
"Tu- Tuan Richard a- anda di sini?" Kepala Maria berputar mencari keberadaan orang lain, tapi tidak ada siapa pun lagi. "Anda sendirian?" tanya Maria heran.
Richard mengangguk lantas menundukkan kepala serendah-rendahnya. "Bolehkah saya masuk?"
Maria mendorong daun pintu, memberi jalan. "Tentu saja boleh, Tuan. Silakan masuk."
Maria mempersilakan Richard untuk duduk di sofa ruang tamu. Isi pikirannya dipenuhi akan pertanyaan-pertanyaan yang tidak mendapatkan jawaban, karena Richard masih tertunduk lesu, mulutnya bungkam.
"Tuan Richard mau minum apa?" Maria berusaha memecah kebisuan. Richard menarik kepalanya lalu tersenyum.
"Apa saja, asal hangat."
Tanpa bertanya apa pun lagi Maria menarik tubuhnya menuju dapur, dia mengambil cangkir dari dalam kitchen set lalu menuangkan espresso yang dicampur susu seduh.
"Diminum Tuan." Maria meletakkan cangkir yang berisi kopi di atas meja. Richard yang tertarik dengan aroma minuman tersebut, mengangkat kepalanya dengan guratan kebahagiaan terukir di kedua sudut bibir.
"Flat White? Wow... ini minuman kesukaan saya," ungkap Richard yang tanpa pikir panjang langsung mengangkat cangkir di depannya. Dia menghirup aroma kopi yang kental dengan kepala bergulir ke kiri dan ke kanan. Satu seruput dia teguk, matanya membulat sempurna.
"Ini benar-benar enak Maria," puji Richard yang membuat Maria tersanjung. "Kamu mengingatkan akan mendiang istriku, Lesham." Wajah Richard kembali sendu, nampak jelas beban berat yang tengah dia pikul.
"Saya merasa menjadi orang tua yang gagal," lanjut Richard. Dia menyesap kopi, tidak ingin membiarkan minuman itu dingin.
Maria mengangguk-anggukkan kepala, mulai memahami arah pembicaraan pria matang di depannya. "Ada masalah dengan anak-anakmu, Tuan?"
Richard menoleh sekilas lantas menarik kepalanya ke bawah. "Saya bingung bagaimana cara mendamaikan mereka. Edward yang pemarah, sementara menantuku tidak berhenti memberikan perhatiannya pada Rona."
Maria terkekeh memperlihatkan deretan gigi yang masih lengkap. "Sepertinya akan menyenangkan memiliki keluarga yang utuh. Tidak seperti saya yang tinggal di rumah sebesar ini, hanya seorang diri."
__ADS_1
"Ini terdengar seperti menyindir saya yang kurang bersyukur." Richard tertawa renyah, sudut matanya mengerut. "Kamu masih cantik Maria, apa tidak ada keinginan untuk menikah lagi?"
Maria sontak tertawa, di saat seperti ini wajahnya semakin terlihat cantik dan memesona. "Saya sudah tua, Tuan. Kulit pun mulai mengeriput, pria mana yang mau menikahi janda kisut seperti saya?"
"Berhenti memanggilku dengan sebutan Tuan, cukup Richard saja," pinta Richard yang tidak nyaman dengan panggilan tuan.
Maria tersipu, dia merasa seakan muda kembali. Pikirannya berkelana mengenang masa-masa indah dulu sewaktu masih remaja.
"Kita seperti anak muda saja, Richard," kekeh Maria menutup mulut menggunakan telapak tangan. Mungkin ini yang dinamakan masa puber kedua. Masa puber yang muncul kembali ketika usia menginjak setengah abad.
"Saya memang masih muda, bahkan masih kuat untuk memuaskan istri saya. Sayangnya saya tidak punya istri," timpal Richard dengan wajah genitnya.
Tawa Maria menggema, mulutnya terbuka lebar. "Saya semakin paham, kenapa anak lelakimu yang menyebalkan itu sangat nakal. Ternyata memang benar adanya, kalau buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya."
"Kamu menyindirku, Maria?" tanya Richard dengan wajah memerah karena malu. "Tapi kamu benar, karena itu Edward mewarisi ketampanku, papanya."
...***...
Sudah tiga bulan pria yang telah menyakiti seorang wanita, mendekam di dalam penjara. Dia menghabiskan sisa waktu hidupnya dengan kesakitan dan kesendirian. Kehidupan indah yang dia jalani, sedikit demi sedikit Tuhan ambil kembali. Kini dia hidup namun seolah telah mati.
"Sakit... ini saya sakit sekali," keluh seorang pria memegangi area selangkangannya. Dia berguling-guling di atas dipan tipis dengan teriakan yang memilukan.
Fisik yang dia bangga-banggakan selama ini perlahan tergrogoti oleh penyakit yang dia derita. Tidak tahu sudah berapa banyak uang yang dia keluarkan untuk pengobatan, namun hasilnya nihil. Penyakit menular yang menjalar di dalam tubuhnya semakin meluas dan mengganas.
Tubuh atletis yang selalu dia perlihatkan untuk menggoda para wanita, tergantikan dengan tubuh tipis menyisakan tulang dan kulit. Ketampanan sirna, segala miliknya perlahan menghilang, termasuk keluarga. Tidak ada satu pun yang peduli akan nasibnya, dia kini sendiri bertemankan dinding-dinding dingin yang seolah menertawakannya setiap waktu.
"Tuhan... cabut nyawaku saat ini juga. Aku sudah tidak kuat..." teriaknya lagi menahan rasa sakit. Dia mengernyih karena kesulitan menela saliva, minuman yang dia teguk pun hanya membasahi tubuh. Hidupnya sangat tersiksa, dia menderita.
__ADS_1
"Nath..." lirih seorang wanita yang berdiri di balik jeruji. Air mata yang dia tahan, tidak bisa terbendung. Kesedihan berderai begitu saja, membasahi wajah.
Pria yang terbaring lemah di atas kasur, terhenyak karena mendengar suara yang dia kenal tengah memanggilnya. Dia meringsut, menarik selimut lantas menutupi seluruh tubuhnya.
"Kamu apa kabar? Aku dengar kamu sakit?" Claire berjalan mendekat, tubuhnya bergetar.
Nath yang mendengar langkah kaki mendekat, dia berteriak dengan suara sengaunya. "Berhenti di situ, Claire! Jangan dekat-dekat, aku manusia menjijikkan. Aku manusia penyakitan! Lebih baik kamu pergi dari sini sekarang juga!"
"A- aku merindukanmu Nath. Aku merindukan kebersamaan kita, aku merindukan persahabatan kita..." ungkap Claire tulus.
Nath tertawa kencang kemudian membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Dia berjalan menuju deretan tiang besi.
"Persahabatan? Bahkan aku tidak pernah menganggapmu sahabat, Claire. Aku hanya berpura-pura baik untuk mengelabuimu. Aku hanya ingin mendekati sahabatmu, namun kamu terlalu percaya diri bahwa aku mencintaimu." Nath tertawa meremehkan.
"Aku tidak peduli Nath, kamu sampai kapan pun akan tetap di hatiku." Claire berjalan satu langkah, tangan Nath menahannya.
"Berhenti di situ aku bilang! Apa kamu tidak jijik melihat badanku yang kering kerontang dengan bintik-bintik merah sekujur tubuh?" Nath membalikkan tubuhnya memunggungi Claire. "Aku menjijikkan Claire, sangat menjijikkan. Kumohon... pergilah dari sini sekarang juga. Kedatanganmu ke mari hanya menambah rasa malu juga rasa bersalah semakin menukik di dalam hati."
"Aku tidak jijik melihatmu, Nath. Seorang sahabat akan selalu ada bagaimana pun kondisi kita. Lagi pula kenapa aku harus jijik?" sahut Claire membesarkan hati sahabatnya.
"Cih... naif!" cibir Nath. "Kamu tahu kan pintu keluar ada di mana? Saya ingin istirahat, saya lelah." Nath kembali ke atas ranjang dengan berjalan menggunakan bokongnya. Airmata kembali berderai, Claire membalikkan badannya tidak sanggup melihat kondisi Nath yang terlihat memprihatinkan.
Perlu kita pahami, apa pun yang kita perbuat akan selalu ada konsekuensinya. Karena itu pikirkan matang-matang, jangan sampai demi kenikmatan sesaat melupakan penderitaan yang tiada habisnya.
...*****...
...Terimakasih banyak untuk semua dukungannya ya......
__ADS_1
...Mohon maaf kalau ceritanya jadi muter-muter. Ilham benar-benar berselingkuh, susah mencari ide cerita yang pas jadinya. 🙈🙏...