
Rasa kecewa kedudukannya lebih tinggi dari amarah. Tatkala kita dibuat kecewa oleh seseorang, mungkin mulut berkata memaafkan. Namun hati, tetap menyimpan ganjalan. Ketika marah menyapa, kita meluapkan apa yang bergemuruh di dalam dada. Tapi saat rasa kecewa menghampiri, hanya cukup terdiam dan terbungkam. Tidak ada sepatah kata ataupun sejumput senyuman.
"Angkat saja teleponnya Feliks, mungkin itu dari Edward. Aku tidak mau kamu terkena masalah gara-gara aku...."
"Edward sesekali harus diberi pelajaran Rona. Dia sudah keterlaluan memperlakukanmu layaknya mainan!" geram Feliks.
"Aku memang mainan, dan tuanmu pemiliknya. Sebuah mainan harus pasrah meski dirinya diinjak-injak," lontar Rona.
Feliks membeku, dia merasa prihatin akan nasib gadis di belakangnya. "Dulu Edward bukan orang yang arogan. Namun keadaanlah yang merubah dirinya."
"Aku harap suatu saat kamu bisa mengembalikan Edward yang dulu...."
Rona hanya tersenyum sinis. Dia menarik bibirnya ke salah satu sudut dan menganggap perkataan Feliks sekedar bualan. Baginya perubahan seseorang itu tergantung bagaimana dirinya berkeinginan dan berusaha untuk berubah. Bukan karena efek orang lain yang merubahnya.
Setiap orang mempunyai prinsip dan tujuan hidup. Jalanilah, meski terpaan ujian membuat gila pikiran. Karena Tuhan tidak akan memberi ujian di luar batas kemampuan.
"Kita sudah sampai Rona..." ujar Feliks.
"Terimakasih Feliks. Hati-hati ya..." ucap Rona.
Feliks mengangguk dan melajukan mobilnya sedangkan Rona terkejut karena suara tepukan tangan yang menyambut kedatangannya.
"Edward!" pekik Rona.
"Wow... manis sekali hubungan wanita simpanan dan sang asisten, membuatku terenyuh," cibir Edward.
"Kamu mau apa hah?" tanya Rona yang melihat gelagat mencurigakan dari tingkah laku Edward.
"Bau alkohol, kamu mabuk Edward!"
Edward menatap nyalang dan menarik lengan Rona kasar, memojokkan tubuh lelah ke ruang gelap dan kotor. Sorotan mata yang memerah, membuat tubuh Rona gemetar.
"Aku hanya ingin sedikit memberi pelajaran pada wanita tidak tahu malu sepertimu. Pelajaran yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidup!"
"Kamu mabuk Edward, kamu tidak waras!"
"Hahaha... aku cukup waras membedakan mana wanita baik-baik, mana wanita kotor!"
Edward terus mendekat dan mendekat, seringai jahat sangat jelas terlihat. Rona kali ini pasrah bila tubuhnya kembali menjadi alat pemuas nafsuu Edward. Dia lelah, sudah sangat lelah.
"Maafkan aku..." ucap Edward. Dia menarik tubuh Rona ke dalam pelukannya.
Rona tertegun, raganya mematung. Antara mimpi dan nyata, dia berada dalam pusaran kebimbangan. Pria yang selalu bersikap seenak hati, saat ini tengah memeluknya sangat intens dan begitu hangat.
__ADS_1
"Ada apa ini? Darahku berdesir... pelukannya begitu nyaman. Aku terhanyut terbawa cinta yang semu."
"Sadar Rona, di dalam diri Edward tidak ada cinta, yang ada hanya sek-s dan sek-s. Kuatkan dirimu, jangan terjebak tipu muslihat pria penuh kepalsuan."
"Dia hanya memanfaatkan kepolosan dan kebaikanmu. Sadarlah Rona!"
"Aku sulit bernapas Edward, kamu memelukku terlalu erat," kilah Rona.
"Ma- maaf..." Edward menelungkup wajah Rona dan menatap gadis itu tidak seperti biasanya. Di bawah pencahayaan remang-remang, dia membelai lembut bibir gadisnya. Gadis yang hanya dijadikan pajangan di tengah petualangan permainan di atas ranjang.
"Maafkan aku meski kesalahanku tak termaafkan...."
Edward terus saja membelai bibir Rona, dia sangat menginginkannya saat ini. Napas dan cumbuan hangat dari wanitanya.
"Bolehkah aku...."
Rona memejamkan mata, Edward merasa diberi kesempatan. Dia sangat bersemangat mencumbu bibir yang sangat dia rindukan. Pagutan demi pagutan berselancar ke setiap sudut. Tidak ada titik yang terlewati, Edward melumattnya habis tak tersisa.
"Ikut aku pulang ke apartemen," pinta Edward.
Rona tertunduk, dia sangat merindukan kamarnya. Dia sangat merindukan sahabat-sahabatnya. Dia ingin kembali ke kehidupan sebelumnya yang penuh keceriaan dan kebahagiaan.
"Ya sudah, malam ini aku tidur di apartemenmu!"
"Iya," jawab Edward. Dia menarik jemari Rona dan menuntunnya. Rona benar-benar dibuat bingung oleh sikap Edward malam ini. Apa dia memang benar berubah atau hanya sebatas bersandiwara.
.
.
"Claire..." panggil Rona.
"Rona?" teriak Claire.
"Ah... aku kangen," ucap Claire. "Kamu baik-baik saja kan Rona?" tanya Claire seraya memutar-mutar tubuh sahabatnya.
"Aku baik-baik saja..." jawab Rona.
Keceriaan Claire mendadak hilang saat dia mendapati wajah pria yang sangat dibenci turut bersama Rona. "Kenapa kamu membawa tua bangka ini? Membuat mood-ku hancur seketika!"
"Aku bukan pria tua, aku pria matang!" sergah Edward.
"Kamu pria tua tak tahu malu, tidak pernah ada tempat buatmu di sini. Pergi sana!" usir Claire.
__ADS_1
Edward tidak memperdulikan teriakan gadis di depannya. Dia menerobos masuk melalui celah di sisi kiri tubuh Claire. Gadis itu melotot dan mencengkeram pergelangan tangan Edward, namun Rona menghentikannya.
"Dia malam ini akan tidur di kamarku dan aku akan tidur di kamarmu," ucap Rona.
"Aku tidak mau tidur sendiri, malam ini kamu tidur bersamaku. Satu atap, satu ranjang!" tegas Edward. Dia melepaskan cengkeraman Claire lalu menarik tubuh Rona hingga bahunya menubruk bahu Claire sangat keras.
"Aw... kamu menyakitiku Edward," keluh Rona.
"Maaf sayang, aku tidak sengaja..." ujar Edward.
Pupil mata Claire melebar, dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar baru saja. Dia yakin pria tua di hadapannya tengah menyiapkan rencana busuk untuk menyakiti Rona.
"Aku tidak akan membiarkanmu terus-terusan menyakiti sahabatku. Lihat saja, apa yang akan aku lakukan besok pagi. Malam ini kamu tidurlah yang nyenyak, sebelum mimpi buruk menyapa."
.
.
Sudah satu jam Rona menina bobokan Edward dengan belaiannya. Laki-laki itu akhirnya tertidur dengan ekspresi wajah seperti bayi beruang, dia menjadikan tubuh Rona sebagai tumpuan. Tangannya melingkar penuh, membatasi ruang gerak gadisnya.
"Lagi tidur pun tetap menyusahkan," keluh Rona. Dirasa pria di sampingnya telah terlelap, Rona melepaskan tubuhnya dan beranjak menuju kamar mandi. Tubuhnya lengket butuh penyegaran. Dia mengisi bathtub dengan air hangat dan sabun cair beraroma vanilla.
Tubuh polosnya melangsur ke dalam bak mandi, Rona menenggelamkan dirinya seraya memejamkan mata. Menikmati sentuhan lembut dari air hangat dan wewangian yang membuat relaks pikiran.
Sudah 15 menit Rona terlelap di dalam bathtub, wajahnya menengadah, dengan tubuh tertutup gelembung sabun. Namun ketenangannya sedikit terusik, saat telapak tangan seseorang tengah asyik memainkan kedua aset miliknya dengan sangat lembut. Meremass dan memelintir puncak kenikmatan. Rona mendesahh di bawah alam sadarnya. Dia pikir bahwa yang dia rasakan terjadi di alam mimpi, namun sebenarnya di alam nyata.
Edward tengah memandangi gadisnya, memperhatikan wajah manis dengan pipi kemerahan. Bulu mata lentik dan bibir mungil sangat menarik perhatiannya. Terlebih saat netra mata menangkap pemandangan yang sudah lama tidak terjamah. Tangannya membelai lalu memijat lembut seraya menikmati suara merdu yang keluar dari bibir Rona. Miliknya kini mengeras, ingin segera menunaikan haknya yang terus tertunda.
"Rona sayang... bangunlah," pinta Edward.
"Atau tubuhku yang akan membuatmu terbangun...."
Kelopak mata terbuka, kedua bola mata membulat. Rona berteriak sangat kencang, karena mendapati Edward berada tepat di depan wajahnya.
"A... pria kurang ajar...!"
...*******...
...Edward-Edward ada aja kelakuannya bikin tepok jidat....
...Terimakasih yang sudah berkenan membaca novelku ini, ditunggu dukungannya ya agar Author semakin bersemangat. Like, comment, favorite, vote, hadiah atau rate bintang 5....
...Love, love, love...
__ADS_1