Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Fitting Gaun dan Suit


__ADS_3

Pagi ini segalanya tetap sama, mentari yang terbit dari ufuk timur. Burung bercicit di atas dahan pohon dan seorang wanita yang merebahkan tubuhnya di dalam pelukan orang yang terkasih.


"Edward, bangun..." bisik Rona di telinga Edward. Lelaki yang tengah terlelap, menggeliat sesaat lalu kembali asyik dengan mimpi-mimpinya.


"Ayo bangun Sayang...," Rona menjimpit hidung Edward memaksanya untuk terbangun, meskipun rasa malas masih menyergap.


"Kamu kok jahil sih kucing liar?!" Edward menghujani wajah Rona dengan kecupan. Dan Rona menutup hidungnya menggunakan telunjuk dan ibu jari.


"You smell..." rengek Rona. Edward tertawa dengan suara parau dan mata yang masih sepat.


Orang berkata, bila pagimu dimulai dengan senyuman, maka hari-harimu akan diliputi kebahagiaan. Bukan dengan sesuatu yang mewah ataupun mahal. Namun, cukup dengan bersenda gurau bersama pasangan tercinta.


"Ayo... bangun!" titah Rona. Dia menarik lengan Edward, menyeret tubuh lelakinya untuk turun dari atas ranjang.


"Aku masih ngantuk, baby..." jawab Edward yang melepaskan lengan Rona. Dia merebahkan kembali tubuhnya dengan mata yang langsung terpejam.


"Kita hari ini ada pemotretan dan fitting baju pengantian, apa kamu lupa?" sentak Rona.


Edward perlahan terbangun dari tidurnya dengan kedua mata yang tetap mengatup. "Ah... aku lupa Rona. Maaf ya...."


Edward mengusap kasar wajahnya lalu beranjak dari tempat tidur. Rona berteriak kencang sembari menutup wajah mendapati Edward yang tak berbusana. Edward sontak saja menghalangi bagian intinya menggunakan telapak tangan, kemudian mengambil langkah seribu masuk ke dalam kamar mandi.


"Aku lupa, semalam kamu mendadak nakal Rona!" teriaknya dari balik pintu.


Rona terus saja menutupi wajahnya, menyembunyikan warna kemerahan yang menghiasi kedua pipi. Karena teringat apa yang sudah dia lakukan pada kekasihnya tadi malam.


...***...


Bridal Boutique


Hari bahagia tinggal menghitung hari dan hanya tersisa 48 jam. Gadis yang memimpikan dipersunting oleh seorang pangeran, akan segera melepas status lajangnya menjadi nyonya Edward.


Setiap wanita pasti memiliki pernikahan impiannya, tetapi takdir menuntun Rona menuju altar suci bersama laki-laki yang tidak sengaja dia temui. Laki-laki yang telah merenggut salah satu harta yang tak ternilai. Laki-laki yang kerap kali menyakiti dan melukai.


"Silakan masuk Tuan dan Nona," sapa seorang Pramuniaga. Rona dan Edward berjalan berdampingan dengan bola mata berkilau melihat hasil karya tangan yang sangat indah.


"Gaun pengantin dan setelan jas yang saya pesan, sudah siap, kan?" tanya Edward sembari menyerahkan nota tanda pembayaran.


"Sebentar saya cek...," Pramuniaga tersebut menggerak-gerakan telunjuknya di atas layar Phablet yang dia genggam.


"Sudah Tuan, semuanya sudah siap. Silakan ikuti saya ke ruang fitting."

__ADS_1


Rona dan Edward mengikuti seorang pramuniaga ke arah ruangan yang dipenuhi dengan bermacam model gaun pengantin. Wajah Rona berbinar, kepalanya berputar, mengitar ke setiap penjuru. Dia menatap takjub guratan keindahan pada kain lembut yang didominasi warna putih.


"Ini Tuan." Pramuniaga memperlihatkan gaun di atas lengannya, lalu mempersilakan Rona masuk ke dalam bilik untuk mengganti pakaiannya.


Selepas lima menit, Rona telah selesai mengganti pakaiannya. Edward terperangah, kelopak mata berhenti mengerjap, jantung sedetik tak berdetak. Kecantikan bak sinar rembulan menghipnotis lelakinya untuk sesaat.


"Kamu cantik sekali Sayang...," Edward mengecup pundak kekasihnya lalu beralih ke pipi. Orang-orang yang tidak sengaja melihat keromantisan di depan mata, wajah mereka meremang seketika.


"Andaikan bisa kutarik waktu, ingin aku menikahimu detik ini juga...."


Rona tertawa kecil dengan telapak tangan menutupi bibir mungilnya. "Mana nih Edward yang bengis, Edward yang menyebalkan, Edward yang kejam? Bilang padanya aku rindu!"


Edward tertawa tanpa suara seraya menggoyang-goyangkan kepala. Namun, matanya tak ingin lepas dari memandangi keindahan yang nyata tanpa fatamorgana.


"Ja- jangan menatapku seperti itu Edward, aku gugup." Rona merundukkan kepala seraya menggigit tipis ibu jarinya. Edwad mengangkat wajah Rona dengan jari telunjuk, lalu mengecup bibir manis yang selalu menjadi candu.


Semua orang memalingkan wajah. Sedangkan sepasang kelopak mata indah, mekar dengan sempurna. Rona tidak habis pikir pada lelakinya yang tak punya malu.


"Honey... aku malu...."


"Kenapa mesti malu, nanti di hari pernikahan ... berjuta pasang mata akan melihat first kiss kita yang ganas dan panas."


Akan tetapi, bukan Edward namanya kalau tidak mengundang keresahan. Dia menggoda gadis-gadis yang memunggungi mereka dengan berpura-pura mendesahh. Rona hanya bisa memilin pelipis sembari menggelang-gelengkan kepala karena kelakuan lelakinya.


"Astaga... aku mendapatkan Edward, anugerah atau musibah ya?"


"Tu- tuan tinggal anda yang belum fitting wedding suit," ucap salah seorang pramuniaga, tanpa menolehkan kepalanya.


"Baiklah mana pakaianku?" tanya Edward.


Seseorang membawakan setelan jas berwarna hitam dan menyerahkannya kepada Edward. "Ini Tuan...."


Edward meraih pakaian yang disodorkan padanya lalu berucap, "Terima kasih...."


Bukannya mengikuti pramuniaga ke arah kamar ganti, dia malah membuka pakaiannya di depan orang-orang. Semua terkesiap dengan mulut yang menganga karena pemandangan indah yang terpampang jelas di bawah dada.


"Sayang... kamu membuat aku cemburu." Rona memasang wajah kesal dengan bibir yang dilipat.


...***...


Penyelidikan mengenai kebakaran pada tiga cafe Edward Company sedang dilakukan. Feliks dibantu dengan pihak kepolisian mencari tahu penyebab utama kebakaran.

__ADS_1


Sudah satu jam berlalu, tetapi sayangnya tidak mendapati titik terang. Terpaksa penyelidikan dilanjutkan esok hari karena badai mulai menerjang.


Semua pihak berwajib yang bertugas telah kembali, Feliks mulai menghubungi anak buahnya untuk meneruskan investigasi.


"Bagaimana?" tanya Feliks. Anak buahnya hanya menggelengkan kepala dengan raut dipenuhi keputusasaan. Mereka paham betul bagaimana watak bosnya, dia tidak segan-segan melukai mereka bila perintahnya gagal dilaksanakan.


"Tapi tidak mungkin kalau kebakaran sebesar ini terjadi tanpa unsur kesengajaan. Karena ketiga cafe terbakar bersamaan. Dengan jam, menit dan detik yang sama persis," ungkap Feliks. Anak buahnya manggut-manggut pertanda menyetujui perkataan atasannya.


"Bos Feliks?"


"Hm...?"


"Bos Edward mempunyai musuh?"


"Banyak." Feliks menyalakan lintingan nikotin untuk meredakan kebimbangan. Asap putih mengepul beriringan dengan isi kepala yang mulai menajam. Feliks menatap bangunan di sekeliling memikirkan langkah-langkah berikutnya.


"Kira-kira ada yang Bos Feliks curigai?"


Feliks mendongak lalu menghembuskan asap nikotin seraya mengingat siapa-siapa yang patut dicurigai. "Sepertinya aku tahu siapa?"


"Siapa Bos?"


"Roland Brooks!"


"Ro- Roland Brooks?" ulangnya.


"Benar, apa kamu kenal dia?" Feliks melempar sisa benda yang dia sesap lalu menghancurkan dengan tapak sepatunya.


"Kami tahu dia, dia terkenal sangat lihai dan licin. Dulu dia anggota militer. Namun, akhirnya dipecat secara tidak hormat karena membunuh warga sipil."


"Sepertinya musuh kita bukan orang sembarangan. Kelihatannya mereka terlatih dan sangat licik. Melakukan segala sesuatu tanpa meninggalkan bekas setitik pun," ungkap Feliks seraya berpikir.


"Hufth... kalau sudah seperti ini ingin rasanya aku mengundurkan diri lalu pergi jauh untuk menikmati hidup."


...******...


...Kira-kira siapa ya yang tengah berulah?...


...Terimakasih Senja ucapkan, selamat beristirahat dan semoga mimpi indah....


...Love You all...

__ADS_1


__ADS_2