
"Mohon maaf Nyonya... bayi ketiga anda sudah tidak bernyawa...."
Kepedihan terbesar bagi seorang ibu adalah ketika melihat sang buah hati tertidur pulas tak bernapas. Buah hati yang dinanti-nantikan selama sembilan bulan, ternyata memiliki takdirnya sendiri. Rahasia Tuhan tidak akan pernah diketahui, bagai teka-teki yang tak memiliki jawaban.
Tubuh kecil itu membiru, matanya mengatup dengan lengan menjuntai bagai tak bertulang. Dia tertidur untuk selamanya. Dokter dan perawat dilanda kepanikan. Semaksimal mungkin berusaha untuk mengembalikan jalan napas sang bayi, tetapi takdir tetaplah takdir. Sekuat apa pun manusia berusaha, ia memiliki suratannya sendiri.
Sepasang suami istri hanya menatap nanar saat bayi mereka diangkat dengan posisi kepala di bawah. Keduanya hanya melihat dengan pandangan kosong ketika selang dimasukkan ke dalam rongga mulut anak ketiga mereka. Bahkan air mata pun tiba-tiba mengering. Terlalu sakit, terlalu menyedihkan.
Dokter geleng-geleng kepala karena bayi mungil itu benar-benar tidak kembali. Jiwanya akan berpulang ke dalam pelukan Tuhan, sebelum ia sempat menatap dunia dan melihat paras kedua orang tuanya.
Pria yang tengah terpukul sebisa mungkin terlihat tegar di depan sang istri. Dia merengkuh tubuh ringkih dan memberinya hujan kecupan. Tangis yang semula mengering, kini kembali berderai lara.
"Ikhlaskan sayang... Tuhan lebih menyayangi Axel. Seperti arti namanya, 'kedamaian'. Sekarang dia telah damai...."
Rona meraung-raung dan menggeleng-gelengkan kepala karena melihat bayi ketiganya hendak dibawa keluar oleh dokter. "Dok... saya ingin melihat bayi saya terlebih dulu. Saya ingin menggendongnya untuk yang pertama dan terakhir kali."
Dokter mengangguk dan memberikan bayi yang tengah ia peluk ke dalam dekapan sang ibu. Bayi itu tidur tengkurap, di atas tubuh hangat wanita yang telah mengandung jua melahirkannya.
"Nak... apa kamu tidak ingin melihat wajah Mommy ... wajah Daddy? Apa kamu tidak ingin melihat dan bertemu dengan saudara-saudara kembarmu, Austin juga Aurora?"
"Kamu bisa mendengar detak jantung Mommy, kan sayang? Kamu bisa merasakan kehangatan tubuh Mommy, kan?"
Rona menarik jemari Edward lalu diletakkan di atas punggung putranya. "Ini tangan Daddy... sama lembutnya dengan tangan Mommy. Bagaimana, hangat tidak?"
"Jari-jarimu lucu sekali Nak... mungil dan halus. Membuat Mommy gemas, ingin terus mengecupnya."
__ADS_1
Edward tidak kuat melihat Rona meracau mengajak bayinya berbicara. Dia memalingkan muka dan membiarkan air mata jatuh tanpa harus terlihat oleh istrinya. Kondisi Rona membuat kekuatan melemah, ketegaran yang dipaksakan turut menyerah.
"Biar bayi anda kami bersihkan terlebih dulu," ucap perawat pada Rona. "Semoga anda bisa tabah dengan takdir bayi anda." Perawat itu membungkuk, ia hendak membawa Axel dari pangkuan ibunya. Akan tetapi Rona menggelang dan mengibaskan tangan perawat tersebut.
"Biarkan dia denganku dulu. Aku belum selesai melepas rindu dan merelakan anakku." Rona merekatkan pelukannya, tidak ingin siapa pun menjauhkan Axel dari dekapan.
Perawat menghela napas. "Baiklah Nyonya... bila sudah selesai, silakan panggil kami. Kami akan mengurusi dulu bayi anda yang lainnya." Perawat tersebut keluar menuju ruang bayi.
"Tunggu, Sus!" panggil Rona. "Tolong bawa ke mari kedua bayi saya yang lain. Biarkan mereka bersama saudara kembarnya untuk sesaat. Sebelum berpisah untuk selamanya," pinta Rona yang direspons dengan anggukkan lemah.
Rona terus merangkum tubuh Axel, dia menyanyikan lagu "Over the Rainbow" dengan bibir bergetar. Namun, penuh akan penghayatan. "Tidurlah Nak dalam kedamaian, seperti namamu...."
Sepuluh menit berlalu, perawat telah kembali seraya membawa sepasang bayi merah yang telah selesai dimandikan. "Ini bayi-bayi anda Nyonya, saya letakkan di mana?"
Perawat tersebut mengangguk, mengiyakan permintaan pasiennya untuk merebahkan kedua bayi di gendongan ke atas tubuh sang ibu, mengapit adik mereka yang telah lebih dahulu berpulang.
Air mata kembali berderai, membasahi pipi dan menitik ke atas wajah sang anak. Tiga tubuh kini dalam satu dekapan, dalam satu kehangatan. Ketiganya nampak tenang di dalam rengkuhan seorang ibu.
Edward sebagai ayah, turut menelungkup ketiga bayinya. Dia menangis, isakannya terdengar lebih memilukan. Austin dan Aurora pun turut menangis kencang seakan merasakan kepedihan hati kedua orang tuanya. Ikatan saudara kembar lebih kuat dari ikatan apa pun. Jiwa mereka saling terkait satu sama lain. Bila satu sakit, yang lain merasakan. Begitu pun juga sebaliknya.
Austin dan Aurora tidak berhenti menangis. Kedua orang tua mereka pun sama, tidak mampu menahan apa yang tersemat di dalam hati. Rasa sedih, rasa sakit semua bersatu bagai sembilu. Menjadi sumber kepedihan yang tergambarkan oleh deraian air mata.
Suara tangis semakin kencang, mengisi ruang kosong nan hampa. Tangisan yang kini tidak hanya berasal dari dua malaikat kecil. Namun, dari ketiganya. Axel telah kembali, kembali kepada kedua saudara kembarnya dan kembali kepada kedua orang tua.
Edward terperanjat lantaran telinganya menangkap suara yang berbeda. Dia menarik tubuhnya dari mendekap sang anak. Matanya terbelalak tidak percaya karena anak bungsunya saat ini tengah menangis bersamaan dengan kedua kakaknya.
__ADS_1
"A-Axel hidup... A-Axel menangis Rona. Anak kita masih hidup. Lihatlah...!" pekik Edward antara bahagia dan tidak percaya.
Rona mengangkat sedikit kepalanya dan dia dapat melihat dengan jelas kepala Axel yang bergerak-gerak. Rona kembali meraung, tetapi bukan karena kepedihan. Kali ini dia menangis sejadi-jadinya sebab seakan dia tengah bermimpi. Takdir kembali mempermainkannya lagi. Namun, dia bersyukur karena pada akhirnya takdir selalu berpihak kepadanya.
"Oh God... terima kasih karena telah memberikan putraku kesempatan untuk hidup," ucap syukur Rona atas karunia yang diberikan oleh Tuhan kepadanya, sekali lagi. "Tuhan sangat baik pada kita, Edward..." decit Rona menatap manik mata suaminya.
Edward mengangguk dan merangkum tubuh sang belahan hati. Dia sesenggukan, tidak mampu lagi berkata ataupun berbicara. Laki-laki kuat sekalipun akan merapuh bila menyangkut kebahagiaan sang istri dan putra-putrinya.
"A-aku panggilkan dokter dulu ya ... tunggu sebentar." Edward mengecup kening Rona sekilas kemudian menarik langkah lebar menuju ruang dokter, untuk memberikan kabar bahwa putra bungsunya ternyata masih hidup.
"Dok... dokter!" Suara Edward menggaung di antara dinding-dinding membisu. Sesekali tangannya menyeka mata yang sembab. "Dokter... anak saya hidup. Dokter!" pekik Edward membuat semua orang berhamburan melihat apa yang tengah terjadi.
"Ada apa, Tuan Edward?" tanya perawat yang bertugas menangani Rona dan anak-anaknya.
"Dokter bagian kandungan mana? A-anak saya masih hidup, Sus. Anak ketiga saya hidup, dia ... dia menangis. Tubuhnya bergerak," papar Edward yang diakhiri dengan isakan.
"Ya Tuhan... sebentar Tuan, saya hubungi dulu dokter yang bersangkutan karena saat ini sedang waktu istirahat," ucap perawat tersebut langsung menelepon dokter. Edward menunggu dengan tidak sabar, dia berjalan mondar-mandir.
"Bagaimana, Sus?" tanya Edward saat perawat menghampirinya.
"Dokter sedang menuju ke mari, Tuan. Biar saya tangani dulu putra anda sambil menunggu dokter obgyn tiba." Perawat bersigera beranjak menuju ruang bersalin dengan berjalan tergesa-gesa. Rautnya nampak gusar dan tegang. Edward berjalan mengekor bersama secercah harapan dan segenggam kebahagiaan.
...*****...
...Terima kasih untuk dukungan teman-teman semua. Semoga semakin berkah ya......
__ADS_1