Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Boomerang


__ADS_3

...Saat terjatuh ke dalam luka yang teramat, kau bawaku terbang jauh untuk sembuhkan luka itu. Namun, ketika aku telah melayang tinggi, kau jatuhkan dengan begitu keras. Hingga hati terasa remuk redam....


...*****...


Seorang wanita tua tengah meneteskan cairan dari dalam botol ke atas lantai tangga yang menghubungkan kamar putranya dengan ruang utama. Wanita itu menyunggingkan senyuman licik, lalu cepat-cepat bersembunyi saat suara pintu kamar terbuka. Dia memasang mata dan menajamkan pendengaran, menanti target keluar dari kamarnya.


Rona yang menuntun Ezio hendak turun dari tangga. Dia menyipitkan matanya, melihat cairan yang mencurigakan menggenang di atas lantai. Dia berjongkok lalu mencolek dan mengendus cairan tersebut. "Minyak goreng...!"


"Kenapa Mommy?" tanya Ezio memperhatikan gerak-gerik ibunya yang tiba-tiba merungguh.


"Ini ada minyak goreng tumpah sayang, untungnya Mommy sempat lihat. Kalau tidak, bisa-bisa kita terjatuh," ucap Rona seraya menerka siapa orang yang tega berniat untuk mencelakainya.


"Kenapa ada minyak goreng di sini Mommy, harusnya kan di dapur?" tanya Ezio lagi.


"Oh, mungkin Fiona tadi tidak sengaja menumpahkannya. Terus lupa tidak dibersihkan," kilah Rona agar Ezio tidak bertanya terus-menerus.


Rona menuruni tangga dengan hati-hati. Dia berpegangan pada railing seraya memperhatikan langkahnya. Akhirnya dia bisa melewati jebakan yang sudah disiapkan untuknya dengan selamat.


"Kok tidak terdengar suara perempuan itu jatuh?" Kan harusnya seperti di film-film, terpeleset terus berguling-guling dari atas tangga dan mati!" gumam Amber yang bersembunyi di samping lemari pajangan.


Karena penasaran, Amber keluar dari tempat persembunyiannya. Dia melihat ke arah kamar putranya yang tertutup rapat. "Loh, perempuan sialan itu kemana?"


Amber menaiki tangga dengan pikiran yang dipenuhi tanda tanya. Kepalanya berputar ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Rona. Dia tidak memperhatikan langkahnya dan akhirnya menginjak lantai yang sudah dilumuri minyak goreng. Bagai sebuah boomerang, jebakan yang disiapkan untuk menantunya malah dia sendiri yang terpeleset lalu tergelincir. Tubuhnya terhuyung dan terjatuh menggelinding dari atas tangga. Dia menjerit sebelum kepalanya terbentur mengenai dinding railing tangga.


DUGGG!!


Fiona yang mendengar suara benturan keras, dia berlari dari arah dapur. Dan mendapati majikannya terkapar dengan kondisi tidak sadar.


"Tolong... Tuan Richard, Nona Leona...!"


"Tolong...."


Semua orang berdatangan karena mendengar teriakan Fiona. Richard dari arah taman, Leona dari arah kamar.


"Kenapa kamu teriak-teriak, Fiona?" bentak Richard seraya berjalan tergopoh-gopoh.


"Nyonya Amber, Tuan. Nyonya Amber...!" ucap Fiona yang menopang kepala Amber menggunakan pahanya.

__ADS_1


Richard yang melihat istrinya tergeletak dengan kepala yang berdarah sontak terkejut lalu berteriak memanggil sopir pribadi mereka.


"Arlo... Arlo...!"


Sementara Leona, dia terisak melihat keadaan ibunya. Matanya menoleh ke arah tangga dan menangkap sesuatu yang basah di atas pijakan. Dia menyusuri anak tangga dan mendapati minyak goreng bersimbah di atas lantai. "Ini pasti kerjaan Rona!!"


"Tuan Richard memanggil saya?" tanya Arlo yang masuk ke dalam rumah.


"I- iya... tolong bawa istri saya ke Rumah Sakit!"


Arlo mengangguk dan membopong Amber yang dibantu Fiona ke dalam mobil. Richard dan Leona turut masuk ke dalam kendaraan mengantarkan wanita tua itu menuju Rumah Sakit.


Sesampainya di Rumah Sakit, Amber langsung mendapatkan penanganan khusus. Luka di kepalanya sudah diperiksa dan diobati, tidak ada luka serius. Namun kakinya mendapat cedera patah tulang. Dia harus menggunakan gips untuk beberapa waktu.


Amber mengerjapkan mata sembari memegangi kepalanya. "Aw... sakit sekali kepalaku!"


"Mom, sudah siuman? Sini Leona bantu untuk duduk!" Leona merangkul pundak Amber dan menarik tubuh ibunya.


"Ah... kakiku sakit sekali. Kenapa dengan kakiku?" Amber membuka selimut yang menutupi kakinya, nampak gips dan perban membalut bagian yang terasa sakit.


Amber memutar mata seraya berpikir. Dia akhirnya memiliki ide untuk memfitnah menantunya dan memutarbalikkan fakta.


"Mom jatuh dari tangga. Tadinya mau ke kamar kakakmu, penasaran kenapa Rona tidak keluar kamar juga. Eh, taunya Mom menginjak sesuatu. Kaki Mom terpeleset, akhirnya jatuh berguling-guling," jawab Amber pura-pura sedih.


"Tidak salah lagi, ini pasti perbuatan perempuan penggoda suami orang!" cibir Leona.


"Kakak iparmu tidak mungkin seperti itu, Nak... dia anak yang baik," sergah Richard tidak terima.


"Kenapa Papa membela orang lain sih?" protes Leona. "Apa jangan-jangan Papa juga suka ya sama menantu kesayangan Papa?" tanya Leona sinis.


Richard menekan dadanya, tubuhnya yang semula berdiri kini duduk melangsur. Dia tidak habis pikir kenapa putrinya bisa berpikiran sejahat itu.


"Pa- Papa...!" Leona hendak mendekat namun acungan tangan Richard menghentikan langkah kakinya.


"Papa baik-baik saja. Di sini yang harus dikhawatirkan itu pemikiran kamu Nak. Papa kehilangan sosok Leona yang selalu berpikiran positif dan tidak pernah menyakiti perasaan orang lain dengan perkataannya."


Ucapan Richard terhenti karena suara handle pintu yang dibuka. "Mom, kenapa Mom bisa seperti ini?" Edward yang baru saja datang, bertanya tiba-tiba.

__ADS_1


"Tanyakan saja pada istri tercintamu!!" titah Amber yang langsung memalingkan muka.


Leona menghampiri dan tanpa bisa dihindari, satu tamparan mendarat dengan mulus di pipi Rona. Dia kembali mengangkat tangannya hendak melayangkan pukulan yang kedua, namun aksinya dihentikan seseorang.


"Jangan berani untuk menyentuh gadisku, atau kamu akan menyesalinya!" ancam Roland yang baru saja tiba. Semua tatapan tertuju pada Roland karena ucapannya yang menyebut Rona adalah gadisnya.


"Di sini yang statusnya istri Kak Roland, aku atau perempuan itu? Kenapa Kak Roland lebih membelanya?" tanya Leona dengan suara tinggi.


Edward menarik Roland keluar dari kamar lalu mengajaknya berduel. Mereka saling adu pukul dan saling tendang, hingga dua orang security datang dan melerai tingkah mereka yang seperti anak kecil.


"Sayang... sudah!" Rona menarik lengan Edward yang hendak mengejar Roland. "Kasihan Ezio harus melihat semuanya."


Edward menoleh ke arah putranya, terlihat Ezio nampak pucat karena ketakutan. "Maafkan Daddy sudah buat Ezio takut." Edward mengusap puncak kepala anaknya dan Ezio mengangguk.


Mereka kembali masuk ke dalam kamar yang terasa panas dan tegang. Terutama sorotan Leona dan Amber yang sangat meresahkan.


"Mom mau, wanita ini dijebloskan ke dalam penjara!" teriak Amber mengacungkan jari telunjuk ke arah menantunya. "Dia sudah berupaya membunuh Mom!" Amber menuduh Rona karena perbuatannya sendiri.


Rona menggeleng-gelengkan kepala lalu menggenggam tangan suaminya. "A- aku tidak melakukannya Edward. Kumohon perca—"


"Aku percaya denganmu, sayang..." potong Edward mendengar pembelaan istrinya.


Amber merasa geram begitupun juga dengan Leona. Makian dan umpatan bersahutan dari mulut mereka.


"Sudah bicaranya?" tanya Edward dingin. "Jangan pernah berbicara omong kosong mengenai istriku! Atau kalian yang akan aku jebloskan ke penjara!"


"Kak Edward, sekarang sudah berubah! Hanya gara-gara cinta!" timpal Leona.


"Kakak atau kamu yang berubah?" Edward memelankan suaranya. Leona terbungkam sementara Amber terus saja mengoceh.


"Berhenti membual!" bentak Edward. "Apa Mom pikir aku tidak tahu apa yang sudah Mom lakukan? Apa Mom kira aku sebodoh itu?"


Amber membisu, biji matanya menggilir ke kanan dan ke kiri. Di dalam benaknya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan. Mencerna setiap kalimat yang diucapkan anak sambungnya.


...*****...


...Terimakasih untuk semua dukungannya ya. Terimakasih untuk vote, like, komen, hadiah, rate 5 bintang dan terimakasih juga karena masih setia membaca Novel ini......

__ADS_1


__ADS_2