
"Kenapa melihatku seperti itu, asisten gila?" bentak Claire yang merasa tidak nyaman bersitatap dengan Feliks.
"Kamu lucu juga ternyata kalau aku perhatikan," ungkap Feliks datar.
Kelopak mata mengerjap cepat, tenggorokan seolah tercekat, luka di tangan tiba-tiba tidak terasa. Detak jantung melampaui batas normal.
"Ayo aku antar pulang..." ajak Feliks untuk kedua kalinya.
"Em... aku pulang sendiri saja. Tidak usah repot-repot," tolak Claire yang mendadak salah tingkah.
"Aku sekalian lewat, jadi tidak usah berpikir macam-macam," ungkap Feliks ketus. Dia mengenakan kaca mata hitam seraya mengulurkan tangan. "Ayo....!"
"Aku bisa jalan sendiri, tidak perlu dipapah!" tolak Claire yang kini berdiri berhadap-hadapan dengan Feliks.
Claire semakin salah tingkah karena Feliks mendekatkan bibirnya ke cuping telinga lalu berbisik, "Claire... itu bulu hidung keluar!"
Claire sontak kalang-kabut, dia membuka tas lalu merogoh cermin di dalamnya. Dia memindai wajahnya sendiri. Akan tetapi, tidak mendapati bulu selembar pun yang keluar dari dalam hidung.
"Feliks...!" teriak Claire kesal. "Tidak lucu, tahu!"
Feliks tertawa geli seraya memegangi perut. Namun, tawanya terhenti karena gadis di hadapannya meradang. Claire meninju perut Feliks lantas menendangnya tanpa ampun. Dia berlalu begitu saja serta mengabaikan Feliks yang mengerang kesakitan.
"Dasar wanita gila...!" umpat Feliks memandangi punggung wanita yang memukulnya.
Claire menghentikan langkah sejenak lalu mengacungkan jari tengah tanpa menoleh sedikit pun.
...***...
Hari beranjak petang. Warna jingga terlukis di antara langit biru dan mega putih. Sinar mentari samar-samar terpancar, bumi teduh. Namun, hati terasa gersang.
Sepasang pengantin baru, baru saja selesai memadu kasih. Keringat bercucuran bercampur tetesan kenikmatan yang mulai mengering di atas ranjang.
"Edward... please lepaskan aku," rengek Rona yang terus melihat ke arah jam dinding. Namun, Edward malah menindih tubuh sang istri dan menancapkan kembali miliknya.
"Ini hukuman karena kamu mengacuhkanku tadi!" kilah Edward.
"A- aku harus menyiapkan makan malam," ujar Rona beralasan.
"Sudah, nikmati saja. Kamu juga suka kan, sayang?"
Rona terpaksa kembali pasrah berada di bawah kungkungan Edward yang menginginkan pergumulan untuk kedua kali. Tubuh lelakinya itu seolah tidak ada rasa lelah sedikit pun.
__ADS_1
"Ka- kamu memangnya tidak capek mengerjaiku habis-habisan?" tanya Rona dengan napas kembang-kempis.
Edward menggeleng. "Aku ingin memuaskan istriku tercinta. Supaya kamu tidak ada pikiran sedikit pun untuk mencari kepuasan di luar."
Edward menghentak-hentakkan miliknya, memompa dengan kencang. Suara jeritan karena rasa nikmat yang bertubi-tubi menghiasi bibir mungil yang tipis.
Sementara di balik pintu, Amber tengah menguping aktifitas panas suami istri tersebut. Tubuhnya turut meremang, jiwa liarnya muncul kembali. Teringat dulu saat tubuh dan miliknya dijamah oleh banyak lelaki hidung belang.
Amber melihat tubuhnya sendiri yang masih segar dan bugar, tidak tahu mengapa perkataan anak tirinya seakan memberinya ide. "Aku mau mencari brondong buat simpanan. Si tua bangka sudah tidak bisa memberiku kepuasan!"
Amber terus memasang telinga ke daun pintu, menajamkan pendengaran. Sesekali meremass dada miliknya tanpa rasa malu karena rangsangan yang dia dapatkan secara tidak langsung.
"Nyonya Amber... sedang apa Nyonya di depan kamar tuan muda?" Kedatangan Fiona yang secara tiba-tiba membuat Amber terkejut.
"A- aku mau membangunkan mereka, ini sudah sore. Dan meminta menantuku untuk membantu kita di dapur menyiapkan makan malam." Amber hendak mengetuk pintu, tetapi Fiona menahannya.
"Biarkan saja Nyonya... namanya juga pengantin baru. Jangan diganggu," ujar Fiona yang menutup mulutnya menahan kekehan.
Amber menggertakan gigi lalu berjalan satu langkah mendekat. "Di sini, yang majikan itu saya atau kamu?"
Fiona menundukkan kepala. "Maaf Nyonya, saya tidak bermaksud seperti itu...."
Tubuh Fiona bergetar hebat, teringat kembali peristiwa memilukan beberapa tahun silam. Dia menjadi satu-satunya saksi mata yang memergoki Amber tengah memotong kabel rem mobil milik mendiang majikannya. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa karena kala itu Amber mengancam kehidupan anak-anaknya.
...***...
Suasana makan malam pertama terasa hening dan canggung. Hanya suara dentingan sendok dan garpu membuyarkan kesunyian. Tidak ada yang mengawali pembicaraan, selain Amber yang mulutnya sudah gatal.
"Bagaimana Rona, apa sudah ada tanda-tanda?" tanya Amber sinis.
"Tanda-tanda apa ya Mom?" tanya Rona yang tidak mengerti arah pertanyaan mertuanya.
"Tanda-tanda hamil lah, apalagi!" jawab Amber seenak hati.
Rona tersedak lalu menepuk-nepuk dadanya. Edward dengan cekatan menyodorkan air putih kepada istrinya. "Minum lah...."
"Kami baru menikah beberapa hari, apa pantas pertanyaan itu keluar dari mulut beracunmu, Amber?" geram Edward yang kini berdiri menatap dingin ke arah ibu sambungnya.
Amber turut berdiri, menyimpan napkin lalu melangkah ke arah ruang keluarga. Dia berbicara seraya berjalan. "Kalian kan sudah sering melakukannya dari sebelum menikah, apa kamu tidak curiga Edward kenapa istrimu belum hamil juga?"
"Kenapa harus curiga, kalau memang Tuhan belum mengizinkan?" timpal Rona yang sudah tidak tahan dengan perkataan mertuanya.
__ADS_1
Leona yang duduk di sebelah Rona, dia mengelus punggung dan memijat lembut pundak kakak iparnya. "Maafkan Mom Leona ya Kak...."
Rona mengangguk ke arah Leona lalu memutar kepala ke arah Edward. Menarik lembut lengan suaminya untuk melanjutkan makan malam yang terhenti.
"Habiskan makanmu..." pinta Rona pada Edward.
Edward yang terlanjur hilang selera, dia meninggalkan makan malamnya lalu masuk ke dalam ruang kerja. Rona hendak mengejar suaminya, tetapi Richard mencegahnya.
"Tidak usah kamu kejar, anak itu kalau marah memang seperti itu. Tinggal buatkan minuman kesukaannya saja, suasana hatinya akan mencair kembali." Richard membersihkan sisa makanan di atas mulut dan menyusul Amber ke ruang keluarga. "Papa tinggal ya, ada Leona yang menemani kamu makan."
Rona menarik kepalanya ke bawah, mengiyakan perkataan mertuanya.
...***...
"Boleh aku masuk?" teriak Rona dari luar ruang kerja seraya mengetuk pintu.
"Masuk saja!" sahut Edward dari dalam kamar.
Rona menarik handle pintu lalu menyembulkan kepalanya. "Apa aku tidak mengganggu?"
"Tidak sayang, masuklah..." titah Edward seraya menganggukan kepala mempersilakan istrinya masuk.
"Ini untukmu, minumlah selagi panas." Rona menyodorkan secangkir Broccolatte kesukaan suaminya. Edward menarik kopi buatan sang istri lalu menyimpannya di samping komputer.
Rona membiarkan Edward yang nampak serius di depan monitor. Dia mengitarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang dipenuhi koleksi buku-buku tebal.
"Ah... sialan!!!" Edward berteriak seraya menarik rambutnya frustrasi.
Rona yang mendengar suara melengking suaminya tergopoh-gopoh berjalan menghampiri. "Ke- kenapa sayang? Ada apa?"
Edward mendengus lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan tangan di belakang kepala. "Semua investor membatalkan perjanjian kerja sama. Usaha kulinerku mengalami kerugian besar-besaran. Satu per satu cafe tutup. Dan aku harus membayar puluhan pekerja yang terpaksa diberhentikan sepihak."
Rona melingkarkan tangan lalu membelai lembut dada suaminya. "Pikirkan semua dengan kepala dingin sayang. Jangan gegabah ya...."
Edward menghela napas dan dalam hatinya berkata, "Sebenarnya aku bisa saja mengungkap dalang dari semua ini secepatnya. Tapi aku menunggu waktu yang tepat dan aku belum siap melihat reaksimu saat tahu siapa orang di balik kejadian-kejadian yang aku alami."
...*****...
...Nah loh, sudah ada sedikit pencerahan nih siapa dalang pembakaran dan pencurian berkas-berkas juga kecelakaan yang hampir saja merenggut nyawa duda hot kita. Pasti sudah bisa menebak nih!...
...Terimakasih yang sudah memberikan dukungan VOTE, LIKE, COMMENT, HADIAH, RATE 5 BINTANG. Semoga menjadi keberkahan ya......
__ADS_1