Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Mati Saja!


__ADS_3

...Melodi malam lirih hembuskan hening. Laju hati yang tak terkendali, tinggalkan riak dalam separuh angin. Terdekap sunyi, terhunus sepi....


...******...


Patah hati untuk kesekian kali karena mencintai orang yang tidak pernah menghargai cintanya, hati yang sempat tertikam kembali terluka. Memang rasa cinta tidak untuk dipaksakan, tapi sampai kapan kisah cinta akan selalu bertepuk sebelah tangan?


"Hai handsome..." sapa wanita malam yang melipat kedua tangan di atas pundak. Namun, pria yang tengah dia goda, menolakkan bahunya. Dia asyik menatap gelas digenggaman dengan minuman berputar-putar seraya merutuki nasib yang selalu tak berpihak.


Satu gelas, dua gelas, tiga gelas, tidak tahu berapa gelas yang sudah dia teguk. Kepalanya mulai berputar dengan dada yang terasa panas bergemuruh.


"Kenapa aku selalu sial!!! Kenapa tidak ada satu pun yang mencintaiku? Apa aku tidak layak dicintai, hah?"


Pria yang tengah frustrasi, melempar gelas ke atas lantai hingga pecah berserakan. Semua pengunjung klub malam menoleh ke arah suara gelas yang terjatuh.


"Kamu!" tunjuk pria tersebut pada wanita di hadapannya. "Aku tidak butuh tubuh kotormu! Aku tidak butuh untuk dipuaskan. Yang aku butuhkan hanya cinta dari seseorang!"


"Kalian!!! Ayo sini, berduel denganku!" tantangnya pada dua pria bertubuh tambun dengan tatto hellokitty di lengan kanan. Dia menggerak-gerakkan tangan lalu tersungkur dan menjadi bahan tertawaan orang-orang. Seorang pria mengangkat tubuhnya lantas melempar ia ke arah meja sekeras mungkin. Laki-laki yang belum diketahui namanya itu, meringkuk dengan menahan rasa sakit di tubuhnya.


"Feliks?" teriak seorang wanita.


"Ma- maaf, ini teman saya. Sepertinya dia mabuk berat," ucap wanita itu. "Sekali lagi mohon maaf...."


Feliks mengangkat kepala memastikan suara wanita yang didengarnya. "Ah... Rona kamukah itu?"


Wanita itu tidak menjawab, dia susah payah mengangkat tubuh Feliks yang terasa semakin berat karena berjalan sempoyongan. Feliks terus saja meracau, memanggil nama gadis yang membuatnya patah hati.


"Rona... sini mana bibirmu! Aku ingin menghapus setiap jejak Edward di bibirmu!" Feliks memajukan bibirnya dan diarahkan pada bibir wanita yang tengah memapahnya. Bukan ciuman yang dia dapatkan melainkan satu pukulan di atas perut. Feliks terbatuk-batuk, tubuhnya melandai. Tangan kanan menopang badan dan tangan kiri memegangi perut yang terasa sakit.


"Ayo berdiri!" bentak wanita tersebut. Feliks berdiri, terlihat matanya semakin memerah karena amarah. Dia mendorong kasar tubuh wanita itu dan membuatnya terpojok tak berkutik.


"Apa kamu tidak bisa bersikap lembut padaku Rona? Apa aku sangat menjijikkan di matamu?" geram Feliks. Dia mencuri ciuman dan memagut bibir wanita itu dengan kasar. Satu tamparan di wajahnya mendarat sangat keras. Feliks semakin terpacu, dia menjilati leher jenjang yang tidak tertutup sehelai benang pun, lalu menggigit dan meninggalkan tanda merah yang berwarna pekat. Si wanita terus meronta-ronta dan mendorong tubuh Feliks. Namun, dia semakin beringas.


"Rona... sekali ini saja, aku ingin merasakan kehangatan tubuhmu. Merasakan kenikmatan yang selalu Edward dapatkan. Aku janji akan memuaskanmu di atas ranjang...."


Wanita yang tengah dia kungkung, menggelengkan kepala lalu tertawa karena tidak percaya dengan apa yang keluar dari mulut Feliks.

__ADS_1


"Aku heran, kenapa isi otak semua laki-laki itu sama. Sek-s dan sek-s! Dan kamu Feliks, aku pikir kamu itu berbeda ... tapi ternyata sama-sama payah!"


"Aku tidak butuh omong kosongmu Rona, yang aku butuhkan malam ini kamu menjadi milikku!" Feliks meremass benda kenyal dan padat, satu tendangan akhirnya mengenai arah sensitifnya.


"Aku bukan Rona, aku Claire!!! Kamu pria menjijikkan, aku menyesal karena telah menolongmu. Mati saja kamu laki-laki tak berguna!" teriak Claire meluapkan kekesalan.


Feliks berjalan mundur lalu berlari ke arah jalan raya dengan tubuh terhuyung-huyung. Dia hendak mengakhiri hidup dengan menabrakan tubuhnya ke kendaraan yang melaju kencang. Namun, Claire lebih dahulu menarik lengannya.


"Apa kamu sudah gila, hah?" berang Claire mencengkeram kerah baju Feliks.


"Katamu barusan aku mati saja!" jawab Feliks seraya menyeringai.


Claire memilin keningnya, dibuat pusing oleh kelakuan Feliks. "Haish... susah memang kalau bicara sama orang mabuk!"


"Ayo pulang ... sebelum kesabaranku habis, Feliks!" Claire menyeret lengan Feliks sekuat tenaga. Pria itu hanya cekikikan seraya meracau dan sesekali menangis. Claire hanya bisa menghela napas sembari menggerutu di dalam hati.


"Cinta memang merubah siapa pun dari waras menjadi gila, contohnya aku sendiri!"


...***...


"Edward... ini bukan jalan menuju apartemen. Kamu salah belok!" Rona memutar kepala ke kanan dan ke kiri memperhatikan jalan yang tengah dilalui.


"Lalu?"


"Kita akan ke kampusku! Setelah itu aku akan membawamu lagi ke suatu tempat."


"Ayolah Edward, aku sudah empat hari cuti, kasihan pasien-pasien kecilku..." rengek Rona. Dia menatap ke arah Edward dan mobil tiba-tiba berhenti.


Edward menelungkup wajah Rona, memindai kedua mata. Bibirnya menyunggingkan senyum lalu dia berkata, "Satu hari lagi ya ... aku sudah memberikan surat cutimu pada Dokter Edo. Dia yang akan mengurus semuanya...."


"Aku rindu bertemu malaikat-malaikat kecilku, Edward...."


"Sabar ya Nyonya Edward, sehari lagi saja...."


"Apa sih?" Rona tersipu mendengar panggilan baru untuknya. Edward terkekeh melihat Rona yang salah tingkah. Sikap-sikap kecil seperti inilah yang perlahan menyentuh hati Edward yang sempat tertutup.

__ADS_1


Global University


Bagai seorang selebritis, semua orang tertuju pada mobil mewah mengkilat yang berhenti di tempat parkir khusus dosen. Mata-mata nakal tengah menanti pria yang berstatus duda keluar dari kendaraannya, seraya menggigit tipis bibir-bibir mereka sendiri.


"Kenapa lama sekali sih, ayo dong my hot Daddy...."


"Mana ini dosenku canduku, kok tidak keluar-keluar?"


Seketika mereka menjerit saat melihat penampilan Edward dengan rambut barunya, fresh and so hot. Namun, mulut mereka menganga seketika saat Edward membuka pintu lalu keluarlah wanita cantik dan elegan. Edward menuntun lengan halus lalu melingkarkan tangannya ke pinggang Rona. Hari ini menjadi hari patah hati sedunia.


"Aku mengajar dulu ya sayang, kamu tunggu di sini. Aku tidak akan lama...," Edward mengecup kening Rona dan kekasihnya itu menganggukkan kepala.


Untuk mengusir kejenuhan, Rona membaca buku yang tertata di dalam bookshelf. Buku-buku tebal dengan bahasa yang sedikit sulit dicerna.


"Hai sayang, aku rind—"


Perkataan seseorang yang masuk ke ruangan Edward terhenti karena melihat sosok asing tengah asyik dengan buku di genggaman. "Kamu siapa?" tanyanya menelisik.


Rona berdiri lalu berbicara dengan tegas. "Aku tunangannya Edward, memangnya kamu siapa?" Rona menatap wanita yang bergincu merah dari atas kepala hingga ke ujung kaki.


"A- aku asistennya..." jawab seorang wanita terbata-bata.


"Kenalkan aku dokter Rona!" Rona mengulurkan tangan dan Miranda mengangkat tangannya ragu-ragu.


"Ba- baiklah saya harus ke kelas. Kalau ada apa-apa, bisa panggil saya. Kelas saya di samping ruangan ini," tawar Miranda. Suaranya terdengar seperti menahan sesuatu di hatinya.


"Terima kasih, Miranda. Nanti kalau saya butuh sesuatu, saya ke kelas sebelah."


Miranda mengangguk lalu keluar dari ruangan yang dahulu sering digunakannya untuk memuaskan Edward.


"Haruskah aku sakit hati atau bahagia, Edward?"


...*****...


...Tidak terasa sudah hari minggu lagi, selamat berlibur dan berkumpul dengan keluarga ya......

__ADS_1


...Have a nice day...


...Love You all...


__ADS_2