
...Awan seperti permadani tipis putih, menggantung dan menyambangi pucuk-pucuk edelweis bunga keabadian. Bunga tanda cinta yang tidak pernah mati. Namun nyatanya berakhir mengkhianati....
...*****...
"Kamu menghabiskan 1,5 milyar hanya dalam dua hari?!" tanya Richard dengan suara lantang. Mencuri perhatian seisi rumah untuk melihat drama apalagi yang terjadi di keluarga Liam.
"I- itu...!" Amber bingung harus menjelaskan apa pada suaminya.
"Itu apa, hah?" bentak Richard meluapkan kekesalan yang dia pendam. Amber tersentak, bibirnya bergerak-gerak seakan ingin menjawab namun tak bisa.
Amber mendekati Richard, lalu mengapit lengan suaminya seraya menyandarkan kepala ke atas bahu. "Papa... jangan marah-marah, dengarkan penjelasanku dulu...."
Richard memutar bola matanya kemudian melepas tautan tangan Amber dari lengannya. "Kebiasaanmu dulu sewaktu menjadi seorang jalangg tidak pernah hilang!"
"Ada apa Pa, Mom. Kenapa sepagi ini kalian sudah bertengkar?" tanya Leona yang menuruni anak tangga karena mendengar teriakan Richard. Rasa mual karena kehamilannya tiba-tiba menghilang lantaran pertikaian kedua orangtuanya.
Amber beralih mengambil hati putrinya dengan bersandiwara. Dia menangis sesenggukan seraya memegang pipinya. "Papamu menampar Mommy, hanya karena Mom menghabiskan uang untuk acara amal. Mom membeli banyak barang untuk orang-orang yang membutuhkan santunan."
Leona menatap dengan tajam. Dia memercayai ucapan Amber begitu saja. "Benarkah itu Pa? Seumur hidup Leona, tidak pernah melihat Papa bersikap kasar sama Mom. Tapi kenapa sekarang Papa berubah? Semenjak wanita berwajah malaikat dan berhati iblis itu masuk ke dalam keluarga kita, rumah ini menjadi tidak tenteram!"
"Jaga ucapanmu Leona!" bentak Edward yang baru saja turun dari kamarnya bersama Rona dan putranya.
"Bahkan Kak Edward yang selalu memanjakanku, kini berani membentak dan memaki Leona." Leona menundukan kepala. Namun, suara bariton menghenyakan jantungnya.
"Perempuan bodoh! Itulah kenapa aku tidak bisa menyukaimu sedikit pun," seloroh Roland pada Leona dengan ekspresi santai. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kemudian melewati orang-orang begitu saja tanpa peduli kalau semua orang menyorotinya.
Leona menghentak lantai amarahnya semakin menjadi. Dia mendekati Rona untuk menyerang fisik kakak iparnya. Akan tetapi, teriakan Richard menggiring kakinya ke arah lain.
"Lihat laporan keuangan ini Leona, baru kamu boleh menyimpulkannya!"
__ADS_1
Amber hendak merampas kertas yang disodorkan Richard, namun Leona lebih dulu menariknya. Bola matanya bergerak-gerak, alisnya mengerut kemudian menatap Amber dengan wajah redup.
"Untuk acara amal Mom membeli arloji pria seharga 200 juta dollar, satu stel tuxedo 150 juta dollar, sepatu bermerk dan satu unit mobil?" Leona menggeleng-gelengkan kepala. "Ini acara amal atau derma untuk laki-laki simpanan?"
"Itu laporan palsu sayang... percaya pada Mom. Papamu sengaja memfitnah Mom..." rengek Amber menggenggam tangan Leona memelas berharap putrinya luluh.
Richard menarik lengan Amber lalu mengangkat tangannya. Satu ayunan mengenai pipi Amber.
PLAKKK!!!
"Istri tidak tahu diri. Kamu yang bersalah malah aku yang dituduh!" Dada Richard turun naik, bola mata memerah. Dia melemparkan beberapa helai foto ke arah muka istrinya. Foto-foto kebersamaan Amber dengan Nath. Berisikan foto sewaktu di klub malam, foto ketika bergumul di dalam mobil dan foto pada saat mereka masuk ke dalam kamar hotel.
"Lihat foto ini baik-baik Amber!!" pekik Richard bagai suara petir yang menggelegar. Jari telunjuknya mengarah pada kertas foto yang berserakan.
Leona menurunkan tubuhnya, berjongkok. Dia memungut foto-foto yang tergeletak di depan kakinya. Tangannya gemetar, bola mata berkaca-kaca, dia berdiri lalu berjalan satu langkah mendekati ibunya.
"Apa Mom tidak memiliki hati? Apa Mom tidak punya otak? Mom berhubungan dengan laki-laki yang sudah memerkosa anak Mom sendiri!" Leona menunjukkan foto yang dia pegang. "Ini pria brengsek yang sudah menghamiliku. Apa Mom sudah gila?"
PLAKKK!!!
"Papa...!" teriak Edward dengan mata menyalang. Tangannya mengepal memperlihatkan urat-urat yang menegang. Dia mendekati Amber ingin memberi pelajaran pada ibu tirinya itu.
"Aku tidak akan membiarkanmu kali ini Amber!!" ancam Edward yang terus berjalan ke arah target. Amber mencari jalan untuk melepaskan diri. Dia melihat pisau yang tergeletak di atas meja, lalu menariknya.
"Sini kalau berani, dekati aku anak kurang ajar!" Amber mencengkeram leher Leona dengan pisau di tangannya. "Tapi akan aku pastikan adik kesayanganmu ini, mati di tangan ibunya sendiri!"
Rona yang bingung harus berbuat apa, dia mengambil handphone di dalam tas, lalu menghubungi polisi. Amber yang sadar kalau Rona telah menelepon pihak yang berwajib, dia menyeret Leona membawanya keluar dari mansion.
"Berhenti kamu di situ!" cecar Amber yang melihat Edward berjalan ke arahnya. "Berhenti... aku bilang!!!"
__ADS_1
Edward tak bergeming, dia terus saja berjalan. Leona terisak merasakan perih karena pisau yang digunakan untuk menjeratnya melukai lehernya.
"Mom... please menyerah! Mom melukaiku!" lirih Leona menggugah perasaan Amber. Tapi sayangnya, Amber tidak peduli.
Amber kelimpungan melihat Edward yang terus mendekat. Terlebih saat suara sirine mobil polisi telah mengepung tempat tinggal mereka.
"Menyerah saja Amber. Atau aku bongkar semua kejahatanmu, agar putri tercintamu ini merasa ingin mati karena kejahatanmu?!"
Leona memegangi tangan Amber yang melingkar di lehernya. Sesekali memejamkan mata karena rasa pedih juga rasa takut. Diiringi tangisan dia berbicara seraya terbata-bata. "Dosa apalagi yang sudah Mom perbuat Kak, katakan...."
"Amber sudah membunuh ibuku, demi bisa merebut Papaku!" pekik Edward. Leona menangis sembari tertawa. Dia menggeleng-gelengkan kelalanya.
"Tidak... itu tidak mungkin. Mom bukan pembunuh!" sergah Leona yang dibalas tawa.
"Anak manis... kamu ini terlalu polos atau terlalu bodoh? Tentu saja yang dikatakan Kakakmu itu benar. Aku sudah menyabotase mobil wanita sialan itu, aku potong remnya. Dan setengah jam kemudian, Boom!! Mobil lepas kendali lalu berguling-guling. Dan malangnya, wanita itu terhempas keluar dari mobil, lalu mati seketika!"
"Aku begitu menikmatinya, terlebih ketika wanita itu menatap ke arahku dengan tubuh yang mengejang. Dia menjemput ajalnya dengan cara yang sangat sempurna..." tambah Amber yang tidak sadar kalau dia tengah dijebak untuk mengakui bahwa dia adalah dalang kecelakaan yang merenggut nyawa Lesham beberapa tahun silam.
"Polisi, tangkap wanita ini!" titah Edward pada pasukan berseragam yang berdiri tepat di belakang Amber. "Menyerahlah Mom...!" pinta Edward.
"Tidak ... tidak semudah itu!" Amber menyeret Leona hingga pintu gerbang mansion. Dia menyabet leher Leona menggunakan pisau yang dia genggam lalu mendorong putrinya ke arah petugas keamanan yang akan menangkapnya.
Amber berlari sekuat tenaga, satu orang polisi mengejar sembari melepaskan tembakan ke udara sebagai tanda peringatan. Akan tetapi Amber tidak mengindahkan peringatan tersebut, dan terus berlari sekuat tenaga.
"Berhenti atau dengan terpaksa kami akan menembak anda Nyonya!" Polisi memberi peringatan, Amber masih saja berlari. Kemudian satu tembakan akhirnya diluncurkan kembali dan mengenai kaki kanannya.
...*****...
...Mohon maaf Up terlambat ya Kak, Authornya lagi galau efek awal bulan 🤣🙏...
__ADS_1
...Terimakasih untuk semua yang sudah memberikan VOTE, semoga diganti dengan rezeki yang berlimpah. Doa yang sama untuk yang selalu mendukung karya ini baik berupa like, comment, hadiah, rate 5 bintang. Juga untuk yang setia membaca novel Dokter Rona....
...Sekali lagi terimakasih......