Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Upacara Pernikahan


__ADS_3

Pagi hari, pihak berwenang sudah sampai di lokasi kecelakaan. Karena asap hitam yang mengepul hebat, menarik perhatian orang-orang yang tengah melintas. Mereka akhirnya melaporkan apa yang mereka lihat.


Bukan hal yang mudah untuk terjun ke dasar jurang. Karena itu mereka mengerahkan orang-orang terpilih dan terlatih. Sudah tiga jam mereka masih menelusuri jalan setapak yang dipenuhi tanaman dan lumut, membuat proses evakuasi berjalan dengan sangat lambat.


Akhirnya setelah melewati beberapa rintangan, pasukan rescue telah sampai di tempat tujuan. Namun, mereka kebingungan karena tidak menemukan tubuh ataupun jasad dari pengendara mobil yang meledak.


Sementara di dalam apartemen yang kondisinya semrawut, Rona mulai terbangun dari mimpi panjang. Dia meraba-raba mencari ponsel miliknya. Suara parau dan mata sepat tidak menyurutkan keinginan untuk menghubungi Edward. Akan tetapi, lagi-lagi nomor yang dia tuju tidak bisa dihubungi. Dia mencoba menelepon Feliks, dan untungnya pria itu mengangkatnya.


Feliks


Hallo, ada apa Rona?


Tumben sekali meneleponku


Rona


Apa kamu sedang bersama Edward?


Feliks


Edward? Tidak Rona. Apartemen kami kan, berbeda


Rona


Oke baiklah, maaf mengganggu


"Hufth... kenapa kamu susah sekali dihubungi. Apa yang sedang kamu rencanakan, Edward?"


...***...


Waktu cepat sekali bergulir, dari pagi ke siang. Dari siang ke petang. Kini malam telah menyapa, mengganti mentari yang memancarkan teriknya. Di mana semua orang tengah disibukkan dengan persiapan-persiapan upacara pernikahan yang hanya tinggal hitungan jam.


Rona duduk manis, dengan dua Make- up Artist yang sedang meriasnya. Mempersiapkan mempelai wanita agar kecantikan dari dalam hati terpancar dan bersinar.


"Kamu cantik sekali Rona..." puji Claire.


"Seperti bidadari..." timpal Feliks yang tiba-tiba muncul.


"Eh, laki-laki tidak boleh masuk ke ruangan ini. Ini khusus untuk wanita!" tegur Claire yang menyeret Feliks keluar.


Rona tersimpul dan menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Claire dan Feliks yang seperti kucing dan anjing. Meski pikirannya terus saja tertuju pada sang kekasih hati. Benda pipih tidak lepas dari genggaman, berharap Edward menghubungi dan menenangkan hatinya. Tetapi lagi-lagi Rona harus menelan kekecewaan karena sejak tadi malam tidak sekalipun Edward menghubunginya.


Hanya tersisa tiga puluh menit, Rona yang didampingi Claire dan Nath mulai memasuki ruang pengucapan janji suci. Semua mata tertuju pada kecantikan yang terukir dari wajah calon mempelai wanita. Nampak hadir Richard yang ditemani sang istri, Amber untuk menyaksikan hari bersejarah putranya tercinta.


"Di mana mempelai laki-laki?" tanya pemimpin upacara pernikahan.


"Be- belum datang," jawab Rona gugup.

__ADS_1


Semua orang mulai berbisik-bisik, saling menoleh, saling melempar prasangka. Sementara Rona sekuat hati menahan tangis yag menggelitik kelopak mata.


"Edward... kumohon... jangan buat aku kecewa!"


Waktu terus berjalan, tetapi pria yang dinanti tak kunjung tiba. Ruangan yang semula hening, sekarang riuh seketika. Rona menolehkan kepala sekilas ke arah Richard yang menatapnya dengan penuh rasa bersalah.


"Ke mana anak sialan itu?" geram Richard.


"Sepertinya putramu menyadari kalau dia salah memilih calon istri," timpal Amber.


"Apa yang kamu katakan Amber?" geram Richard.


"Ya apalagi ... perempuan itu dan Edward seperti langit dan bumi, berbeda level. Harusnya Edward mendengarkan perkataanku untuk menikahi Arabella, yang kekayaan orang tuanya sepadan dengan keluarga Liam," ceroscos Amber seraya tersenyum puas.


Richard menggerakkan kepala ke kiri dan ke kanan. Dia tidak habis pikir dengan istrinya mengapa bisa berbicara setega itu. Terlebih Amber berbual dengan nada suara yang meninggi.


"Sudah Amber, aku malu. Semua orang memperhatikan kita!" Richard merundukkan kepala menyembunyikan wajah.


"Aku sih masa bodoh, yang penting aku senang akhirnya putra kita memilih keputusan yang tepat!"


Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya tak terbendung. Berderai membasahi wajah di mana yang semestinya dihiasi senyum merekah. Tubuh Rona bergetar hebat dan matanya yang memerah.


"Bagaimana ini, upacara dilanjutkan atau dibatalkan?" tanya pemimpin upacara pernikahan.


"Dilanjutkan!!!"


"Roland?!"


"Dilanjutkan saja upacaranya, saya yang akan menikahi gadis ini," ucap Roland percaya diri.


"Aku tidak mau menikah denganmu Roland. Aku yakin Edward akan datang, dan aku akan menunggunya!"


"Aku hanya ingin menolongmu, apa kamu tidak mendengar suara-suara sumbang yang membicarakanmu?"


"Aku tidak peduli! Kalaupun Edward tidak datang, aku akan memilih untuk tidak menikah selamanya!"


"Rona, please jangan berkata seperti itu!" Claire berteriak karena dia sudah tidak tahan melihat sahabatnya harus menanggung malu dan kesedihan. "Lebih baik kamu menerima tawaran pria ini!"


"Silakan dilanjutkan," titah Roland.


"Jangan, tunggu sebentar lagi. Kumohon... dia akan datang. Calon suamiku akan datang!"


"Jangan dengarkan dia, lanjutkan saja pernikahan ini! Calon mempelai pria tidak akan datang!"


"Maksudmu, Roland?"


"Dia sudah terbiasa seperti ini. Ini bukan pertama kalinya dia menghancurkan harapan seorang gadis!"

__ADS_1


"Omong kosong!"


Meski bibir berusaha melawan, tapi hatinya kini bertanya-tanya. "Benarkah Edward seperti itu? Apa dia akan mengecewakanku kali ini?"


Ronald kembali meminta pembacaan janji suci dilanjutkan, sedangkan Rona bergeming karena sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Saya nikahkan—"


Terdengar suara pintu dibuka dengan sangat kencang. Perhatian semua orang tertuju pada pria yang berjalan lambat dengan kepala tegak, menuju altar.


"Edward?" pekik Rona. Dia berlari seraya mengangkat gaun pengantin dan Edward turut berlari ke arah kekasihnya.


"Kamu kemana saja?" Rona menetuk-netukkan kepalan tangan ke dada Edward dengan tangis yang meraung-raung. Melepaskan kesedihan dan beban yang tertahan di pundaknya.


Edward memeluk erat tubuh gadisnya yang bergetar. "Maafkan aku Rona, aku terlambat datang. Ada cecunguk yang sedang bermain-main denganku. Nanti aku ceritakan!" Edward menatap Roland dengan sorotan mematikan.


Rona menuntun tangan Edward menuju altar dan Roland harus menelan pil pahit karena berlagak ingin menjadi penyelamat malah rasa malu yang didapat.


Satu per satu acara dilewati, kini tiba saatnya pengucapan janji pernikahan. Semua orang berbahagia terlebih pasangan yang baru saja melepas masa lajang.


"Silakan sematkan cincin pernikahnnya...."


Edward memasukkan cincin nikah ke dalam jari manis tangan kanan. Lalu mengecup lembut punggung tangan halus wanitanya.


"Aku mencintaimu, Rona...."


"Aku juga mencintaimu, Edward...."


Edward memiringkan wajah, mengecup bibir mungil yang kini sepenuhnya telah menjadi miliknya. Tepuk tangan bergemuruh seisi ruangan dan kini semua bersorak sorai karena Edward memperdalam ciuman.


Amber dan Roland keluar dari ruangan begitu saja, menyaksikan kebahagiaan pengantin baru hanya membuat hati bergemuruh dan amarah memuncak.


"Edward...?"


"Hm...?"


"Berjanjilah....!"


"Apa sayang...?"


"Berjanjilah tidak akan pernah meninggalkanku, apa pun yang terjadi."


"Aku janji, Rona...."


Rona mengukir senyum lalu berjingkat, dia memagut bibir Edward tanpa rasa malu ataupun risih. Lagi-lagi ruangan bergemuruh karena tepuk tangan dan sorak sorai kebahagiaan dari mulut semua orang.


...*****...

__ADS_1


...Maafkan kalau kurang sweet ya :D...


__ADS_2