Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Poor Leona...


__ADS_3

Seorang wanita berdiri di tengah jalan dengan tangan yang direntangkan dan kedua mata terpejam. Suara klakson bersahutan, seolah meminta dengan kasar gadis itu untuk menyingkir.


Sesosok pria menyembulkan kepala dari balik jendela lalu berteriak, "Heh perempuan gila apa kamu ingin mati?"


Wanita itu membuka mata dan memandang jengah pada pria yang duduk di balik kemudi. "Lebih baik aku mati. Lebih baik kamu bunuh saja aku, bajingan! Hidupku sudah hancur, masa depanku hilang!"


Pria itu menekan klakson terus-menerus dengan pedal gas yang diinjak mengeluarkan suara gerungan. Tapi wanita itu bergeming, tidak tergoyah sejengkal pun.


"Minggir! Atau jangan salahkan aku bila tubuh kotormu itu aku hantam dengan keras!"


"Aku bilang bunuh saja aku, jangan banyak bicara!" jeritan pilu terdengar dari bibir wanita itu. Mobil yang dia hadang menggeru, si pemiliknya seolah bersiap menabrak tubuh wanita tersebut dengan kendaraan miliknya. Dia menarik mundur mobil seraya tersenyum licik. Kemudian melesat melewati samping tubuh wanita yang tengah meraung.


"Bodoh!!!" umpat pria itu merasa puas. Dia menatap kaca spion penasaran dengan kondisi wanita yang tengah duduk melangsur di tengah jalan.


"Leona?" pekik Feliks dari arah seberang jalan. Dia merentangkan tangan, menghentikan laju mobil yang hampir saja menabrak tubuh wanita yang tidak berdaya.


Feliks memeluk tubuh Leona lalu membawanya untuk menepi. Gadis itu terus saja sesenggukan dengan kondisi fisik yang melemah, lalu terlengar tiba-tiba.


"Leona... Leona...!" Feliks menepuk-nepuk pipi Leona, tetapi tidak ada reaksi. Dia mengangkat tubuh yang nampak meramping dengan wajah lusuh dan bulatan hitam di sekitar mata.


...***...


Di dalam mansion yang megah, semua orang dibuat panik dengan kedatangan Feliks yang membawa Leona di pangkuan, terutama Amber. Leona putri yang paling dia sayangi, hasil hubungan terlarang dengan Richard sebelum mereka memutuskan untuk menikah.


"Kamu apakan anak saya?" geram Amber yang langsung menuduh pria di hadapannya tanpa bertanya terlebih dahulu.


"Sa—"


"Diam!" bentak Amber. "Saya tahu isi otak orang miskin sepertimu, Feliks!"


"Kamu tidak usah berkhayal menjadi seorang pengeran dengan mendekati putriku dan memperdayainya. Karena aku Ibunya, orang pertama yang akan menentang hal itu!" Amber mendorong tubuh Feliks dan mengusirnya dari dalam rumah.


Richard yang tengah beristirahat, dikejutkan dengan suara kegaduhan dari lantai bawah. Dengan tergopoh-gopoh dia menuruni anak tangga dan mendapati putri tercintanya tengah terkapar di atas kursi panjang.

__ADS_1


"Leona!" pekik Richard. Dia menatap wajah buah hatinya yang pucat pudar. "Kenapa dengan anak kita, Amber?"


"Tanyakan saja pada laki-laki tidak tahu diri itu!" Amber menolehkan kepala ke arah Feliks yang tergugup di depan pintu.


Richard yang sangat mengenal bagaimana sifat Feliks, dia bertanya dengan nada rendah. "Kenapa Leona bisa seperti ini, Feliks?"


"Sa- saya tidak tahu Tuan. Saya menemukannya sedang melungguh di tengah jalan...."


Richard mempercayai perkataan Feliks karena pemuda di hadapannya itu tidak pernah berkata dusta maupun berkhianat padanya.


"Tolong panggilan dokter, kemarin Leona mengeluh sakit kepala. Jadi dia tidak hadir di hari pernikahan kakaknya. Saya pikir, mungkin karena kelelahan. Tapi melihat kondisinya saat ini, saya cukup khawatir," titah Richard kepada Feliks.


Feliks mengangguk lalu merogoh ponsel di saku celananya untuk menghubungi dokter pribadi keluarga Liam.


...***...


"Bagaimana William, anak saya sakit apa?" Richard bertanya dengan gusar.


Dokter William menghembuskan napas. Dilihat dari ekspresinya akan ada kabar yang tidak menyenangkan mengenai Leona.


Richard menggeleng lalu menggerakkan kepalanya ke arah Amber untuk mencari jawaban. Namun, istrinya itu hanya menarik bahunya ke atas.


"Putri saya anak yang ceria, belum pernah seperti ini sebelumnya. Kami juga tidak tahu karena dia jarang berada di rumah. Lebih sering menghabiskan waktu di klinik seharian."


William menepuk pundak sahabatnya. "Jaga putrimu baik-baik, saya khawatir dia berada dalam fase depresi mayor. Saran saya, ajak dia bicara dari hati ke hati. Tanyakan apa dia sedang punya masalah atau tengah tertekan dengan suatu hal...."


Richard mengangguk karena dia sendiri merasa kurang memperhatikan putrinya. Yang mana akhir-akhir ini terlalu sibuk menjalani pengobatan dari penyakit jantungnya.


"Beri kabar putra kesayanganmu. Jangan karena dia sudah mempunyai istri, lupa sama adik dan orang tuanya!" sungut Amber tanpa melihat situasi.


Richard membuang napas perlahan. "Biarkan dia menikmati hari pertamanya menjadi seorang suami. Kasihan dia kalau harus kita usik. Lagi pula masih ada kita dan juga Feliks yang akan mengurus Leona."


Amber menghentakkan kaki lalu pergi dari hadapan suaminya, seraya berkata. "Terserahlah, kamu selalu... saja mengistimewakan si anak kurang ajar itu!"

__ADS_1


...***...


Rona tengah bermanja-manja dengan suaminya. Dia merebahkan kepala di atas pangkuan Edward.


"Edward..." panggil Rona. Dia mendongakan kepala mencari netra mata suaminya.


"Hm..." sahut Edward yang sedang asyik melahap buah cherry di tangannya.


"Ayo ceritakan, kenapa kamu bisa terlambat datang ke pernikahan kita. Dan coba jelaskan, di pinggangmu itu luka apa, kok ditutupi perban?"


Edward mengusap wajahnya kasar, dia tidak ingin merusak hari-hari bahagia ini dengan menceritakan kejadian yang telah menimpanya.


"Nanti aku ceritakan, kalau kita sudah pulang ke apartemen!" Edward mencubit hidung istrinya lalu menyuapinya buah cherry. Rona mengerucutkan bibir karena merasa kesal terus-terusan dibuat penasaran.


"Sayang..." bisik Edward. Rona yang paham akan gerak-gerik lelakinya, dia bangkit untuk menjauh dari sang suami. Namun, tangan kekar lebih dahulu mencengkeram pinggangnya.


"Mau kemana sayang...?" tanya Edward dengan suara garau. Dia mengecup tipis cuping telinga seraya tangan memijat lembut seonggok daging dari arah balik punggung.


Tarikan napas mulai tersengal-sengal, Edward meniup tengkuk lanjut mengecup punggung mulus Rona. Dia terus saja memberi rangsangan hingga tubuh sang istri meremang. Rona bergidig geli atas respon dari sentuhan Edward di bagian tubuhnya.


Edward membalikan tubuh Rona kemudian melepas selimut yang menutupi tubuh polos istrinya lalu merangkak naik. Dia menatap lekat manik mata yang berkabutkan gairah. Mengecup kening dan memagut bibir manis semanis madu.


"Bolehkah aku...?"


Rona mengangguk pelan karena sebenarnya dia juga menginginkan penyatuan. Pergumulan dengan Edward menjadi candu baru untuk dia saat ini. Tubuhnya ingin terus melepaskan dahaga akan siraman cinta yang menghangat di dalam raga.


Peluh berkilauan dan desahann bergemuruh, menyambut deru nafsuu dari sepasang manusia. Menyesap, mengerat, saling berbagi saliva dan mencengkeram kuat. Pinggul bergerak cepat, kuku menancap, suara lenguhan panjang menyertai tetes-tetes kenikmatan yang mulai kersang terserap dinding lembut dan dalam.


"Terima kasih my wife... semoga benih-benihku kali ini tidak terbuang sia-sia."


...******...


...Maaf ya, kalau alurnya agak lambat....

__ADS_1


...Terimakasih banyak atas semua dukungannya. Semoga menjadi berkah dan bahagia selalu. Aamiin...


...I Love You all...


__ADS_2