Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Pernikahan


__ADS_3

Suara musik instrumen Bridal March, mengiringi langkah kecil seorang gadis yang bersiap untuk menyambut genggaman pria terkasih. Menjalani bahtera hidup baru dengan rasa bahagia dan tanpa bayang-bayang masa lalu.


Pertemuan yang tanpa disengaja dan dimulai hal-hal menjengkelkan, mampu menghadirkan cinta di antara mereka berdua. Cinta yang tidak pernah diminta, cinta yang tidak terbayangkan akan kehadirannya. Cinta yang melesap ke dalam sanubari tanpa kata. Namun, berhasil menyatukan ikatan hati. Menyatukan segala perbedaan dan melebur setiap kekurangan menjadi sebuah kesempurnaan.


"Saya, Feliks Kyler berjanji kepada Claire Yolanthe sebagai suami, untuk mencintai dan merawatmu. Saat bahagia ataupun sedih. Kaya atau miskin, sehat atau sakit," kata Feliks mantap dan penuh penghayatan.


Semua orang bertepuk tangan dan memekikkan ungkapan keharuan jua sukacita. Turut tenggelam ke dalam euforia pasangan yang tengah berbahagia. Terlebih saat keduanya melakukan first kiss yang begitu manis dan sungguh berkesan. Ciuman yang penuh perasaan dan getaran-getaran akan cinta.


"Apa kamu bahagia Claire?" tanya Feliks merengkuh pinggang istri cantiknya.


"Aku bahagia, sangat... bahagia!" Claire melingkarkan lengan ke atas leher sang suami. Binar mata indahnya memancarkan bunga-bunga asmara.


Pasangan pengantin baru, melupakan bahwa saat ini mereka masih berada di atas altar dan di hadapan berpasang-pasang mata. Cumbuan mesra mendarat kembali dan kali ini begitu panas dan saling menuntut. Hingga dehaman Jourdy, menyadarkan kekhilafan mereka sebagai pasangan yang baru menikah.


"Nanti dilanjut saja di kamar!" bisik Jourdy kepada keponakannya. Claire terkikik, melepas tautan tangannya dan menarik langkah untuk sedikit memberi jarak. Dia harus bisa menahan diri dari gairah lelakinya yang sudah sangat bergelora.


Tanpa pesta meriah ataupun resepsi pernikahan, keduanya berkomitmen menyelenggarakan pernikahan sesederhana mungkin yang hanya dihadiri oleh kerabat dan juga orang-orang terdekat.


Semua orang memberikan ucapan selamat dan pelukan hangat. Tidak sedikit yang menitikkan air mata karena rasa haru, menjadi salah satu saksi hidup akan pernikahan yang begitu sakral dan khidmat.


"Selamat ya Claire... akhirnya kamu menemukan kebahagiaanmu juga." Rona mendekap erat tubuh sahabatnya dengan deraian air mata yang tak tertahankan. Kedua sahabat sejati, saling berbagi rasa yang tidak mampu mereka katakan. Rasa yang hanya mereka saja yang tahu.


"Terima kasih Rona... terimakasih sahabatku." Claire membalas pelukan Rona dan turut menangis. "Aku merindukan Nath... andai saja dia ada di sini, pasti kebahagianku akan lebih sempurna."


Rona mengangguk-angguk. "Iya Claire... aku merindukan dia juga. Apa pun yang terjadi, Nath akan memiliki tempat tersendiri di hati kita. Dia sahabat terbaik, meski suratan takdir merenggutnya lebih dulu."


"Heh asisten gila, jaga sahabatku dengan baik. Kalau tidak, nih!" Rona mengacungkan kepalan tangan. Feliks menelan saliva membayangkan sebuah pukulan mengenai wajahnya.


"Siap Kakak ipar ... aku akan selalu menjaga Claire. Karena itulah janjiku pada Tuhan!" Feliks melirik ke arah Claire, begitu pun juga dengan Claire. Lirikan mata keduanya mampu menggetarkan hati siapa pun di sekitarnya.


Edward melangkah maju dan menjitak dahi Feliks. "Dasar pemuda lemah! Belum juga merasakan surga dunia sudah kelimpungan, bagaimana nanti di atas ranjang?"


"Bos!!" pekik Feliks malu.


Edward menarik tangan asistennya dan memberikan sebuah hadiah. "Itu dariku sebagai kado pernikahan. Tiket menginap di hotel paling mewah di pesisir pantai. Dan itu satu lagi, obat kuat!"


Rona menjimpit pinggang Edward lantaran dia malu, suaminya itu berbicara dengan suara lantang hingga semua orang memperhatikannya. "Pelankan suaramu Edward... para tamu memperhatikan kita."


"Orang tampan memang akan selalu menjadi pusat perhatian. Tidak usah khawatir, sayang!" Edward berkata dengan raut datar, sementara sang istri harus menelan rasa malu karena celotehan suaminya.


Satu per satu tamu undangan telah memberikan selamat dan doa pada pasangan yang telah tertaut oleh janji suci. Dan kini, suasana ruangan pemberkatan beranjak sepi. Yang tertinggal hanya orang-orang terdekat, yang akan mengantarkan mereka untuk terakhir kalinya.


"Selamat honey moon, Nak... berikan Paman cucu secepatnya ya," seloroh Jourdy membuat Claire tersipu malu.

__ADS_1


"Feliks ... lakukanlah dengan perlahan!" ucap Rona pada suami sahabatnya.


"Ingat! Minum obat kuat yang aku berikan tadi, biar tahan sampai pagi!" tambah Edward membuat Claire semakin salah tingkah dan ingin bersegera pergi dari hadapan semua orang.


"Kami pergi dulu ya...!" Claire melambaikan tangan lalu masuk ke dalam kendaraan yang akan membawanya ke tempat memadu kasih.


"Terima kasih, Bos!" Feliks memeluk Edward dan untuk pertama kalinya pemuda itu menangis di hari pernikahan. Tatapan Feliks beralih pada pria yang berdiri di samping Edward dan menatap hangat ke arahnya. Tatapan khas seorang ayah kepada putranya.


"Tuan!" Feliks merengkuh tubuh Richard bagai seorang anak kepada sang ayah. Setelah kepergiaan kedua orang tuanya, Feliks dibesarkan oleh Richard. Maka dari itu, dia sangat setia dan tulus ikhlas mengabdi kepada keluarga Liam.


"Akhirnya tugasku sudah selesai." Richard menepuk-nepuk punggung Feliks membiarkan pemuda itu menuntaskan isakannya. "Semoga pernikahanmu langgeng. Kalau membutuhkan bahu untuk bersandar dari segala kemelut rumah tangga, kamu tahu harus mencari siapa."


Feliks mengangguk dan menyeka air mata. Kulit putih di wajahnya berubah menjadi kemerahan. Menandakan bahwa si empunya telah menangis dengan linangan air mata di atas pipi.


"Sudah sana pergi! Kasihan Claire ... pasti dia sudah tidak tahan!" usir Edward karena Feliks tidak jua beranjak. Feliks tergelak, kepalanya ditarik ke bawah sesaat. Dia akhirnya pergi meninggalkan semua orang untuk menggapai malam panjang bersama sang pujaan.


...***...


Di dalam sebuah kamar mewah, duduklah sepasang pengantin baru di atas ranjang. Mereka nampak malu-malu, bak seorang remaja yang baru saja merasakan jatuh cinta.


"De-dekat sini!" Feliks menepuk celah kosong di antara mereka. Claire bergeming, kepalanya tertunduk begitu rendah. Feliks mendesis, dia menggeser duduknya dan mendekati sang istri.


"Kamu tidak akan mandi?" Feliks melepas veil yang menutupi wajah Claire lantas melemparnya.


Claire bersandar ke daun pintu. "Huh... aku benar-benar nervous! Bagaimana ini, Tuhan?"


Wanita yang tengah dilanda kebingungan, berjalan ke arah cermin dan memandangi dirinya sembari meracau tidak jelas. Dia berputar-putar lantas menghembuskan napas kasar. "Aku takut Feliks kecewa melihat tubuhku yang kurus kurang gizi ini. Meski ya... ukuran dadaku lebih besar dari Rona sih."


"Haish...!! Lama-lama kamu seperti orang gila saja Claire. Atau memang sudah gila?" racau Claire lagi sembari menarik penaut gaun pengantinnya. Mulut gadis itu tiba-tiba berhenti berkicau lantaran dia kesulitan untuk membuka resleting gaun miliknya.


"Ya Tuhan... apalagi ini?!" Claire menepuk jidat dan terpaksa keluar dari kamar mandi.


"Boleh bantu bukakan resleting gaunku?" pinta Claire ragu-ragu.


Feliks menyeringai, dengan senang hati dia membantu kesulitan istrinya itu. Dia menghampiri Claire lalu mendorong tubuh ramping ke dalam kamar mandi dan mengungkungnya ke dinding yang dingin.


"Putar badanmu!" Feliks meminta Claire untuk memutar tubuh dan gadis itu melakukannya tanpa banyak bicara. Tangan kekar perlahan membuka zipper hingga sebatas panggul. Gaun pengantin istrinya terlepas begitu saja. Kini tubuh mulus itu terpampang jelas karena hanya tersisa kain tipis yang menutupi bagian area intinya. Darah mendesir, sepasang kelopak tidak berkedip. Feliks tidak ingin melewatkan begitu saja keindahan nyata yang membayang di pelupuk mata.


Bibir Feliks memberi sentuhan pada punggung sang istri, dari batas pinggang hingga ke atas tengkuk. Kedua telapak tangan meraup aset yang selalu dia mimpikan setiap malam, setiap waktu. Tubuh Claire melenting, suara serak nan seksi lolos dari bibir manisnya.


"Aku mandikan ya?" Feliks menarik tubuh Claire ke bawah shower. Dia mengalirkan air hangat untuk membasahi tubuh. "Aku sabuni ya...!" Suara parau bercampur desah melumatt bibir wanitanya yang tengah terbuka. Dia meraih sabun mandi dan mulai membalur tubuh sang istri, sejengkal demi sejengkal. Tubuh Claire menggelinjang karena sapuan tangan Feliks di atas dada juga bagian sensitifnya.


"Oh My God!" racau Claire menggambarkan sesuatu yang baru pertama kali dia rasakan.

__ADS_1


"Buka pakaianku, sayang..." desah Feliks di cuping telinga sang istri. Tangan Feliks menuntun jari lentik Claire untuk melucuti satu per satu kancing kemejanya. Jemari itu melepas pakaian dan menaruhnya di atas lantai. "Buka juga celanaku!" Feliks mengulumm telinga Claire membuat api gairah semakin bergelora. Seolah terhipnotis, Claire menuruti permintaan Feliks tanpa bantahan.


"Mau melihat milikku?" Feliks meraih tangan Claire dan membiarkan istri polosnya itu menggenggam pusaka berharga dari balik kain pelapis terakhir. "Sekarang ini milikmu. Sekujur tubuhku milikmu!" Feliks menyambar bibir istrinya, dengan tangan berkelana memberikan rangsangan-rangsangan kecil.


Claire mendesis, dia mulai penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun, Feliks malah menghentikan permainannya. Terlihat sekali guratan kekecewaan dari wajah polos yang mulai kecanduan.


"Kita lakukan di atas ranjang!" Feliks meraih handuk yang menggantung. Dia mengeringkan badan Claire dan juga tubuh dirinya. Dia melilitkan handuk di atas pinggang dan melepas kain terakhir yang menutupi tubuh intinya. Claire menutup muka. Feliks terbahak, menertawakan kelakuan istrinya itu.


Tubuh Claire tiba-tiba melayang dan secepat kilat telah berada di atas dipan dengan taburan mawar merah di atas kain seprai putih. "Aku akan melakukannya dengan lembut dan perlahan. Kalau sakit, bilang ya...."


Feliks merangkak di atas tubuh sang istri lalu mengecup kening dengan penuh perasaan. Kecupannya turun ke atas hidung kemudian ke kedua pipi. Terakhir ke atas bibir tak bergincu. Cukup lama dia menikmati benda tipis itu dan kini kecupan beranjak menjadi sesapan. Claire meremass apa pun yang terjangkau oleh jemarinya.


Gigitan dan sesapan beralih menuruni ceruk leher, meninggalkan beberapa tanda kepemilikan di sana. Claire mendesahh lantas menjerit karena Feliks menggigit puncak areola miliknya yang mengeras.


"Dadamu sangat indah sayang... aku suka!" Mulut Feliks meraup satu bongkahan padat dengan rakus. Sementara tangan yang satunya memilin dan mengaduk-aduk gundukan yang bergerak bebas. Claire menjambak rambut Feliks, tidak tahan akan rasa geli yang ditimbulkan permainan lidah di atas dadanya.


Bibir Feliks seakan tidak ingin melewatkan seinci pun, kini lidahnya menari-nari di atas pusar. Tubuh Claire lagi-lagi menggelinjang. Matanya merem-melek. Permainan Feliks kini telah sampai pada area in-tim. Jeritan dan rintihan menggema di dalam kamar kedap suara.


"Milikmu sudah basah, kita mulai sekarang ya?" Feliks mengusap-usap wajah Claire, mengunci netra cokelat agar semua perhatian teralih kepadanya.


Ibu jari dan telunjuk Feliks, menyibakkan labia mayora. Seiringan dengan miliknya yang tengah mengeras. Dia bergerak perlahan untuk menembus benang tipis yang menjadi mahkota kehormatan wanita. Claire meringis, merasakan sesuatu yang besar berusaha melesak masuk ke dalam pertahanan miliknya.


Feliks yang melihat Claire kesakitan, konsentrasinya buyar seketika. Dia tidak sengaja memasukkan miliknya dengan sekali hentakkan. Claire spontan mendorong dada dan menendang kepemilikan Feliks. Hingga suaminya itu terjungkal dengan kepala membentur lantai.


"Ma-af Feliks aku refleks saja barusan. Maaf ya...," Claire memasang raut memelas. Feliks tidak berdaya dibuatnya.


"Aku yang seharusnya meminta maaf karena sudah tergesa-gesa di dalam melakukan penyatuan." Libido Feliks naik kembali sebab sang istri menggoda dirinya dengan membuka paha lebar-lebar. Feliks menindih tubuh wanitanya dan memulai kembali penetrasi. Kali ini dia lebih santai dan berkonsentrasi. Dan usaha kali ini berhasil. Dia telah mengoyak selaput tipis yang Claire jaga untuknya.


Feliks mengecup kening istrinya. "Terima kasih karena telah memberikan harta yang berharga padaku."


"Sama-sama Feliks. Itu milikmu, semua yang ada di tubuhku adalah milikmu. Bersenang-senanglah ... nikmati sepuas yang kamu inginkan." Claire telah menyerahkan jiwa dan raga pada lelaki pilihannya.


Feliks memasuki tubuh inti sang istri secara perlahan. Gerakan lembut disertai rangsangsan-rangsangan tipis di bagian sensitif yang lain mampu menjadikan rasa sakit perlahan terkikis oleh rasa nikmat. Nikmat yang tiada dua, tiada tara.


"I'm coming, darling!" Claire mendongak, tubuhnya menggelinjang karena mendapati pelepasan. Feliks tidak memberikan kesempatan Claire untuk menarik napas. Sebab dia terus memompa miliknya dan bersiap membasahi rahim sang istri dengan cairann cintanya.


"I'm coming too, honey!" Feliks mengerang, menikmati puncak kenikmatan di dalam dinding hangat yang akhirnya dia rasakan. "Thankyou, honey." Feliks mencumbu bibir Claire dan merebahkan tubuhnya di samping sang istri.


"Terima kasih juga Feliks... terima kasih karena kamu telah menjadikan aku wanita paling bahagia malam ini," sahut Claire diakhiri sebuah pagutan. Feliks menarik bibirnya ke salah satu sudut dan melumatt rakus benda tipis.


"Kamu telah membangunkan singa yang sempat tertidur dan kali ini membutuhkan mangsanya kembali." Pergumulan kedua terjadi, Claire tidak mampu menolak ataupun berontak atas keinginan Feliks, meski tubuh intinya terasa sangat pedih. Karena dia pun mulai ketagihan akan rasa nikmat yang membuatnya bagai mabuk kepayang.


...*****...

__ADS_1


...Mohon maaf, ini adegan terakhir ya 🙏✌...


__ADS_2