Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Pecat


__ADS_3

Terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan. Seorang wanita berkacamata mengangkat kepala dan mempersilakan orang yang mengetuk pintu itu untuk masuk. Dari guratan wajahnya, terlihat jelas kalau wanita tersebut menyimpan amarah juga kekesalan.


"Nyonya Helen, anda memanggil saya?" tanya Dara pada wanita yang duduk di balik meja.


"Iya, masuklah!" titah Helen kepada Dara.


Dara berjalan beberapa langkah, kemudian mendaratkan tubuh di depan Helen. Perasaannya mendadak tidak nyaman lantaran ekspresi Helen yang kurang ramah.


"Ada apa Nyonya Helen memanggil saya, apa ada masalah?" Dara bertanya terlebih dahulu untuk meredakan rasa gugup. Firasatnya semakin tidak enak, apalagi mengingat kejadian tadi pagi pada jam istirahat.


Helen tidak menjawab atau sekedar berucap satu patah kata pun. Dia hanya melemparkan selembar amplop cokelat, yang tidak tahu isinya apa.


"Apa ini, Nyonya?" Dara meraih amplop tersebut lalu melihat isinya. "U-uang? Uang apa ini, Nyonya. Kenapa banyak sekali?" Dara menghitung lembar demi lembar, batinnya bergejolak.


"Itu untukmu ... Miss Dara," jawab Helen menggantung. "Ambilah..." titahnya pada Dara.


Dara berbinar tidak percaya karena baru kali ini pihak sekolah memberinya uang dengan nominal tidak sedikit. Dia begitu antusias hingga terlupa untuk menanyakan maksud dari pemberian tersebut. "Oh iya Nyonya... bukankah awal bulan masih beberapa hari lagi? Dan ini terlalu banyak untuk guru baru seperti saya."


Helen yang semula duduk bersandar sontak menegakkan tubuhnya dan menopang dagu di atas meja. Dia tersenyum miris lantas berbicara dengan nada sinis. "Itu bayaranmu untuk tiga minggu ini dan selamanya."


Dara mengernyitkan dahi. "Maaf Nyonya... saya tidak mengerti maksud Nyonya apa. Boleh diperjelas?"


"Itu bayaranmu sebagai guru selama tiga minggu di sini, sekaligus severance pay (uang pesangon) dari kami," jelas Helen. Dara terperangah karena itu artinya dia diberhentikan secara sepihak oleh pihak sekolah.


"Ta-tapi kenapa Nyonya, apa salah saya? Kenapa saya tiba-tiba dipecat?" Dara terus bertanya lantaran dia tidak menerima keputusan yang baginya sangat merugikan. "Saya kan masih terikat kontrak sampai satu tahun ke depan. Anda tidak bisa memecat saya seenaknya!" tambahnya dengan suara yang meninggi.

__ADS_1


"Apa perlu saya katakan secara gamblang apa alasannya? Apa harus saya jelaskan secara detail salah anda apa?" Helen yang tersulut emosi karena perkataan Dara, berbalik menekan mental gadis tersebut. Namun, dia menjeda ucapannya dan membiarkan seorang wanita yang berdiri di belakang Dara, untuk menjelaskan penyebab dia diberhentikan secara tidak hormat.


"Alasannya adalah ... karena anda sudah mengingkari janji profesi anda sebagai guru, Miss Dara. Harusnya sebelum anda melangkah, anda cari tahu dulu siapa orang yang anda usik!" ujar seseorang yang sedari tadi menguping pembicaraan Helen dan Dara.


"Ma-maaf, anda siapa? Maksud ucapan anda apa?" Kepala Dara berputar mengikuti arah langkah kaki wanita tersebut.


"Perkenalkan, saya Rona Liam. Ibu dari Ezio Liam, anak didik anda." Rona mengulurkan tangan. Akan tetapi, Dara bergeming.


Wanita itu langsung berdiri. Antara takut dan terkejut, dia menjauhkan diri memberi jarak. "I-ibunya Ezio?"


Rona menarik bibirnya ke salah satu sudut dan melangkah mendekati Dara yang gemetaran. "Iya Miss Dara, saya Ibunya Ezio. Anak didik yang dipercayakan pada anda, tapi anda tidak bisa menjaganya dengan baik. Anak saya sekarang trauma karena kejadian pagi ini. Dia menangis terus-menerus dan ketakutan kalau melihat orang asing!"


"Ma-maaf Nyonya Liam, saya tidak bermaksud apa-apa, hanya ...."


Dara tersedu lantas mendekati Rona dan berdiri menggunakan lututnya. Dia memegangi kaki Rona, menyesali perbuatannya. "Maafkan saya Nyonya. Saya tahu saya salah, tapi saya mohon tolong yakinkan pihak sekolah untuk tidak memecat saya."


Rona terkekeh, tidak sedikit pun merasa iba pada gadis yang bersimpuh di depannya. "Harusnya anda bersyukur karena pengasuh Ezio memberitahukan perkara ini kepada saya. Andaikan dia mengadukan pada suami saya, riwayat Miss Dara akan habis detik ini juga!"


Rona menarik kakinya dari cekalan tangan Dara kemudian pamit undur diri kepada wanita yang duduk di balik meja. Dia keluar dari ruangan dengan segera karena sudah muak melihat air mata buaya yang diperlihatkan oleh Dara.


"Cih, apa kau pikir aku akan luluh dengan air mata palsumu, Dara?! Jangan bermimpi!"


...***...


Sementara itu, Rona yang masih di dalam perjalanan menuju mansion, merasakan ada debaran lain di hatinya. Membuat dia sangat gelisah dan juga tidak tenang.

__ADS_1


"Feliks... tolong lebih cepat!" titah Rona kepada asisten suaminya. Perasaan Rona semakin tidak karuan, dia ingin segera sampai di tempat tinggalnya. "Kumohon Feliks, cepatlah!" pinta Rona tidak sabar.


Feliks yang semula ingin berlama-lama berduaan dengan istri atasannya, terpaksa harus menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil melesat membelah jalanan, melewati dan menyalip setiap kendaraan di depannya.


Mansion keluarga Liam


"Ayolah Nak... Om mohon tunggu Rona dan Edward pulang dulu. Barulah kita bicarakan ini semua secara kekeluargaan," pinta Richard pada keponakannya. Dia menahan Roy dari membawa Ezio secara paksa.


Anak laki-laki yang tidak mengerti apa-apa, dia bersembunyi di belakang tubuh sang oma. Tangisnya terdengar pilu, membuat hati siapa pun akan terluka serta teriris.


"Ezio itu anak saya Om ... anak saya dengan Marissa!" pekik Roy untuk kedua kalinya.


Maria yang mendengar kenyataan pahit mengenai sang cucu, tentu saja merasa bingung dan geram. Dia melempar apa pun yang terjangkau oleh kedua tangannya, berharap Roy pergi menjauh dari Ezio. "Pergi kamu sialan! Pergi! Jangan pernah bermimpi kalau Ezio akan menjadi anakmu! Cih... aku tidak sudi!"


"Tapi faktanya Ezio memang anakku, Tante Maria. Anak hasil buah cinta antara aku dengan Marissa," jawab Roy tanpa tahu malu. "Kalau Tante tidak percaya, lihat saja ini! Kemarin waktu Ezio kritis, aku yang telah mendonorkan darah untuknya. Apa anak tirimu tidak memberitahukannya?"


Maria menangis seraya menggeleng-gelengkan kepala berulang kali. Kini dia memahami mengapa sikap anak sambungnya bisa tiba-tiba berubah kepadanya. Itu karena rasa sakit dan kecewa oleh pengkhianatan yang dilakukan putri semata wayangnya. Maria berjalan mundur lantas mendekap erat tubuh Ezio.


"Tidak ... ini tidak mungkin! Mana mungkin cucuku memiliki darah kotor dari laki-laki bejat sepertimu! Meski kamu memiliki fam keluarga yang sama dengan Edward. Namun, sikap kalian bagaikan langit dan bumi!" umpat Maria tidak bisa menerima kenyataan menyakitkan mengenai cucunya.


"Sekuat apa pun kalian melawan kenyataan ini. Kalian tidak akan pernah bisa menang melawan suratan takdir, yang mengatakan bahwa Ezio adalah anak kandungku, anak biologisku!"


...*****...


...Mohon maaf, badan masih belum bisa diajak kerja sama 🙏...

__ADS_1


__ADS_2