Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Tatapan


__ADS_3

Gadis itu beringsut lalu berdiri dan masuk ke dalam kamar. Membanting pintu sekeras mungkin kemudian memutar kunci. Leona menepuk keningnya dengan tangan satunya di pinggang, lalu mengusap wajah dengan kasar. Dia mendekati Edward dan merangkul pundak laki-laki yang sedang termangu. "Kalau Kakak memang mencintai gadis itu, kejar terus. Jangan menyerah. Aku ingin melihat Kakak bahagia, seperti dulu...."


Edward mengangguk dan cairan bening menetes dari sudut mata. Tetesan yang telah lama tidak pernah membasahi matanya, kini hadir begitu saja.


"Ntahlah, Dek. Aku hanya merasa bersalah pada Marissa kalau sampai jatuh hati pada wanita lain. Melupakan begitu saja janji yang sudah diucap, hanya karena kehadiran seseorang dalam sebuah kesalahan..." Edward menghapus air mata lalu menghembuskan napas kasar.


"Percaya deh, kak Marissa di alam sana pasti turut bahagia melihat Kakak bahagia. Justru kalau Kak Edward terus-terusan terkungkung masa lalu, akan menjadi beban tersendiri untuk kak Marissa," tutur Leona yang melepas rangkulan dan beralih menggenggam tangan Edward.


"Aku masih penasaran Kak, apa Rona ini wanita yang Kakak perkosa itu ya?" tanya Leona dengan suara rendah.


Edward menarik wajahnya dan menatap Leona penuh tanda tanya. "Kamu tahu dari mana kalau Kakak...."


"Ah, Kakak tahu pasti dari si mulut rombeng, kan?" sambung Edward.


Leona menggaruk kepala yang tidak gatal seraya meringis. Lalu menganggukan kepala dengan raut wajah berubah serius. "Kakak berhubungan dengan Rona, pakai pengaman tidak?" Pertanyaan sensitif meluncur begitu saja dari bibir Leona.


Lagi-lagi Edward tercengang, kali ini dia dibuat skakmat oleh Leona. Kalau dia jujur, gadis di sampingnya pasti akan menceramahi habis-habisan. Tapi kalaupun berbohong, dia bukan pembohong yang handal. Apalagi terhadap adiknya yang sudah hapal tabiat dan bisa dengan mudah membaca dari bahasa tubuh dirinya.


Edward menarik napas lalu mengeluarkannya perlahan, matanya memutar tanda dia sedang berpikir. "Malam kemarin Kakak melakukannya tanpa pengaman."


"Atas dasar suka sama suka?" tanya Leona yang melandaikan punggungnya ke sandaran sofa.


Edward menggelengkan kepala dan turut menyandarkan tubuhnya. "Kakak kembali memaksanya."


Leona mengerlingkan mata dengan tubuh melorot. Terbesit rasa kecewa pada laki-laki yang dia sayangi. "Kak, aku wanita. Rona juga wanita ... aku bisa merasakan apa yang gadis itu rasakan. Apa Kakak mau karma dari apa yang Kakak lakukan, berbalik pada adikmu ini?"


Edward menegakkan tubuhnya lalu menatap Leona dengan dalam. "Kakak tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terhadapmu, Leona!"


"Kenapa?" tanya Leona. "Kenapa Kakak tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padaku, tapi Kakak sendiri memerkosa seorang gadis?"


"Malam itu Kakak pikir, Rona gadis murahan. Tapi Kakak salah, ternyata... dia masih perawan."

__ADS_1


"Lalu kenapa Kakak malah menjadikan dia simpanan? Aku tidak mengerti dengan apa yang bersarang di otak Kakak!" geram Leona. Dia berdiri lalu mengucapkan kalimat yang membuat Edward terkesiap. "Nikahi Rona, demi aku!"


...***...


Gadis yang merasa dipermainkan oleh nasib, meringkuk mendekap kedua lututnya. Tidak ada lagi tangis yang mendiami mata indah. Hanya tatapan tanpa binar menyorot langit-langit kamar yang terasa berputar.


"Rona ... ini aku, tolong buka!" panggil Leona seraya mengetuk pintu kamar. Tapi, tidak ada sahutan.


"Rona...!" Leona menarik handle pintu. Akan tetapi, terkunci.


"Rona... are you ok?" teriak Leona. Namun, tetap tidak ada jawaban.


Leona menghampiri Edward yang sedang memilin pelipisnya. Kejadian tadi malam membuat kepalanya terasa sakit dan pening.


"Kak, punya kunci cadangan pintu kamar?" tanya Leona risau.


Edward mengayun kepalanya ke kiri dan ke kanan. "Tidak, memangnya kenapa?"


"Pakai tanya lagi kenapa!" geram Leona. "Rona aku panggil-panggil tidak menyahut."


Edward mengambil posisi kuda-kuda, mencoba menghantam daun pintu untuk ketiga kalinya. Dia berlari sekuat tenaga, dan...


DUGGG!!!


Edward tersungkur ke atas lantai karena dalam waktu bersamaan, Rona membuka pintu kamar. Wajah polosnya melihat ke arah Edward dan Leona bergantian tanpa peduli akan suara pria yang mengeluh kesakitan.


Edward mengangkat tubuhnya dengan susah payah, lalu berjalan terhuyung-huyung. Darah segar menetes ke atas bibir dari lubang hidung dan pelipis, pertahanannya roboh. Namun, dengan sigap Rona menopang badannya menggunakan kedua tangan.


Leona yang melihat Edward tidak sadarkan diri, turut membantu Rona memapah saudaranya ke atas ranjang. Kali ini Edward benar-benar pingsan bukan sekedar sandiwara.


"Tadi Kakakku sangat khawatir karena kamu tidak menjawab panggilanku. Niat hati mendobrak pintu takut ada sesuatu yang terjadi, eh malah dia yang terjungkal."

__ADS_1


"Hehehe... maaf. Tadi aku ketiduran di atas lantai," kekeh Rona.


Leona melongo diikuti mulut yang menganga, mendengar jawaban Rona barusan membuatnya geregetan. "Mereka berdua memang jodoh sepertinya, sama-sama otak miring!" umpat Leona dalam hati sembari tangan mengelus dada.


Rona meraih kain kasa di atas nakas lalu membersihkan luka Edward dengan hati-hati. Leona yang awalnya kesal, kini hatinya berangsur tersentuh. Ternyata gadis di depannya wanita yang penuh kelembutan.


"Thankyou so much for taking care of my lovely Brother, Rona..." ucap Leona tulus. Dia merengkuh pundak Rona dan menyandarkan kepalanya.


"Aku sangat sayang sama Kak Edward. Tolong jaga dia untukku...."


Rona terdiam karena dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia memilih untuk fokus mengobati luka Edward tanpa mempedulikan gadis yang berdiri di depannya tengah menanti jawaban.


Tiga puluh menit kemudian,


Pria yang sedang terbaring mulai sadarkan diri, dia memegangi kepalanya yang sakit sembari menatap ke sekeliling. Nampak wajah yang bersinar bak purnama mengukir senyum terindah ke arahnya.


"Apa aku sudah di surga?" Edward meracau. "Aku melihat bidadari yang sangat cantik."


"Ini aku Rona, Tuan Edward!"


Leona yang duduk di belakang Rona terkekeh melihat tingkah laku Edward yang memalukan. "Cie... bidadari yang sangat cantik. Baru sadar Kak kalau Rona itu cantik?" ledek Leona. Wajah Edward meremang lalu menutup mata karena malu.


"Bagaimana kondisimu?" Rona melihat luka di kepala sembari mengecek mata Edward menggunakan senter.


"Apa kepalanya masih sakit?" tanya Rona mengganti kain kasa lama dengan yang baru.


Edward tidak menjawab, nyawa pria itu belum pulih sepenuhnya. Dia menatap Rona tak berkedip dan menikmati debaran di dalam hati. Kejadian demi kejadian menyadarkan Edward bahwa ada ruang di hati yang mulai terbuka untuk Rona. Gadis yang selalu diperlakukan dengan buruk olehnya.


"Ehm... apa tidak pegal itu mata, Kak?" sindir Leona.


Rona yang sedari tadi menghindari tatapan Edward, terpaksa menolehkan wajahnya. Dua pasang netra kini bertemu dan saling berkata. Meski mulut keduanya mengatup dengan rapat, tapi sorotan hangat terlihat jelas bahwa masing-masing dari mereka mulai menaruh rasa. Namun, masih terhalang dengan keraguan dan tawar hati karena insiden tidak mengenakan yang melibatkan keduanya.

__ADS_1


...*******...


...Terimakasih untuk yang setia membaca karya keduaku. Ditunggu kritik dan sarannya juga ya......


__ADS_2