Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Ke Neraka Bersama-sama


__ADS_3

"Apa aku sudah ada di surga?" Amber menatap ke sekeliling ruangan dengan langit-langit dan kain yang membentang berwarna putih. Angan-angannya terusik karena suara berat seseorang.


"Mana mungkin wanita sepertimu masuk surga, Amber? Khayalanmu terlalu jauh!" timpal seorang pria yang duduk di sampingnya.


Amber menolehkan kepala dan mendapati wujud seorang pemuda dengan seulas senyuman sinis di wajahnya.


"Nath...?" Amber memanggil nama pemuda tersebut. Semburat kebahagiaan terbit di raut wajah wanita dengan perban di kepalanya. "Aku merindukanmu, Nath...," Amber meraih tangan bekas kucing peliharaannya lantas menggenggamnya.


"Aku juga merindukanmu, Amber sayang," balas Nath dengan sebuah cumbuan.


Wanita yang telah haus akan belaian, menyambut cumbuan Nath dengan liar hingga napasnya terengah-engah.


"Ternyata aku masih hidup, aku kira sudah mati." Kenang Amber saat dia melukai kepalanya sendiri dengan membenturkan ke atas dinding karena frustasi setelah mengetahui kondisi kesehatannya. Matanya baru menyadari banyak sesuatu yang berubah di tampilan fisik kekasihnya.


"Ka- kamu kurus sekali Nath, badanmu juga banyak bintik merahnya." Amber bergidig ngeri lantas menggosok-gosok bibirnya karena telah berciuman dengan pria pesakitan.


Nath tergelak lalu mencondongkan tubuhnya bertumpu pada sisi ranjang. "Kamu sebentar lagi juga akan mengalami hal yang sama, Amber sayang. Tunggu saja!"


"Tidak... tidak mungkin. Kulitku yang mulus ini tidak akan berakhir menjijikkan sepertimu, Nath. Tidak...!!" teriak Amber tidak menerima keadaan. Padahal dia tahu pasti akan penyakit ganas yang tengah dideritanya. Perlahan namun pasti satu per satu gejalanya pun sudah dia rasakan.


Nath terkekeh lalu menarik tubuhnya dan membungkuk menggapai sesuatu yang tersimpan di atas lantai. Dia kembali duduk tegap sembari memperlihatkan seutas tali tambang.


"Mari kita ke neraka bersama-sama Amber ... bukankah akan menyenangkan kalau kita mati bersama, abadi di dalam api neraka juga tetap bersama-sama?" Ajakan Nath terdengar sangat gila di telinga Amber, wanita itu hanya bisa berteriak dan memekik dengan suara bergetarnya.


"Kamu mati sendirian saja Nath, aku masih ingin hidup. Karena pembalasan dendamku belumlah usai!" sentak Amber hingga kedua bola matanya seolah ingin keluar dari sangkarnya.


Nath menggeleng-gelengkan kepala dengan mulutnya yang tidak berhenti tertawa. "Amber... Amber... nyawa sudah di ujung kerongkongan pun, yang terlintas di otakmu hanya ada dendam."


Nath menunjuk tubuh Amber dari atas kepala hingga ujung kaki lalu melanjutkan perkataannya. "Lihat tubuhmu yang renta itu Amber, sudah tidak berdaya dan lumpuh! Mau dengan cara apa kamu membalaskan dendam?"

__ADS_1


"Tutup mulutmu, Nath! Bukan Amber namanya kalau menyerah begitu saja. Dengarkan itu baik-baik!" geram Amber yang tidak pernah sadar akan perbuatan-perbuatan nistanya.


Nath perlahan berjalan mundur beserta sebuah tali yang melingkar di ketiaknya. Tubuhnya nampak bergetar karena tidak kuat menahan beban tubuh. Dengan susah payah dia menaiki sebuah kursi yang sudah disiapkan sebelumnya. Tangannya gemetar menautkan tali tersebut pada tiang yang melintang dia bawah langit-langit kamar.


"Kamu yakin tidak akan mati bersamaku, Amber?" Nath memasukkan kepalanya ke dalam tali yang sudah diikat dengan bentuk simpulan. Amber yang tidak menyangka kalau pemuda itu bukan sekedar menakut-nakuti, berteriak histeris dengan kedua mata terbuka lebar.


Amber terus berteriak, namun sayang suara paraunya tidak mampu menjangkau pendengaran orang-orang di luar sana. Teriakannya semakin pilu saat Nath mulai mengencangkan ikatan yang bertaut di lehernya.


"No... Nath! Jangan bunuhh diri di hadapanku! Pergi kamu dari sini. Carilah tempat lain, jangan melakukan itu di sini!" Amber terisak namun Nath tidak mengindahkan rengekan kekasih gelapnya.


"Selamat jalan Amber sayang...!" Nath mengeratkan ikatan yang melingkar di ceruk leher. Kursi yang menjadi pijakannya dia tendang hingga membentur lantai. Membuat tubuh Nath tergantung dan lehernya semakin tercekik. Kedua mata Nath terbelalak menahan rasa sakit yang teramat sangat.


"No... Nath. Please... No!!!" Amber tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya menangis dan menjerit. Terlebih saat tubuh Nath mulai mengejang dan pergerakan tangan juga kakinya berhenti. Bola mata Nath tertarik ke atas serta lidahnya menjulur ke luar. Pemuda itu telah menjemput ajalnya.


Tubuh Amber bergetar hebat lantas dia memalingkan wajahnya, sebab tidak sanggup melihat keadaan pria yang sempat menjadi pemuas nafsunya. Cukup lama dia dalam keadaan berdua dengan jasad pemuda yang tergantung, sampai akhirnya seorang dokter lapas masuk ke ruang perawatan untuk mengontrol kondisi pasiennya.


Amber tidak menjawab dia hanya mengangkat jari telunjuknya dan diarahkan pada sesuatu yang menggantung. Dokter khusus penjara itu terperanjat lalu berlari dan berteriak untuk memanggil pertolongan. Tidak perlu menunggu lama, petugas lapas yang lain datang untuk menghampirinya dan menanyakan ada masalah apa hingga dia berteriak menggegerkan seisi lapas.


Semua orang yang datang tidak kalah terkejutnya mendapati Nath yang sudah tak bernyawa lagi. Tiga orang pria menurunkan tali yang menggantung dan melepaskan ikatannya dari leher pemuda tersebut.


"Bawa dia ke ruang jenazah untuk pemeriksaan lebih lanjut!" titah dokter lapas pada tiga orang sipir. Mereka menganggukan kepala lalu membawa Nath ke ruangan dingin yang tidak ada kehidupan.


...***...


"Ini buat kamu, Claire." Feliks menyodorkan gelas berisi minuman beralkohol untuk menghangatkan tubuh. Namun mendadak tangan Claire melemas, sebelum gelas sempat dia genggam, sudah jatuh terlebih dahulu. Gelas itu pecah dan mengenai punggung kaki Claire.


"Aw... ah..." desah Claire lantaran rasa perih di kakinya.


"Astaga Claire, kakimu!" Feliks terkejut lantas mengangkat kaki Claire yang berdarah karena serpihan-serpihan gelas menancap, ke atas kursi. Laki-laki itu dengan sigap mengambil kotak P3K juga wadah dan air hangat.

__ADS_1


"Tahan sedikit, ini pasti sakit." Feliks mencabut perlahan serpihan gelas dan membersihkan darah menggunakan air hangat dengan telaten. Nampak wajah kekasihnya meringis seraya menggigit bibirnya menahan rasa pedih.


"Perasaanku tiba-tiba tidak enak, Feliks. Seperti tengah terjadi sesuatu pada seseorang, tapi entah apa, tidak tahu siapa." Claire termenung, raut gusar nampak jelas di wajahnya.


"Itu hanya perasaanmu saja Claire," balas Feliks yang sedang mengobati luka di atas kaki Claire lalu membalutnya dengan perban.


"Tapi perasaanku benar-benar tidak enak, Feliks." Claire mendengus pelan, membenamkan kepala di celah kedua lututnya.


"Berdoa, Claire. Semoga tidak ada sesuatu yang terjadi padamu, padaku atau pada siapa pun juga." Feliks mengacak-ngacak pucuk kepala kekasihnya lantas mengecupnya. "Semua akan baik-baik saja, Claire. Percayalah...."


Claire mengangkat kepalanya kemudian menggeser posisi duduknya. Dia merapatkan tubuhnya lalu menyandarkan kepala di atas pundak lelakinya. "Terimakasih Feliks... kamu selalu bisa menenangkan perasaanku yang gundah."


"Sama-sama, singa betinaku." Tangan kekar melingkar di bahu wanitanya dengan sedikit meremass. Gemuruh di dalam dada sekuat hati dia tahan. Meski nalurinya sebagai laki-laki mengatakan, bahwa tangannya ingin merayap lebih jauh.


...*****...


...Alhamdulillah sudah di peghujung bulan lagi ternyata. Waktu berlalu dengan sangat cepat. Dan kebetulan ini hari Senin, yang berkenan memberi vote, ditunggu ya...😁🙏...


...Terimakasih Senja ucapkan, semoga teman-teman semua selalu diberkahi, rezekinya melimpah dan dalam lindungan Tuhan....


...Mohon maaf tidak ke screen-shoot semua....





__ADS_1


__ADS_2