Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Birth


__ADS_3

Selama di perjalanan, Rona merintih kesakitan. Sesekali dia menarik rambut Edward untuk melampiaskan rasa sakitnya. Liburan yang diharapkan bisa melupakan kemelut untuk sesaat, nyatanya tidak sesuai dengan yang diangan-angankan. Rona mengalami kontraksi hebat, dua minggu lebih cepat dari yang dokter perkirakan.


"Feliks apa ini masih lama?" tanya Rona mengernyitkan dahi. Dia merasa bayi-bayinya akan keluar tidak lama lagi.


"Se-sepuluh menit lagi, Rona. Tahan ya!" balas Feliks turut tegang.


Tangan Edward tidak lepas dari menggenggam jemari sang istri. Dia pun merelakan rambut kesayanganya menjadi pelampiasan Rona menahan rasa sakit akibat kontraksi.


Tiga puluh menit berlalu, sesuai dengan yang dijanjikan Feliks akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Rumah Sakit yang tidak begitu besar. Namun, jaraknya lebih terjangkau.


Feliks keluar dari mobil lantas berlari mencari bantuan. Sedangkan Edward, dia fokus dengan kondisi Rona. Dengan sigap, Edward mengangkat tubuh istrinya itu dan memandangi dengan raut takut juga khawatir. Beruntung bantuan cepat datang, Rona kini duduk di atas kursi roda untuk dibawa menuju ruang bersalin.


Rona tidak melepaskan lengan Edward. Bagi wanita yang sebentar lagi akan melahirkan, dekapan hangat sang suami adalah obat mujarab untuk meredakan rasa cemas juga kegundahan.


"Silakan anda semua tunggu di luar," pinta seorang perawat membawa Rona ke dalam ruangan. Edward menarik lengan perawat tersebut lalu menelungkupkan kedua tangan.


"Saya mohon, izinkan saya untuk menemani istri saya melahirkan," lirih Edward kepada perawat tersebut.


"Kita tunggu keputusan dokter, Tuan. Apa anda diperbolehkan untuk menemani pasien atau tidak." Perawat itu mendorong kursi roda lalu membantu Rona untuk duduk di atas ranjang pasien.


"Saya bantu untuk mengganti pakaian anda dengan pakaian medis." Perawat tersebut menutup tirai lantas menanggalkan semua kain yg melekat di tubuh Rona dan menggantinya dengan pakaian khusus. "Silakan anda berbaring, sebentar lagi dokter akan datang." Perawat yang menangani Rona memasang jarum infusan dan menyiapkan selang oksigen.


Berselang beberapa saat, seorang dokter masuk ke dalam ruangan. Dia memasang masker dan sarung tangan lalu menghampiri Rona.


"Selamat siang Nyonya..." sapa dokter kepada Rona. Dia menarik kedua kaki Rona lalu menekuknya.

__ADS_1


"Kita lihat sudah pembukaan berapa." Dokter itu memasukkan lima jari ke dalam ruang kewanitaan. Rona mengernyih lantaran dia merasakan ngilu di bagian in-timnya. Dokter tersebut memasukkan lagi jemari yang lain. "Baru pembukaan enam, Nyonya. Kita tunggu sebentar lagi ya," ucap dokter santai.


"Ta-tapi perut saya sudah sakit sekali Dok, saya tidak kuat," keluh Rona karena kontraksi yang dia alami semakin lama semakin hebat.


"Anda harus kuat Nyonya. Anda harus yakin kalau anda kuat," sahut dokter sembari menyiapkan peralatan yang kurang.


"Dok..." panggil Rona lirih.


"Iya Nyonya, ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter menatap ke arah pasiennya.


"Saya ingin momen persalinan ini ditemani dan disaksikan langsung oleh suami saya. Boleh, kan?" Rona menaruh harap bahwa wanita yang berdiri di samping akan mengabulkan permintaannya.


"Tentu saja boleh. Di mana suami anda?" tanya dokter seraya memasang alat bantu pernapasan kedalam hidung Rona.


"Di luar, Dok. Suami saya menunggu di luar," kata Rona. Dokter itu meminta asistennya untuk memanggilkan Edward. Dan dalam hitungan dua menit, kini pria yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah telah berdiri di samping sang istri untuk mendukungnya.


"Sakit..." sahut Rona. Tetesan bening mengalir dari sudut matanya. "Aku tidak kuat, Edward. Ini benar-benar sakit!" Rona menjerit lalu mengedan sebelum diperintahkan. Kontraksi semakin terasa kuat dan seakan tidak memberikan jeda untuk Rona bernapas lega.


"Jangan dulu mengedan, tolong tahan!" tegur dokter pada Rona. "Kasihan nanti bayi anda," ucap dokter bersiap untuk mengecek kembali pembukaan.


"Perut saya sakit sekali Dokter, tolong saya..." rintih Rona mencengkeram erat tangan suaminya. Napasnya mulai terengah-engah dan kembali melakukan dorongan.


"Tahan Nyonya... ambil napas dalam-dalam." Sang dokter memasukkan kembali jemarinya dan dia pun tersenyum. "Sudah pembukaan sembilan, Nyonya. Bersiaplah, kita akan menyambut malaikat kecil terlahir ke dunia!"


Kini nampak rambut sang bayi yang menyembul dari dalam ruang rahim. Dokter terus memberikan aba-aba pada Rona untuk mendorong bayinya kuat-kuat. "Iya bagus Nyonya... dorong lagi... ayo sedikit lagi."

__ADS_1


Rona mengeratkan kedua rahangnya dengan tangan berpegangan ke pinggiran ranjang dan juga ke tangan lelakinya. Dengan sekuat tenaga, Rona melakukan dorongan dan bayi pertamanya berhasil dikeluarkan.


"Bayi anda laki-laki Nyonya," ucap dokter tersenyum senang. Namun, senyuman tersebut kuncup seketika karena matanya menangkap kepala bayi muncul kembali dari area inti. "Suster tolong saya!" Dokter tersebut menyerahkan bayi di atas pangkuan lalu bersiap untuk membantu persalinan kembali.


"A-anda memiliki bayi kembar!" pekik Dokter pada Rona. "Sama seperti tadi ... tarik napas dalam-dalam, lalu dorong dengan kuat."


Rona kembali mengedan untuk kesekian kalinya. Tenaganya hampir habis. Namun, suara tangis dari sang buah hati menjadi sumber kekuatannya. Dia mendorong dengan tenaga penuh, berharap bayi keduanya cepat keluar dari dalam ruang sempit tersebut. Tak berselang lama, terdengar kembali suara mungil nan mengharukan.


"Selamat Nyonya... bayi kedua anda berjenis kelamin perempuan," ujar dokter dengan bibir yang mengembang sempurna. Dia menyerahkan bayi tersebut pada asisten perawat lalu mengeringkan keringat yang membasahi pelipis pasiennya. "Anda hebat, Nyonya!" puji dokter kemudian beranjak untuk mencuci tangannya. Baru juga dua langkah, terdengar kembali suara jeritan dari Rona.


"Dok... perut saya mulas lagi. Perut saya sakit lagi," rintih Rona merasakan kontraksi untuk kesekian kalinya. Dokter dengan sigap memasang kuda-kuda di depan kaki Rona.


"Ya Tuhan... anda melahirkan banyak anak sekaligus!" Dokter menelusupkan jari tangannya bersiap untuk menyambut bayi yang ketiga. Terlihat kini keringat dingin menitik dari balik sela-sela pori. Seorang perawat membantu untuk menyeka peluh tersebut.


"Siap Nyonya?" tanya dokter karena lembaran rambut sudah mulai terlihat. "Ayo Nyonya... dorong lagi! Iya bagus... terus Nyonya... dorong yang kuat. Sedikit lagi, saya akan mendapatkan bayi ketiga anda!"


Rona mengerang, tubuhnya kian dibasahi oleh keringat. Dia mengedan berusaha untuk mengeluarkan bayi ketiganya dan kini bayi tersebut telah berada di tangan sang dokter. Namun, tidak terdengar suara tangisan dan dokter pun nampak terbungkam.


"Ba-bayi ketiga saya mana, Dok?" tanya Rona tidak sabar. Bibir tertarik kedua sudut, membayangkan bagaimana menggemaskannya wajah sang bayi. Akan tetapi, bibirnya tiba-tiba mengatup lantaran melihat raut wajah yang tertutup kabut hitam.


"Mohon maaf Nyonya... bayi ketiga anda sudah tidak bernyawa...."


...*****...


...Mohon maaf, bulan Ramadhan alot Up-nya 🙏🙏...

__ADS_1


...Dan mohon maaf juga scene melahirkannya kalau kurang pas 🙈...


__ADS_2