Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Lupa Tidak Pakai Pengaman, Maaf!


__ADS_3

Kelopak mata terbuka, kedua bola mata membulat. Rona berteriak sangat kencang, karena mendapati Edward berada tepat di depan wajahnya.


"A... pria kurang ajar...!"


Rona menarik bathrobe yang menggantung lalu menutupi tubuh polosnya. Dia beranjak dan mendorong Edward yang masih mematung hingga tubuhnya tersungkur ke dalam bak mandi dengan posisi kepala di bawah.


Byurrrr!!!


Rona memutar kepala sekilas, sebenarnya dia kasihan melihat kondisi Edward. Tapi saat ini keselamatan dirinyalah yang lebih utama. Belas kasih dia kesampingkan. Dalam keadaan yang tidak menguntungkan seperti ini, lebihbaik menghindar daripada jadi santapan empuk pria yang isi otaknya terus memanas.


"Claire... Claire..." panggil Rona.


Claire yang sudah tidur pulas terpaksa membuka matanya mendengar teriakan dari balik pintu. Dia sangat hapal suara siapa yang terus memanggil namanya.


Claire menarik kakinya malas disertai mata yang masih tertutup rapat, kemudian membuka pintu kamarnya. "Ada apa malam-malam begini mengganggu tidurku?" protes Claire.


"Anu ... itu aku boleh tidur di kamarmu?" tanya Rona yang langsung masuk ke dalam kamar tanpa dipersilakan.


"Ya boleh sih, tapi pria tua itu bagaimana?" tanya Claire yang kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Aku tidak peduli!" jawab Rona yang turut melentangkan tubuhnya di samping Claire.


Sudah satu jam Rona berusaha memejamkan mata, namun bayangan Edward yang tidak bergerak karena kepalanya terjerembab ke dalam air sabun, terus saja menganggu pikirannya.


"Du...h dia tidak kenapa-kenapa kan?"


"Kenapa aku gelisah seperti ini?"


Rona akhirnya memutuskan untuk melihat keadaan Edward. Dia tidak ingin sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Bagaimanapun pria itu tamunya, dia berkewajiban menjaga keselamatan dan keamanan pria itu selama tinggal di apartemen miliknya.


_____


Pintu kamar terbuka lebar, dan posisi daun pintu masih sama seperti waktu Rona meninggalkan ruangan itu untuk melarikan diri dari sergapan pria jalangg. Di atas ranjang pun hanya ada bantal dan selimut. Tidak terlihat keberadaan pria yang tengah dia khawatirkan.

__ADS_1


"Apa jangan-jangan dia masih di kamar mandi?" gumam Rona.


Pandangannya menatap ke arah pintu yang terbuka dengan sempurna. Terdengar air keran mengalir tanda seseorang berada di dalamnya. Rona mengendap-endap, dan berjalan tanpa meninggalkan suara lalu mengintip dari balik dinding. Terlihat Edward tetap dengan posisi yang sama. Kepala di dalam air sedangkan kaki menjuntai ke atas lantai.


"Astaga... pria gila ini sepertinya pingsan!"


Rona menarik tubuh Edward, sembari tangan menahan kepala pria itu agar tidak terbentur benda tumpul lalu membiarkan badannya terlentang. Terlihat deru napas melemah, dengan wajah yang memucat.


"Edward bangun!" Rona menepuk-nepuk pipi laki-laki yang tengah kehilangan kesadaran. Lalu menekan dadanya kuat-kuat.


"Ayo keluarkan Edward!" Tubuh Rona bergetar karena rasa gugup, namun tangannya terus saja menekan dada Edward berharap dia bisa mengeluarkan air sabun yang tertenggak. Namun nihil, napas pria itu semakin melambat.


Rona menarik napas kuat-kuat lalu merapatkan bibirnya ke bibir Edward untuk memberikan napas buatan. Edward tersenyum dan menarik tengkuk Rona kemudian mencumbu gadisnya begitu dalam.


"Kau...!" pekik Rona.


"Kamu sangat manis kalau sedang mengkhawatirkanku..." tutur Edward.


"Aku kira kamu tadi...."


Rona meradang, dia sangat kesal karena sudah ditipu mentah-mentah oleh Edward.


"Bagaimana rasanya mencium bibirku hm, ketagihan?" cibir Edward.


Rona mengacuhkan pertanyaan Edward lalu beranjak meninggalkan pria yang masih terlentang. Namun pria itu turut berdiri dan menyusulnya.


Di depan pintu, Edward mendorong Rona lalu menekan punggung wanitanya menggunakan tubuhnya membuat pintu kamar mandi tertutup dan Rona terpojok.


"Malam ini aku menginginkan kamu Rona, jangan menolakku lagi. Aku tidak segan-segan akan menyebarluaskan video persetubuhan kita. Ups... salah maksudku persetubuhanmu dengan laki-laki bernama Nath," bisik Edward di cuping telinga.


"Kamu licik Edward!" geram Rona.


"Aku hanya mengingatkanmu akan perjanjian kita. Perjanjian hitam di atas putih, apa kamu lupa?" cerca Edward.

__ADS_1


Melihat tidak ada lagi perlawanan dari Rona, Edward menarik tali mantel dan menurunkan penutup tubuh Rona lalu melemparnya ke sembarang arah. Rona kini berdiri memunggungi Edward tanpa sehelai benang pun.


Melihat tubuh polos nan mulus milik wanitanya, Edward semakin bersemangat. Dia membuka pakaian miliknya dan kembali menekan punggung Rona.


"Bagus, anak baik. Harusnya dari kemarin seperti ini, pasrah dan tinggal menikmati permainanku," ujar Edward.


Tidak ada jawaban, yang ada hanya bahu yang bergetar karena isakan. Tapi pria yang sudah dibutakan oleh hawa nafsuu, tidak memperdulikannya. Dia mulai melancarkan usahanya untuk mengendalikan perasaan gadisnya.


Bibir Edward kini menyentuh tengkuk Rona dengan kedua tangan menelungkup gundukan kesukaannya. Cumbuannya turun ke punggung mulus, dan jemari terus meremass perlahan. Kali ini dia ingin bermain secara lembut, membuai wanitanya tenggelam dalam alur percintaan tanpa cinta.


"Mendesahlah sayang, aku ingin mendengar suara merdumu," pinta Edward.


Bibir Rona mengatup, dia menggigit bibirnya sendiri menahan suara agar tidak lolos dari mulutnya. Meski dia dijadikan wanita simpanan, tapi dia tidak ingin menikmati setiap sentuhan yang Edward berikan. Itu sama saja menipu dirinya sendiri.


Edward membalikan tubuh Rona. Netra cokelat pekat menatap hangat mata yang telah sayu. Dia membelai wajah Rona lalu menyelipkan anak rambut ke samping cuping telinga. Perlakuannya saat ini benar-benar lembut dan sangat hangat. Rona butuh tenaga ekstra untuk menahan dirinya agar tidak terhanyut dan kalah.


Edward mengecup kening Rona lalu turun ke hidung. Kecupannya kini beralih kedua pipi lalu turun ke bibir lalu memagutnya sekian detik. Sentuhannya turun ke leher jenjang, menggigit tipis tanpa meninggalkan bekas. Tubuh Rona meremang.


Lidahnya kini turut bermain, menikmati bagian yang paling sensitif dari dada Rona. Menyapu sesuatu yang mencuat lalu menyesapnya kuat dengan jemari berputar di area sensitif yang lain. Tubuh Rona menggelinjang, Edward tersenyum tipis.


Tangan kokoh menarik salahsatu kaki Rona lalu menautkan ke atas pinggangnya. Kedua mata gadis itu terpejam karena sudah membayangkan apa yang akan selanjutnya terjadi. Pergumulan tanpa cinta, untuk kedua kalinya.


Rona terus menggigit lidahnya, menahan lenguhan dan desahann. Sementara Edward terus menghentak-hentakkan miliknya dengan kasar. Dia ingin mendengar gadisnya merintih, namun usahanya tidak berhasil.


"Aku mencintaimu Rona..." pekik Edward yang semakin buas memaju mundurkan kepemilikannya. Rona yang terkejut akan apa yang dia dengar, dia termangu dan tanpa sadar suara desahann keluar dari bibir mungilnya.


Edward mengerang seraya menumpahkan seluruh kenikmatan ke dalam rahim wanitanya dengan posisi kepala di ceruk leher Rona. Dengan napas yang masih terengah-engah, Edward membisikkan kalimat yang membuat Rona terbelalak.


"Aku lupa tidak menggunakan pengaman, maaf...."


...*******...


...Edward mulai mencintai Rona, namun terus dia tampik. Dia tidak ingin terlihat lemah karena sebuah rasa yang menurutnya tidak seharusnya hadir di hatinya....

__ADS_1


...Terimakasih untuk semua yang berkenan membaca Novelku ini. Maaf ya masih dipenuhi dengan adegan-adegan hot. Nantikan adegan perbucinan soon. Hihihi......


__ADS_2