
...Walau resah, tak akan mengusikku untuk mengikis mentari di hati. Meskipun telah terbenam, akan tetap berpijar. Merona seindah senja, mewarnai hati yang sempat kelabu....
...*****...
Dua bulan telah berlalu, waktu terus berputar dan beranjak dari masa lalu. Menyongsong masa depan dengan hati damai tanpa membawa kebencian yang hanya akan merusak diri sendiri. Luka dan nestapa, biarkan menjadi buih kehidupan. Menghilang tanpa menjadi beban.
Kebahagian akan datang selepas badai ujian menerjang. Merasuki dan mengisi hari-hari sebagai imbal dari keteguhan dan kekuatan diri. Berhasil melewati setiap onak dan duri dengan sabar dan pasrah pada ketentuan Tuhan. Segala cobaan dihadapi bersama, saling menggenggam jua menguatkan.
"Good morning, singa betinaku!" sapa Feliks. Dia membuka tirai kamar, membangunkan sang istri dari tidur lelapnya.
"Apa kamu tidak bisa bersikap romantis seperti pria pada umumnya?" protes Claire sebab dia tidak suka dengan julukan singa betina.
Feliks terkekeh lantas menarik selimut yang menutupi tubuh sang istri. "Ayo bangun, sayang...."
Claire menjulurkan lidah seakan hendak muntah mendengar sebutan kata sayang. Dia melempar bantal ke arah lelakinya seraya mengumpat. "Dih, menggelikan!"
Feliks mendesah, "Disebut singa betina tidak terima, dipanggil sayang malah marah. Terus aku harus apa?"
Claire memutar bola mata lantas menarik selimut dan merebahkan tubuhnya kembali. Dia menutup kedua telinga lantaran tidak mau mendengar perkataan Feliks yang menurutnya sangat menjengkelkan.
"Hm... kenapa kamu hari ini sangat mengesalkan, Claire...?" Feliks menarik dirinya lantas masuk ke dalam kamar mandi. Tidak tahu apa yang dia lakukan di dalam sana karena sudah satu jam berlalu pria itu belum keluar juga. Sedangkan Claire, dia kembali ke dunia mimpi. Meninggalkan dunia nyata yang baginya sangat melelahkan.
Setelah menghabiskan waktu satu setengah jam, akhirnya Feliks keluar dari bilik mandi seraya bersenandung. Wajahnya terlihat lebih segar dengan tubuh bugar yang masih basah karena kucuran air dingin. Dia mengibaskan-ngibaskan rambut lantas menggosok-gosokkan kain handuk untuk mengeringkan. Namun, emosinya kembali menguar karena sang istri kembali tidur berselimutkan kain wol.
"Astaga Claire... bukankah hari ini kita banyak urusan? Kamu malah tidur lagi dan lagi!" Feliks kembali melepaskan kain yang menutupi tubuh sang istri dan kali ini lebih kasar.
__ADS_1
Claire mengerang, "Apaan sih, Feiks? Tahu tidak, kamu itu sudah seperti oma-oma? Cerewet!!"
"Ayolah Claire... kita sudah mengatur jadwal untuk hari ini, masa iya harus gagal hanya karena kamu bermalas-malasan?" rajuk Feliks pada Claire. Suaranya kini merendah karena tidak ingin terjadi perselisihan antara dia dengan sang istri.
"Aku malas, Feliks. Kamu sajalah yang pergi, aku mau tidur lagi sepanjang... hari!" jawab Claire masa bodoh. Dan benar saja perempuan yang kini sudah tak gadis lagi, memiringkan badan memeluk sebuah guling.
Feliks mendesah berulang kali seraya memelilin pelipisnya. "Baiklah, aku pergi sendiri saja kalau begitu. Mungkin aku akan pulang terlambat, jadi tidak usah menungguku."
Claire tidak menjawab, dia hanya berdeham tanpa melihat ke arah Feliks dan memilih untuk mengabaikan lelaki yang saat ini telah menjadi pasangannya.
"Ya Tuhan... kenapa dengan istriku? Pagi ini benar-benar menguji kesabaran."
Feliks pada akhirnya hanya bisa menyimpan kekesalan di dalam hati. Dia sadar bahwa usia pernikahannya baru seumur jagung. Tidak ingin membiarkan percikan-percikan api rumah tangga bertambah besar dan berpengaruh pada hubungannya.
"Aku berangkat dulu ya." Feliks mengecup pipi istrinya. Tidak ada sahutan ataupun sekedar dehaman karena saat ini Claire sudah kembali memejamkan mata.
...***...
Meski berat untuk melangkah, Feliks memaksakan diri untuk kembali ke rumah. Dia berjalan gontai menaiki tangga demi tangga sembari mengusap keringat yang menetes dari balik pelipis. Setelah melewati tujuh lantai apartemen, kini dia sampai di depan pintu sembari tersengal-sengal. Sikap yang bodoh memang, memilih melewati tangga darurat sementara apartemennya dilengkapi elevator.
Feliks masuk ke dalam kamar dan seperti biasa, kondisi ruangan gulap gulita. Dia meraba-raba dinding mencari saklar lampu. Namun, yang tersentuh adalah tangan seseorang. Feliks berteriak kencang dan lampu menyala dengan tiba-tiba.
"Happy birthday my husband... Happy birtbday my husband... happy birthday... happy birthday. Happy birthday too you...."
Claire menyanyikan lagu ulang tahun untuk lelaki yang sangat dia cintai. Lelaki yang akan menemani hari-hari sepanjang hidupnya. "Selamat ulang tahun Feliks...."
__ADS_1
Pria yang berdiri mematung, mulutnya mendadak kelu. Segala perasaan kesal dan amarah lenyap seketika. Kini hanya ada kebahagiaan dan rasa haru karena baru kali ini ada yang merayakan hari ulang tahunnya.
"Ayo make a wish dan tiup lilinnya." Claire menyodorkan kue tart dengan lilin-lilin kecil bersinar ke arah wajah Feliks. Laki-laki itu masih saja bergeming karena seakan terjebak di alam mimpi. "Kamu kenapa Feliks, apa kamu tidak suka dengan kejutanku? Apa kamu masih marah karena tadi pagi aku menjengkelkan?" cerocos Claire.
Feliks menggeleng cepat lalu membelai pipi sang istri. "Tidak Claire... aku tidak marah. Aku bahagia, bahkan sa...ngat bahagia, sampai aku tidak bisa berkata-kata."
"Kalau begitu, cepat make a wish..." suruh Claire antusias. Bibir Feliks tersimpul, dia memejamkan mata dengan kedua tangan di atas dada. Mengucapkan beberapa pengharapan di dalam hati. "Sekarang ... tiup lilinnya," pinta Claire manja. Feliks meniup seluruh api hingga padam, seraya menatap dalam manik mata sang istri.
Claire menyimpan kue tart di atas bufet lantas melingkarkan tangan ke leher suaminya. "Sekali lagi aku ucapkan ... selamat ulang tahun, sayang. Selalu menjadi lelakiku yang hebat...."
Feliks tertawa lalu menyambar bibir cherry sang istri. Dia mendekatkan wajah ke arah telinga Claire dan membisikkan sesuatu. "Mana hadiah spesialnya?"
Claire menggigit tipis bibir bawah, tersipu malu. "Ada ... hadiah spesialnya di atas ranjang."
"Kamu menggodaku, Claire?" desah Feliks melumatt bibir sang istri seraya berjalan. Dia mendorong tubuh Claire hingga pinggiran ranjang dan terjatuh ke atasnya tanpa melepas cumbuan. "Aku menginginkanmu malam ini, Claire. Bolehkah?"
Claire tidak menjawab, seakan memberi lampu hijau pada suaminya. Kedipan mata dan tatapan sayu seakan mewakili hasrat di dalam hati. Feliks menyeringai senang dan bersiap untuk menjemput kenikmatan. Akan tetapi, sebuah benda pipih yang disodorkan ke arahnya membuat tubuh Feliks membeku seketika.
Kabut gairah hilang, tergantikan oleh embun kebahagiaan. Penantian selama dua bulan, Tuhan balas dengan kabar suka cita. "A-apa ini artinya aku akan menjadi ayah?"
Claire menganggukkan kepala, mengiyakan pertanyaan suaminya. Pria yang saat ini merasa menjadi orang paling beruntung di dunia, berteriak lantang lantas mengangkat tubuh sang istri dan membawanya ke atas balkon.
"Dengarkan aku semuanya, istriku tengah hamil dan aku akan menjadi seorang ayah," teriak Feliks membuat orang-orang di sekitarnya keluar dari kamar untuk mengetahui apa yang telah terjadi. "Sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah... itu artinya aku perkasa. Aku jantan...!" teriaknya lagi membuat semua orang terpingkal-pingkal.
Claire turut tertawa karena kekonyolan suaminya. Namun, hal itulah yang dia sukai dari dalam diri laki-laki yang dia pilih menjadi pasangan hidup. Laki-laki yang akan membersamainya hingga akhir hayat.
__ADS_1
...***...