
Tampak sebuah mobil mewah nampak berhenti di sebuah gedung tua. Tidak berselang lama seorang pria keluar dari kendaraan tersebut dengan langkah sempoyongan. Dia melihat ke sekitarnya untuk memastikan bahwa dia dalam kondisi aman. Dia tidak tahu saja ada seseorang yang mengintai, memperhatikan gerak-geriknya.
Tanpa pikir panjang pria yang terlihat tengah mabuk berat itu memasuki gudang yang sudah lama ditinggalkan. Gudang dengan pencahayaan yang redup disertai ilalang tinggi di sekeliling bangunan tua tersebut.
Pria itu menyeret kakinya sembari memegangi satu botol minuman. Gelak tawa menggelegar, saat dia melihat tubuh seorang wanita terikat di atas kursi dalam keadaan tertidur. Dia menyibakkan geraian rambut yang menutupi paras wanita tersebut. Bibirnya menyeringai kejam, dia membalikkan posisi botol minuman, membuat isinya tumpah membasahi tubuh si wanita.
"Bangun Natalie!!!" bentak pria yang berdiri dengan tubuh gelayaran.
Natalie yang masih dalam kondisi setengah sadar, mengerjap-ngerjapkan kelopak mata. Dia mencari celah cahaya untuk melihat siapa yang sudah menganggu waktu tidurnya.
"Siapa kamu?" tanya Natalie. Karena suasana ruangan yang remang-remang, dia tidak bisa melihat wajah pria di hadapannya dengan jelas.
Pria itu berjalan mendekat dan kini dia berada di belakang punggung perempuan yang tengah dia sekap. Bibirnya terbuka, dia menghembuskan napas dengan bau alkohol yang menguar kuat.
Tubuh Natalie merinding lantaran dia mencium gelagat yang tidak mengenakan dari pria di belakangnya.
"Siapa kamu?" ulang Natalie menggerak-gerakkan tubuhnya. "Kamu sedang mabuk, jangan dekat-dekat denganku!" teriak Natalie cemas. Karena dia tahu pria tersebut sedang mabuk berat, maka keselamatannya kini terancam.
"Aku hanya membutuhkan bibir ranummu itu Natalie. Untuk meredakan rasa panas yang meraung di dalam dadaku ini!" Pria itu menggigit telinga Natalie, wanita itu menjerit.
"Brian...!"
"Kenapa honey?" Brian berjalan memutar dan kini berdiri di depan Natalie. Dia membungkukkan badan, merapatkan wajahnya seraya tersenyum senang. "Iya ini aku, Brian. Do you miss me?" Brian melumatt bibir Natalie, Natalie membalas dengan menggigitnya.
Brian mengusap bibirnya lalu meludah, membuang darah yang berasal dari luka gigitan. Tangannya menarik kencang rambut Natalie ke belakang, suara berat terdengar semakin menakutkan.
"Jangan macam-macam denganku, Natalie! Aku bisa saja melemparmu ke liang lahat saat ini juga!" geram Brian murka. Satu pukulan melayang ke atas pipi Natalie, Brian kembali mengancam. "Bersikap baiklah atau aku akan menyuruh anjing-anjingku bergiliran memakan tubuh indahmu itu!" tunjuk Brian ke seluruh tubuh Natalie.
__ADS_1
Natalie bergidig membayangkan bila pria-pria dengan tubuh besar tersebut menyetubuhi dirinya. Sudah dipastikan dia akan mati saat itu juga. "Oke... aku akan bersikap baik. Tapi tolong jangan sakiti aku...."
"Nah... begitu cantik. Itu baru peliharaanku!" Brian membuka zip celananya lalu memaksa Natalie untuk memuaskan dirinya menggunakan mulutnya. Mau tidak mau, wanita bersuami itu menuruti kehendak pria bejat yang sudah tidak memiliki akal waras.
Di saat seperti ini, Natalie tiba-tiba menangis. Dia merindukan suaminya. Meski James kurang bisa menuntaskan hasrat biologisnya. Namun, pria itu tidak pernah melakukan hal buruk terhadapnya seperti yang Brian lakukan.
"James... tolong aku. Keluarkan aku dari sini..." lirih Natalie di dalam hatinya.
...***...
Pagi ini tidak seperti biasanya selepas jam sarapan pagi, Roland meminta waktu untuk berbincang dengan sang kakak ipar. Wajah raut serius, menandakan ada sesuatu penting yang akan dibicarakan olehnya.
"Kamu ingat Brian sahabat kita semasa di high school?" tanya Roland pada Edward.
Edward mengernyit karena dia bukan hanya ingat. Tapi laki-laki itu bekerja di Rumah Sakit milik istrinya. "Iya tentu saja aku ingat. Kenapa memangnya dengan dia?"
Edward turut mendengus karena dia sama-sama memiliki masalah dengan pria yang sama. "Brian bekerja di Rumah Sakit milik Rona. Dan kini Rumah Sakit mengalami kerugian besar. Istriku mencurigai Brian sebagai pelaku penggelapan!"
"Jadi kita menghadapi musuh yang sama?" Roland mengerling lalu meraih lintingan nikotin yang disodorkan Edward. "Kalau begitu kenapa kita tidak bekerja sama saja?" tawar Roland pada kakak iparnya.
Edward menyesap sebatang rokok dan mengepulkan asapnya ke udara. "Tentu saja kita harus bekerja sama, Roland. Brian tidak bisa kita anggap remeh!"
Percakapan kedua pria matang itu tertunda karena kedatangan seseorang tanpa diduga-diduga.
"Sudah tiga hari istriku menghilang. Aku sudah mencarinya ke mana-mana, tapi nihil," ucap seseorang yang tiba-tiba muncul.
"James?" pekik Edward terkejut. "Apa kabar?" Edward memeluk suami sepupunya itu seraya menepuk-nepuk punggungnya.
__ADS_1
"Kabarku tidak baik-baik saja. Natalie menghilang!" James menundukkan kepala seraya mengatur napas. "Terakhir bertemu, aku terlibat adu mulut dengan Natalie. Malamnya aku tidak pulang ke apartemen dan esoknya Natalie pergi. Aku pikir dia marah dan pergi ke rumah om Liam. Tapi sepertinya aku tidak mencium keberadaan istriku di sini," ungkap James panjang lebar.
Edward membuang potongan rokok lantas berjalan beberapa langkah mendekati suami sepupunya. "Inilah yang menjadi beban pikiranku. Istriku bilang, Natalie sudah dua hari cuti bekerja. Dan di Rumah Sakit saat ini terjadi masalah besar yang menyeret nama istrimu itu!"
"Apa maksudmu, Edward? Apa hubungannya dengan Natalie?" tanya James tidak mengerti.
Edward tidak langsung menjawab, dia membiarkan James memahami perkataannya terlebih dahulu. Setelah beberapa menit, barulah Edward melanjutkan paparannya. "Istriku mencurigai Natalie membantu pimpinan Rumah Sakit, menggelembungkan laporan keuangan. Banyak pengeluaran fiktif dan nominal harga yang dinaikkan 5 kali lipat."
"Jadi maksudmu hilangnya Natalie, ada sangkut pautnya dengan...," James tidak melanjutkan perkataannya. Dia berteriak kencang seraya mengusap kasar wajahnya berkali-kali. "Apa istriku memiliki affair dengan bedebah itu?" tanya James putus asa.
Edward menggelengkan kepala dan menepuk-nepuk pundak James perlahan. "Dia tidak mengkhianatimu, James. Aku yakin itu! Sekarang lebih baik kita atur strategi, untuk mengungkap kejahatan Brian dan juga mencari keberadaan Natalie!"
"Aku akan mengerahkan orang-orang suruhanku!" sela Roland yang menyimak obrolan Edward dan James. Aku juga punya urusan dengan pria sialan itu. Jadi biarkan aku membantu kalian!" Roland mengulurkan kepalan tangan, dua pria di hadapannya turut mengepalkan tangan lalu dibenturkan secara bersamaan.
"Sekarang, berikan aku saran ide untuk mengelabui dan menjebak Brian. Laki-laki itu pintar berkelit, kita tidak boleh kalah pintar!" Edward melihat ke arah Roland kemudian ke arah James. Terlihat kedua pria itu tengah berpikir dalam.
"Coba aku tebak, Brian memperlihatkan ketertarikan pada istrimu?" tanya Roland yakin.
Edward mengangguk pelan, kedua alisnya saling bertautan. "Iya sepertinya begitu!"
Roland menjetikkan jari, bola matanya berbinar. Dia mulai menyampaikan ide yang muncul di otaknya begitu saja. "Kalau begitu kita harus mengajak Rona berdiskusi. Karena ideku ini tidak akan berhasil tanpa kerja sama dari istrimu!"
Mata Edward membola saat Roland mengungkapkan ide yang dimaksud. "Gila kamu Roland! Tidak-tidak... aku tidak akan menjadikan Rona sebagai umpan. Terlebih dia saat ini sedang hamil. Kalau terjadi sesuatu bagaimana?"
"Ada apa namaku disebut-sebut?" sela Rona yang tidak sengaja mendengar obrolan serius ke tiga pria matang.
...*****...
__ADS_1
...Mohon maaf hari Minggu, Ilham kencan terus. Hilang dari kepala, jadi maafkan kalau ceritanya bias-bias kasih ya... 😁🙏...