
"A-ada apa Dokter mencari saya? Dokter kan bisa memanggil saya melalui telepon?" tanya Brian terkejut lantaran Rona tiba-tiba muncul di ruangannya.
Rona duduk di kursi yang berhadap-hadapan dengan Brian dan memasang wajah tegang. "Mana soft copy semua laporan Rumah Sakit selama beberapa bulan ini? Berikan pada saya!"
Brian kebingungan, dia bertingkah seolah menjadi korban. Tidak tahu menahu mengenai masalah penggelapan dan penggelembungan yang menyeret namanya.
"Saya tegaskan saya tidak tahu apa-apa, Dok! Natalie yang merekayasa itu semua. Buktinya ... dia tiba-tiba menghilang tanpa kabar!" kelit Brian menumpahkan permasalahan pada Natalie.
Rona mendesah pelan, dia menangkup wajahnya menggunakan kedua tangan. "Kalau seperti ini terus, Rumah Sakit pasti kolaps, Brian. Apa yang harus aku pertanggung jawabkan kepada semua orang terutama suamiku?"
Brian beranjak dari atas kursi dan menghampiri Rona. Dia meletakkan kedua tangannya di atas bahu Rona. "Kita hadapi semua sama-sama, Rona! Aku akan membantumu keluar dari kemelut ini. Namun, dengan satu syarat ...."
Rona memutar kepalanya lalu menatap manik mata pria yang berdiri membungkuk di depannya. "Satu syarat, apa itu?"
"Asalkan kamu mau menikah denganku dan bercerai dengan Edward. Maka aku akan menolongmu, membayar semua utang dan menutupi setiap kerugian Rumah Sakit. Bagaimana?" tawar Brian tersenyum smirk.
Rona beranjak dari tempat duduknya lalu berdiri mendekati Brian. "Teruslah bermimpi Brian. Tapi aku tidak akan pernah mengkhianati suamiku. Apa pun yang terjadi!"
Wanita hamil itu memutar tubuhnya dan berjalan menuju keluar ruangan. Akan tetapi, tubuhnya tiba-tiba terhuyung. Dia merasakan pusing yang teramat di kepalanya. Tangannya memegangi kepala yang berdenyut, matanya berkunang-kunang dan tubuhnya roboh hendak terjatuh ke atas lantai. Brian yang menyadari ada sesuatu yang tidak beres lekas-lekas menahan tubuh Rona.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Brian khawatir. Rona menggelengkan kepala, matanya mengerjap lemah. "Biar aku gendong kamu!" Brian mengangkat tubuh Rona untuk membawanya menuju tempat istirahat yang tersembunyi di ruangan itu. Rona mengalungkan kedua lengannya, dia menempelkan sebuah alat pelacak berbentuk lingkaran yang dimasukkan ke dalam kerah jas dokter milik Brian.
"Maaf jadi merepotkan," ucap Rona saat Brian menurunkan tubuhnya di atas ranjang.
"Tidak merepotkan, yang aku lakukan ini adalah hal yang wajar." Brian membalikkan badannya melangkah pergi, Rona menahannya sesaat.
"Mau ke mana? Aku takut di sini sendirian," rajuk Rona seraya menatap ke sekeliling ruang tersembunyi itu.
Brian menyalakan lampu besar, kini kamar gelap tersebut sudah lebih terang. "Aku mau ke ruangan Office Boy, membawakan minuman hangat untukmu. Tunggu sebentar dan beristirahatlah dulu...."
Rona mengangguk lemah lalu merebahkan tubuhnya dan berpura-pura memejamkan mata. Setelah terdengar suara pintu tertutup, Rona bangkit dan mencari sesuatu yang bisa dijadikan barang bukti untuk menyeret Brian ke tiang gantungan.
"Komputer!" Rona menjetikkan jari dan mulai mencari file-file yang mencurigakan lalu memasukkan semua data ke dalam flash disc miliknya. Dia menemukan banyak sekali file yang diformat tersembunyi. Semua dia salin, berharap ada secercah harapan dari data-data tersebut.
Sepuluh menit sudah terlewati. Keringat dingin mulai membasahi tubuh sebab rasa tegang yang menjalar. Rona yakin kalau sebentar lagi pria itu pasti akan kembali. Karena dia sudah lebih dahulu menghitung jarak dan waktu tempuh Brian untuk bisa kembali lagi ke ruangannya.
"Ayo dong cepat...!" keluh Rona geregetan.
Terdengar suara derap langkah. Langkah tersebut semakin mendekat dan bertambah jelas suaranya. Seseorang masuk ke dalam ruangan, matanya melihat ke sekeliling untuk mengecek keadaan dan bibirnya tertarik ke sebelah sudut.
"Dokter Rona... bangun," ucap Brian menepuk-nepuk pipi Rona. Rona belum juga terbangun, Brian seakan mendapat angin segar. Dia merapatkan wajahnya, ingin mencicipi bibir manis yang selalu diimpikan olehnya setiap waktu. Wajahnya semakin merapat, Rona membuka matanya kemudian tiba-tiba bersin. Sontak Brian menjauhkan dirinya dari hadapan Rona.
__ADS_1
"Do-Dokter Brian sedang apa?" Rona menarik tubuhnya lalu duduk dengan tegak.
"Maaf ... tadi saya membangunkan Dokter Rona, tapi tidak bangun juga. Jadi—"
"Jadi apa Dok?" potong Rona tidak ramah.
"Ah tidak apa-apa... tolong lupakan." Brian mengambil secangkir teh hangat di atas meja lalu menyodorkannya ke arah Rona. "Oh iya ini minumlah, untuk meredakan kepalamu yang pusing."
Rona meminum teh tersebut dengan ragu-ragu. Karena dia takut Brian sudah mencampurkan sesuatu ke dalamnya. Kecurigaannya bertambah, saat Brian terus menatapnya dengan senyuman yang sulit untuk diartikan.
"Kenapa melihatku seperti itu?" Rona tidak jadi meneguk minuman tersebut. Dia mengalihkan perhatian Brian dengan sikap ceriwisnya. "Sungguh aku tidak nyaman dengan tatapanmu barusan, Brian..." desis Rona dengan suara yang dibuat mendesahh.
Brian mulai terbawa permainan Rona. Dia memainkan anak rambut dan membelai lembut wajah wanita di depannya. "Memangnya kenapa kalau aku memandangmu dengan cara yang seperti ini?"
Brian kembali menatap Rona dengan dalam. Terdengar suara debaran jantung seiring napas bergemuruh cepat. "Apa yang kamu lihat di mataku sekarang Rona?"
Biji mata Rona bergerak-gerak, dia membalas pertanyaan Brian dengan jawaban menohok tajam. "Di matamu ... aku melihat pengkhianatan, kebohongan dan tipu muslihat, Brian!"
"Benarkan?" tambah Rona lalu tersenyum tipis.
"Salah ... di mataku hanya ada kamu dan kamu," cicit Brian menggoda.
Rona keluar dari ruangan Brian kemudian menutup pintu dengan rapat. Dia mengusap-usap dada seraya menghembuskan napas kasar. Jantungnya saat ini berdebar sangat kencang. Namun, dia berusaha bersikap normal kembali karena di depan pintu, terdapat cctv yang langsung terhubung dengan komputer milik Brian.
...***...
Edward
Bagaimana, apa kalian berhasil menemukan keberadaan wanita itu?
xxx
Sudah, bos
Anak buah saya sudah menemukan titik lokasi di mana wanita itu disekap
Edward
Bagus... saya suka pekerjaanmu!
xxx
__ADS_1
Kapan kita akan melakukan penyergapan, bos?
Edward
Malam ini!
Malam ini kita akan menyerang tempat itu!
xxx
Baik bos, kami akan mempersiapkan persenjataan terlebih dahulu!
Edward
Siapkan dengan matang. Jangan sampai ada yang terlewat!
xxx
Siap bos
"Jadi nanti malam kita bersiap menyerang markas Brian?" James menunggu tidak sabar kabar dari anak buah saudara istrinya tersebut.
"Iya James, kamu tunggu saja di mansion. Biar aku dan anak buahku yang menyelamatkan Natalie dan membereskan mereka semua."
"Tidak! Aku harus ikut Edward. Aku suaminya!" pekik James yang sangat khawatir akan keselamatan Natalie.
"Baiklah... tapi kamu harus bisa menggunakan ini!" Edward menyerahkan satu unit senjata api kepada James. "Kalau tidak sanggup, kamu lebih baik mundur dari sekarang!" tegas Edward.
Tangan James gemetaran karena baru pertama kalinya dia memegang sebuah pistol. Dia mengangkat senjata api tersebut. Namun, terlepas dari genggamannya dan terjatuh menghantam lantai. Edward mendengus kasar lalu mengambil benda yang tergeletak tersebut.
"Mundur dari sekarang atau mau terus maju? Semua keputusan ada di tanganmu!"
...*****...
...Lumayan memutar isi kepala scene kali ini, mudah-mudah tidak GaJe ya 😅...
...Terimakasih untuk semua dukungan teman-teman......
...Berkah selalu ya ......
...Hari Senin kalau yang punya VOTE berlebih, boleh lah sisihkan untuk author remahan ini 🙈...
__ADS_1