
...Sabtu malam kembali menjelma. Dengan segumpal kabut dan rintik hujan yang mendinginkan suasana. Begitu damai dan bertambah sejuk. Membawa hatiku kian merajuk....
...*****...
Di sebuah lobby Rumah Sakit yang kini sudah banyak berubah. Tatapan kerinduan terpancar dari butiran mata setiap orang. Rumah Sakit yang sempat melambungkan namanya. Namun, kini hanya menyisakan kenangan manis dan rasa sesak di dada.
Semua orang berbondong-bondong menghampiri Rona dan mendekap dirinya dengan erat. Terutama sang asisten, Gisella.
"Apa kabar, Dok?" sapa Gisella mengecup kedua pipi Rona.
"Kabar saya baik, Gisella. Kamu apa kabar, masih betah saja bekerja di sini?!" kekeh Rona menggoda asistennya.
"Yah ... Dokter Rona tahu sendiri kalau saya ingin sekali mengabdi pada Dokter. Tapi apalah daya, jarak dari apartemen ke Rumah Sakit milik Dokter sangatlah jauh," cicit Gisella menghela napas. "Oh iya... tumben Dokter main-main ke Rumah Sakit ini, rindu pada saya ya?" kelakar Gisella membuat Rona terbahak.
"Saya ada janji dengan Dokter Claire dan kami akan bertemu di kantin," tunjuk Rona pada tempat yang berjarak 100 meter dari tempatnya berdiri.
"Mau saya temani, Dokter?" tawar Gisella pada mantan atasannya.
Rona mengangguk seraya menerbitkan senyuman terbaiknya. "Boleh... kalau kamu sedang tidak buru-buru, Gisella."
Mereka berdua berjalan ke arah kantin, nampak seseorang telah berada di sana terlebih dahulu kemudian melambai-lambaikan tangan ke arah sahabatnya.
"Dokter Rona... itu sepertinya Dokter Claire," tunjuk Gisella pada seorang gadis yang rambutnya tergerai manja. "Kalau begitu, saya pamit untuk kembali ke ruangan," ucap Gisella lalu memeluk Rona.
"Terimakasih ya... semoga karirmu semakin cemerlang," harap Rona tulus pada mantan asistennya. Dia membalas pelukan Gisella sembari mengusap-usap punggung gadis itu. Gisella pamit undur diri. Sementara Rona, dia menghampiri Claire yang berkilatan rasa bahagia.
Claire berdiri lalu menyambut sahabatnya dengan dekapan hangat. "Ah... aku rindu sekali, Rona."
__ADS_1
Rona terkekeh seraya membalas pelukan sahabatnya. "Baru juga bertemu seminggu yang lalu, sudah rindu lagi."
"Karena tidak ada yang seperti kamu lagi, Rona. Kamu benar-benar langka, limited edition!" seloroh Claire yang disahut dengan gelak tawa. Rona tidak salah mencari seseorang untuk berbagi cerita. Karena sahabatnya itu selalu bisa diandalkan. "Jadi coba katakan, ada masalah apa?" Claire yang sudah paham betul ekpresi wajah Rona, bertanya begitu saja.
Rona menjelaskan duduk masalahnya dengan singkat. Namun, terperinci. "Ini benar-benar memutar isi kepalaku, Claire. Aku butuh saran dan juga bantuan darimu."
"Bantuan apa, Rona? Selama aku bisa, aku pasti akan membantumu!" Claire menggengam tangan sahabatnya untuk memberikan kekuatan.
Rona mengeluarkan amplop cokelat yang berisikan beberapa lembar foto seorang wanita. "Tolong bantu aku mencari wanita ini. Namanya Natalie dan dia adalah saksi kunci akan kejahatan Brian yang sudah menggelapkan uang Rumah Sakit."
"Aku curiga kalau dia bukan sengaja menghindar. Tapi... ada sesuatu yang pelik, mengancam jiwanya." Rona menatap tajam ke arah Claire dan gadis itu mengangguk paham
"Oke... aku akan membantumu, Rona. Serahkan semua ini padaku, kamu tidak perlu khawatir." Claire menyunggingkan senyuman, meyakinkan sahabatnya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Terimakasih, Claire. Kamu memang sahabat terbaikku," ucap Rona penuh haru. "Kalau begitu, aku pulang ya... lagi pula jam makan siangmu sudah habis, bukan?"
Rona memeluk tubuh sahabatnya itu sekali lagi. Lalu menarik langkah, meninggalkan bangunan yang kini tidak senyaman ketika dia masih mengabdi di sana.
...***...
Edward mondar-mandir di depan sang istri lantaran wanitanya itu mengacuhkan dirinya dan lebih memilih menenggelamkan diri ke dalam buku-buku tebal yang tidak tahu isinya apa. Edward bersusah payah menggoda. Namun, Rona tidak menoleh sedikit pun.
"Sayang..." desah Edward seraya memijat kaki mulus milik sang istri. Rona melirik sesaat, lanjut membaca buku membiarkan suaminya itu seperti cacing kepanasan. Pikiran Rona sangat gusar, saat ini dia tidak ingin bercinta atau pun sekedar bercengkerama dengan suaminya.
Pijatan Edward semakin lama semakin naik dan kini jemari nakalnya menelusup dari balik jaring tipis yang menutupi area inti milik sang istri. Rona terperanjat, baru menyadari kalau tangan Edward sudah berkelana tak terkendali. Rona menarik lengan suaminya lalu mencampakkan dengan kasar.
"Please Edward ... aku sangat lelah, aku sedang tidak ingin melakukannya!" bentak Rona pada suaminya. Selain masalah besar yang tengah dihadapi, kondisi emosi Rona pun sangat mudah meluap dan membara. Efek dari kehamilannya.
__ADS_1
Edward mendekati sang istri lalu memainkan anak rambut yang tergerai menghalangi paras cantiknya. "Mommy-nya baby twins, apa tidak rindu menyesap punya Daddy? Biasanya kan paling semangat, meskipun tidak diminta."
Melihat tidak ada respons sedikit pun dari sang istri, membuat Edward bertambah penasaran. Kedua tangannya menelusup ke dalam t-shirt crop, lalu membuka kaitan bra yang berada di depan. Hanya dengan waktu satu detik, kini aset milik istrinya berada dalam remasann tangannya. Tapi, lagi-lagi hasrat Rona tidak terpancing.
Edward yang frustasi, langsung memasukkan gumpalan daging favoritnya ke dalam mulutnya. Dia melahap dengan rakus, membuat tubuh Rona menggelinjang dan punggungnya melenting. Seringai kebahagiaan terlihat di wajah Edward karena dia telah berhasil membuat sang istri menyerah dan terbawa arus hasrat yang menggila.
"Ah..." desahh Rona menjambak rambut suaminya. "Enak sayang... terus. Ah..." desahhnya lagi karena rasa geli yang diberikan suaminya.
Edward menggigit bongkahan tersebut dan meninggalkan beberapa tanda merah kemudian menarik puncaknya yang berwarna merah muda. Tubuh Rona kembali menggelinjang, dengan kedua kaki kini terbuka lebar.
"Katanya sedang tidak ingin bercinta?!" sindir Edward, pipi Rona meremang karena malu.
"Kamu terus menggodaku dengan kenikmatan ... mana bisa aku tahan?!" ungkap Rona menarik kepala Edward lalu memagut bibir suaminya. Rona menyesap kuat, hingga Edward gelagapan karena ruang bernapasnya menjadi terbatas.
Rona melepas pagutannya kemudian menjilati dan menyesap ceruk leher suaminya, meninggalkan bekas kepemilikan di sana. Edward mengerang keras, terlebih saat jemari lentik Rona mulai memainkan miliknya dari balik celana. Edward merem-melek akan sensasi yang diberikan sang istri. Dia lagi-lagi mengerang karena Rona menyapu puncak dadanya sembari meremass kencang kejantanannya yang sudah sangat mengeras.
"Sayang... nanti bisa-bisa milikku patah, kalau diremass seperti itu," lirih Edward antara rasa ngilu dan rasa nikmat. Tubuhnya tiba-tiba mengejang, lantaran sapuan lidah sang istri tanpa disadari sudah berada di atas area inti. Edward terbujur pasrah, membiarkan Rona mengeskplor tubuhnya kali ini.
"Lakukan semaumu, sayang... tubuh ini milikmu...."
...****...
...Selamat bermalam minggu 🤭🤭...
...Bagi teman-teman yang suka dengan cerpen, boleh diintip juga ya... 😁...
__ADS_1