
...Sebuah peribahasa mengatakan, "Kerbau dipegang tali hidungnya, manusia dipegang pada katanya", yang artinya adalah setiap janji hendaknya ditepati. Karena kehormatan seseorang terletak pada kemampuan untuk menepati janji....
...*****...
"Usia si kembar sekarang berapa bulan?" tanya dokter pada sepasang suami istri. Ia mengecek kondisi kesehatan ketiganya secara bergantian.
"Tepat tiga bulan hari ini," jawab Rona singkat. Dokter manggut-manggut dan melepas alat yang ia tautkan ke dalam telinga tanpa ada raut kekhawatiran.
"Jadi bagaimana, Dok?" tanya Edward pada dokter yang bekerja di Rumah Sakit milik istrinya. Dia beserta Rona memeriksakan kesehatan Triple A guna mendapatkan surat izin terbang bayi.
"Kondisi bayi kembar anda dalam keadaan sehat dan stabil. Jadi, tentu saja saya akan memberikan surat izin," jawab dokter tersebut melempar senyuman lantas menuliskan identitas Triple A di atas selembar kertas. "Jangan lupa untuk sering-sering memberikan ASI dan memakaikan earmuff untuk meredam suara bising selama penerbangan."
"Baik, Dok ... terima kasih sudah mengingatkan," jawab Edward mewakili.
Rona akhirnya bisa bernapas lega karena Edward telah mengabulkan keinginan terbesarnya selama ini. Rona menggenggam jemari sang suami lalu mengucapkan terima kasih tanpa suara. Edward mengangguk dan menepuk-nepuk punggung tangan wanitanya. "Aku selalu menepati janjiku, bukan?"
Wanita bernetra cokelat menganggukkan kepala. Wajahnya berseri bercahaya, pantulan dari apa yang tersirat di dalam hati. Senyuman mengembang sempurna, dia membayangkan kampung halaman yang berkelebat di pelupuk mata. "Ayah... ibu dan abang Rana, sebentar lagi kita akan berjumpa. Rona sangat rindu... pada kalian."
"Ini Tuan ... surat izinnya sudah selesai." Dokter menyerahkan tiga lembar kertas yang bertanda tangankan dirinya. Rona yang tengah melamun, sontak berdiri lanjut berjingkrak-jingkrak layaknya anak kecil yang mendapatkan lolipop.
Melihat sang istri bertingkah seperti anak-anak, Edward hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dan turut tersenyum babagia. Dia akhirnya bisa melihat kembali keceriaan dari wajah sang pujaan yang sempat meredup jua menghilang.
Setelah selesai urusan mengenai perizinan, mereka membawa Triple A kembali ke mansion untuk menyiapkan segala keperluan selama perjalanan panjang kali ini.
Sementara di belahan bumi yang lain seorang wanita paruh baya tengah menangis sembari menatap potret putri tercinta. Ia sangat merindukan buah hatinya yang telah lama tak pulang dan memberi kabar.
"Kenapa menangis, Bu?" tanya pria berkaca mata. Ia melirik ke arah benda yang dipegang sang istri kemudian menghela napas. "Ibu rindu Rona rupanya..." tambah pria tersebut.
Wanita dengan rambut yang telah memutih, memeluk bingkai berisikan foto lantas mengiyakan perkataan suaminya. "Iya Yah... Ibu rindu sekali pada putri kita. Kapan dia akan pulang?"
"Tidak usah dipikirkan anak kurang ajar itu, Bu!" potong Rana yang tidak sengaja menguping pembicaraan kedua orang tua. "Dia sekarang bagai kacang lupa akan kulitnya. Setelah sukses, mengingkari keluarga dan asal usulnya."
Rudolf melotot, menegur putranya karena tidak menyaring tutur katanya. "Jaga bicaramu, Rana! Bagaimana pun Rona adalah adik kembarmu, adik satu-satunya yang kamu miliki!"
__ADS_1
Ratna mendesah dan beranjak menuju kamar untuk mengurung diri. Dia membanting pintu karena ucapan Rana yang membuat perasaannya sebagai seorang ibu terkoyak. "Nak... pulanglah. Ibu rindu...."
...***...
Mansion keluarga Liam
"Titip salam dan hormat kami untuk kedua orang tuamu ya, Nak..." ucap Richard pada menantu kesayangannya. "Jangan lupa, setelah sampai di sana langsung kabari kami."
"Sejujurnya... Mama berat melepas kalian. Tapi Mama juga tidak bisa menghalangi karena Mama tahu pasti bagaimana perasaan seorang ibu yang sudah lama tidak bertemu putrinya." Maria mendekap hangat tubuh Rona seakan melepas kepergian putrinya sendiri. "Cepatlah pulang, jangan berlama-lama di sana. Mama pasti merindukan kalian, terutama pada cucu-cucu Mama yang menggemaskan."
Rona mengusap-usap punggung Maria. "Doakan perjalanan kami lancar ya, Ma...."
Maria melepas rengkuhan lantas manggut-manggut. "Pasti Nak, pasti. Doa kami akan selalu menyertai kalian, di mana pun dan kapan pun."
"Leona juga mau dong dipeluk," rajuk perempuan beranak satu.
Rona terkekeh dan menggeser kakinya untuk meraih tubuh sang adik seraya berpamitan. "Kami berangkat dulu ya... tolong jaga Mama dan Papa selama kami pergi."
Leona memberi hormat. "Siap Bos, perintah akan saya laksanakan!"
Edward menoyor kepala Roland dengan mulut bersungut-sungut sebab suami adiknya itu masih saja menggoda Rona secara terang-terangan. Leona menanggapi lelucon Roland dengan santai. Karena dia sudah terbiasa dengan sikap jahil suaminya.
Selesai berpamitan, Edward, Rona, Ezio, Triple A dan suster Ola bertolak ke bandara dengan diantar Feliks. Semua penghuni mansion melepas keberangkatan anggota keluarganya dengan senyuman juga untaian doa-doa.
...***...
Setelah menghabiskan waktu kurang lebih tujuh jam, kini keluarga kecil itu berada di tengah-tengah padatnya lalu lintas. Kondisi langka yang mereka alami, yakni terjebak di antara lautan kendaraan bermotor.
"Kotamu ternyata lebih sibuk dibandingkan dengan tempat tinggal kita." Edward melihat-lihat kondisi jalanan ibu kota. "It's so crowded!" kata Edward melihat antrean panjang kendaraan.
Rona memilih untuk memejamkan mata dari pada harus mendengar ocehan Edward yang hanya menambah pening kepala. Karena Ezio dan Triple A pun tidur dengan nyenyak semenjak turun dari pesawat.
Selepas berjibaku dengan deretan kendaraan yang berbeda merk, mobil yang membawa mereka berhenti di depan sebuah bangunan megah. Namun, tak semegah mansion keluarga Liam.
__ADS_1
"Kita sudah sampai, Pak... Bu..." ucap sopir mobil sewaan membangunkan semua orang dari tidurnya.
Rona menggosok kedua mata lalu menatap sendu bangunan yang telah lama dia tinggalkan. Bangunan di mana dia dilahirkan jua dibesarkan sepenuh hati.
Penuh semangat, Rona menarik langkah lebar menuju bangunan yang dia sebut dengan rumah. Rona memijit bel dan seorang pembantu rumah tangga membukakan pintu dengan mata terbelalak kaget.
"Ne-Neng Rona...!" pekik asisten tersebut kemudian berlarian masuk ke dalam rumah seraya memanggil sang majikan. "Nya... Nya...."
"Ada apa Bi? Kenapa teriak-teriak begitu?" tegur Ratna pada wanita tua di hadapannya. Ratna tidak kalah terkejut melihat seseorang di balik punggung Bi Ina. Dia melangkah perlahan menghampiri sosok perempuan yang sangat dirindukan.
"Rona, sayang... apakah ini kamu, Nak?" Ratna meraba-raba wajah putrinya lalu menangis kencang. "Akhirnya kamu pulang, Nak..." isak Ratna merangkum wajah sang buah hati yang telah membawa separuh napas pergi.
"Iya Bu... ini Rona, putri Ibu." Rona menenggelamkan wajahnya di dalam dekapan Ratna mencurahkan segala perasaan yang tertanam di dalam hati. "Rona pulang, Bu... maafkan Rona karena baru sempat menemui Ibu...."
"Ayah?" panggil Rona ketika sepasang netra lembab memindai sesosok pria yang menjadi cinta pertamanya.
Rudolf secepat kilat melangkah lanjut merengkuh kedua tubuh wanita yang amat dia cintai. Dia turut menangis karena merasakan hal yang sama. Rasa rindu, bahagia, haru, sedih dan penuh syukur. Gadis kecil yang dulu sering dibacakan dongeng olehnya, kini bermertamorfosis menjadi kupu-kupu yang sangat cantik.
"Suamimu mana?" tanya Ratna yang teringat kalau putri kesayangannya itu telah memiliki seorang pendamping. Rona terhenyak lalu memanggil Edward yang menunggu di ruang tamu.
Edward masuk ke ruang keluarga berjalan dengan gagah seraya mendorong kereta bayi. Alangkah terkejutnya Rudolf dan Ratna melihat kedua ciptaan Tuhan yang amat sempurna. Mereka kembali menangis seraya menggendong Austin dan juga Axel. Karena Aurora, saat ini di dalam dekapan Ola.
"Ini anak-anakmu, Nak? Kedua bayi kembar ini cucu kami?" tanya Ratna berkaca-kaca.
Rona menggelengkan kepala. "Bukan dua Bu, tapi tiga."
"Ti-tiga?" ulang Ratna. Matanya semakin berkaca-kaca saat gadis muda membawa bayi perempuan dan berjalan menghampirinya. "Yah... kita punya cucu sekaligus tiga!" ucap Ratna mengharu biru. Rudolf tidak menyahut, lantaran dia sibuk mengajak Axel berbicara. Hingga suara anak laki-laki, memecah kebisuan.
"Hai Oma, hai Opa. My name is Ezio ... salam kenal," ucap Ezio yang berdiri di samping Edward.
Rudolf dan Ratna beradu pandang lalu menatap ke arah Rona secara bersamaan seakan meminta jawaban mengenai anak kecil yang bernama Ezio. Rona menjelaskan mengenai asal-usul putra pertamanya itu. Dan mereka ternyata tidak peduli mengenai masa lalu menantunya dan bisa menerima Ezio dengan senang hati. Karena anak itu dengan mudah menarik perhatian sepasang suami istri yang tak lagi muda.
Pada akhirnya, kehidupan kita di masa depan tergantung pada perilaku kita di waktu saat ini. Karena kita akan menuai segala sesuatu yang kita perbuat. Hal baik akan menuai kebaikan, hal buruk akan menuai keburukan.
__ADS_1
...TAMAT...
...*****...