
...Masih lanjutan bab malam pertama, yang tidak nyaman, silakan skip saja ya. Tapi penasaran? Boleh tutup muka, terus mengintip dari celah-celah jari. Terimakasih....
...*****...
Saliva kasar terdengar, butiran keringat menguap dari balik pori-pori tubuh. Dalam kamar yang bersuhu rendah, dua insan yang tengah dimabuk gairah malah semakin kepanasan.
"Rona... aku sudah tidak tahan!" desah Edward dengan suara paraunya. Dia mengangkat tubuh Rona dan mendorongnya ke tembok.
"Aw... pelan sedikit Edward!" protes Rona yang memegangi kepalanya.
"Maaf sayang... kamu yang membuatku lepas kendali seperti ini. Kamu sekarang nikmati saja akibatnya!"
Edward memasukkan miliknya dengan sekali hentakkan. Rona menjerit seraya wajah mendongak. Meski bukan yang pertama kali untuknya, tapi sesuatu yang bisa membuatnya mengandung 9 bulan selalu terasa sesak dan penuh di dalam dinding uterus.
Pria yang seluruh urat nadinya dikendalikan hasrat dan nafsuu, menghantamkan miliknya dengan kasar. Dia tidak peduli Sang istri yang terus merintih dan mengerang, dia ingin membalas apa yang sudah Rona perbuat padanya. Dia memompa miliknya tanpa ampun. Tangannya meremass kuat gumpalan kenyal lalu memelintir puncaknya. Sedangkan bibir dinginnya menyesap leher jenjang, meninggalkan bekas pekat di beberapa titik.
"Edward kamu—"
Edward membungkam bibir yang mulai pasi dengan bibirnya. Menahan suara-suara indah yang ingin keluar dari rongga udara. Dia terus memaju mundurkan pinggulnya tanpa henti, tidak tahu sudah berapa kali Rona mendapatkan pelepasannya. Tubuh istrinya menegang dengan kuku yang menancap tajam pada pundak Edward. Lenguhan menggema di dalam ruang kedap suara.
Setengah jam, satu jam, satu setengah jam, dua jam. Sepasang pengantin baru, akhirnya mencapai puncaknya. Ujung kenikmatan membasahi endometrium. Debaran masih sulit dikendalikan, tarikan napas begitu kasar terdengar dari bibir dua raga yang tubuhnya melangsur, lemas.
Edward mengangkat tubuh Rona ke atas ranjang dengan sisa tenaganya. Mengeringkan menggunakan handuk lalu menutupinya dengan selimut tebal. Nampak Rona yang menggigil diiringi raut kelelahan.
"Maafkan aku sayang... besok pagi kita lanjutkan lagi ya...."
Rona yang tidak sepenuhnya tertidur, dia bergidig membayangkan bagian inti yang kini terasa pedih, dihantam kembali dengan milik lelakinya yang kuat. "Niat mau menyenangkan suami, yang ada malah dia semakin menggila," batin Rona.
Edward turut merebahkan tubuhnya dengan posisi miring menghadap Sang istri. Bibirnya menyapu bibir tipis yang sentiasa menggoda. Tangannya menelusup ke dalam selimut lalu meremass seonggok daging, yang selalu membuatnya lupa daratan.
"Sayang... ayo bangun. Baru juga jam 2," rengek Edward. Rona pura-pura tidur dengan menahan rahangnya, agar mulutnya tidak mengeluarkan suara.
"Masa aku harus main sendiri seperti waktu itu, padahal aku mempersiapkan segalanya untuk malam panjang kita?!" keluh Edward dengan tangan bergerilya tak tentu arah.
__ADS_1
Karena tidak mendapat respon dari rangsangan yang diberikan, terpaksa Edward turut memejamkan matanya. Menikmati suguhan alam, melepas hasrat dan penat dalam perjalanan mimpi yang tak pernah kita ketahui.
...***...
Dendam bisa merusak segalanya. Hati yang tercipta tanpa cela pun, bisa berubah menjadi busuk. Memendam kebencian karena perlakuan orang lain terhadap seseorang terdekatnya menjadi pemicu. Hilang rasa, hilang minda.
Padahal tidak setitik pun kebahagiaan dan kepuasaan didapatkan, karena dendam akan terus menggerogoti hidup semakin mendekat pada gerbang kehancuran.
"Dasar anak buah tidak berguna! Kalian bilang bedebah itu sudah mati. Nyatanya apa hah? Dia datang ke pernikahan wanitanya!" geram pria yang belum diketahui namanya. Dia berteriak kencang seraya menyorongkan semua benda yang berada di atas meja. Semua berserakan hingga pecah berkeping-keping.
"Ma- maaf Bos, tapi mobil itu benar-benar meledak di dalam jurang. Kami memastikannya sebelum bertolak dari tempat kejadian."
"Tapi kenapa Si brengsek itu masih hidup?" Dia menarik kerah pakaian anak buahnya, memindai dengan wajah bengis dan sorotan membunuh.
"Kami tidak tahu Bos. Kondisi di sana gelap, kami hanya melihat mobil itu terbakar dan meledak."
"Dasar bodoh!" umpat Pria itu seraya meninju wajah anak buah yang sudah babak belur. Malam ini dia membutuhkan pelampiasan. Dia memesan dua wanita malam untuk menghilangkan dahaga sek-s yang menyerang birahi.
Hanya dengan cara bersenang-senang dalam kubangan nistalah, yang mampu meredakan kobaran murka yang mendidih di dalam dada.
...***...
Pagi ini, pagi pertama bagi Rona menjadi seorang istri Edward Liam. Meskipun tubuhnya lelah dan merasa ngilu di beberapa bagian, dia harus terbangun lebih awal dari Sang suami. Namun nyatanya dia dikejutkan dengan aktifitas seseorang di dalam selimut yang menutupi tubuhnya.
"Ah... Edward. Kamu—"
Edward menyembulkan kepalanya dari dalam selimut lalu melumatt bibir Sang istri. "Good morning my wife...."
Dia melungsurkan tubuhnya menikmati kembali sarapan pagi yang tersaji di atas ranjang. Pagi yang dingin berubah panas. Kicauan burung tergantikan erangan. Dua manusia tenggelam dalam lautan bara nafsuu yang tiada habisnya.
"Edward sudah, aku tidak kuat!" rengek Rona sembari menggigit selimut. Namun Edward bergeming, mulut dan lidahnya tidak berhenti berputar. Menyesap lalu menggelitik. Jemari menelusup, bergerak sangat cepat. Pagi yang dingin berubah lembab. Tubuh Rona merinding lalu menonggak dengan kelopak mata yang mengerjap lemah.
Krucuk-krucuk (Suara perut Rona berbunyi), membuyarkan gejolak yang sudah sampai di ujung kepala.
__ADS_1
"Kamu lapar, my wife?" tanya Edward yang mengeluarkan kepalanya dari balik selimut.
"Iya... dari kemarin siang aku belum makan. Efek gelisah karena kamu tidak bisa dihubungi dan juga gugup karena aku akan menikah..." ucap Rona lalu menguncupkan bibirnya.
"Kasihan istriku... maafkan aku ya." Edward memeluk Rona dengan rekat, memberinya hujan kecupan.
"Edward?" panggil Rona. "Kamu masih memiliki utang penjelasan, kenapa bisa datang terlambat di hari pernikahan kita...."
Terdengar helaan napas dari bibir Edward, dia nampak berpikir dengan mata yang berbicara.
"Nanti akan aku jelaskan. Sekarang aku akan memesan sarapan untukmu dulu!" Edward hendak beranjak dari tempat tidur, namun dia urungkan karena terdengar suara gaduh yang memasuki kamar hotel.
"Surprise...!" teriak Claire yang membuka pintu dengan kakinya. Dia membawa beberapa kantong keresek di tangannya.
"Ba- bagaimana kamu bisa masuk, Claire?" tanya Rona terbata-bata. Dia menarik selimut yang tersingkap.
"Rahasia... yang jelas kita bawa makanan banyak..." teriak Feliks yang berdiri di belakang Claire.
"Astaga... muncul satu lagi pengganggu!" Rona memilin pelipisnya, rasa lapar lenyaplah sudah.
Edward mengepal geram, ingin rasanya dia menghajar asistennya saat ini juga. Bisa-bisanya dia mengganggu waktu berduaan dengan istrinya. Namun sayang, saat ini dia tengah telanjangg bulat. Dia hanya bisa melotot dan memberi kode menggunakan matanya.
"Feliks... Claire... apa kalian tidak punya otak?"
"Kami sedang... ah!" Edward bingung mengatakannya.
Claire tersenyum simpul. "Maaf Kakak ipar, aku kemari hanya mengantarkan ini semua. Di jalan tidak sengaja bertemu asisten sintingmu. Dan kita bisa masuk ke kamar ini juga atas ide gilanya!" Claire menyimpan beberapa kotak makanan di atas meja. Lalu menutup pintu kembali tanpa merasa bersalah.
"Sebaiknya kita jodohkan saja dua pengacau itu, Edward!" geram Rona.
"Iya sayang... lama-lama aku bisa ikutan tidak waras!" balas Edward yang merebahkan tubuhnya di atas pangkuan.
...******...
__ADS_1
Terimakasih untuk semua dukungannya ya Kak...
...Semoga terus setia dengan karya Senja yang masih banyak kekurangannya ini....