Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Tidak Waras


__ADS_3

Edward mengusap kasar wajahnya dan menarik tangan Dokter tersebut. Terimakasih Dok, terimakasih. Maafkan atas kekasaran saya. Saya hanya terlalu takut kehilangan papa untuk selamanya."


Dokter tersebut mengangguk dan menepuk-nepuk pundak Edward. "Terimakasih kembali, Tuan. Tidak apa-apa, saya bisa memahaminya. Lagi pula saya sudah biasa mendapat respon seperti ini dari keluarga pasien. Saya pamit undur diri, karena masih banyak yang harus saya tangani."


Edward membungkukkan badannya dan mengucapkan terimakasih untuk kedua kali. Dia mendekat ke arah jendela dan menatap nanar sang ayah yang terbaring lemah dengan alat bantu pernapasan di mulutnya.


Rona mengelus- elus bahu Edward. "Papa sudah selamat sayang... kita hanya perlu lebih bersabar. Menunggunya untuk sadarkan diri dan kembali ke tengah-tengah pelukan kita."


Mata melirik, seyuman tersimpul dari bibir yang menguncup. "Aku tidak salah sudah memilihmu Rona. Kamu memang wanita yang baik. Untung saja aku tidak terlambat menyadari semua. Kalau saja dulu aku mengikuti ego, aku pasti kehilanganmu untuk selamanya.


"Kita sama-sama beruntung, Edward... kamu juga pria yang baik. Meski terkadang menyebalkan!"


Edward menarik alis ke atas. "Jadi yang benar itu aku ini pria baik atau menyebalkan? Jangan plin-plan sayang...."


Rona terkekeh, "Sudah ah! Nanti kita lanjutkan pembahasan ini di rumah. Lebih baik sekarang kita menemui Leona, mengecek bagaimana kondisinya."


"Ah... iya-iya. Aku bahkan melupakan adikku sendiri. Terimakasih sudah mengingatkanku, sayang."


"Sama-sama, sayang. Yuk sebaiknya kita bergegas, keburu jam besuk habis!" ajak Rona sembari menggapit tangan Edward dengan erat.


...***...


Cinta memang penuh misteri, dia datang dan pergi sesuka hati. Hadir tiba-tiba lalu menghilang dari dalam raga. Saat cinta menyapa, hati berbunga. Namun ketika cinta pergi, separuh jiwa ikut melayang.


"Sumpah makanan ini tidak enak Kak... Leona tidak mau makan ini. Leona mau makan pasta dengan saus cabai yang banyak," rengek Leona seperti anak kecil. Dia mendorong sendok yang berisikan makanan lembek seraya mengatup mulutnya rapat-rapat.


Roland mendengus. "Ini Rumah Sakit, bukan street food. Leonaku sayang...."


"Jangan memangilku dengan sebutan sayang, aku tidak suka Kak. Itu seakan Kakak memberiku harapan kosong. Mulut berkata sayang, tapi isi hati tidak ada yang tahu," ketus Leona yang kembali cemberut.

__ADS_1


Roland menarik kepala istrinya ke dalam dada. "Dengarkan detak jantungku sayang... dan rasakan debarannya. Kamu akan menemukan semua jawaban dari tiap pertanyaan di benakmu."


"Ehm...!" Suara dehaman mengganggu momen manis pengantin baru.


"Kak Edward..." pekik Leona antusias. Dia hendak turun dari atas ranjang, namun Roland menahan tubuhnya.


"Kamu itu masih sakit Leona. Biar Kakakmu yang menyebalkan itu datang menghampiri," pungkas Roland memegang pundak istrinya.


Edward memasang wajah bahagia, berjalan ke arah Leona. Sedangkan Rona dia hanya berdiri di depan pintu tidak berani mendekati adik iparnya.


Kedua saudara saling memeluk, saling melepas kesedihan. Tangis mereka cukup mengatakan segalanya. Meski mulut terkunci, tapi hati keduanya berpaut dan berbicara.


"Syukurlah kamu baik-baik saja Leona." Edward menghujani adiknya kecupan. Berulang-ulang kali dia mencium kening dan pucuk kepala Leona. Merebak perasaan yang tidak mampu diungkapkan dengan kata apapun.


Leona melirik ke arah Rona. Rona tersenyum, namun Leona membuang muka. Bukan lantaran benci, namun karena dia malu sudah memperlakukan kakak iparnya dengan tidak baik. Namun dia sungkan untuk mengakui.


"Oh iya Kak, keadaan papa bagaimana? Katanya papa di operasi, lalu bagaimana sekarang? Kenapa Kakak menemui Leona harusnya Kakak menunggu papa saja di sana. Leona tidak apa-apa kok karena ada Kak Roland yang menemani Leona di sini!" cecar Leona dalam satu tarikan napas.


"Tapi apa Kak?"


"Papa koma," ungkap Edward. Sebelum Leona berpikir macam-macam Edward melanjutkan ucapannya. "Tapi hanya sementara, tidak akan lama...."


Leona menggosok matanya, menghapus air mata. "Benarkah itu Kak?"


Edward mengangguk. "Tentu saja benar, lagi pula untuk apa Kakak berbohong!" Edward menarik kedua pundaknya ke atas. Tangan lembut melingkar di sekeliling pinggangnya.


"Syukurlah Kak... Leona sangat takut kehilangan papa karena Leona sudah kehilangan Mom."


"Mom masih hidup sayang..." sahut Roland mengelus puncak kepala Leona. Namun matanya sulit untuk tidak menatap keindahan yang tidak bisa dia raih.

__ADS_1


"Leona tahu Mom masih hidup Kak... tapi Leon sudah menganggap wanita tidak punya hati itu mati!" geram Leona mengingat saat Amber hampir saja merenggut nyawa dirinya juga janinnya.


Edward menggenggam tangan Leona. "Baik buruknya ibumu, dia tetap ibumu. Ibu yang melahirkan, ibu yang membesarkan. Soal kejahatannya, biarkan dia mempertanggungjawabkannya di hadapan Tuhan dan hukum.


...***...


Lantai dingin dan lembab tidak sanggup melunakan hati yang membatu. Deretan tiang besi, mengeraskan hati yang telah keras. Amarah kian tersulut, diri terbakar oleh api dendam dan kebencian. Tinggal menunggu waktu, siapa yang akan hancur dan menjadi abu.


"Keluarkan aku dari sini!!! Ini bukan tempatku. Di sini menjijikkan...!" teriak salah seorang tahanan dari dalam penjara. Wajah yang selalu bersembunyi di balik tebalnya pupur, nampak dipenuhi jerawat. Tubuh yang setiap hari dimanjakan dengan wewangian dan kelembutan, memerah karena bekas garukan. Rambut kusut, raut lusuh.


"Berisik!!!" bentak seorang sipir penjara. "Kalau masih teriak-teriak saja, hukumanmu dipastikan akan bertambah!"


Wanita itu terhenyak, baru saja dua hari berada di tempat nista ini, kehidupannya berubah 180 derajat. Seorang nyonya besar yang bergelimpangan harta kini tengah menunggu nasib ke depannya seperti apa. Bahkan pengacara kepercayaannya pun sudah angkat tangan. Kejahatan yang dia perbuat dengan barang bukti kuat, sudah sulit untuk terlepas dari jeratan hukuman mati atau hukuman seumur hidup.


"Hai baby... bertemu lagi kita." Nath menyeringai, menyepelekan. Amber memelas, mengulurkan tangan menggapai lengan Nath.


"Baby... aku kesepian di sini. Aku butuh kamu. Aku bawa uang banyak, kita bisa sogok mereka. Yang penting hasrat kita terpenuhi," rengek Amber.


Nath mendekatkan jaraknya, wajah pasi miliknya mulai terlihat. "Kita ini sudah mau mati Amber, bisa-bisanya yang ada di otakmu hanya ada kesenangan dunia! Hm... tapi tidak apa-apa boleh juga, kita habiskan waktu menuju detik-detik kematian dengan pesta sek-s."


Amber menarik langkah ke belakang, kata kematian yang meluncur dari mulut kucing jantannya begitu merasuk ke dalam pori-pori tubuh. Dirinya merasa seakan umurnya sudah di ujung tanduk.


Amber terbahak. "Kematian? Kematian hanya untuk menakut-nakuti manusia-manusia naif. Aku sendiri bahkan menantang kematian. Mendekati dan menariknya lalu bermain-main denganya."


Nath menggaruk kepala. "Sepertinya kamu sudah tidak waras Amber. Otakmu geser, sebentar lagi pasti gila!" umpat Nath seraya berjalan karena sipir penjaga menariknya keluar.


Pekikan tawa menggema di dalam sel sempit. Sepertinya yang dikatakan Nath benar, Amber sudah mulai kehilangan akal sehatnya.


...***...

__ADS_1


...Maaf ya hari ini sangat terlambat 🙏🥺...


...Selain karena aktifitas di dunia nyata, ide di kepala sedang tidak bersahabat. Semoga teman-teman semua tidak kecewa....


__ADS_2