
Waktu sangat cepat bergulir, bagai sebuah roda yang berotasi. Masa sekarang akan menjadi kenangan masa lalu dan mungkin menjadi bunga di masa depan. Bunga yang indah atau berduri.
Dua keluarga kini tengah berkumpul, membahas pernikahan yang akan diselenggarakan dua hari lagi. Pernikahan atas dasar belas kasihan ataukah dendam?
"Jadi maksud kedatangan kami ke sini, kami ingin melamar Leona. Seperti yang saya janjikan semalam," ucap Roland memulai pembicaraan.
"Sebenarnya saya sih malas ya berhubungan kembali dengan keluarga ini, mengingat bagaimana penolakan Edward pada Arabella!" ketus Alin menyambar perkataan Roland yang akan meminang Leona.
Benjamin sebagai ayah dari Roland turut berbicara. "Jujur saja, saya juga merasa keberatan. Apalagi putri kalian dalam keadaan hamil hasil hubungan gelap. Tapi melihat kesungguhan putra kami ... kami terpaksa mengizinkannya. Asal dengan satu syarat...!" Benjamin melempar map berwarna hijau.
"Syarat apa?" Richard dan Amber bertanya serentak.
Benjamin dan Alin bersitatap, lalu tersenyum licik. "Kami menginginkan Rumah Sakit milik keluarga Liam dan Edward Company dipindah tangankan atas nama putra kami, Roland Brooks."
"Rumah Sakit dan Edward Company itu milik saya, tidak ada sangkut pautnya dengan Papa!" sergah Edward yang tidak terima aset miliknya diusik.
"Itu sih terserah kamu Edward. Atau kamu mau syarat yang kedua?" Alin memberikan pilihan.
"Apa itu Tante?" timpal Edward.
Alin menepuk tangannya, lalu masuklah gadis seksi berjalan dengan percaya diri. "Arabella?" gumam Edward yang menatap tidak percaya.
"Hai Edward, sepertinya kamu merindukanku!" Bella mengedipkan sebelah matanya. "Aku malu, jangan melihatku seperti itu, Edward..." ucap Bella manja.
Edward mendelik seraya memalingkan muka. "Jadi apa pilihan yang kedua, Tan?" tanya Edward curiga.
"Pilihan syarat yang kedua, saya ingin kamu menikahi Arabella dan menceraikan istrimu itu!" Alin mencebikkan bibir menatap ke arah Rona.
Edward menoleh ke arah istrinya, tidak ada guratan keraguan di paras cantiknya. Rona menggenggam erat tangan Edward, dia yakin bahwa Edward akan memilih keputusan yang terbaik.
Sementara Alin dan Arabella sangat yakin kalau Edward akan lebih memilih harta kekayaan ketimbang istrinya.
"Baiklah... saya merelakan semua aset milik saya demi kebahagiaan Leona." Edward meraih map yang dilempar Benjamin lalu mempelajarinya.
__ADS_1
"Edward apa-apaan kamu?" sentak Amber tidak terima. "Kamu merelakan semua asetmu hanya demi mempertahankan wanita ini?" tunjuk Amber pada Rona.
"Kak... jangan mengorbankan segalanya untuk Leona. Lebih baik Leona melahirkan dan membesarkan anak ini sendirian." Leona memelas.
"Tidak apa-apa, kebahagiaan kamu adalah kebahagiaan Kakak juga." Edward mengusap-usap kepala Leona. Gadis itu terisak.
Alin dan Arabella yang telah salah memprediksi keadaan, memasang wajah kecewa. Sementara Roland dia tersenyum tipis karena jarak antara dia dengan Rona akan semakin dekat.
Edward menandatangani pengalihan semua aset miliknya menjadi atas nama Roland Brooks. Tangannya bergetar saat menyerahkan map tersebut.
"Dasar anak bodoh!" umpat Amber pada anak tirinya. Sedangkan Richard dia hanya diam, bimbang dengan keadaan.
"Baiklah, kami harap kalian tidak menyesal atas keputusan ini. Meski jujur saja saya sangat kecewa karena lagi-lagi putra kalian mencampakkan putri saya!" Alin berdiri lalu menarik lengan Arabella untuk keluar dari Mansion.
Roland berjabatan tangan dengan keluarga Liam dan terakhir dengan Rona. Dia melontarkan ucapan yang ambigu. "Sekarang saya atasanmu, Kakak ipar. Semoga betah bekerja dengan saya ya...."
...***...
Desas-desus pergantian kepemilikan Rumah Sakit sudah sampai ke telinga semua lapisan. Bahkan papan nama pun telah diganti dengan Global Life Hospital.
"Bos, yang sabar ya!" Feliks menepuk-nepuk pundak Edward.
"Lalu nasibmu bagaimana Feliks?" tanya Edward pada mantan asistennya yang sudah kehilangan pekerjaan.
"Aku akan tetap mengabdi pada keluarga Liam, bagaimanapun keadaannya," jawab Feliks lugas. Dia memasukkan tangannya ke dalam saku celana dan berdiri dengan tegap.
"Tapi aku sudah tidak bisa menggajimu seperti sebelumnya." Edward mendengus lalu berjalan ke arah mobil terparkir. Feliks membuka pintu untuk Edward seperti biasa.
"Kita kemana Bos?" tanya Feliks memutar kunci mobil.
"Kita pulang saja, aku harus mencari siasat agar asetku yang lain bisa merangkak naik mengalahkan Roland Company!"
Feliks mengangguk, setidaknya dia bisa bernapas lega karena Edward bukan orang yang mudah menerima dan menyerah dengan keadaan. Bukan pula anak yang menikmati kemewahan orang tuanya. Dia sangat mandiri, menghasilkan beberapa aset berjalan seorang diri tanpa diketahui orang-orang.
__ADS_1
Sementara di Rumah Sakit
Tanpa ada pemberitahuan sebelumnya, Roland sebagai pemilik baru meminta untuk semua karyawan menghentikan aktifitas karena dia akan mengumumkan perihal posisi dirinya di Rumah Sakit.
Semua berkumpul di ruang rapat dengan wajah tegang karena Roland tidak memperlihatkan pribadi yang hangat. Jauh berbeda dengan Edward.
"Tanpa basa-basi saya umumkan, bahwa pemilik Rumah Sakit Global Life kini sudah digantikan dengan saya. Jadi Edward Liam sudah tidak ada sangkut pautnya dengan Rumah Sakit ini! Mengerti?" bentak Roland seraya mencari keberadaan Rona.
"Anda terlambat Dokter Rona?" tanya Roland ketus. Semua mata tertuju pada wanita yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
"I- iya maaf," ucap Rona yang menarik kursi kosong di depannya.
"Saya paling tidak suka pada orang yang tidak disiplin! Karena itu anda harus saya beri hukuman, Dokter!" sentak Roland. "Kalian semua boleh keluar dari ruangan, kecuali Dokter Rona!"
Rona menatap sayu ke arah teman-temannya. Semua menatap iba ke arahnya seraya berbisik-bisik.
"Apa yang anda inginkan Tuan Roland?"
Roland berjalan menghampiri Rona lalu berdiri di belakang punggungnya. Dia membungkukkan badan dengan tangan menopang ke atas meja.
"Ikut aku ke ruangan, sekarang!" bisik Roland yang sedang merencanakan sesuatu. Rona mengikuti Roland untuk masuk ke dalam ruang Direktur. Ruangan yang semula milik Edward kini menjadi milik Roland.
Di dalam ruang Direktur, masih terpajang foto-foto kebersamaan Rona dan Edward. Roland membuang semua dan melemparnya ke dalam keranjang sampah.
"Jadi apa yang anda inginkan? Saya tidak memiliki banyak waktu. Pasien saya sebentar lagi akan berdatangan!" tutur Rona yang berdiri di depan meja.
"Pijat kaki saya!" titah Roland. Dia menaikkan kedua kakinya ke atas meja. "Ayo pijat sekarang, kalau tidak, kamu saya pecat!!"
Rona mendekat lalu pura-pura memijat kaki Roland dengan lembut. Roland menutup mata, Rona meraih pemukul bisbol yang tersimpan di samping kursi, lalu dia hantamkan ke atas kaki Roland. Roland mengaduh kesakitan. Rona pergi begitu saja dari dalam ruangan. Dia sudah tidak peduli kalaupun harus dipecat.
...***...
...Terimakasih semua, maafkan ya kalau ceritanya agak absurd karena sambil dikejar-kejar RL 🙏...
__ADS_1
...Bahagia dan sehat semuanya....