Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Kamu?


__ADS_3

"Apa kau mengingatku?" tanya seorang gadis pada pria dengan borgol di tangannya.


Pria tersebut menarik kepalanya ke atas, kelopak mata menyipit. Memorinya berputar pada kejadian beberapa bulan yang lalu di negara tempat tinggalnya.


"Kamu?" sahut laki-laki tersebut terheran-heran. Terlebih saat manik matanya menyoroti perut wanita itu yang membusung ke depan.


"Iya ini aku, perempuan yang kamu paksa untuk memuaskan nafsuu bejatmu!" geram Arabella. "Lihatlah aku sekarang ... gara-gara perbuatan nistamu itu, aku mengandung tanpa seorang suami!" berang Arabella menahan amarah.


Brian tertawa lebar hingga kepalanya tertarik ke belakang. Kemudian menatap nanar ke arah gadis di depannya. "Come on! Jangan sok suci jadi perempuan! Tuhan juga tahu ... kalau kita suka sama suka melakukan hubungan terlarang itu."


Arabella sudah membayangkan kalau Brian akan berbalik menyerangnya. "Tapi waktu itu kamu memaksaku, meski aku sudah berusaha melawan!"


Brian membungkukkan punggung, dia mendekatkan wajahnya dengan seringai yang menakutkan. "Tapi kamu menikmati kan pada akhirnya? Atau perlu aku perlihatkan rekaman cctv di tangga darurat klub malam, tempat kita memadu kasih? Masih terdengar jelas di telingaku suara merdumu ketika mendesahh dan merintih karena permainanku!"


"Lagi pula aku tidak yakin kalau anak yang kamu kandung itu adalah anakku! Bisa jadi banyak benih dari pria yang berbeda tertanam di rahimmu! Karena waktu itu kamu sudah tidak perawan!"


PLAKKK!!!


Arabella terkejut, karena tiba-tiba sebuah tangan melayang ke atas pipi laki-laki bejat di depannya. "Anak kurang ajar! Dad and Mom tidak pernah mengajarkanmu hal buruk seperti ini, Brian!!!"


Manik mata terbuka lebar, Brian terkejut akan kedatangan kedua orang tuanya ke penjara. Dia berbicara dengan terbata-bata. "D-Dad? M-Mom?"


"Dad kecewa sama kamu, Brian! Kami mengirimmu kuliah ke luar negeri, supaya kamu bisa membanggakan kami. Bukannya menjadi laki-laki bajingan seperti ini!" teriak William murka. Pria tua itu menghajar putranya dengan beberapa kali pukulan. Brian hanya terdiam, membiarkan sang ayah melampiaskan kekecewaan.


"Dad... sudah Dad..." Laura menarik tangan suaminya. "Mom mohon, sudah!" pekik Laura lantaran William terus memukuli putra pertamanya itu. Dia meraung-raung, suara tangisnya terdengar amat pilu. Meski sejujurnya di dalam hati menyimpan rasa kecewa yang teramat dalam. Namun, ibu tetaplah ibu. Tidak akan tega bila buah hatinya disakiti.


William akhirnya menjauhkan tubuhnya dari sang anak. Kemudian duduk di atas kursi kosong yang berada di belakangnya. Kini perhatiannya beralih pada seorang gadis yang tertunduk lesu.


"Siapa namamu, Nak?" tanya William lembut pada gadis tersebut.


"Saya Arabella, Uncle." Arabella menyebutkan namanya. "Lebih tepatnya Arabella Brooks," ulang gadis itu menyebut namanya dengan lengkap.


William nampak berpikir, di atas keningnya muncul kerutan-kerutan. "Kalau boleh tahu, nama ayah kamu siapa, Nak?"

__ADS_1


"Benjamin Brooks, Uncle..." jawab Arabella sopan.


"Si-siapa?" tanya William memastikan.


Untuk pertama kalinya Arabella menarik kepala ke atas dan memperlihatkan wajahnya pada William. "Benjamin Brooks, Uncle. Apa Uncle kenal dengan papi saya?"


William menyandarkan punggungnya, tubuhnya melangsur lemas. "Papimu ... sahabat karib Uncle. Dan kami sudah berencana untuk menjodohkan kalian berdua. Ternyata dunia begitu sempit...."


"Ja-jadi gadis ini yang akan menjadi calon menantu kita?" tanya Laura bahagia. "Kalau begitu kenapa tidak kita nikahkan saja mereka sekarang? Setidaknya ketika anak itu lahir, ada nama keluarga ayahnya tersemat di catatan hukum," tukas Laura tanpa berpikir panjang.


Arabella melirik ke arah Brian, mereka bersitatap dalam waktu yang cukup lama. Lalu sama-sama mengalihkan pandangan karena suara dehaman William. "Dad menyerahkan semua keputusan pada Nak Arabella...."


"Bagaimana, sayang?" tanya Laura yang sudah membayangkan akan menimang cucu sebentar lagi. "Mau ya?" tanyanya lagi penuh harap.


Terdengar tarikan napas yang tertahan di dalam dada. Arabella tersenyum, dia menjawab secara lugas dan tanpa beban. "Arabella sudah memutuskan untuk membesarkan anak ini sendirian tanpa status pernikahan. Lagi pula Arabella harus menunggu Brian sampai kapan? Sampai Arabella tua?"


"Nak..." lirih Laura getir.


"Tapi anakmu membutuhkan nama ayahnya," kata Laura masih berusaha meyakinkan. "Kamu bisa melayangkan gugatan cerai setelah sehari pernikahan kalian," saran Laura yang terdengar sumbang di telinga.


Arabella terkekeh. Dia berdiri lalu menghampiri Laura dan meraih tangan lembut wanita paruh baya itu. "Maafkan Arabella, Aunty. Arabella mohon ... hargai keputusan Arabella. Kalau Aunty dan Uncle mau bertemu anak ini kelak ... Arabella tidak akan pernah melarang."


Laura dan William saling berbalas pandang. Mereka menyadari akan keegoisan mereka yang berharap mendapatkan seorang keturunan dari putra pertamanya. Meski pun mereka tahu kalau anak laki-laki mereka itu akan membusuk di dalam penjara dalam waktu yang sangat lama.


"Baiklah, Nak... tapi izinkan kami bila suatu saat ingin bertemu dan menggendong cucu kami," pinta Laura pada Arabella.


Arabella mengangguk-anggukan kepalanya cepat. "Tentu saja Aunty... bagaimanapun juga secara biologis kalian adalah Oma dan Opa bayi yang saya kandung ini."


Laura melepas genggaman tangan Arabella lalu mendekap tubuh gadis itu. "Terimakasih Nak... tolong maafkan putra kami yang kurang ajar ini!"


"Sama-sama, Aunty. Maafkan Arabella juga...."


...***...

__ADS_1


"Daddy...."


"Mommy..." teriak Ezio dari luar seraya menggedor-gedor daun pintu.


"Daddy...."


"Mommy..." teriaknya sekali lagi.


Suster Ola yang melihat Ezio tengah mengetuk pintu kamar orang tuanya. Dia bersicepat menaiki tangga dan menghampiri sang anak majikan.


"Tuan muda Ezio... ternyata Tuan ada di sini. Suster Ola sampai kebingungan mencari Tuan," ungkap Ola dengan napas kembang-kempis. "Ayo ikut Suster Ola ... Suster Ola punya permainan baru," rayu Ola agar Ezio mau ikut dengannya.


"Tapi Ezio ingin bertemu Mommy... Ezio mau bertemu adik Ezio..." sahut Ezio kembali menggedor pintu. Ola menahan tangan anak majikannya lalu menurunkan tubuhnya agar sejajar dengan dirinya.


"Dengarkan Suster Olla ... Mommy dan Daddy kemarin pulang ke mansion larut malam. Biarkan mereka beristirahat dulu. Nanti setelah mereka bangun tidur, Suster Ola sendiri yang akan mengantarkan Tuan Ezio ke kamar Mommy. Oke?" Ola mengacungkan telapak tangan.


Ezio menghela napas, wajahnya ditekuk dia nampak bersedih hati. "Oke Suster Olla...."


"High five dong!" sahut Ola dengan memperlihatkan telapak tangan.


"Hm..." balas Ezio malas dan turut ber-high five. Ola membawa anak majikannya itu menuju play ground menjauh dari kamar yang pintunya tertutup rapat.


Sementara di dalam kamar,


"Kasihan Ezio ingin bertemu kita," lirih Rona di bawah kungkungan sang suami.


"Lebih kasihan mana sama aku sayang...? Sudah tanggung ini," rajuk Edward seraya memaju-mundurkan pinggulnya. Rona tidak menjawab karena dia kembali terbawa oleh arus permainan lelakinya.


"Ah..." hanya suara desahann yang mewakili ocehan suaminya. Angannya kini kembali terbang, bersama kenikmatan yang tiada habisnya.


...*****...


...Part nganu lanjut besok ya Kak... mudah-mudahan lancar jaya 🙈🙈...

__ADS_1


__ADS_2