Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Buat Dedek Bayi!


__ADS_3

...Ingin rasanya pergi jauh, terbang tinggi bagai kupu-kupu. Bebaskan diri dari keluh kesah yang tak berujung. Ingin kupergi jauh, hilangkan lara dalam duka. Karena air mata tak lagi sanggup untuk menghapus segala nestapa....


...*****...


Pernahkah memimpikan pernikahan yang sempurna, tiada duri tiada cacat? Tetapi kehidupan yang akan kita lewati adalah rahasia Tuhan yang tidak akan pernah kita ketahui. Bagai membeli satu peti kebahagiaan. Namun, berisikan sejuta kepahitan.


"Buka sepatuku!" titah Roland menyolonjorkan kedua kaki di atas ranjang. Leona yang tengah merebahkan tubuhnya di atas sofa terpaksa bangkit dan melayani suaminya yang semakin memperlihatkan wajah asli.


"Aku lapar, bawakan aku sarapan! Satu lagi, harus kamu sendiri yang membuatnya. Jangan minta tolong siapa pun!" titah Roland lagi seraya bersantai-santai di atas kasur. Dengan langkah gontai menuruni anak tangga, Leona menarik kakinya ke arah dapur guna menyiapkan sarapan untuk suaminya.


"No- Nona Leona, ada apa Nona repot-repot ke dapur, kan bisa memanggil saya dari atas?" tanya Fiona yang tidak enak hati. Namun, mulut Leona membisu seribu bahasa. Dia meraih roti lantas menyiapkan alat pemanggang.


"Bi- biar saya saja, Non..." sergah Fiona menarik roti dari tangan Leona.


"Diam kamu Fiona! Aku tidak meminta tolong sama kamu, kan?" bentak Leona menarik kembali roti yang digenggam maid-nya. Leona memasukkan roti tersebut ke dalam alat panggang lalu menyiapkan selada. Dia mengiris tomat dan bawang bombay dengan bentuk yang tidak beraturan. Fiona menatap iba pada anak majikannya. Karena baru pertama kali gadis itu memegang alat dapur.


"Leona... kenapa berada di sini, Nak...?" Amber yang mendengar keributan dari arah dapur, datang menghampiri. Dia menyorot Fiona yang tidak tahu apa-apa.


"Maaf, Nyonya sa—"


"Kak Roland yang memintaku, Mom. Dia ingin aku menyiapkan sarapan untuknya," potong Leona yang tidak ingin Fiona terkena amukan ibunya.


"Oh... jadi menantu kesayangku yang memintanya. Ya sudah ... kalau begitu siapkan semuanya. Jangan mengecewakan suamimu!" Amber memegang kedua pundak anak gadisnya sepintas, lalu keluar dari dalam dapur.


Leona mendengus lemah, hatinya teriris. Bahkan ibu kandungnya pun tidak mendukungnya. Setelah selesai menyiapkan sarapan, Leona kembali ke kamarnya.


"Ini sarapanmu Kak...!" Leona menyimpan nampan berisi sandwich dan satu gelas susu di atas nakas. Tanpa mengucapkan terima kasih, Roland menyantap makanannya. Leona menelan ludah melihat Roland makan dengan lahap. Dia mengelus-elus perut seakan bayinya menginginkan sandwich buatannya.


"Kenapa kamu lihat-lihat?" bentak Roland yang risih diperhatikan sedari tadi.

__ADS_1


"Ti- tidak Kak... hanya bayi di perutku ingin disuapi sama Papinya..." jawab Leona sekenanya.


Roland memotong sedikit roti, lalu menyuapi Leona menggunakan tangannya. Sebuah senyuman merekah dari sudut bibir. Bukan sesuatu yang spesial memang. Namun, bagi Leona cukup membuatnya bahagia.


"Sudah, kan?" tanya Roland dengan sorotan tajam. "Sekarang pergilah dari hadapanku. Aku ingin tidur!" Roland menghabiskan susu buatan Leona, kemudian mengatupkan kedua mata dengan posisi duduk bersandar.


Leona keluar dari kamar, lanjut menghampiri suara obrolan yang berasal dari arah taman. Terdengar olehnya Edward dan Richard tengah berbincang banyak hal.


"Jadi apa rencanamu selanjutnya, Nak?" tanya Richard mengenai pekerjaan Edward.


"Aku mungkin akan membuka lagi usaha kuliner kecil-kecilan Pa, ala coffee truck. Berdiam diri seperti ini bukan kebiasaanku!" Edward memicit puntung rokok di atas asbak.


Richard memegang pundak anak lelakinya. "Kalau kamu mau, ambil alih saja kampus milik keluarga Liam. Kamu kelola, Papa yakin akan semakin maju...."


Edward menggelengkan kepala. "Tidak Pa, aku ingin berusaha dengan tanganku sendiri," tolak Edward pada tawaran ayahnya.


"Hai Kak, boleh Leona duduk?" tanya Leona menunjuk kursi yang kosong.


Edward memutar kepala. "Tentu saja boleh, duduklah!" ucap Edward mempersilakan.


Leona menatap paras yang berahang tegas, nampak wajahnya diselimuti banyak pikiran. "Maafkan Leona ya Kak... gara-gara Leona menerima tawaran Kak Roland, Kak Edward harus kehilangan semua aset yang berharga."


Leona menghentikan ucapannya lalu berbicara kembali. "Oh iya Kak, tolong sampaikan pada Kak Rona ... kalau dia mau, kelola saja klinikku. Dia bisa ikut membuka praktek di sana. Karena jujur saja, aku tidak nyaman kalau dia masih bekerja di Rumah Sakit milik suamiku."


Edward sedikit terkejut mendengar penuturan Leona, akan tetapi dia berusaha bersikap sebijak mungkin. "Tenang saja, Kakakmu itu sudah menyiapkan surat pengunduran diri. Jadi kamu tidak perlu khawatir."


"Oh, begitu ya Kak..." ucap Leona pelan.


Edward beranjak dari kursinya lalu mengusap pucuk kepala Leona. "Kamu sudah dewasa, Kakak yakin kamu bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah."

__ADS_1


...***...


Mentari tergelincir, malam meniupkan pekat. Jiwa yang dahaga kasih, mengharap sentuhan hangat pada kalbu yang terasa gersang. Menyusuri kehidupan yang dihiasi fartamorgana, melenakan dan penuh tipu daya.


"Mommy... kapan Ezio punya adik bayi? Kata oma Amber, dedek bayi ada di perut Mommy." Ezio mengusap-usap perut Rona.


"Adek bayinya harus dibuat dulu," timpal Edward yang melepas kaos putihnya. Kini dia bertelanjang dada dan duduk di hadapan sang istri. Rona menelan saliva, Edward mengulum senyum. Karena raut wajah Rona yang berubah merah jambu.


"Dibuat? Dibuat dari apa Dad?" tanya Ezio polos. Rona menepuk kening seraya membuka mata lebar-lebar ke arah suaminya.


"Dibuat dari tepung seperti roti. Nanti perut Mommy mengembang seperti adonan roti. Tapi Ezio harus tidur sekarang karena tidak boleh dilihat anak kecil!" Edward menggaruk kepala yang tidak gatal. Bukan hal yang mudah untuknya menjelaskan, terlebih Ezio termasuk anak yang cerdas dan kritis.


"Ya sudah, Ezio mau bobo kalau gitu. Mommy, bacakan Ezio dongeng ya..." pinta Ezio menyodorkan buku cerita yang baru dibelikan Edward untuknya.


Rona meraih buku tersebut, lantas membacakan kisah yang tertuang di dalam buku cerita untuk Ezio. Suaranya yang lembut disertai belaian tangan penuh kasih sayang, membuat Ezio tertidur dalam sekejap mata.


Edward mengerdipkan mata sembari menggigit bibirnya. Dia merangkak menirukan gerakan kucing liar, dengan bersuara miawww dan tangan yang ingin mencakar. Kedua tangannya hinggap begitu saja di atas gumpalan daging milik istrinya.


"Sayang... yuk buat dedek bayi," rengek Edward manja. Rona bergidig lalu menjulurkan lidah seperti hendak muntah.


"Jijik tahu!" cerca Rona menepis tangan Edward dari atas dada. Lalu keluar dari kamar menuju balkon.


"Main di sini yuk...!" Rona melepas peignoir yang menutupi tubuh dan menyisakan lingerie tipis berbahan satin.


Edward menyeringai, dia membuka kancing celana lalu membiarkannya melorot begitu saja dari atas pinggang. Dia berjalan mendekati Rona hanya menggunakan kain penutup terakhir. Miliknya terlihat semakin penuh dan sesak.


...*****...


...Maaf, baru sempat Up. Otak ngebul, jadi bab hari ini diakhiri dengan yang bikin ngebul atau mungkin kurang ngebul? 😅🙏...

__ADS_1


__ADS_2