Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Rona vs Arabella


__ADS_3

Tidak mudah membangun sebuah rasa percaya, terlebih pada seseorang yang sempat menoreh luka. Begitu pula sebaliknya, akan sulit membuat orang lain yakin, bila sejak awal memberi serpih nestapa. Berkali-kali dibuat melayang. Namun, dengan sekejap terhempas dan dibuat merana. Sebentar bahagia, sebentar berduka.


"Aku mencintaimu Edward, sejak dulu..." ungkap Arabella yang semakin merekatkan pelukan. Dia melihat Rona tengah berjalan, lalu tersenyum licik.


Edward mendorong tubuh Arabella. Namun, gadis itu semakin merapatkan tubuhnya. Edward kembali mendorong gadis yang tengah mendekapnya, tetapi dia menarik tengkuk Edward lalu mencumbunya. Rona membeliak, rahang mengeras dan kepalanya memanas seakan ingin meledak.


"Wah... wah... wah... kalau aku sih malu ya jadi perempuan, tidak diinginkan tapi masih saja mengharapkan!" celetuk Rona yang membuat telinga Bella memerah.


"Kamu tidak tahu ya siapa aku? Aku ini tunangannya Edward!" berang Bella.


"Benarkah?" Rona berjalan mendekati Arabella, lalu menarik lengannya dengan kasar. "Katanya tunangan, tapi mana kok tidak ada cincin yang tersemat di jari manis?" sindir Rona.


Arabella, menarik lengannya dari cekalan Rona. Dia mengayunkan tangan hendak menampar wajah gadis di depannya. Namun, Rona dengan sigap menahan tangan Bella.


"Jangan macam-macam denganku wanita licik!" geram Rona. Dia mencengkeram tangan Bella dengan kuat sehingga pemiliknya meringis kesakitan. Edward tersenyum senang, dia baru kali ini melihat sisi lain dari Rona yang lembut.


Adakalanya kita diam. Namun, ada masanya kita harus melawan dan membela diri. Sebagai wanita di satu sisi harus lembut, tetapi di sisi lain harus memiliki keberanian. Semut pun ketika diinjak, bisa berbalik menyerang dan menggigit.


"Edward... lihat wanita simpananmu, dia menyakitiku!" rengek Bella yang memasang wajah sendu.


"Dia calon istriku Bella, apa kamu lupa?" sergah Edward. Dia mendekati Rona lalu merangkul pundaknya. Wajah Arabella membengis karena kali ini dia sangat tersudut dan dibuat tidak berkutik oleh sepasang kekasih yang tengah dimabuk cinta.


Rona mencampakkan tangan Bella dan gadis itu mendengus. Dia menarik tas tangan yang diletakkan di atas sofa lalu berjalan menuju pintu seraya mengeluarkan ancaman. "Aku pastikan, kalian akan membayar setiap penghinaan dan perlakuan terhadapku hari ini. Siapkan saja diri kalian, akan banyak kejutan yang tengah menanti!"


Bella membuka pintu kemudian menutupnya dengan kencang. Ancamannya bukan sekedar ancaman, dia sudah menyiapkan beberapa rencana untuk menghancurkan hidup Rona dan merebut Edward dari tangannya.


Sementara Edward yang tahu amarah Rona sedang meletup-letup, dia melingkarkan pelukan di pundak Rona. Bibirnya menyentuh pipi sang gadis berharap emosinya reda. Rona memutar leher lalu mendelik dan melepaskan rangkulan Edward dari atas bahu.

__ADS_1


"Mau kemana?" tanya Edward cemas.


"Ke dapur, menyiapkan makan siangmu!" jawab Rona ketus.


Edward terkekeh melihat sikap Rona yang sedang merajuk, sama persis dengan mendiang istrinya ketika marah ataupun kesal.


...***...


Satu piring "Hokkien prawn mee" sudah siap dihidangkan. Edward menatap sajian di atas meja dengan dahi yang mengerut karena dia baru pertama kali melihat makanan yang dimasak oleh Rona.


"Oriental food?" Edward bertanya dengan menatap wajah Rona.


"Yups, ini mie hokkien prawn," balas Rona. "Apa kamu tidak suka?" Rona menggigit bibirnya sembari memainkan jemari menunggu jawaban Edward.


"Aku suka oriental food, tapi makanan yang kamu masak lumayan asing di mataku," ungkap Edward. Dia menarik kursi makan lalu duduk dan meraih piring dengan sangat antusias.


"Ayo duduk!" titah Edward yang melihat Rona masih berdiri mematung.


"A...," Edward menunggu Rona membuka mulutnya. Dia kembali berkata, "A... buka mulutmu sayang, sekarang giliran aku yang memanjakanmu!"


Rona menelan saliva dengan kasar, jangankan untuk membuka mulut yang ada bibirnya semakin tertutup rapat dengan mata yang tak berkedip. Panggilan sayang Edward barusan, getarannya sampai ke ulu hati.


"Ayo Rona, tanganku pegal..." Edward menempelkan garpu ke bibir Rona. Gadis itu melahap makanan yang disodorkan Edward dengan malu-malu.


"Sekarang giliran kamu, aku kan masak ini semua buat kamu. Kalau aku sih gampang, nanti bisa makan siang di kantin Rumah Sakit." Rona menyuapi Edward dan laki-laki itu tertegun. Lalu mengunyah makanan dengan sangat semangat.


"Sumpah, ini enak sekali Rona. Suapi aku lagi! pinta Edward yang langsung membuka mulutnya. Rona tertawa renyah, sejenak dia melupakan ancaman Arabella yang terdengar bukan sekedar menggertak.

__ADS_1


...***...


Jam menunjukkan pukul lima belas, Rona bersiap-siap untuk membersihkan dan merapikan diri karena akan bertolak ke Rumah Sakit. Jarak dari apartemen Edward ke tempatnya bekerja lumayan menyita waktu karena itu dia harus berangkat lebih awal dari biasanya.


Selepas mandi, Rona melilitkan handuk sebatas paha. Dia bersikap acuh karena berpikir kalau Edward masih di ruang keluarga tengah mengecek pekerjaannya. Namun, pikirannya salah pria itu sedang berbaring di atas ranjang dengan posisi tubuh terlentang dan kedua tangan dijadikan alas. Bukan hanya itu yang membuat Rona tertegun, saat ini Edward shirtless. Dada bidang dengan perut berkotak-kotak terpampang jelas, begitu menggiurkan.


"Kenapa hanya dilihat saja, pegang dong!" goda Edward yang menyadari tengah ditatap wanitanya.


Rona mati kutu karena terpergok memandangi tubuh Edward. Padahal bukan kali ini dia melihat pria itu polos tak berbusana. Namun, sekarang Edward sangat menggoda di matanya. Tubuh bugarnya seolah melambai-lambai ke arah Rona meminta untuk diraba dan dibelai.


"A- aku mau memakai baju, bisakah kamu tunggu di luar?" pinta Rona dengan sopan.


"Kenapa? Bukannya kamu sudah beberapa kali melihatku tak berpakaian bahkan telanjangg bulat?" sarkas Edward. Dia sengaja membuat Rona tersipu malu dan salah tingkah karena saat seperti inilah wanitanya terlihat nampak lebih menggemaskan.


"Ya sudah, aku ganti baju di dalam kamar mandi kalau begitu!"


Rona menarik pakaian yang digantung dengan wajah kesal dan bibir mengerucut. Edward terus saja terkekeh menikmati tingkah laku gadisnya yang seperti anak kecil.


"Apa?" tantang Rona. Edward menegakkan tubuhnya dengan mata yang menyorot tajam. Wanita di depannya mengambil langkah seribu. Berjalan setengah berlari lalu masuk ke dalam kamar mandi kemudian menutup dan mengunci pintu dengan rapat.


"Huh ..." Rona membuang napas. "Ya Tuhan... kenapa Edward semakin menggoda?"


"Bahkan tidak pernah terbayangkan sebelumnya, kalau aku bisa sedekat ini dengan seorang hot daddy yang benar-benar hot. Kalau kata orang buy one get one!" racau Rona berbicara sendiri. Sedangkan Edward, dia menahan tawa seraya menempelkan telinga ke daun pintu, menguping perkataan Rona yang terdengar sangat menggelikan.


...*****...


...Lagi manis-manisnya nih kisah Rona dan Edward, tapi ular betina tengah bersiap-siap memberikan serangan. Kita doakan semua rencananya GATOT alias gagal total.......

__ADS_1


...Tidak akan pernah bosan mengucapkan terimakasih untuk semua dukungan, semangat dan doa dari teman-teman semua. Tanpamu apa jadinya aku.......


...Selamat istirahat dan merengkuh mimpi....


__ADS_2