
Hari sudah berganti malam, semua orang satu per satu meninggalkan tempat peresmian menuju ke kediamannya masing-masing. Sementara Rona, Edward, Richard juga William masih berbincang mengenai Rumah Sakit yang akan dikelola Rona dan dibantu sang suami.
Ketika Rona asyik bercengkerama, Feliks dan Claire menunggu di depan pintu untuk berpamitan. Mereka ingin melanjutkan kencan mereka, ke suatu tempat yang hanya mereka saja yang tahu. Claire mengibas-ngibaskan tangan untuk memanggil sahabatnya.
Rona menarik ulur kedua alisnya dan menyahut panggilan Claire tanpa mengeluarkan suara. "Apa Claire?"
Claire menggerakkan jari-jarinya dan berbicara tanpa bersuara. "Sini sebentar...."
Rona mengangguk, lantas meminta izin pada Richard dan William untuk menghampiri sahabatnya. "Pa, Om... Rona ke depan dulu sebentar ya...."
Kedua pria paruh baya tersebut mengangguk secara bersamaan dan menjawab dengan serentak. "Iya, Nak. Silakan...."
Rona mengucapkan terimakasih, kemudian menghampiri Claire dan asisten suaminya. "Ada apa Claire?"
"Rona... aku pamit ya. Selamat sekali lagi, aku turut bahagia." Claire memeluk sahabatnya sesaat, kemudian melepasnya kembali. "Doakan aku ... semoga aku bisa mendapatkan pria sebaik suamimu dan tidak segila dirinya." Satire Claire pada Feliks. Pemuda yang tahu bahwa dirinya tengah disindir oleh Claire, bersikap acuh tak acuh seolah tidak mendengar apapun.
"Iya sahabatku tersayang... aku selalu mendoakanmu. Semoga kamu mendapatkan pria yang terbaik, bukan pria gila seperti dirinya," balas Rona dengan mata mengerling ke arah Feliks. Feliks mendongakkan kepala dengan mata yang bergulir menatap langit. Sementara sebelah kakinya bergerak-gerak mengetuk lantai.
"Terimakasih sahabatku, aku pulang...," Claire melambaikan tangan ke arah Rona. Rona membalas dengan melambaikan tangannya. Claire berjalan berdampingan dengan Feliks lalu melempar kunci mobil ke arahnya. Dengan sigap Feliks menangkapnya.
Setelah kendaraan sahabatnya sudah tidak terlihat, Rona kembali turut bergabung dengan pria-pria matang. Namun karena dia sudah tidak kuat untuk berdiri, terpaksa harus duduk di depan meja dengan makanan manis yang menggugah selera. Semua makanan itu seolah memanggil-manggil dirinya untuk menyantapnya. Alhasil mulut Rona tidak berhenti mengunyah, dan dia sudah tidak lagi memperhatikan pembicaraan serius di antara ketiga pria di hadapannya.
Richard dan William sesekali serius, sesekali terbahak. Sedangkan Edward, tatapannya terus terfokus pada sang istri yang tidak berhenti menikmati hidangan penutup.
"Rona... apa kamu belum kenyang sayang?" bisik Edward sembari mengelus-elus perut istrinya. Bibirnya menyunggingkan senyuman, karena baru menyadari bahwa tubuh sang istri lebih berisi dari sebelumnya.
"Belum..." jawab Rona manja. "Makanan ini enak sekali Edward, aku tidak bisa berhenti mengunyah," tambah Rona dengan tangan memasukkan vanilla slice ke dalam mulutnya.
__ADS_1
Edward menggeleng-gelengkan kepala seraya menertawakan istrinya. Karena saat ini pipi Rona terlihat menggembung seperti ikan buntal. Mulutnya dipenuhi makanan yang belum sempat Rona kunyah.
"Pelan-pelan sayang... nanti kamu tersedak." Edward mengusap vanilla cream yang menempel di sudut bibir istrinya, kemudian menjilatnya. "Kamu mau lagi? Aku ambilkan ya?" tawar Edward.
"Tidak usah... nanti badanku gemuk Edward," rengek Rona karena menyadari lipatan di lehernya bertambah. Dia melihat bayangan dirinya dari cermin besar yang terpasang di depannya.
"Tidak apa-apa sayang... semakin gemuk malah semakin seksi," imbuh Edward dengan seringai genitnya. Dia mencolek pipi sang istri lantas mencubitnya gemas. "Tunggu sebentar ya, aku ambilkan kue lagi...."
Edward hendak mengambilkan makanan untuk Rona, namun suara William yang memanggil namanya menghentikan laju kakinya. Edward memutar kepala dan mendapati seseorang yang dia kenal berdiri di samping William.
"Brian, Its this you?" Edward maju beberapa langkah kemudian mendekap sahabat lamanya yang memilih untuk tinggal di Inggris, di negara di mana dia menuntut ilmu.
"Iya ini aku, Brian. Kamu semakin tampan saja, Edward!" Brian menepuk-nepuk punggung Edward, namun matanya tertuju pada wanita yang tengah berdiri melihat ke arahnya. "Siapa wanita cantik ini?"
Edward melepas pelukannya dari tubuh Brian kemudian memutar badannya. Terlihat Rona mematung tidak jauh dari tempatnya berdiri. "Oh... wanita cantik ini adalah istriku."
Brian mengulurkan tangannya, Rona menoleh ke arah suaminya. Edward mengangguk, Rona membalas uluran tangan Brian lalu berjabatan.
"Perkenalkan, saya Brian Cale. Pria tertampan dan termapan di kota ini," seloroh Brian percaya diri. Tangannya menggenggam erat jemari Rona dengan sorotan mata yang tidak biasa.
"Saya Rona," jawabnya singkat. Rona menarik tangannya, namun Brian tidak melepasnya.
Edward berdeham, merasa cemburu karena sikap Brian pada istrinya. Dia menepuk kasar tangan Brian memaksa pria itu untuk melepas genggamannya.
"Ingat Bro, wanita ini istriku!" Edward mendengus kesal, dia menyadari tatapan lekat Brian pada istrinya. "Woy... jaga itu mata!" sungut Edward yang tidak suka kalau ada pria lain menatap istrinya.
William datang kemudian merangkul pundak putranya. "Om sengaja memanggil Brian pulang, agar dia bisa membantu kalian merintis Rumah Sakit ini. Dan ini juga hasil obrolan Om dengan Papamu beberapa hari kemarin."
__ADS_1
Edward manggut-manggut tanda setuju dengan perkataan William. Karena dia tahu pasti bagaimana sepak terjang sahabatnya itu. Dokter jantung yang sangat terkenal di negara tempat tinggalnya.
"Bagaimana Nak tentang usulan kami?" Richard turut berbicara. Namun dia yakin kalau Edward akan setuju dengan masukan darinya juga William.
"Edward setuju Pa... memang kita pasti akan membutuhkan tenaga medis yang profesional dan berkompeten di bidangnya," jawab Edward tidak kalah yakin. "Bagaimana menurutmu sayang?" Edward bertanya pada Rona selaku pemilik Rumah Sakit.
"Semua orang yang akan turut berkecimpung, harus melewati serangkaian tes yang sama supaya adil. Rona tidak mau memasukkan seseorang hanya karena alasan dia kerabat dekat ataupun saudara," sahut Rona lugas. William tersenyum sahaja, kemudian mengacungkan ibu jarinya.
"Om yakin, kamu pasti bisa memimpin Rumah Sakit ini dengan baik. Dan Om juga yakin, Rumah Sakit ini akan maju pesat di tanganmu," puji William atas ketegasan Rona.
Richard turut menimpali perkataan sahabatnya sembari menepuk pundak menantunya. "Papa suka dengan ketegasanmu, Nak... memang harus seperti itu menjadi seorang pemimpin."
"Doakan Rona ya Pa, Om... semoga Rona bisa mengemban amanah ini dengan baik dan penuh tanggung jawab," balas Rona meminta dukungan moril.
"Tentu saja Nak, doa kami akan selalu menyertaimu," sahut Richard. "Baiklah kita lanjutkan obrolan ini besok. Sekarang sudah malam, lebih baik kita pulang dan beristirahat," tambah Richard yang mulai merasakan kantuk.
"Papa pulang ke mansion, kan?" tanya Edward penuh harap. Dia sangat merindukan sosok pria yang biasa menghangatkan suasana mansion yang kini terasa dingin dan hampa.
"Iya Nak... Papa ikut pulang ke mansion," jawab Richard pada putranya.
Pupil mata berbinar, Edward memeluk ayahnya senang. "Terimakasih ya Pa... tapi kita jemput dulu Ezio di rumah mama. Karena kami menitipkan Ezio dengan omanya."
Richard mengangguk. "Tidak masalah Nak... lagi pula Papa juga rindu dengan cucu Papa yang sangat menggemaskan itu."
Semua orang meninggalkan bangunan dengan harapan yang baru. Karena esok hari, hari yang baru akan menjelang dan dijalani.
...*****...
__ADS_1
...Terimakasih banyak untuk dukungan teman-teman semua, terimakasih....🙏😘...