Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Divorce


__ADS_3

"Nyonya Amber, ada yang ingin bertemu dengan anda," teriak seorang sipir dari luar jeruji. Wanita itu mengacuhkan perkataan sipir tersebut dengan tetap meringkuk di atas dipan. "Nyonya Amber... saya berbicara dengan anda!!!" teriaknya dengan lebih lantang.


Amber berdecak kesal, lantaran ketenangannya ada yang mengusik. Dia menarik tubuhnya dari posisi berbaring, lalu duduk di pinggiran dipan.


"Ada apa kamu mengganggu waktu istirahatku?" geram Amber pada wanita yang berdiri di balik tiang-tiang besi. Matanya mengerling memperlihatkan kekesalan.


"Ada yang mau bertemu denganmu, Amber! Cepatlah ke mari!" titah sipir penjara pada Amber.


"Aku tidak mau bertemu dengan siapa pun! Suruh dia pergi saja!" tolak Amber yang kembali merebahkan tubuhnya.


"Tapi dia mengaku kalau dia suamimu," balas sipir tersebut. Amber terperangah dan refleks menurunkan tubuhnya dari atas dipan. Lantas berjalan menggunakan pahanya menuju pintu besi.


Sipir tersebut menyiapkan kursi roda lalu membuka kunci gembok pintu dan membantu Amber untuk duduk di atas alat bantu berjalan tersebut. Kemudian membawa Amber ke ruang kunjungan untuk bertemu suaminya.


Ruang Kunjungan Tahanan


"Apa kabarmu, Amber?" tanya Richard ketika wanita yang ingin dia temui memasuki ruangan. Amber menampilkan wajah suram dengan bibir yang terangkat ke sebelah sudut.


"Aku kira kamu sudah lupa dengan istrimu ini, Richard. Istri yang kamu sakiti, istri yang kamu buang karena sudah tidak bisa lagi memuaskanmu!" sahut Amber penuh omong kosong.


Richard tidak terpancing, dia tetap bersikap setenang mungkin. Lalu mengeluarkan sebuah map yang disodorkan melalui celah kosong di bawah kaca pembatas.


"Apa ini?" Amber menautkan kedua alis, bingung karena di atas map itu bertuliskan Family Law Divorce.


"Bacalah!" titah Richard pada wanita di hadapannya.

__ADS_1


Amber membaca kata per kata yang tertuang di atas lembaran kertas. Matanya menyalang dengan urat-urat merah, dia meremas kertas tersebut lalu mencabik-cabiknya hingga berkeping-keping.


"Aku tidak akan pernah menerima perceraian ini, Richard! Sampai kapan pun aku tetap istri sahmu. Sampai mati, aku tetap Nyonya Liam!" Amber berteriak-teriak seraya menjambak rambutnya sendiri. Keterbatasan fisik membuatnya tidak bisa melakukan apa yang dia mau, dia hanya bisa menyakiti diri sendiri dari atas kursi rodanya.


"Terserah kamu mau bicara apa pun juga, Amber. Surat perceraian kita sudah disetujui oleh pengadilan. Terima atau tidak terima, statusmu kini bukan lagi istriku. Hubungan kita berdua sudah berakhir untuk selamanya!" geram Richard karena sikap arogan Amber. "Dan ini undangan pernikahanku. Aku akan menikah lagi, dengan wanita baik-baik tentunya." Richard menyerahkan kartu berwarna hitam.


Amber menarik wajahnya, kemudian tertawa cekikikan. Dia mengeluarkan pemantik dari saku baju tahanannya, lalu membakar kartu undangan tersebut dengan mata yang menjuling. "Ini balasanmu kepadaku, Richard? Setelah bertahun-tahun aku berusaha menjadi istri yang baik?"


"Maaf Amber... semoga lambat-laun kamu bisa menerima keputusan yang aku buat ini. Aku hanya ingin hidup lebih tenang, di usia senjaku." Richard mendorong kursi yang dia duduki lalu berdiri menghadap wanita yang kini sudah resmi menjadi mantan istrinya. "Jangan cemas, aku akan memberikan hakmu berupa sebagian hartaku. Dan putrimu yang akan mengelolanya."


Richard memutar tubuhnya meninggalkan Amber yang dia membisu. Dan menyambut kebahagiaan yang akan menghiasi sisa-sisa kehidupannya.


"Tidak Richard... jangan pergi Richard, kita belum selesai berbicara!" teriak Amber dari balik kaca pembatas. Richard tidak menoleh sedikit pun karena suara Amber tersamarkan oleh benda transparan di hadapannya. "Kenapa semua orang meninggalkanku? Apa salahku, kenapa tidak ada satu pun yang menyayangiku? Bahkan putriku sendiri membenciku!" ratap Amber seraya menatap punggung mantan suaminya.


Ratapan Amber berubah menjadi amukan, ketika pintu ruangan terbuka dan terlihat seorang wanita yang merangkul mesra lengan Richard. Wanita yang tidak asing di ingatannya, karena dulu mereka sempat dekat dan juga akrab.


...***...


"Ayo bangun, Edward... ini sudah siang!" Rona merajuk lantaran sang suami tidak ingin melepaskan tubuhnya dari dekapan. Semakin Rona berusaha melepaskan diri, semakin kencang kaki Edward menindih paha miliki istrinya.


"Mau ke mana sih?" sahut Edward dengan suara parau khas bangun tidur. Tangannya yang semula melingkar di atas pinggang, saat ini berada di atas dada milik istrinya. "Milikmu semakin membesar saja, Rona. Semakin suka aku memainkannya!" ujar Edward yang meremass gumpalan daging tersebut dengan gerakan memutar cepat lalu melambat.


"Kamu sudah beberapa kali mengatakannya, aku bosan mendengarnya!" Rona melipat bibir bawahnya lalu mendelik manja. "Bilang saja kalau badanku sekarang gembrot, pipi seperti bakpau dan buah dada sebesar buah melon!" cerca Rona karena merasa tidak percaya diri dengan bentuk tubuhnya saat ini.


"Justru dengan tubuh gempalmu sekarang ini, kamu semakin terlihat seksi dan menggairahkan, sayang...," Edward memutar-mutar mainannya, membuat si empunya mengeluarkan desahann karena rasa geli yang bercampur dengan rasa nikmat. Namun, Edward cepat-cepat mengalihkan tangannya dari atas dada, ke atas kaki sang istri. Karena mendengar suara teriakan sang anak bersamaan dengan kenop pintu yang dibuka.

__ADS_1


"Daddy sedang apa?" tanya Ezio yang melihat ayahnya tengah bertelanjang dada sambil memijat kaki ibunya. Sementara seluruh tubuh Rona ditutupi selimut hingga ke batas leher. "Mommy sedang sakit, Dad?" tanya Ezio khawatir. Anak kecil itu berjalan tergesa-gesa menghampiri Rona lalu menempelkan tangannya ke atas kening.


"Mommy... hanya kelelahan saja, sayang." Rona menjawab pertanyaan putranya dengan suara yang dibuat bergetar, seperti orang yang tengah demam.


"Kasihan Mommy... Mommy sudah sarapan?" tanya Ezio cingak-cinguk mencari piring kotor, namun tidak menemukannya.


Rona menggelengkan kepala lalu menyeringai malu. "Mommy belum sarapan sayang... Mommy kan baru bangun tidur."


Ezio menyilangkan kedua tangan di atas dada, seperti orang dewasa yang tengah memarahi anak kecil. "Mommy... Mommy tidak boleh makan telat-telat! Kasihan adik Ezio, pasti kelaparan!"


Ezio turun dari atas ranjang dan mendekati suster Ola yang berdiri menunggunya di depan tangga. "Suster Ola, tolong ambilkan sarapan untuk Mommy ya. Adik Ezio mau makan."


"Siap, Tuan Ezio... dibawa ke kamar Mommy Tuan?" tanya Ola dengan telapak tangan diarahkan pada kamar orang tuanya.


"Iya Suster Ola... sama jus juga ya. Ezio tunggu!" ujar Ezio yang berbicara seperti orang dewasa. Dia masuk kembali ke dalam kamar orang tuanya lalu duduk di pinggiran kasur.


"Suster Ola lagi ambilkan makanan sama jus buat Mommy... nanti Ezio suapi Mommy sampai sarapannya habis," ucap Ezio yang memijat kening ibunya. "Daddy, mandi sana. Badan Daddy bau, Ezio tidak suka!" protes Ezio menutupi hidungnya menggunakan kerah kaosnya. Rona cekikikan dan mengerling ke arah Edward menyuruh pria itu untuk segera membersihkan badan.


Edward merengut kecewa, karena angan-angannya untuk bisa memakan istrinya lagi, gagal karena kedatangan Ezio ke kamar mereka. Dia beringsut dari atas kasur, lalu mengambil handuk bersih dari dalam lemari. Matanya yang sayu terus menatap ke arah sang istri. Rona paham betul arti dari tatapan tersebut, dia menahan tawa lantas berbicara menggunakan bahasa isyarat.


"Selamat olahraga lima jari sayang! Semoga berhasil!" sarkas Rona pada suaminya. Edward mendengus kesal lalu masuk ke dalam kamar mandi dengan membanting pintu.


Ezio yang tidak memahami apa yang terjadi di antara kedua orangtuanya, nampak acuh dan juga tidak peduli. Dia terus memijat kaki ibunya dengan bibir mungil menyanyikan lagu twinkle-twinkle little star.


...*****...

__ADS_1


...Terimakasih banyak untuk dukungan teman-teman semua... sehat selalu ya......


__ADS_2