
...Tetesan-tetesan lembut ini, sudah lama tak hiasi mata. Mata yang bisa menatap indahnya dunia, meski ia kadang tak seindah kata yang berlapis mutiara. Dalam serpihan jiwa yang terasa hampa, tangisku berderai lara....
...*****...
Amarah masih bisa dengan mudah diredakan. Akan tetapi bila rasa kecewa yang menghinggapi hati, sejuta kata maaf tidak akan mampu melerainya. Berapa banyak hubungan yang kandas bermula dari sebuah kekecewaan, ketidakjujuran dan ketidakpekaan? Tidak terhitung.
Wanita yang dilanda kebimbangan, membawa diri dan anak sulungnya meninggalkan hunian megah tanpa arah tujuan yang jelas. Saat ini dia membutuhkan sedikit waktu untuk menenangkan diri juga mencerna masalah yang sedang dihadapi.
"Kita mau kemana, Mommy?" tanya Ezio dengan mata setengah terpejam. Rona yang tengah melamun terperanjat karena pertanyaan putranya.
Rona sedari tadi berpikir, dan pada akhirnya memutuskan untuk membawa Ezio bermalam di rumah neneknya, Maria. "Kita ke rumah oma ya sayang... kan sudah lama kita tidak mengunjungi oma Maria."
"Tapi kenapa harus pergi malam-malam? Kenapa membawa pakaian yang sangat banyak? Kenapa juga tidak diantar daddy?" Ezio memberondong Rona dengan pertanyaan. Meski usia Ezio masih sangatlah kecil, akan tetapi dia sudah mulai kritis dan peka dengan keadaan.
Rona gelagapan, beberapa kali menghembuskan napas seraya mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan yang dilontarkan anak sambungnya.
"Em... kan daddy sibuk terus, sebagai gantinya daddy meminta Mommy untuk mengajak Ezio berliburan ke rumah oma Maria," ujar Rona berdusta.
"Oh jadi begitu ya Mommy?" sahut Ezio riang. "Hore... Ezio ke rumah oma Maria. Ezio rindu oma Maria...."
"Iya sayang...," balas Rona. "Syukurlah kalau kamu senang." Rona menyandarkan punggungnya dan melanjutkan dunia khayalnya.
Satu jam kemudian,
Maria yang diberi kabar kalau cucunya akan datang, menunggu dengan tidak sabar di depan teras. Dia mondar-mondar seraya menautkan kedua tangannya di belakang pinggang. Matanya bersinar saat mendengar suara deru mobil berhenti di depan rumahnya.
"Hai sayang, kalian apa kabar?" Maria mengecup pipi Rona kiri dan kanan, lantas mengecup Ezio.
"Kabar kami berdua baik Ma... maaf ya, malam-malam begini Rona mengganggu." Rona hendak mengeret kopernya namun Maria menahannya.
__ADS_1
"Biar Mama saja Nak... kamu kan sedang hamil muda, tidak boleh membawa barang yang berat-berat." Maria menarik koper dari tangan Rona kemudian membawanya ke dalam kamar Marissa.
"Terimakasih ya Ma, sudah berkenan menerima Rona dan Ezio di rumah ini. Rona bingung harus pergi kemana. Karena di sini, Rona tidak memiliki siapa-siapa." Rona memeluk wanita yang sudah dianggap sebagai ibunya sendiri.
"Sama-sama Nak... rumah ini kan rumahmu juga." Maria mengusap-usap punggung Rona. "Istirahatlah dulu di kamar, kasihan anakmu. Dia kelihatannya sangat mengantuk," tambah Maria yang melihat Ezio beberapa kali menguap.
Rona mengiyakan perkataan Maria dengan membawa Ezio menuju kamar untuk menemani putranya tidur. Namun sebelum itu dia memberikan pesan pada Maria dengan suara samar-samar. "Ma... Rona boleh minta tolong?"
"Apa itu Nak?" sahut Maria.
"Andaikan Edward mencari Rona dan Ezio, cukup katakan saja kalau Mama tidak tahu. Rona ingin menenangkan diri untuk beberapa waktu. Boleh ya Ma?" pinta Rona memelas.
Maria mengangguk seraya mengacungkan ibu jari kemudian menutup pintu kamar putrinya. Wanita tua itu menarik langkah ke arah dapur untuk menyiapkan makanan kecil untuk Rona. Meski dia tidak tahu makanan apa yang disukai ibu sambung cucunya itu.
Sementara itu...
DUG... DUG... DUG!!!
Seseorang membuka pintu dengan kesal. Dan Edward langsung menerobos masuk begitu saja tanpa menghiraukan pekikan seseorang tersebut karena bahunya ditubruk olehnya dengan kencang.
"Dasar gila!" umpat Claire geram.
"Istriku mana Claire? Anakku mana?" Edward berlari ke sana kemari. Membuka setiap pintu ruangan. Sayangnya dia tidak mendapati siapapun. "Kamu sembunyikan Rona di mana, hah?" bentak Edward.
Claire mengambil sapu dari belakang pintu kemudian memukul punggung Edward berkali-kali. "Kamu apakan sahabatku hah? Kamu menyakitinya? Atau kamu berselingkuh?"
Mendengar kata selingkuh, Edward merasa bersalah karena teringat gurauannya dengan Natalie tadi siang. Dia membiarkan begitu saja tubuhnya dipukuli Claire hingga timbul luka memar.
"Hanya terjadi kesalah pahaman saja Claire," lirih Edward saat sahabat istrinya itu berhenti memukulinya.
__ADS_1
"Salah paham? Salah paham seperti apa yang membuat Rona sampai pergi dari rumah? Kamu main wanita?" geram Claire. Dia ingat betul bagaimana sepak terjang suami sahabatnya ini yang senang bergonta-ganti pasangan, untuk sekedar memuaskan dahaga nafsuu.
"Dia salah paham, karena melihat aku sedang berpelukan dengan seorang wanita. Tap—"
"Tapi apa hah?" potong Claire. "Mau beralasan kalau wanita itu sepupumu?" bentak Claire yang mulai memasang kuda-kuda. Dan benar saja satu tendangan keras meluncur mengenai wajah Edward. Tubuh pria itu berputar, kemudian menghantam lantai. Bukan hanya luka memar yang Edward dapatkan, namun darah yang mengucur dari dalam pangkal hidungnya.
Edward mengusap darah yang mengalir, kemudian duduk di atas lantai dengan tangan yang melingkar di kedua lututnya. "Tendang aku lagi Claire, sepuas hatimu. Aku memang pantas mendapatkannya!"
"Sebuah tendangan tidak ada apa-apanya, karena aku yakin perasaan Rona saat ini sangatlah terluka!" Claire berjalan menuju dapur dan membawa sebilah pisau.
"I-itu pisau untuk apa Claire?" Edward tergugup karena Claire nampaknya sangat murka terhadapnya.
"Ini pisau untuk memotong kemaluanmu yang murahan itu, Edward!" ancam Claire. "Aku tidak akan segan-segan dengan perkataanku, kalau selama satu minggu Rona tidak berhasil kamu temukan, nantikan saja apa yang akan aku lakukan terhadapmu!"
"Tapi Claire...."
"Aku tidak mau mendengar apapun lagi dari mulut busukmu itu, bos gila!" Claire menarik paksa lengan Edward. "Sekarang kamu pergi dari sini sebelum pikiranku berubah!"
Edward tertunduk lesu, pakaiannya sudah acak-acakan dengan wajah lusuh dan semrawut. Dia melangkah dengan gontai bak seorang zombi. Beberapa langkah dia berjalan, Edward mematung. Kemudian memberikan satu pesan pada gadis yang menatapnya dengan berbagai tanda tanya.
"Aku sangat mencintai Rona, Claire. Aku sungguh tidak sedikit pun mengkhianatinya. Kalau kamu bertemu dengannya atau dia menghubungimu, tolong sampaikan pada istriku, pulanglah... aku merindukannya." Dada Edward terasa sesak, dia melanjutkan langkah keluar dari apartemen. Claire menutup pintu dengan kencang.
"Rona kamu di mana? Kamu tidak memiliki siapa-siapa, kenapa tidak mengabariku?" Claire mencari ponselnya berniat untuk menelepon Rona, namun sayang nomor telepon sahabatnya itu berada di luar jangkauan.
"Kamu kemana Rona?" Claire mengusap kasar wajahnya. Dia berjalan mondar-mandir dengan tangan satu menetuk-netuk kening menggunakan ponselnya. Sedangkan tangannya satunya lagi di atas pinggang. Dia berpikir keras mencari keberadaan Rona, namun ingatannya tidak menemukan apapun.
...*****...
...Edward, kebanyakan gaya sih!...
__ADS_1
...Teirmakasih dukungan teman-teman semunya. Berkah selalu......
...Love you all ...