertama lolos begitu mudah.
"Sudah basah sayang...?" bisik Edward. Tubuh yang diselimuti gairah kini bermandikan peluh.
Edward mengangkat tubuh Sang istri lalu membawanya ke atas ranjang. Rona hanya terdiam pasrah seolah tersihir oleh paras tampan suaminya.
Tatapan dalam menghanyutkan, membawa Rona dalam samudra gelora. Menyerahkan sepenuhnya tubuh dan jiwa kepada pria yang mengucap janji setia atas nama Tuhan.
Edward mengecup kening Rona lalu turun ke hidung mancung dan pipi merona. Dia mengecup dagu dan berakhir di bibir tipis yang selalu membuatnya candu. Dia memulas, menyapu lalu memagut. Lidahnya menelusup dan mengobrak-abrik dinding mulut. Lidah saling berbelit, suara decakan dan desahann bersahutan.
Edward melepas pagutannya. Lidahnya menuruni leher jenjang lalu mencucup dengan tangan menurunkan lingerie tembus pandang. Lidahnya mengitari tubuh Rona setiap inci lalu mendarat di atas dada ranum.
Lenguhan semakin kencang, seiring tubuh Rona yang mengangkat karena pelepasan kedua yang sangat dahsyat. Edward tersenyum senang karena melihat istrinya tidak berdaya. Dia melepas penutup tubuh istrinya lalu menyesap aroma tubuh yang menempel.
Bibir Edward kini di atas G-String tipis, dia gigit lalu dia lepas menggunakan giginya. Bulu kuduk berdiri. Mata terpejam saat Edward merenggangkan kedua kaki lalu merangkak masuk menggerakan lidah dan dua jari ke titik inti.
Rona menarik rambut Edward seraya menyesap jarinya sendiri menahan gelenyar karena permainan jemari di atas introitus dan bibir yang menyesap labira mayora.
"Honey... come in please...!" jerit Rona yang tak tahan menahan hasrat yang sudah memuncak. Namun Edward masih ingin memainkan bagian inti dari area in-tim istrinya.
"Edward... stop it!!!"
Edward mengernyih lalu melepas celana pendeknya. Kemudian mengarahkan miliknya dan menancapkan pada introitus yang basah dan lembab karena permainannya.
Edward menarik kaki Rona menautkan ke atas pundak. Lalu menggoyangkan pinggul, memaju mundurkan miliknya yang melesak masuk.
Rona mendesis dengan mata berkerjap-kerjap. Edward terus memompa tubuhnya, rasa geli menjalar teramat sangat. Peluh berkilap di sekujur tubuh.
"Faster baby..." racau Rona.
__ADS_1
Edward mempercepat gerakannya, Rona meremass ranjang. Tangan perkasa menangkup dua gundukan. Edward mengerang, miliknya menyemburkan benih ke dalam uterus istrinya.
Tubuh Edward ambruk di atas dada Sang istri. Napasnya tersengal-sengal dengan keringat bercucuran.
"Cepatlah tumbuh benihku." Edward mengecup perut Rona.
...***...
Hari baru dimulai, saat dua pasang kaki melangkah memasuki Mansion yang selalu nampak hampa dan angkuh.
"Kamu yakin sayang, tinggal di tempat ini?" Edward memutar kepala lalu menggenggam tangan Rona.
"Aku sangat yakin," jawab Rona tegas.
Pintu dibuka, sepasang mata berkaca-mata lalu memeluk kencang sosok yang telah lama hilang. "Selamat datang kembali putraku. Terimakasih karena kamu telah memenuhi janji."
"Sini Nak...," Richard merentangkan tangan untuk menantunya. Rona mendekat. Richard mendekap keduanya dalam satu pelukan.
"Ayo masuk..." ajak Richard. Dia menutup pintu lalu merangkul putra dan menantunya.
"Kak Edward?" Leona berlari seraya menyapu tangis yang tiba-tiba menitik. Dia sesenggukan dalam tubuh hangat yang sangat dirindukan.
"Leona rindu Kak Edward..." isak Leona. Edward menghapus deraian air mata dan membelai pucuk kepala adiknya.
"Kak Rona..." sapa Leona. Dia mendekap wanita yang kini menjadi kakak iparnya. Separuh jiwa yang hilang seolah hadir kembali. Harapan yang pupus seakan datang mengetuk pintu hati.
Rona merangkum wajah Leona yang nampak lusuh, menyeka tetesan kesedihan di atas pipi. "Ada aku sekarang, anggap aku seperti kakakmu...."
Leona mengangguk kemudian memeluk Rona. Air mata berlinang melerai beban hidup yang dia tanggung seorang diri.
"Wah, wah, wah... akhirnya kamu kembali juga ke rumah ini!" Amber menuruni anak tangga dengan mata menyalang tajam.
"Iya, Mom... sesuai janjiku," sahut Edward yang tatapannya tak kalah tajam.
"Tapi janjimu pada Marissa, kamu lupakan begitu saja?" Amber mendaratkan tubuhnya di atas kursi lalu menopang kaki. Dia meraih majalah di atas meja dan berpura-pura membacanya. Mempermainkan perasaan putra tirinya yang kembali tercabik.
...*****...
...Mohon maaf ya, hari ini tidak bisa maksimal. Karena ada yang Senja urusi di dunia nyata....
...Terimakasih untuk dukungan dan kebaikan dari semuanya, semoga Allah balas dengan berkali-kali lipat....
__ADS_1
...Selamat malam dan selamat merangkai mimpi....