Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Resepsi Pernikahan


__ADS_3

Di sebuah ballroom hotel yang sangat mewah. Saat ini pasangan yang tengah berbahagia, menyelenggarakan acara resepsi pernikahan mereka. Pernikahan yang tidak kalah glamor, meski hanya mengundang orang-orang terdekat, keluarga dan relasi bisnis saja.


Para tamu undangan mulai berdatangan dengan pakaian-pakaian serba mahal. Disempurnakan oleh wajah yang dirias secantik mungkin dan penampilan segagah mungkin. Mereka nampak turut tenggelam dalam euforia kebahagiaan pasangan yang tengah memadu kasih.


"Wah, wah, wah... anda memang luar biasa Richard," celoteh Benjamin memuji sahabatnya seraya menyelipkan sesuatu ketika berjabatan tangan.


"Apa ini?" tanya Richard seraya membolak-balikkan bungkusan berwarna hitam pemberian Benjamin.


Benjamin mendekat, lantas membisikkan sesuatu ke telinga Richard. "Itu obat kuat ... khusus aku belikan dari negara seberang. Dijamin tahan lama."


Richard sontak saja meninju pangkal lengan sahabatnya itu, sembari tertawa lebar. "Dasar kawan gila!"


Maria bersitatap dengan Alin lalu hanya saling melempar senyuman. Karena keduanya tidak mengenal satu sama lain.


"Hai Tante... perkenalkan aku Arabella. Teman dekatnya Edward," ucap gadis berambut pirang mengulurkan tangan. "Ini untuk Tante ... happy wedding ya Tan, long lasting!" Arabella menyodorkan sebuah bingkisan kecil berwarna merah muda kepada Maria


"Terimakasih ya Nak..." ucap Maria pada gadis yang baru pertama kali ditemuinya.


Arabella mengangguk, lantas menuruni tangga pelaminan dan menghampiri Edward serta Rona untuk turut bergabung bersama mereka. Edward melihat ke arah Arabella dengan raut tidak suka. Sedangkan Rona berusaha bersikap seramah mungkin pada tamu papa mertuanya itu.


"Hai Rona..." sapa Arabella canggung.


"Hai juga Arabella," balas Rona seolah tidak ada pernah ada masalah di antara mereka. "Bagaimana kehamilanmu, sehat-sehat saja?" tanya Rona menatap ke arah perut Arabella yang kian membesar.


"Seperti yang kamu lihat! Kalau perkiraan dokter sekitar dua minggu lagi aku akan melahirkan," jawab Arabella santai.


"Semoga persalinanmu lancar, Arabella..." ujar Rona mendoakan.

__ADS_1


"Amin... terimakasih. Doa yang sama untukmu juga," sahut Arabella seraya cingak-cinguk mencari seseorang. "By the way ... kak Roland di mana ya? Aku tidak melihatnya dari tadi?" tanya Arabella dengan kepala bergulir ke sana ke mari.


"Oh... kakakmu sedang mengantarkan Leona ke kamarnya. Katanya ada sesuatu yang ketinggalan," jawab Rona pada Arabella.


"Aku tidak menyangka kalau kakakku bisa sebucin itu pada gadis seperti Leona," ujar Arabella meraih gelas berisikan wine dari nampan seorang pelayan. "Ya sudah, lanjutkan obrolan kalian. Aku mau mencari mangsa, siapa tahu bisa bertemu dengan hot daddy seperti Edward!" Arabella melangkah pergi seraya mencolek dagu Edward dan mengerdipkan mata genit ke arah pria beristri di sampingnya.


Edward hanya mengerdikkan pundak sedangkan Rona terkekeh melihat raut wajah Edward yang terlihat seakan dilecehkan oleh seorang wanita. "Kamu kenapa Edward?"


Edward mendelikkan mata dan melengos disertai dengan suara decakan kesal. "Pikir saja sendiri!"


"Dih... begitu saja marah!" sahut Rona. "Twins... semoga sifat jelek daddy tidak menurun pada kalian ya." Rona berbicara sendiri dengan suara yang dibuat sekeras mungkin, seraya mengerling ke arah suaminya.


Edward mendengus hendak membalas perkataan sang istri. Namun, Ezio menarik-narik ujung jasnya karena dia ketakutan lantaran lampu kristal dimatikan, digantikan oleh lampu-lampu kecil dengan sinar yang temaram. Suara musik romantis mulai dimainkan. Kedua pengantin baru kini berdiri di atas lantai dansa, saling melempar senyuman dan juga tatapan hangat.


Richard merentangkan tangan kanan ke samping seraya menggenggam jemari Maria. Tangan satunya dia lingkarkan ke pinggang sang istri. Sementara Maria, dia meletakkan tangan yang satunya ke atas dada suaminya. Tubuh mereka mengayun mengikuti irama nada yang lembut. Bergerak dengan perlahan dan penuh penghayatan. Richard menarik lengan Maria ke atas, wanita paruh baya itu berputar kemudian tertawa riang.


"Aku tidak kalah bahagia Richard. Aku seakan menemukan kehidupan yang baru serta keluarga yang saat ini kembali utuh. Suami, dua putri, dua orang putra dan cucu-cucu yang pastinya akan menggemaskan," balas Maria mengalungkan lengan ke leher suaminya.


Richard menarik pinggang Maria, untuk lebih merapat ke tubuhnya. Senyuman tersungging, dia memiringkan wajah lantas mengecup bibir wanitanya itu. Lampu pijar menyoroti ciuman mesra keduanya. Semua orang bertepuk tangan seraya memekikkan suka cita. Lantaran ciuman keduanya tak kalah panas dan tidak kalah intens disandingkan dengan pengantin baru yang usianya jauh di bawah mereka.


Usia boleh matang. Namun, gairah jiwa muda tidaklah terpantang. Tidak ada sekat untuk mereka mengungkapkan isi hati juga rasa cinta satu sama lain.


"Aku mencintaimu, Maria Elea. Sekarang dan sampai kapan pun, aku akan tetap mencintaimu..." ungkap Richard lantas mengecup punggung tangan istrinya.


"Aku juga mencintaimu Richard... meski maut memisahkan kita. Rasa cinta untukmu akan terus tertanam di dalam hatiku," balas Maria menatap ke arah Richard dengan segenap perasaannya.


Ketika mereka asyik berdansa dan saling melontarkan pujian serta ungkapan-ungkapan cinta. Di luar ballroom tengah terjadi keributan besar. Karena dua orang penyusup menerobos masuk dan berhasil melewati pihak keamanan hotel yang berjumlah lima orang. Salah seorang dari mereka menodongkan senjata api. Menjadikan para security tidak berani melawan ataupun menghadang langkah mereka.

__ADS_1


Tidak ada satu pun orang yang menyadari kedatangan mereka. Seorang pria dan seorang wanita yang duduk di atas kursi roda seraya memegang senjata pembunuh di tangannya.


"Mana targetmu Amber?" tanya seorang pria yang membantu Amber keluar dari penjara dan berhasil membawa wanita tua itu ke tempat acara pernikahan mantan suaminya.


Amber menunjuk ke arah pria yang tengah berdansa dan pria yang sedang menggendong anak kecil. "Mereka berdua, mantan suamiku dan anak tiriku. Akan menyenangkan bukan, kalau esok atau lusa aku mati dan mereka berdiri menyambutku di gerbang neraka?!"


"Terserah kamu saja Amber. Aku hanya sekedar membantumu membalaskan dendam pada orang-orang yang sudah berlaku tidak adil terhadapmu," geram pria tersebut turut menatap nanar ke arah pria yang menjadi target Amber.


Amber membidikkan pistolnya ke arah Edward karena dia menjadi target pertama misi balas dendam malam ini. Dia menarik pelatuk, sebuah tembakan diluncurkan. Semua orang berteriak histeris lalu menghamburkan diri dari dalam gedung.


Rona yang melihat orang yang tercintanya tertembak, dia memekik nyaring lantas meraung memanggil nama orang yang disayangi bersimbah darah dan memejamkan mata tidak sadarkan diri.


Amber menarik trigger senjata api dan diarahkan pada pria tua yang tengah berdiri pasrah menatap kosong ke arahnya. Mulut berbisanya meneriakkan sumpah serapah yang ditujukan pada mantan suaminya itu. "Mati kamu Richard...!!!"


Suara teriakan menahan rasa sakit kembali terdengar dan amat memilukan. Namun, suara mengenaskan itu bukan dari arah Richard. Melainkan dari wanita iblis karena satu peluru bersarang di atas dadanya. Sebelum Amber kehilangan kesadaran, dia menoleh ke arah orang yang telah menembaknya. Nampak seorang wanita hamil sedang memegang pistol dengan tangan yang bergetar hebat.


"Leo-na... ka-mu! Da-sar a-nak dur-ha-ka...," Amber terlengar. Terlihat denyut nadinya berhenti seketika. Pria yang membantunya berusaha melarikan diri. Akan tetapi, para petugas keamanan sigap meringkus pria yang berperawakan tinggi tersebut dan mengikat tangannya menggunakan seutas tali.


Sementara itu...


"Edward... kenapa lama sekali?" raung Rona mendekap tubuh lemah Ezio. Dia merobekkan gaunnya lalu menggunakan kain tersebut untuk menghentikkan laju darah yang terus mengalir dari luka tembak di dada sebelah kanan atas.


"Bertahanlah sayang... Mommy mohon ..." Rona memangku tubuh mungil Ezio dan membawanya ke arah parkiran mobil. Nampak Edward berlarian dengan tangan yang berulang kali menyeka air mata.


"Kita harus cepat membawa Ezio ke Rumah Sakit. Kalau tidak, nyawa anak kita tidak akan tertolong," jerit Rona ketakutan. Edward bergerak cepat berlari ke arah mobil untuk menyalakan mesinnya. Secepat kilat dia melajukan kendaraan. Melesat membelah jalanan, dengan kecepatan maksimal.


...*****...

__ADS_1


...Terimakasih untuk teman-teman pembaca semua. Semoga selalu dalam keadaan sehat dan dalam lindungan-Nya....


__ADS_2