
Brandon menahan saliva, tenggorokannya terasa kering. "Dia mengidap penyak—"
"Nona Rona, obatnya sudah siap," ucap pegawai apotek. Rona berdiri lalu meninggalkan Brandon yang belum selesai berbicara.
"Berapa yang harus saya bayar?" tanya Rona lalu mengeluarkan dompet dari dalam saku.
"Semuanya jadi 200 dollar, Nona." Pegawai apotek menyerahkan barang yang dibutuhkan Rona. Dan Rona menyerahkan dua lembar uang 100 dollar lalu mengucapkan terima kasih.
"Terima kasih kembali, Nona. Silakan datang lagi," ucapnya dengan badan yang sedikit dibungkukkan. Rona mengangguk dan berjalan mendekati Brandon lalu duduk di sampingnya.
"Tadi Dokter bilang apa?" Rona menjulurkan telapak tangan. "Maaf, tadi obrolan kita terpotong."
Brandon menarik kepalanya ke bawah. "It's ok! Tapi sebaiknya kita bicara di tempat lain saja. Di sini kurang nyaman." Brandon berdiri dan mengajak Rona keluar dari apotek.
"Kita mau mengobrol di mana?" Rona memutar kepala ke kanan dan ke kiri mencari tempat yang cocok lalu menunjuk sebuah cafe kecil di seberang jalan. "Kalau di sana, bagaimana?"
Brandon hanya mengangguk lalu meminta waktu untuknya mengambil sesuatu dari dalam mobil. "Tunggu sebentar!" Brandon mengacungkan telapak tangan.
Hanya perlu menunggu beberapa menit, Brandon datang membawa lembaran kertas di tangannya. "Mari, Dok!" ajak Brandon pada wanita di depannya. Lalu sama-sama menyebrangi jalan kemudian masuk ke dalam cafe.
"Dokter Rona mau pesan apa?" tawar Brandon sembari membuka buku menu.
"Aku Japanese Slipper saja," jawab Rona.
"Ada lagi?"
Rona menggeleng. "Cukup itu saja, Dok!" jawab Rona tidak ingin banyak basa-basi karena dia tengah mengkhawatirkan kondisi suaminya.
Brandon yang seolah paham, dia menyodorkan lembaran kertas di genggaman. "Silakan Dokter Rona lihat dan pelajari sendiri."
Rona mengernyit lantas mengambil beberapa helai kertas yang disodorkan Brandon. Kertas-kertas itu berisikan laporan rekaman medis pasien atas nama Nath Lucano.
Rona mengenakan kaca matanya, kemudian membaca secara perlahan dan saksama. Jarinya mengikuti arah mata berpindah. Jantung semakin berdetak cepat menganalisa apa yang dia lihat. Dia membuka lembaran selanjutnya dan semakin tercengang saat kedua mata menangkap tulisan di bawah kata diagnosis.
"Ya Tuhan... Nath mengidap penyakit—?"
Brandon mengangguk, mengiyakan pertanyaan Rona yang menggantung. "Dia berpesan untuk memberitahumu mengenai penyakitnya. Penyakit mematikan itu perlahan menggerogoti hidup temanmu." Brandon menyatukan kedua tangannya di atas meja. "Ini semua akibat dari kebiasaan buruknya bergonta-ganti pasangan dan bermain dengan para penjaja sek-s komersial."
__ADS_1
Rona menyandarkan punggung, tubuhnya seketika melemas. Kabar mengenai Nath sangat meluluh lantahkan perasaannya. "Nath... sahabatku mengidap penyakit AIDS."
Brandon menepuk-nepuk punggung tangan Rona sebagai tanda empati. "Sabar ya Dok. Kalau tanpa izin pasien, saya tidak akan mungkin membuka data penderita seperti ini."
Rona menyengguk. "Terima kasih banyak, Dok. Kalau begitu saya permisi...."
Brandon hendak menahan Rona karena minuman pesanannya baru saja tiba. Namun, dia harus menelan kekecewaan lantaran Rona pergi begitu saja tanpa mencicipi minumannya terlebih dahulu.
...***...
Sepanjang jalan, Rona tidak bisa berkonsentrasi. Beberapa kali dia hampir menabrak orang ketika lampu lalu lintas berubah merah. Berkali-kali juga dia nyaris menubruk kendaraan di depannya. Tapi beruntung, Tuhan masih memberi perlindungan.
"Ya Tuhan... Nath kenapa bisa sejauh itu terjerumus? Aku pikir dia hanya sekedar have fun dengan teman wanita-wanitanya, ternyata juga bermain jalangg!" Rona mengurut kening. Kepalanya semakin terasa pening.
Di dalam pikiran Rona sekarang ini berputar mengenai penyakit yang diderita sahabatnya. Penyakit mematikan yang belum ada obatnya. Dia teringat kembali pada fakta yang baru dia ketahui, kalau Nath dan Amber terlibat scandal.
"Astaga... kalau Nath mengidap penyakit AIDS, itu artinya Mom Amber...!" Rona menggeleng-gelengkan kepala seraya membekap mulutnya sendiri. Tidak sanggup membayangkan kenyataan pahit yang saling berkaitan dan bertubi-tubi.
Rona terus bertanya-tanya dalam hati. Akal dan perasaannya saling bertanya dan menerka. Hingga dia dikejutkan oleh suara ponsel yang berdering. Rona memasang earphone, lalu menekan tombol berwarna hijau.
Rona
Kenapa?
Edward
Rona
Iya maaf, tiga menit lagi aku sampai!
Rona memutus sambungan telepon karena tidak ingin melampiaskan ganjalan di dalam hati kepada orang lain, terlebih pada suaminya.
Mansion keluarga Liam
Setelah melewati perjalanan yang terasa berat dan panjang, dengan pikiran yang kusut dan bercabang. Rona akhirnya sampai di Mansion. Dia disambut oleh sang mertua yang berdiri di depan pintu sembari bersidekap, bersiap untuk menambah runyam keadaan.
"Bagus... suami lagi sakit, malah asyik-asyikan berdua-duaan dengan pria muda!" sindir Amber yang ternyata membuntuti Rona.
__ADS_1
"Apa maksud Mom?" Rona melihat dengan sudut mata.
Amber menunjukkan sebuh foto yang membuat Rona tersulut emosi. Foto ketika dokter Brandon menepuk-nepuk punggung tangannya sewaktu di dalam cafe tadi. Di dalam foto, seolah pemuda itu tengah menggenggam tangannya.
Rona mendengus kesal. "Dari pada Mom mencari tahu tentang aku dan menjadikannya sebagai jalan untuk memfitnah dan menjatuhkan, lebih baik Mom cari tahu tentang Mom pribadi. Siapa tahu, saat ini mengidap penyakit menular dan mematikan!" Sebelah kaki dihentakkan, Rona melengos kemudian melewati mertuanya yang bersiap menerkamnya.
"Menantu kurang ajar!!!" teriak Amber yang sudah kepalang murka. Dia berjalan mendahului Rona berniat untuk menampar menantunya. Namun, Rona sigap berhasil menghindar.
"Jangan berani menyentuhku, aku bukan tandinganmu Mom!"
Amber berteriak melepaskan kekesalan seraya mengacak-acak rambutnya sendiri. "Awas saja kamu Rona. Kamu berurusan dengan orang yang salah!"
Rona merespon gertakan Amber dengan menarik kedua bahunya ke atas. Tanpa peduli, dia menaiki pijakan berundak menuju kamar suaminya.
"Mommy...!" Teriakan Ezio menyambut kepulangannya. "Mommy dari mana saja, kenapa lama sekali? Kasihan Daddy dari tadi menangis," ungkap Ezio yang membuat wajah Edward memerah.
Rona menarik sebelah alisnya ke atas. "Menangis, benarkah itu Edward?"
Edward bukannya menjawab malah membuang muka dan membalikan badan. Dia merajuk tak ubahnya anak kecil.
"Hei, maaf... tadi aku ada urusan penting." Rona mengusap-usap pundak Edward. Terdengar suara isakan dan bahu yang bergetar.
"Kenapa lama sekali..." rengek Edward yang membuat Rona menggerenyotkan bibir.
"Kamu kenapa sih Edward, kok jadi seperti anak kecil begini?" Rona menyimpan obat untuk Edward lalu menyembunyikan test pack ke dalam laci meja rias. "Ini diminum dulu obatnya, siapa tahu perut kamu enakan!"
Edward memutar badan lalu bangkit dan duduk dengan tegak. Dia meraih obat yang disodorkan Rona lanjut meneguknya dengan air putih satu gelas. "Terima kasih ya... maaf kalau aku seperti anak kecil."
Ezio yang menyimak obrolan kedua orang tuanya dengan beberapa mainan di tangan, turut berkomentar. "Mommy... mungkin Daddy ingin dibelikan mainan juga seperti aku. Makanya Daddy menangis...."
Rona hanya menahan tawa sedangkan Edward memonyongkan bibir karena celotehan Ezio. Sementara Ezio, dengan wajah tak bersalah kembali asyik dengan mainan-mainannya.
...*****...
...Ini Edward kenapa ya? Kesambet apa geser...? Hihihi......
...Terimakasih untuk dukungan dari semuanya....
__ADS_1
...Selamat malam dan selamat beristirahat....