Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Transfusi Darah


__ADS_3

Hari yang diawali sejumput bahagia, kini diakhiri oleh seraup duka. Tawa ceria yang semula membahana, tergantikan dengan isak pilu menyayat hati. Kelopak mawar putih yang bertaburan di atas lantai, berubah menjadi merah darah. Kebisuan dalam tangis, sesak di dalam dada.


Seorang wanita yang mendekap erat putranya, tidak berhenti menderaikan air mata. Dia begitu ketakutan. Bayangan-bayangan hitam akan kematian, berkelebat di akal pikiran. Meski untaian doa tidak lepas dari bibir dan hatinya. Mengalir untuk sang anak tercinta.


"Edward lebih cepatlah sedikit!" lirih Rona cemas karena tubuh Ezio semakin pucat. Edward menambah laju kecepatan kendaraannya. Hingga mobil itu bak melayang di atas aspal.


Pria yang tengah memfokuskan dirinya dengan jalanan yang dilalui, menahan sekuat hati desakkan dari dalam iris mata. Karena saat ini, di dalam pikirannya hanya keselamatan jiwa sang buah hati tercinta.


Sepuluh menit berlalu. Namun, terasa bagai berjam-jam lamanya. Kini sepasang suami istri itu telah sampai di depan Rumah Sakit. Edward bersigera keluar dari dalam mobil. Lantas berteriak-teriak memangil siapa pun yang bisa dimintai pertolongannya.


Seorang security menghadang dan bertanya ada masalah apa hingga pria di hadapannya itu meracau mengganggu kenyamanan orang lain. Edward yang naik pitam, dia memekik keras seraya menarik kerah pakaian security tersebut dengan kasar. "Panggilkan tenaga medis sekarang juga, bodoh! Anak saya sekarat...!!!"


Penjaga keamanan itu menganggukkan kepala kemudian berlari secepat mungkin ke dalam Rumah Sakit. Tidak menunggu lama, dua orang tenaga media membawa brankar pasien seraya berlarian. Edward yang menyusul karena tidak sabar menunggu, berpapasan dengan petugas medis tersebut. Lantas membaringkan tubuh putranya di atas brankar.


Edward dan Rona menyusul kedua petugas yang membawa Ezio ke ruang operasi. Air mata yang sedari tadi ditahan, berderai begitu saja membasahi wajah piasnya. Ini kali kedua dia merasakan takut yang teramat sangat. Takut akan kehilangan orang yang sangat disayanginya.


Mereka telah tiba di depan ruang operasi. Brankar didorong cepat ke dalamnya. Edward turut berjalan dan hendak masuk ke dalam ruangan tersebut. Akan tetapi, seseorang yang mengenakan pakaian medis menahan langkahnya.


"Mohon untuk menunggu di luar, Tuan," ujar seorang perawat. "Biarkan kami menjalankan tugas dengan tenang, demi kesalamatan pasien," ucapnya lagi. Edward menarik langkah mundur. Kedua tangan menarik rambutnya frustasi. Dia mengerang, mengeluarkan perasaan yang seakan menekan kuat dadanya.


"Sabar sayang..." isak Rona mendekap suaminya yang duduk meringkuk di atas lantai. Perasaannya sangat terluka melihat kondisi Edward yang terbiasa kuat kini terlihat begitu lemah dan juga terpuruk.


Rona turut duduk di atas lantai dengan kaki berselonjor. Lantas menarik kepala Edward dan ditopangkan ke atas pundaknya. Menenangkan sang pujaan hati yang tengah sesenggukan, dengan sentuhan lembut jari tangannya.


Mereka menunggu dan terus menunggu. Memohon keajaiban datang untuk putra mereka, yang tengah berjuang antara hidup dan mati. Wajah letih lesu membiaskan kepasrahan akan takdir Tuhan.

__ADS_1


Tiga puluh menit dalam penantian, pintu ruangan operasi akhirnya dibuka. Seorang perawat keluar sembari melepaskan masker di wajahnya. Edward langsung bangkit dari atas lantai untuk menghampiri perawat tersebut.


"Ba-bagaimana anak saya? Anak saya selamat, kan? tanya Edward was-was.


"Peluru dari tubuh pasien sudah berhasil dikeluarkan. Namun, pasien mengeluarkan banyak darah. Kami membutuhkan transfusi secepatnya," jelas perawat tersebut pada Edward.


"Sa-saya Daddy-nya... golongan darah saya sama dengan anak saya. Ambilah darah saya sebanyak yang kalian butuhkan!" ujar Edward menyodorkan dirinya.


"Baik, Tuan. Silakan ikut saya ke ruang transfusi darah." Perawat tersebut berjalan mendahului, Edward mengikutinya dari belakang.


Edward kini tengah berbaring di atas ranjang pasien dengan selang tranfusi tertanam di atas punggung tangan kirinya. Dia menatap kosong ke arah langit-langit ruangan. Pikirannya mengawang, hatinya mendawaikan doa-doa untuk sang buah hati yang terbujur kaku.


Sepuluh menit kemudian


Jiwa rapuh yang semula berputus asa, kini semakin menyerah. Dia mengeret kedua kakinya disertai wajah lusuh. Menghampiri sang istri yang menanti dirinya dengan penuh harap dan rasa cemas.


Perawat yang tadi membawa Edward ke ruang tranfusi, menghampiri Rona dengan raut tidak kalah gelisah. "Maaf Nyonya... darah Tuan Edward tidak cocok karena golongan darahnya berbeda dengan golongan darah pasien."


"Tapi bagaimana bisa?" sentak Rona tidak percaya. "Suamiku ayahnya, tidak mungkin mereka berbeda golongan darah!" bentak Rona bingung.


"Mohon maaf, tapi itu kenyataannya, Nyonya... golongan darah suami anda berbeda dengan anak anda," tandas perawat bersikukuh.


"Tapi bagaimana bisa?" ulang Rona dengan suara lirih. Tubuhnya gemetaran dengan bola mata menatap ke arah ruangan yang pintunya tertutup rapat. Dia menyandarkan tubuhnya ke atas dinding. Pasrah akan takdir Tuhan yang tidak berpihak pada kebahagiaan mereka.


Suasana hening, tidak ada lagi suara bantahan atau harapan. Semua tenggelam dengan pikiran mereka masing-masing. Rasa takut, bimbang, khawatir, menyatu dan bergumul di dalam benak.

__ADS_1


"Ambil darah saya. Golongan darah saya pasti sama dengan anak kecil di dalam ruangan itu!" tunjuk seseorang yang tiba-tiba datang dan mengejutkan setiap orang.


Rona terbelalak begitu pun juga dengan Edward. Mata keduanya menyalang ke arah pria yang menyorongkan dirinya untuk menyelamatkan nyawa Ezio yang sudah di ujung tanduk.


"Maksudmu apa bajingan?" Edward yang telah berdiri seketika mengayunkan sebuah pukulan kepada pria tersebut. Pria itu terhuyung. Namun, dia berhasil menahan tubuhnya dengan berpegangan ke sebuah tiang.


"Karena aku ayahnya!!!" ungkap pria itu yang tak lain adalah Roy. Bagaikan tersambar petir, Edward menggeleng-gelengkan kepala tidak ingin memercayai perkataan Roy. Dia menghajar pemuda itu bertubi-tubi melepaskan amarah yang berkecambuk di dalam sanubari.


Kondisi di depan ruang operasi semakin tidak terkendali, Rona menarik lengan Edward untuk menghentikkan aksinya dari menyakiti pria yang sempat singgah di hidupnya.


"Hentikan Edward! Ezio membutuhkan darah secepatnya. Dia memerlukan dukungan kita!" bentak Rona mendorong tubuh Edward untuk menjauh dari Roy.


Roy cepat-cepat melepaskan diri dari amukan Edward dengan mengikuti seorang perawat untuk melakukan donor darah.


Edward berkerumuk seraya menjambak rambutnya mencerna semua yang terjadi. Matanya kembali memerah, tangisnya pecah saat dia memahami teka-teki rahasia yang Tuhan berikan untuknya.


"Ezio bukan anakku, Rona... Ezio anak hasil perselingkuhan antara Marissa dengan Roy. I-itu artinya Marissa telah mengkhianatiku. Dia membawa rahasia besar ke dalam liang lahat."


"Tidak Edward... Ezio anak kita. Dia akan selalu menjadi anak kita. Tidak ada yang bisa merubahnya!" isak Rona tawar hati.


Edward meraih tubuh sang istri dan membenamkan ke dalam tubuh hangatnya. "Tenang sayang... Ezio milik kita. Tidak ada yang boleh mengambilnya. Sekalipun itu Tuhan...."


...*****...


...Mohon maaf terlambat Up, sedang ada keperluan keluarga ๐Ÿ™...

__ADS_1


...Terimakasih banyak untuk semua yang masih berkenan dengan Novel ini......


...Lope-lope sekebon๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜...


__ADS_2