
"Daddy..." panggil seorang anak laki-laki yang terbaring di atas ranjang. Dia tersenyum kecil pada sesosok pria dewasa yang berdiri di depannya.
"E-Ezio sudah bangun, Nak?" Edward membungkuk lantas memeluk tubuh ringkih putra sulungnya. Air mata tak kuasa dia tahan, berderai begitu saja. "Ini benar-benar karunia Tuhan, anakku selamat dan sekarang sudah siuman." Edward menatap ke arah langit-langit kamar dengan kedua tangan menangkup di depan bibirnya.
Ezio menatap bingung karena untuk pertama kalinya melihat sang ayah menangis di depan matanya.
"Kenapa Daddy menangis? Ezio nakal ya, Daddy?" lirih anak kecil yang merasakan lemah di seluruh tubuhnya. "Dada Ezio sakit sekali, Daddy... rasanya seperti ditusuk-tusuk," keluh Ezio lantaran rasa sakit di dada sebelah kanannya.
"Yang sakit sebelah mana, Nak? Daddy panggilkan dokter ya?" Edward membalikkan badan hendak melangkah. Namun, suara parau Ezio menahannya.
"Tidak usah Daddy... Daddy di sini saja menemani Ezio. Ezio takut... semalam Ezio bermimpi didatangi om berpakaian hitam-hitam. Katanya mau membawa Ezio pergi jauh dari Daddy. Tapi untungnya Mommy datang untuk menolong Ezio," cerocos Ezio yang diakhiri dengan terbatuk-batuk.
"Jangan dulu banyak bicara Nak... Ezio kan masih sakit." Edward mengusap-usap puncak kepala sang anak dengan tatapan kasih sayang. Dia turut membayangkan ketakutan Ezio lantaran sosok pria yang berpakaian hitam sebagai perwujudan malaikat maut.
Kepala Ezio bergulir ke kiri lalu beralih ke kanan. Bola matanya nampak mencari keberadaan seseorang. "Mommy mana, Dad?"
"Mommy sedang ke kantin, sayang. Adik-adik Ezio sudah kelaparan," jawab Edward disertai bibir yang melengkung ke atas.
"Kapan adik-adik Ezio lahir Dad? Ezio sudah tidak sabar rasanya," imbuh Ezio pada ayahnya.
Percakapan antara ayah dan anak itu terputus karena kedatangan Richard ke dalam ruang perawatan. Ezio terlihat sangat bahagia melihat kehadiran Richard di hadapannya.
"Opa Richard?" panggil Ezio pada pria tua yang warna rambutnya mulai memutih.
"Iya Nak... ini Opa Richard. Bagaimana keadaan Ezio?" Richard menghampiri cucunya dan berdiri tepat di samping Ezio.
"Ezio baik-baik saja Opa. Ezio kan anak hebat!" seloroh Ezio membuat Richard dan Edward tergelak. "Oh iya... oma Maria mana Opa? Ezio ingin bertemu dengan oma ... Ezio rindu," celoteh Ezio menggemaskan.
"Tuh oma Maria, Nak..." tunjuk Richard ke arah jendela yang berada di samping pintu. Terlihat seorang wanita cantik tengah menatap ke arah Ezio sambil melambaikan tangannya. "Nanti oma Maria masuk bergiliran dengan Opa."
"Kalau begitu, Edward saja yang keluar. Biar Maria bisa masuk ke dalam kamar untuk menemui cucunya." Edward menarik langkah keluar kamar menyisakan tanda tanya di benak Richard.
__ADS_1
"Anak ini kenapa lagi, kenapa tiba-tiba memanggil Maria hanya dengan sebutan nama?" batin Richard bingung.
Edward keluar dari kamar dan bersinggungan dengan Maria. Wajah Maria yang mirip dengan Marissa, membuat Edward tidak ingin melihat ke arah wanita itu. Hatinya masih sangat terluka akan kenyataan yang dia ketahui baru-baru ini.
"Mama boleh masuk, Nak?" Maria bertanya dengan lembut.
"Hm..." sahut Edward malas.
Maria berjalan menuju pintu ruang perawatan Ezio. Berkali-kali dia menolehkan kepala ke arah putra sambungnya. Saat ini hatinya sontak diliputi kebimbangan atas sikap Edward yang berubah dingin terhadapnya.
"Apa Edward marah kepadaku?"
Maria tidak ingin berpikir terlalu keras, dia masuk ke dalam kamar lekas-lekas menemui cucu tersayangnya.
"Hallo jagoan Oma... sudah bangun rupanya," sapa Maria pada Ezio.
"Sudah Oma... Ezio takut kalau harus merem terus. Gelap!" seru Ezio dengat raut yang lucu.
"Namanya juga merem, ya gelap lah sayang." Maria mencubit hidung cucunya gemas. Maria tertawa renyah meski dalam hatinya terus bertanya mengenai perubahan sikap putra sambungnya.
"Ayo makan yang banyak Rona!" Claire memaksa Rona untuk menghabiskan makanannya.
"Sungguh, aku sudah kenyang Claire!" rengek Rona menutup mulutnya seperti anak kecil. Dia dipaksa untuk menghabiskan dua mangkuk soup dengan lima lembar roti tawar. "Bisa-bisa nanti perutku meletus!" canda Rona membuat Claire terpingkal.
"Kamu kira perutmu itu balon, bisa meletus?" sahut Claire seraya tertawa. Selorohan Rona mampu menaikkan selera humornya yang sempat hilang.
Rona mengerling dan menarik kedua pundaknya ke atas. "Menurutmu?"
"Jangan jutek-jutek, wajahmu jadi terlihat seperti nenek sihir!" balas Claire konyol.
Ketika keduanya sedang asyik bercengkerama dan tertawa, tiba-tiba mereka dibuat terbungkam oleh kedatangan dua sosok yang paling tidak ingin mereka temui.
__ADS_1
"Boleh kami duduk di sini?" pinta seorang wanita yang memiliki bola mata hazel seraya memegangi sandaran kursi yang kosong.
Rona mendongak sekilas lalu melengos malas. "Ya, silakan. Duduklah!"
Wanita itu duduk bersamaan dengan laki-laki di sampingnya kemudian menatap ke arah Rona yang memalingkan muka. Mereka bersitatap seakan berbicara sesuatu melalui mata mereka.
"Rona..." panggil wanita itu lembut.
"Ini kok roman-romannya ada setan lewat ya, bulu kudukku merinding!" sarkas Claire yang sama-sama mengacuhkan wanita tersebut.
"Ada yang ingin kami bicarakan," ungkap si lelaki membantu memulai percakapan. "Ini mengenai Ezio," tambahnya membuat Rona terperangah dan terpaksa melihat ke arah dua orang di hadapannya.
"Ada apa kalian menyebut nama putra saya? Saya pikir tidak ada hubungannya dengan kalian!" seru Rona tidak ramah.
Wanita itu tertunduk seraya memainkan jari tangannya dan si lelaki nampak berpikir untuk mencari jawaban yang tepat.
"Ezio adalah anak kandungku, Rona. Kamu tahu kan?" tanya si lelaki hati-hati. Dia melihat ke arah Rona melihat bagaimana reaksi wanita di depannya.
Rona berdiri dan mengacungkan jari telunjuknya ke arah dua orang yang duduk di depannya. "Jadi maksud kalian apa?" berang Rona. "Kenapa kalian membahas Ezio? Kalian tidak ada urusannya dengan anak saya!"
Claire mengusap-usap punggung sahabatnya, menenangkan emosi yang mulai tersulut. "Tenang Rona... ingat kehamilanmu. Menghadapi dua setan ini harus dengan kepala dingin."
"Maafkan aku Rona... maaf untuk semua kesalahanku selama ini. Aku sudah menuai karmanya. Aku keguguran dan dokter menyatakan aku tidak bisa memiliki keturunan lagi," ungkap wanita itu dengan suara lirih dan penuh penyesalan.
"Lantas apa masalahnya dengan saya dan Ezio? Tidak ada, kan?" geram Rona. "Lebih baik kalian pergi dari sini, kedatangan kalian tidak dibutuhkan!" Rona memilih pergi meninggalkan dua orang tersebut dan kembali ke ruangan di mana Ezio dirawat.
"Rona tunggu!" teriak wanita itu terisak. "Kami membutuhkan seorang anak dan Ezio adalah anak Roy. Roy ayah kandungnya!" tambahnya lagi membuat Claire yang mendengarnya turut geram.
Claire menatap gelas yang masih penuh berisikan minuman. Dia tarik lalu dia angkat dan menyemburkannya ke arah pasangan tidak tahu malu.
"Kalian jangan pernah mengusik lagi kebahagiaan Rona. Atau kalian akan berurusan denganku! Camkan itu!" Claire memperlihatkan raut murka seraya mengacungkan kepalan tangan. Dia turut beringsut dan menyusul Rona menuju kamar perawatan.
__ADS_1
...*****...
...Maaf baru Up lagi, semalam sedang mengetik semua ketikan kehapus gara-gara mata ngantuk 🙈🙈...